Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar Bagian 4 | Bejana-Bejana

05 Sep, 2026
Nama kitab:Kifayatul Akhyar
Judul kitab Arab: كفاية الأخيار
Judul terjemah: Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar
Mata Pelajaran:Fiqih
Musonif:Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi
Nama Arab:الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق
Lahir:Hauran, 752 H
Wafat:Damaskus, 1 Syawal 829 H
Penerjemah:Ahsan Dasuki

Larangan Menggunakan Bejana Emas dan Perak

قَالَ: (وَلَا يَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَيَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ غَيْرِهِمَا مِنَ الْأَوَانِيْ)

Syekh Abu Syuja telah berkata: (Dan tidak diperbolehkan menggunakan wadah-wadah emas dan perak, dan diperbolehkan menggunakan selain keduanya dari wadah-wadah)

Dalil Larangan Menggunakan Bejana Emas dan Perak

لِمَا فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ مِنْ رِوَايَةِ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ

Karena apa yang terdapat di dalam hadits shahih dari riwayat Hudzaifah Radhiallahu Anhu ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

[لَا تَلْبَسُوْا الْحَرِيْرَ وَلَا الدِّيْبَاجَ وَلَا تَشْرَبُوْا فِيْ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَكُمْ فِي الْآخِرَةِ]

[Janganlah kalian memakai sutra dan jangan pula sutra dibaj, dan janganlah kalian minum di dalam wadah-wadah emas dan perak, karena sesungguhnya hal itu bagi mereka di dunia dan bagi kalian di akhirat]

وَفِيْ مُسْلِمٍ [الَّذِيْ يَشْرَبُ فِيْ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِيْ بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ]

Dan di dalam riwayat Imam Muslim [Orang yang minum di dalam wadah emas dan perak, sesungguhnya ia mengalirkan ke dalam perutnya api neraka Jahanam]

وَفِيْ رِوَايَةٍ [مَنْ شَرِبَ فِيْ إِنَاءٍ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ فَإِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِيْ بَطْنِهِ نَارًا مِنْ جَهَنَّمَ]

Dan di dalam sebuah riwayat: (Barangsiapa minum di dalam wadah dari emas atau perak, maka sesungguhnya ia mengalirkan ke dalam perutnya api dari neraka Jahanam) dan di dalam sebuah riwayat:

وَفِيْ رِوَايَةٍ [إِنَّ الَّذِيْ يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ] اَلْحَدِيْثَ، وَجِيْمُ يُجَرْجِرُ الثَّانِيَةُ مَكْسُوْرَةٌ بِلَا خِلَافٍ، قَالَهُ اَلنَّوَوِيُّ، وَفِيْ الْإِقْلِيْدِ حِكَايَةُ الْخِلَافِ.

Dan di dalam sebuah riwayat [Sesungguhnya orang yang makan dan minum] hingga akhir hadits, dan huruf Jim pada kata “يجرجر” yang kedua adalah berharakat kasrah tanpa ada perbedaan pendapat, hal itu telah dikatakan oleh Imam An-Nawawi, dan di dalam kitab Al-Iqlid terdapat hikayat adanya perbedaan pendapat..

Tinjauan Makna dan I’rab Lafadz النار dalam Hadits

وَأَمَّا النَّارُ فَيَجُوْزُ فِيْهَا الرَّفْعُ وَالنَّصْبُ، وَالنَّصْبُ هُوَ الصَّحِيْحُ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ الشَّارِبَ يُلْقِي النَّارَ فِيْ بَطْنِهِ بِتَجَرُّعٍ مُتَتَابِعٍ يُسْمَعُ لَهُ جَرْجَرَةٌ، وَهِيَ الصَّوْتُ لِتَرَدُّدِهِ فِيْ حَلْقِهِ.

Dan adapun lafadz “النار” maka boleh padanya dibaca Rafa’ dan Nashab, dan membaca Nashab dialah yang shahih, dan maknanya adalah bahwa orang yang minum itu melemparkan api ke dalam perutnya dengan tegukan yang berturut-turut yang terdengar baginya suara gemuruh (jarjarah), dan جرجرة adalah suara karena berulangnya suara tersebut di dalam kerongkongannya.

