Kitab Fathul Muin Arab Berharakat dan Terjemahnya
- Nama kitab
- Fathul Muin
- Judul kitab Arab
- فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين
- Judul terjemah
- Terjemah Kitab Fathul Muin
- Mata Pelajaran
- Fiqih
- Musonif
- Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari
- Nama Arab
- زين الدين أحمد بن عبد العزيز المعبري المليباري
- Lahir
- Chombal, Malabar, 938 H
- Wafat
- Malabar, 987 H
- Penerjemah
- Ahsan Dasuki
Muqaddimah: Basmalah, Hamdalah, dan Shalawat
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْفَتَّاحِ الْجَوَادِ الْمُعِيْنِ عَلَى التَّفَقُّهِ فِي الدِّيْنِ مَنِ اخْتَارَهُ مِنَ الْعِبَادِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ شَهَادَةً تُدْخِلُنَا دَارَ الْخُلُوْدِ.
Segala puji adalah milik Allah Yang Maha Membuka, Yang Maha Dermawan, Yang Maha Menolong untuk mendalami pemahaman dalam agama kepada orang yang Allah telah memilihnya di antara hamba-hamba-Nya. dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dengan persaksian yang memasukkan kami ke dalam negeri keabadian.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْمَقَامِ الْمَحْمُوْدِ. صَلَّى اللّٰهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا أَفُوْزُ بِهِمَا يَوْمَ الْمَعَادِ.
Dan aku bersaksi bahwa Sayyidina Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, pemilik kedudukan yang terpuji. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam kepadanya, kepada keluarganya, dan para sahabatnya, dengan shalawat dan salam yang dengannya aku akan memperoleh kebahagiaan pada hari kiamat.
Tujuan Penulisan Kitab
وَبَعْدُ: فَهَذَا شَرْحٌ مُفِيْدٌ عَلَى كِتَابِيَ الْمُسَمَّى بِـقُرَّةِ الْعَيْنِ بِمُهِمَّاتِ الدِّيْنِ يُبَيِّنُ الْمُرَادَ، وَيُتَمِّمُ الْمُفَادَ وَيُحَصِّلُ الْمَقَاصِدَ، وَيُبْرِزُ الْفَوَائِدَ.
Adapun setelah itu: maka ini (yang hadir dalam hati) adalah syarah (penjelasan) yang berfaedah atas kitabku yang diberi nama “Qurratul ‘Ain bi Muhimmatid Din” yang menjelaskan pada yang dimaksud, menyempurnakan faedah, menghasilkan tujuan-tujuan, dan menampakkan berbagai keutamaan.
وَسَمَّيْتُهُ “بِـفَتْحِ الْمُعِيْنِ بِشَرْحِ قُرَّةِ الْعَيْنِ بِمُهِمَّاتِ الدِّيْنِ”. وَأَنَا أَسْأَلُ اللّٰهَ الْكَرِيْمَ الْمَنَّانَ، أَنْ يَعُمَّ الْاِنْتِفَاعَ بِهِ لِلْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ مِنَ الْإِخْوَانِ.
Dan aku menamainya (Syarah ini) “Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil ‘Ain bi Muhimmatid Din”. Dan aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi Anugerah, agar manfaatnya merata dengan syarah ini bagi kalangan khusus dan umum dari para saudara.
وَأَنْ يُسْكِنَنِيْ بِهِ الْفِرْدَوْسَ فِي دَارِ الْأَمَانِ. إِنَّهُ أَكْرَمُ كَرِيْمٍ وَأَرْحَمُ رَحِيْمٍ.
Dan agar Allah menempatkanku dengan sebab syarah ini di surga Firdaus di negeri yang aman. Sesungguhnya Allah adalah yang Maha Mulia di antara semua yang mulia Maha Pengasih di antara para pengasih.
Penjelasan Basmalah
Makna Lafaz Allah dan Asal Katanya
(بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ) أَيْ أُؤَلِّفُ وَالْاِسْمُ مُشْتَقٌّ مِنَ السُّمُوِّ. وَهُوَ الْعُلُوُّ، لَا مِنَ الْوَسْمِ وَهُوَ الْعَلَامَةُ
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang) yakni aku menyusun (kitab ini). Dan kata “إِسْمٌ” (nama) diambil dari kata “سُمُوٌّ”, yaitu bermakna tinggi, bukan dari kata “وَسْمٌ” yaitu bermakna tanda.
