Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Fardhu-Fardhu Puasa
| Nama kitab | : | Kifayatul Akhyar |
| Judul kitab Arab | : | كفاية الأخيار |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mata Pelajaran | : | Fiqih |
| Musonif | : | Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi |
| Nama Arab | : | الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق |
| Lahir | : | Hauran, 752 H |
| Wafat | : | Damaskus, 1 Syawal 829 H |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kitab Puasa
Image by © LILMUSLIMIIN
كِتَابُ الصِّيَامِ
Kitab puasa.
Fardhu-Fardhu Puasa
قَالَ (وَفَرَائِضُ الصَّوْمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ، وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ، وَالشُّرْبِ، وَالْجِمَاعِ)
Syekh Abu Syuja berkata: (Fardhu-fardhu puasa itu ada lima perkara: niat, menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh)
Niat Puasa
لَا يَصِحُّ الصَّوْمُ إِلَّا بِالنِّيَّةِ لِلْخَبَرِ، وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ، وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِهَا بِلَا خِلَافٍ،
Tidak sah puasa kecuali dengan niat karena adanya dalil khabar (hadits), dan tempatnya niat adalah di dalam hati, dan tidak disyaratkan mengucapkannya dengan lisan tanpa ada perbedaan pendapat (ulama),
Wajib Niat Puasa Setiap Malam
وَتَجِبُ النِّيَّةُ لِكُلِّ لَيْلَةٍ؛ لِأَنَّ كُلَّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ، أَلَا تَرَى أَنَّهُ لَا يَفْسُدُ بَقِيَّةُ الْأَيَّامِ بِفَسَادِ يَوْمٍ مِنْهُ، فَلَوْ نَوَى صَوْمَ الشَّهْرِ كُلِّهِ صَحَّ لَهُ الْيَوْمُ الْأَوَّلُ عَلَى الْمَذْهَبِ.
dan wajib berniat untuk setiap malam; karena setiap hari merupakan ibadah yang berdiri sendiri, tidakkah engkau melihat bahwasanya tidaklah rusak sisa hari-hari yang lain dengan sebab rusaknya satu hari darinya, maka sekiranya ia berniat puasa sebulan penuh, maka sah baginya untuk hari yang pertama menurut pendapat yang kuat dalam madzhab.
Wajib Menentukan Niat Dalam Puasa Fardhu
وَيَجِبُ تَعْيِينُ النِّيَّةِ فِي صَوْمِ الْفَرْضِ،
Dan wajib menentukan niat dalam puasa fardhu,
Wajib Niat Di Malam Hari
وَكَذَا يَجِبُ أَنْ يَنْوِيَ لَيْلًا، وَلَا يَضُرُّ النَّوْمُ وَالْأَكْلُ وَالْجِمَاعُ بَعْدَ النِّيَّةِ، وَلَوْ نَوَى مَعَ طُلُوعِ الْفَجْرِ لَا تَصِحُّ لَهُ لِأَنَّهُ لَمْ يُبَيِّتْ.
dan begitu juga wajib untuk berniat pada malam hari, dan tidaklah membahayakan (membatalkan niat) tidur, makan, dan bersetubuh setelah niat, dan sekiranya ia berniat bersamaan dengan terbitnya fajar maka tidak sah baginya karena ia tidak melakukan tabyit (berniat di malam hari).
Niat Puasa Yang Sempurna
وَأَكْمَلُ النِّيَّةِ أَنْ يَنْوِيَ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى.
Dan niat yang paling sempurna adalah ia berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.
وَاعْلَمْ أَنَّ نِيَّةَ الْأَدَاءِ أَوِ الْقَضَاءِ وَنَحْوِ ذٰلِكَ عَلَى الْخِلَافِ الْمَذْكُوْرِ فِي الصَّلَاةِ وَقَدْ مَرَّ،
Dan ketahuilah bahwasanya niat ada’ (tunai) atau qadha’ dan yang serupa dengan itu (hukumnya) berdasarkan perbedaan pendapat yang telah disebutkan dalam bab shalat. dan sungguh telah lewat penjelasannya.
وَيَجِبُ أَنْ تَكُونَ النِّيَّةُ جَازِمَةً، فَلَوْ نَوَى الْخُرُوجَ مِنَ الصَّوْمِ لَا يَبْطُلُ عَلَى الصَّحِيحِ.
Wajib keadaan niat itu harus mantap (jazimah1), kemudian jika seseorang berniat keluar dari puasa maka tidaklah batal menurut pendapat yang shahih.
Catatan
1.