وَعَلَى رِوَايَةِ الرَّفْعِ تَكُوْنُ النَّارُ فَاعِلَةً، وَمَعْنَاهُ أَنَّ النَّارَ تُصَوِّتُ فِيْ جَوْفِهِ، عَافَانَا اللّٰهُ تَعَالَى مِنْهَا وَمِنْ فِعْلٍ يُقَرِّبُنَا إِلَيْهَا.

Dan atas riwayat Rafa’ maka lafadz “An-Naru” menjadi Fa’il (pelaku), dan maknanya adalah bahwa api itu bersuara di dalam rongga tubuhnya, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita darinya (api neraka) dan dari perbuatan yang mendekatkan kita kepadanya.

Ijma’ Ulama dan Cakupan Larangan Penggunaan Bejana

قَالَ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمٍ قَالَ أَصْحَابُنَا انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى تَحْرِيْمِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَسَائِرِ الِاسْتِعْمَالِ فِيْ إِنَاءِ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ إِلَّا مَا حُكِيَ عَنْ دَاوُدَ

Imam An-Nawawi berkata di dalam Syarah Muslim: Sahabat-sahabat kami (ulama Syafi’iyyah) berkata: Telah tetap kesepakatan (ijma’) atas keharaman makan, minum, dan seluruh penggunaan pada wadah emas atau perak, kecuali apa yang dihikayatkan dari Dawud (Az-Zahiri).

وَقَوْلٌ شَافِعِيٌّ قَدِيْمٌ لِلشَّافِعِيِّ إِنَّهُ يُكْرَهُ وَالْمُحَقِّقُوْنَ لَا يَعْتَدُّوْنَ بِخِلَافِ دَاوُدَ وَكَلَامُ الشَّافِعِيِّ مُؤَوَّلٌ كَمَا قَالَهُ صَاحِبُ التَّقْرِيْبِ مَعَ أَنَّ الشَّافِعِيَّ رَجَعَ عَنْ هَذَا الْقَدِيْمِ

Dan satu pendapat Syafi’i yang lama (Qaul Qadim) bagi Imam Syafi’i bahwasanya hal itu dimakruhkan, namun para ulama peneliti (muhaqqiqun) tidak menganggap perselisihan Dawud tersebut, dan perkataan Imam Syafi’i itu ditakwilkan sebagaimana yang dikatakan oleh penyusun kitab At-Taqrib, serta bahwasanya Imam Syafi’i telah menarik kembali (ruju’) dari pendapat lama ini.

فَحَصَلَ أَنَّ الْإِجْمَاعَ مُنْعَقِدٌ عَلَى تَحْرِيْمِ اسْتِعْمَالِ إِنَاءِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فِيْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالطَّهَارَةِ وَالْأَكْلِ بِعَلْقَةٍ مِنْ أَحَدِهِمَا وَالتَّبَخُّرِ بِمِبْخَرَةٍ مِنْهَا وَجَمِيْعِ وُجُوْهِ الِاسْتِعْمَالِ وَمِنْهَا الْمِكْحَلَةُ وَالْمِيْلُ وَظَرْفُ الْغَالِيَةِ وَغَيْرُ ذَلِكَ سَوَاءٌ الْإِنَاءُ الصَّغِيْرُ وَالْكَبِيْرُ

Maka hasilnya adalah bahwasanya ijma’ telah tetap atas keharaman penggunaan wadah emas dan perak dalam hal makan, minum, bersuci, makan dengan sebuah benda (kecil) dari salah satunya, beruap dengan tempat dupa (pendupaan) darinya, dan seluruh bentuk penggunaan, yang di antaranya adalah tempat celak, tangkai celak, wadah minyak wangi, dan selain hal tersebut, baik itu wadah yang kecil maupun yang besar.