وَاللّٰهُ عَلَمٌ لِلذَّاتِ الْوَاجِبِ الْوُجُوْدِ. وَأَصْلُهُ إِلٰهٌ وَهُوَ اسْمُ جِنْسٍ لِكُلِّ مَعْبُوْدٍ. ثُمَّ عُرِّفَ بِأَلْ وَحُذِفَتِ الْهَمْزَةُ. ثُمَّ اسْتُعْمِلَ فِي الْمَعْبُوْدِ بِحَقٍّ. وَهُوَ الْاِسْمُ الْأَعْظَمُ عِنْدَ الْأَكْثَرِ وَلَمْ يُسَمَّ بِهِ غَيْرُهُ وَلَوْ تَعَنُّتًا.
Dan “الله” adalah nama bagi Dzat yang wajib ada. Dan asal lafadz “الله” adalah “إِلٰهٌ” yang merupakan isim jins (kata umum) bagi setiap yang disembah. Kemudian lafadz “إِلٰهٌ” dima’rifatkan dengan “ال” dan hamzahnya dihapus. Kemudian lafadz “الله” digunakan untuk Yang disembah dengan benar. Dan “الله” adalah Nama Yang Maha Agung menurut kebanyakan ulama, dan tidak diberi nama dengan nama “الله” yang selain dari Allah, meskipun dengan memaksa (atau atas dasar fanatik).
Makna al-Rahman dan al-Rahim
وَالرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ صِفَاتٌ بُنِيَتَا لِلْمُبَالَغَةِ مِنْ: رَحِمَ، وَالرَّحْمٰنُ أَبْلَغُ مِنَ الرَّحِيْمِ، لِأَنَّ زِيَادَةَ الْبِنَاءِ تَدُلُّ عَلَى زِيَادَةِ الْمَعْنَى: وَلِقَوْلِهِمْ: رَحْمٰنُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرَحِيْمُ الْآخِرَةِ.
Dan “الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ” adalah dua sifat yang keduanya dibentuk untuk makna mubalaghah (penekanan/sangat) dari kata “رَحِمَ”. Dan “الرَّحْمٰنُ” lebih mubalaghah daripada “الرَّحِيْمُ”, karena tambahan bentuk menunjukkan tambahan makna; dan karena perkataan para ulama salaf: “رَحْمٰنُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرَحِيْمُ الْآخِرَةِ”.
Catatan
1.
الرَّحْمٰن adalah belas kasih / maha memberi nikmat di dunia dan akhirat sedangkan الرَّحِيْم belas kasih / maha memberi nikmat di akhirat saja.
Penjelasan Hamdalah
(الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا) أَيْ دَلَّنَا (لِهَذَا) التَّأْلِيْفِ. (وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ) إِلَيْهِ وَالْحَمْدُ هُوَ الْوَصْفُ بِالْجَمِيْلِ.
(Segala puji adalah milik Allah yang telah memberi kami petunjuk) yakni yang telah menunjukkan kami (kepada ini) karangan kitab. (Dan kami tidak akan mendapat petunjuk seandainya Allah tidak memberi kami petunjuk) untuk mengarang kitab ini. Dan lafadz “al-hamd” yaitu mensifati dengan yang baik.
Penjelasan Shalawat dan Salam
(وَالصَّلَاةُ) وَهِيَ مِنَ اللّٰهِ الرَّحْمَةُ الْمَقْرُوْنَةُ بِالتَّعْظِيْمِ. (وَالسَّلَامُ) أَيِ التَّسْلِيْمُ مِنْ كُلِّ آفَةٍ وَنَقْصٍ.
(Dan rahmat) shalawat dari Allah adalah berupa rahmat yang disertai pengagungan. (Dan salam) yakni keselamatan dari segala penyakit dan kekurangan.