Contohnya adalah orang yang berpuasa harus yakin bahwa esok adalah bulan ramadhan.
Menahan Diri Dari Makan dan Minum
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا بُدَّ لِلصَّائِمِ مِنَ الْإِمْسَاكِ عَنِ الْمُفَطِّرَاتِ، وَهُوَ أَنْوَاعٌ مِنْهَا الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ وَإِنْ قَلَّ عَنِ الْعَمْدِ، وَكَذَا مَا فِي مَعْنَى الْأَكْلِ.
Dan ketahuilah bahwasanya harus bagi orang yang berpuasa untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dan ia ada beberapa macam diantaranya adalah makan dan minum meskipun sedikit dengan sengaja, dan begitu juga apa-apa yang semakna dengan makan.
Dhabit Batalnya Puasa
وَالضَّابِطُ أَنَّهُ يُفْطِرُ بِكُلِّ عَيْنٍ وَصَلَتْ مِنَ الظَّاهِرِ إِلَى الْبَاطِنِ فِي مَنْفَذٍ مَفْتُوحٍ عَنْ قَصْدٍ مَعَ ذِكْرِ الصَّوْمِ.
Dan batasannya adalah bahwasanya seseorang dapat membatalkan puasanya dengan sebab setiap benda yang sampai dari bagian luar ke bagian dalam pada lubang yang terbuka1 dengan sengaja serta ingat akan puasanya.
Catatan
1.
lubang yang tebuka itu adalah lubang hidung, mulut, lubang telinga, lubang depan dan belakang
وَشَرْطُ الْبَاطِنِ أَنْ يَكُوْنَ جَوْفًا وَإِنْ كَانَ لَا يُحِيْلُ وَهَذَا هُوَ الصَّحِيْحُ حَتَّى إِنَّهُ لَوْ قَطَّرَ فِي أُذُنِهِ شَيْئًا أَوْ أَدْخَلَ مَيْلًا أَوْ قَشَّةً فِيْهَا أَفْطَرَ أَوْ حَشَا فِي ذَكَرِهِ قُطْنًا أَفْطَرَ عَلَى الْأَصَحِّ
Dan syarat bagian dalam adalah hendaknya terbukti bagian dalam tersebut berupa lubang (rongga) meskipun terbukti bagian dalam tersebut tidak mencerna, dan inilah pendapat yang shahih, bahkan sesungguhnya jika seseorang meneteskan sesuatu ke dalam telinganya atau memasukkan alat celak atau sebatang jerami ke dalamnya maka itu membatalkan puasa, atau ia menyumbat ke dalam kemaluannya denga kapas maka itu membatalkan puasa menurut pendapat yang lebih shahih,
بِخِلَافِ الْاِكْتِحَالِ وَإِنْ وَجَدَ طَعْمَ الْكُحْلِ لِأَنَّ الْعَيْنَ لَيْسَتْ بِجَوْفٍ وَلَا مَنْفَذَ لَهَا إِلَى الْجَوْفِ وَكَذَا لَوْ غَرَزَ سِكِّيْنًا فِي لَحْمِ السَّاقِ لَا يُفْطِرُ لِأَنَّهُ لَا يُعَدُّ جَوْفًا بِخِلَافِ مَا لَوْ طُعِنَ فِي بَطْنِهِ فَإِنَّهُ جَوْفٌ
berbeda dengan memakai celak meskipun ia merasakan rasa celak tersebut karena mata bukanlah lubang dan tidak ada jalan baginya menuju rongga, demikian pula jika ia menancapkan pisau ke dalam daging betis maka itu tidak membatalkan puasa karena hal itu tidak dianggap sebagai lubang, berbeda dengan jika ia ditusuk di perutnya karena sesungguhnya perut adalah rongga,
Hukum Menelan Ludah Saat Puasa
وَابْتِلَاعُ الرِّيْقِ لَا يُفْطِرُ فَلَوْ اخْتَلَطَ بِغَيْرِهِ سَوَاءٌ كَانَ طَاهِرًا كَمَنْ فَتَلَ خَيْطًا مَصْبُوْغًا أَوْ نَجِسًا كَمَنْ دَمِيَتْ لِثَتُهُ وَهِيَ لَحْمُ أَسْنَانِهِ وَتَغَيَّرَ الرِّيْقُ بِالدَّمِ فَإِنَّهُ يُفْطِرُ بِلَا خِلَافٍ
Menelan ludah tidaklah membatalkan puasa. Kemudian jika ludah bercampur dengan yang lainnya baik itu suci seperti orang yang memintal benang yang dicelup warna atau najis seperti orang yang berdarah gusinya dan لثة adalah, daging giginya dan ludahnya berubah karena darah maka sesungguhnya itu membatalkan puasa tanpa ada perbedaan pendapat,
فَلَوْ ذَهَبَ الدَّمُ وَابْيَضَّ الرِّيْقُ فَالصَّحِيْحُ أَنَّهُ يُفْطِرُ أَيْضًا وَيُنَجِّسُ فَمَهُ وَلَا يُطَهِّرُهُ إِلَّا الْمَاءُ فَيَتَمَضْمَضُ
Kemudian jika darah telah hilang dan ludah telah kembali putih maka menurut pendapat yang shahih sesungguhnya itu membatalkan puasa juga dan darah menjadikan mulutnya najis serta tidak ada yang dapat mensucikannya kecuali air maka ia harus berkumur.