وَيَسْتَوِيْ فِيْ التَّحْرِيْمِ الرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ بِلَا خِلَافٍ وَإِنَّمَا فُرِّقَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ فِيْ التَّحَلِّيْ لِقَصْدِ زِيْنَةِ النِّسَاءِ لِلزَّوْجِ وَالسَّيِّدِ

Dan sama saja dalam hal keharaman tersebut antara laki-laki dan perempuan tanpa ada perselisihan, dan hanyalah dibedakan antara laki-laki dan perempuan dalam hal berhias (dengan emas/perak) karena tujuan perhiasan bagi wanita untuk suami dan tuannya.

Hukum Menyimpan, Menghias, dan Membuat Bejana Terlarang

وَيَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَاءِ الْوَرْدِ وَالْأَدْهَانِ فِيْ قَمَاقِمِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ هَذَا هُوَ الصَّحِيْحُ وَفِي الْقَنَانِيْ وَكَذَا يَحْرُمُ تَزْيِيْنُ الْحَوَانِيْتِ وَالْبُيُوْتِ وَالْمَجَالِسِ بِأَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ وَجَوَّزَهُ بَعْضُ الْأَصْحَابِ وَهُوَ غَلَطٌ لِأَنَّ كُلَّ شَيْءٍ أَصْلُهُ حَرَامٌ فَالنَّظَرُ إِلَيْهِ حَرَامٌ

Dan diharamkan menggunakan air mawar dan minyak-minyak di dalam wadah-wadah (berleher sempit) dari emas dan perak, ini adalah pendapat yang shahih, dan (diharamkan pula) di dalam botol-botol kaca. Dan demikian pula diharamkan menghiasi toko-toko, rumah-rumah, dan tempat-tempat majelis dengan bejana-bejana emas dan perak, ini adalah pendapat yang benar. Dan sebagian ashab (ulama pengikut mazhab) memperbolehkannya, namun itu adalah kesalahan, karena segala sesuatu yang asalnya haram maka melihat kepadanya adalah haram.

وَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ أَنَّهُ لَوْ تَوَضَّأَ أَوْ اغْتَسَلَ مِنْ إِنَاءِ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ عَصَى وَيَحْرُمُ اتِّخَاذُ هَذِهِ الْأَوَانِيْ مِنْ غَيْرِ اسْتِعْمَالٍ عَلَى الصَّحِيْحِ لِأَنَّ مَا حَرُمَ اسْتِعْمَالُهُ حَرُمَ اتِّخَاذُهُ كَآلَاتِ اللَّهْوِ عَافَانَا اللّٰهُ الْكَرِيْمُ مِنْ تَعَاطِيْ مَا هُوَ سَبَبٌ لِلنَّارِ

Dan sungguh Imam Syafi’i dan para ashab telah menegaskan bahwa sekiranya seseorang berwudhu atau mandi dari bejana emas atau perak maka ia telah bermaksiat (berdosa). Dan diharamkan menyimpan bejana-bejana ini meskipun tanpa menggunakannya menurut pendapat yang shahih, karena apa yang diharamkan penggunaannya maka diharamkan pula menyimpannya, seperti alat-alat permainan yang melalaikan. Semoga Allah Yang Maha Mulia menyelamatkan kita dari melakukan apa yang menjadi sebab (masuk) ke neraka.

وَيَحْرُمُ عَلَى الصَّائِغِ صَنْعَتُهُ وَلَا يَسْتَحِقُّ أُجْرَةً لِأَنَّ فِعْلَهُ مَعْصِيَةٌ وَلَوْ كَسَرَ شَخْصٌ هَذِهِ الْأَوَانِيَ فَلَا أَرْشَ عَلَيْهِ وَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يُطَالِبَهُ بِالْأَرْشِ وَلَا رَفْعُهُ إِلَى ظَالِمٍ مِنْ حُكَّامِ زَمَانِنَا لِأَنَّهُمْ جَهَلَةٌ وَيَتَعَاطَوْنَ هَذِهِ الْأَوَانِيَ حَتَّى يَشْرَبُونَ الْمُسْكِرَ مَعَ آلَاتِ اللَّهْوِ

Dan diharamkan atas pengrajin (emas/perak) akan pekerjaannya itu dan ia tidak berhak mendapatkan upah karena sesungguhnya perbuatannya adalah maksiat, dan andaikata seseorang memecahkan wadah-wadah ini maka tidak ada ganti rugi atasnya, dan tidak halal bagi siapapun untuk menuntutnya dengan ganti rugi, dan tidak (halal pula) melaporkannya kepada penguasa yang zalim dari para hakim zaman kita karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang bodoh dan mereka menggunakan wadah-wadah ini hingga mereka meminum minuman keras bersama alat-alat hiburan.