Penjelasan tentang Nabi Muhammad ﷺ
Makna Nama Muhammad dan Definisi Rasul
(عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللّٰهِ) لِكَافَّةِ الثَّقَلَيْنِ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِجْمَاعًا. وَكَذَا الْمَلَائِكَةُ عَلَى مَا قَالَهُ جَمْعٌ مُحَقِّقُوْنَ.
(Kepada Sayyidina Muhammad, Rasulullah) bagi seluruh dari dua golongan, yakni jin dan manusia, menurut ijma’. Demikian pula para malaikat, menurut pendapat golongan ulama ahli tahqiq yang telah berkata tentangnya.
وَمُحَمَّدٌ عَلَمٌ مَنْقُوْلٌ مِنْ اِسْمِ الْمَفْعُوْلِ الْمُضَعَّفِ مَوْضُوْعٌ لِمَنْ كَثُرَتْ خِصَالُهُ الْحَمِيْدَةُ. سُمِّيَ بِهِ نَبِيُّنَا ﷺ بِاِلْهَامٍ مِنَ اللّٰهِ لِجَدِّهِ.
Dan kata “Muhammad” adalah nama yang dipindahkan dari isim maf’ul yang mudha’af, yang diletakkan untuk orang yang banyak sifat-sifat terpujinya. Nabi kita ﷺ dinamai dengan nama Muhammad melalui ilham dari Allah kepada kakeknya (Abdul Muthalib).
وَالرَّسُوْلُ مِنَ الْبَشَرِ ذَكَرٌ حُرٌّ أُوْحِيَ إِلَيْهِ بِشَرْعٍ وَأُمِرَ بِتَبْلِيْغِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ كِتَابٌ وَلَا نَسْخٌ كَيُوْشَعَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.
Dan rasul dari kalangan manusia adalah laki-laki yang merdeka yang diwahyukan kepadanya dengan hukum syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya, meskipun ia tidak memiliki kitab dan tidak memiliki nasakh (salian), seperti Nabi Yusya’ alaihissalam.
فَإِنْ لَمْ يُؤْمَرْ بِالتَّبْلِيْغِ فَنَبِيٌّ وَالرَّسُوْلُ أَفْضَلُ مِنَ النَّبِيِّ إِجْمَاعًا.
Jika ia tidak diperintahkan untuk menyampaikan, maka ia adalah nabi. Dan rasul lebih utama daripada nabi menurut ijma’.
وَصَحَّ خَبَرٌ أَنَّ عَدَدَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مِئَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا وَإِنَّ عَدَدَ الرُّسُلِ ثَلَاثُ مِئَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ.
Dan telah sahih suatu hadits bahwa jumlah para nabi alaihimush shalatu wassalam adalah seratus dua puluh empat ribu, dan bahwa jumlah para rasul adalah tiga ratus lima belas.
Penjelasan tentang Keluarga (Al) dan Sahabat
Makna Al (Keluarga Nabi)
(وَعَلَى آلِهِ) أَيْ أَقَارِبِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ وَالْمُطَّلِبِ. وَقِيْلَ: هُمْ كُلُّ مُؤْمِنٍ أَيْ فِي مَقَامِ الدُّعَاءِ وَنَحْوِهِ. وَاخْتِيْرَ لِخَبَرٍ ضَعِيْفٍ فِيْهِ، وَجَزَمَ بِهِ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمٍ.
(Dan kepada keluarganya) yakni kerabat-kerabatnya yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Dan dikatakan: kerabat kerabat Nabi adalah setiap mukmin, yakni dalam maqom doa dan semisalnya. Dan pendapat ini dipilih karena adanya hadits dhaif dalam pendapat tersebut, dan Imam Nawawi menetapkan pendapat ini dalam Kitab Syarah Muslim.
Makna Sahabat
(وَصَحْبِهِ) وَهُوَ اِسْمُ جَمْعٍ لِصَاحِبٍ بِمَعْنَى الصَّحَابِيِّ. وَهُوَ مَنِ اجْتَمَعَ مُؤْمِنًا بِنَبِيِّنَا ﷺ وَلَوْ أَعْمَى وَغَيْرَ مُمَيِّزٍ.