Peringatan Keras terhadap Alat Musik dan Hiburan yang Melalaikan

وَفِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ [يُمْسَخُ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللّٰهِ أَلَيْسَ يَشْهَدُونَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللّٰهِ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الْمَعَازِفَ وَالْقَيْنَاتِ فَبَاتُوا عَلَى لَهْوِهِمْ وَلَعِبِهِمْ فَأَصْبَحُوا وَقَدْ مُسِخُوا قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ]

Dan di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: [Akan diubah rupa manusia dari umatku di akhir zaman menjadi kera dan babi. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, bukankah mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah? Mereka berkata: Benar, akan tetapi mereka mengambil/menggunakan alat musik dan para penyanyi wanita, lalu mereka bermalam dalam hiburan dan permainan mereka, maka mereka pun berpagi hari dalam keadaan sungguh telah diubah rupa mereka menjadi kera dan babi].

وَفِيْ حَدِيْثِ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ [مَنْ جَلَسَ إِلَىٰ قَيْنَةٍ يَسْتَمِعُ مِنْهَا صُبَّ فِيْ أُذُنَيْهِ الْآنُكُ] وَالْآنُكُ بِضَمِّ النُّوْنِ وَالْمَدِّ هُوَ الرَّصَاصُ الْمُذَابُ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Dan di dalam hadits Anas radhiyallahu ta’ala ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda [Barangsiapa duduk kepada seorang biduanita seraya mendengarkan darinya, maka dituangkan ke dalam kedua telinganya al-anuk] dan lafadz الآنك dengan dhommah pada huruf nun dan mad (bacaan panjang) adalah timah yang dilelehkan, dan Allah lebih mengetahui.

Hukum Menggunakan Bejana dari Permata dan Batu Mulia

وَأَمَّا أَوَانِيْ غَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَإِنْ كَانَتْ مِنَ الْجَوَاهِرِ النَّفِيْسَةِ كَالْيَاقُوْتِ وَالْفَيْرُوْزَجِ وَنَحْوِهِمَا فَهَلْ تَحْرُمُ؟ فِيْهِ خِلَافٌ قِيْلَ تَحْرُمُ لِمَا فِيْهَا مِنَ الْخُيَلَاءِ وَالسَّرَفِ وَكَسْرِ قُلُوْبِ الْفُقَرَاءِ وَالصَّحِيْحُ أَنَّهَا لَا تَحْرُمُ وَلَا خِلَافَ أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ الْإِنَاءُ الَّذِيْ نَفَاسَتُهُ فِيْ صَنْعَتِهِ وَلَا يُكْرَهُ كَلُبْسِ الْكَتَّانِ وَالصُّوْفِ النَّفِيْسَيْنِ

Dan adapun wadah-wadah selain emas dan perak, maka jika (wadah tersebut) terbuat dari permata yang berharga seperti yaqut (rubi) dan fairuz (pirus) serta sesamanya, maka apakah diharamkan? Di dalamnya terdapat perbedaan pendapat (khilaf). Dikatakan (satu pendapat) hukumnya haram karena adanya unsur kesombongan, berlebih-lebihan, dan memecahkan hati orang-orang fakir. Dan pendapat yang shahih adalah sesungguhnya hal itu tidaklah haram. Dan tidak ada perbedaan pendapat (ulama) bahwa tidak diharamkan wadah yang kemuliaannya (mahalnya) terletak pada buatannya (seninya) dan tidak pula dimakruhkan, seperti memakai kain katun dan wol yang bermutu tinggi.