(Dan para sahabatnya) dan lafadz صَحْبٌ adalah isim jamak dari “صَاحِبٌ” dengan makna صَحَابِيُّ. dan Sahabat adalah orang yang berjumpa dalam keadaan beriman kepada nabi kita ﷺ, meskipun orang tersebut buta dan belum tamyiz
(الْفَائِزِيْنَ بِرِضَا اللّٰهِ) تَعَالَى صِفَةٌ لِمَنْ ذُكِرَ.
(Yang beruntung dengan keridhaan Allah) Ta’ala, lafadz اَلْفَائِزِيْنَ merupakan sifat bagi orang yang telah disebutkan.
Catatan
1.
yakni keluarga dan sahabat Nabi
Penjelasan tentang Kitab dan Ilmu Fiqh
Makna Mukhtasar dan Definisi Fiqh
(وَبَعْدُ) أَيْ بَعْدَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ وَالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى مَنْ ذُكِرَ (فَهَذَا) الْمُؤَلَّفُ الْحَاضِرُ ذِهْنًا. (مُخْتَصَرٌ) قَلَّ لَفْظُهُ وَكَثُرَ مَعْنَاهُ مِنَ الْاِخْتِصَارِ.
(Dan setelah itu) yakni setelah apa yang telah lalu berupa basmalah, hamdalah, serta shalawat dan salam kepada orang yang telah disebutkan (maka ini) kitab yang dikarang, yang hadir di dalam benak. (Adalah ringkasan) Sedikit lafazhnya dan banyak maknanya diambil dari kata “الْاِخْتِصَار”
Catatan
1.
Lafadz مُخْتَصَرٌ yang bermakna ringkasan diambil dari kata الْاِخْتِصَار
(فِي الْفِقْهِ) هُوَ لُغَةً الْفَهْمُ وَاصْطِلَاحًا الْعِلْمُ بِالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبِ مِنْ أَدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ. وَاسْتِمْدَادُهُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالْقِيَاسِ. وَفَائِدَتُهُ: امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللّٰهِ تَعَالَى وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ.
(Dalam ilmu fiqih) Fiqih menurut bahasa adalah pemahaman, dan menurut istilah adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat yang bersifat amaliyah yang diperoleh dari dalil-dalil hukum syariat yang terperinci. Dan sumber pengambilan fiqih adalah dari Al-Qur’an, sunnah, ijma’, dan qiyas. Dan manfaat fiqih: adalah menaati perintah-perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Penjelasan tentang Mazhab Syafi’i
Definisi Mazhab dan Nasab Imam Syafi’i
(عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ) الْمُجْتَهِدِ أَبِي عَبْدِ اللّٰهِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ (الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى) وَرَضِيَ عَنْهُ. أَيْ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مِنَ الْأَحْكَامِ فِي الْمَسَائِلِ.
(Atas mazhab Imam) seorang ahli ijtidah, yakni Abu Abdillah Muhammad bin Idris (Asy-Syafi’i, semoga Allah Ta’ala merahmatinya) dan meridhainya. Yakni atas pendapat yang Imam Asy-Syafi’i telah berpendapat tentangnya berupa hukum-hukum dalam berbagai masalah.
وَإِدْرِيْسُ وَالِدُهُ هُوَ ابْنُ عَبَّاسِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ شَافِعِ بْنِ السَّائِبِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عَبْدِ يَزِيْدَ بْنِ هَاشِمِ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ.
Dan Idris adalah ayahnya Imam Asy-Syafi’i, beliau (Idris) adalah putra Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Muththalib bin Abdi Manaf.
وَشَافِعٌ، هُوَ الَّذِيْ يُنْسَبُ إِلَيْهِ الْإِمَامُ وَأَسْلَمَ هُوَ وَأَبُوْهُ السَّائِبُ يَوْمَ بَدْرٍ. وَوُلِدَ إِمَامُنَا رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ سَنَةَ خَمْسِيْنَ وَمِئَةٍ وَتُوُفِّيَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَلْخَ رَجَبَ سَنَةَ أَرْبَعٍ وَمِئَتَيْنِ.