Hukum Bejana dan Benda yang Disepuh Emas atau Perak

(فَرْعٌ) لَوْ اتَّخَذَ إِنَاءً مِنْ نُحَاسٍ وَنَحْوِهِ وَمَوَّهَهُ بِالذَّهَبِ أَوْ الْفِضَّةِ إِنْ حَصَلَ بِالْعَرْضِ عَلَى النَّارِ مِنْهُ شَيْءٌ حَرُمَ عَلَى الصَّحِيْحِ وَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ بِالْعَرْضِ عَلَى النَّارِ مِنْهُ شَيْءٌ فَالْمُرَجَّحُ فِيْ هَذَا الْبَابِ أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ وَالْمُرَجَّحُ فِيْ بَابِ زَكَاةِ النَّقْدَيْنِ أَنَّهُ يَحْرُمُ

(Cabang masalah) Seandainya seseorang membuat wadah dari tembaga atau sesamanya, lalu ia menyepuhnya dengan emas atau perak; jika dapat dihasilkan sesuatu (logam mulia) darinya dengan cara memaparkannya di atas api, maka hukumnya haram menurut pendapat yang shahih. Dan jika tidak dihasilkan sesuatu darinya dengan cara memaparkannya di atas api, maka pendapat yang diunggulkan dalam bab ini adalah sesungguhnya hal itu tidak haram, sedangkan pendapat yang diunggulkan dalam bab zakat dua mata uang (emas dan perak) adalah sesungguhnya hal itu haram.

قَالَ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَلَوْ مَوَّهَ السَّيْفَ وَغَيْرَهُ مِنْ آلَاتِ الْحَرْبِ أَوْ غَيْرِهَا بِذَهَبٍ تَمْوِيْهًا لَا يَحْصُلُ مِنْهُ بِالْعَرْضِ عَلَى النَّارِ شَيْءٌ فَطَرِيْقَانِ أَصَحُّهُمَا وَبِهِ قَطَعَ الْعِرَاقِيُّوْنَ التَّحْرِيْمَ لِلْحَدِيْثِ وَيَدْخُلُ فِيْهِ الْخَاتَمُ وَالدَّوَاةُ وَالْمُرَمَّلَةُ وَغَيْرُهَا فَلْيُجْتَنَبْ ذَلِكَ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Imam An-Nawawi berkata di dalam kitab Syarah Al-Muhadzdzab: “Dan sekiranya seseorang menyepuh pedang dan selainnya dari alat-alat perang atau selainnya dengan emas sebagai sepuhan yang tidak menghasilkan darinya sesuatu (emas) dengan cara dipaparkan di atas api, maka ada dua jalan (pendapat), yang paling shahih dari keduanya dan dengannya ulama Irak memastikan adalah keharaman karena adanya hadits, dan termasuk di dalamnya adalah cincin, tempat tinta, tempat pasir (untuk mengeringkan tinta), dan selainnya, maka hendaklah hal itu dijauhi. Dan Allah lebih mengetahui.”

قَالَ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَتَمْوِيْهُ سَقْفِ الْبَيْتِ وَجِدَارِهِ بِالذَّهَبِ أَوِ الْفِضَّةِ حَرَامٌ قَطْعًا ثُمَّ إِنْ حَصَلَ مِنْهُ شَيْءٌ بِالْعَرْضِ عَلَى النَّارِ حَرُمَتِ اسْتِدَامَتُهُ وَإِلَّا فَلَا وَتَبِعَهُ ابْنُ الرِّفْعَةِ عَلَى الْجَزْمِ بِذَلِكَ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Beliau (Imam An-Nawawi) berkata di dalam kitab Syarah Al-Muhadzdzab: “Dan menyepuh atap rumah dan dindingnya dengan emas atau perak adalah haram secara pasti, kemudian jika menghasilkan darinya sesuatu (emas/perak) dengan cara dipaparkan di atas api maka haram hukum melestarikannya (tetap menggunakannya), dan jika tidak (menghasilkan apa-apa) maka tidak (haram). Dan Ibnu Ar-Rif’ah mengikuti beliau atas ketetapan hal tersebut. Dan Allah lebih mengetahui.“