Dan nama Syafi’i’, itu adalah nama yang dinisbatkan oleh Imam kepadanya dan Syafi’i serta ayahnya yakni As-Sa’ib masuk Islam pada hari perang Badar. Dan imam kita radhiallahu anhu dilahirkan pada tahun 150 H, dan wafat pada hari Jumat, akhir bulan Rajab, tahun 204 H.
Penjelasan Nama Kitab dan Sumber-sumbernya
Makna Qurrat al-‘Ain dan Sumber Rujukan
(وَسَمَّيْتُهُ بِقُرَّةِ الْعَيْنِ) بِبَيَانِ (مُهِمَّاتِ) أَحْكَامِ (الدِّيْنِ). اِنْتَخَبْتُهُ وَهَذَا الشَّرْحَ مِنَ الْكُتُبِ الْمُعْتَمَدَةِ لِشَيْخِنَا خَاتِمَةِ الْمُحَقِّقِيْنَ شِهَابِ الدِّيْنِ أَحْمَدَ ابْنِ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيِّ وَبَقِيَّةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ مِثْلِ: وَجِيْهِ الدِّيْنِ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ زِيَادٍ الزَّبِيْدِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا.
(Dan aku menamai ringkasan ini dengan nama Qurratul-‘Ain) dalam menjelaskan (hal-hal penting) dari hukum-hukum (agama). Aku telah memilih ringkasan ini, dan syarah ini, dari kitab-kitab yang menjadi pegangan, karya guru kami, penutup para ahli tahqiq, yakni Syihabuddin (obor agama) yakni Ahmad bin Hajar Al-Haitami, dan sejumlah mujtahid mujtahid lainnya seperti: Wajihuddin (pemuka agama) yakni Abdurrahman bin Ziyad Az-Zabidi, Radhiallahu Anhuma.
وَشَيْخَيْ مَشَايِخِنَا: شَيْخِ الْإِسْلَامِ الْمُجَدِّدِ زَكَرِيَّا الْأَنْصَارِيِّ، وَالْإِمَامِ الْأَمْجَدِ أَحْمَدَ الْمُزَجَّدِ الزَّبِيْدِيُِ رَحِمَهُمُ اللّٰهُ تَعَالَى وَغَيْرِهِمْ مِنْ مُحَقِّقِي الْمُتَأَخِّرِيْنَ، مُعْتَمِدًا عَلَى مَا جَزَمَ بِهِ شَيْخَا الْمَذْهَبِ النَّوَوِيُّ وَالرَّافِعِيُّ، فَمُحَقِّقُو الْمُتَأَخِّرِيْنَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ.
Dan dua guru dari guru guru kami: Yakni Syaikhul Islam Al-Mujaddid, yakni Zakariya Al-Anshari, dan Imam yang mulia, yakni Ahmad Al-Muzajjad Az-Zabidi, Rahimahullah dan selain mereka dari para ulama ahli tahqiq dari kalangan muta’akhkhirin, dengan berpegang pada perkara yang telah memastikan dengannya oleh dua syaikh mazhab, yakni Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rafi’i, kemudian para ulama ahli tahqiq dari kalangan muta’akhkhirin, Radhiallahu Anhum.
Doa Penutup
(رَاجِيًا مِنْ) رَبِّنَا (الرَّحْمٰنِ أَنْ يَنْتَفِعَ بِهِ الْأَذْكِيَاءُ) أَيِ الْعُقَلَاءُ (وَأَنْ تُقِرَّ بِهِ) أَيْ بِسَبَبِهِ (عَيْنِي غَدًا) أَيِ الْيَوْمَ الْآخِرَ (بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ) بُكْرَةً وَعَشِيًّا.
(Dengan mengharap dari) Tuhan kami (Yang Maha Pengasih, agar orang-orang yang cerdas dapat mengambil manfaat dengannya) yakni orang-orang yang berakal (dan agar menjadi sejuk dengannya) yakni sebab kitab ini (mataku besok) yakni hari akhirat (dengan memandang kepada wajah-Nya yang mulia) pada pagi dan petang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!