وَلَوْ خَرَجَ الرِّيْقُ إِلَى شَفَتِهِ فَرَدَّهُ بِلِسَانِهِ وَابْتَلَعَهُ أَفْطَرَ وَكَذَا لَوْ فَتَلَ خَيْطًا كَمَا لَوْ بَلَّهُ بِرِيْقِهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ فَمَهُ وَهُوَ رَطْبٌ وَحَصَلَ مِنْ رِيْقِ الْخَيْطِ مَعَ رِيْقِهِ الَّذِي فِي فَمِهِ فَابْتَلَعَهُ فَإِنَّهُ يُفْطِرُ
Dan jika ludah keluar sampai ke bibirnya lalu ia mengembalikannya dengan lidahnya dan menelannya maka itu membatalkan puasa, demikian pula jika ia memintal benang seperti halnya jika ia membasahinya dengan ludahnya kemudian ia memasukkan benang tersebut ke mulutnya dan benang tersebut basah dan terjadi percampuran dari ludah yang ada di benang dengan ludahnya yang ada di dalam mulutnya lalu ia menelannya maka sesungguhnya itu membatalkan puasa,
بِخِلَافِ مَا لَوْ أَخْرَجَ لِسَانَهُ وَعَلَى رَأْسِهِ رِيْقٌ وَلَمْ يَنْفَصِلْ وَابْتَلَعَهُ فَإِنَّهُ لَا يُفْطِرُ عَلَى الْأَصَحِّ
berbeda halnya dengan jika ia menjulurkan lidahnya dan di ujung lidahnya terdapat ludah namun tidak terpisah lalu ia menelannya maka sesungguhnya itu tidak membatalkan puasa menurut pendapat yang lebih shahih.
Hukum Menelan Dahak Dan Air Wudhu Saat Berpuasa
وَلَوْ نَزَلَتْ نُخَامَةٌ مِنْ رَأْسِهِ وَصَارَتْ فَوْقَ الْحُلْقُوْمِ نُظِرَ إِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى إِخْرَاجِهَا ثُمَّ نَزَلَتْ إِلَى الْجَوْفِ لَمْ يُفْطِرْ وَإِنْ قَدَرَ عَلَى إِخْرَاجِهَا وَتَرَكَهَا حَتَّى نَزَلَتْ بِنَفْسِهَا أَفْطَرَ أَيْضًا لِتَقْصِيْرِهِ
Jika dahak turun dari kepalanya dan jadilah dahak tersebut berada di atas tenggorokan maka diperinci: jika ia tidak mampu mengeluarkannya kemudian dahak itu turun ke rongga maka itu tidak membatalkan puasa, namun jika ia mampu mengeluarkannya dan ia membiarkannya hingga dahak itu turun dengan sendirinya maka itu membatalkan puasa juga karena keteledorannya,
وَلَوْ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ فَإِنْ بَالَغَ أَفْطَرَ وَإِلَّا فَلَا وَهَذَا إِذَا كَانَ ذَاكِرًا لِلصَّوْمِ فَإِنْ كَانَ نَاسِيًا فَلَا وَسَبْقُ الْمَاءِ عِنْدَ غَسْلِ النَّجَاسَةِ كَالْمَضْمَضَةِ
dan jika seseorang berkumur dan menghirup air ke hidung lalu ia berlebihan maka itu membatalkan puasa, jika tidak berlebihan maka tidak membatalkan puasa, dan hal ini apabila ia dalam keadaan ingat sedang berpuasa, namun jika ia lupa maka tidak batal, dan tertelannya air tanpa sengaja saat membasuh najis hukumnya sama seperti berkumur1.
Catatan
1.
Yakni jika ia berlebihan dalam berkumur saat membasuh najis sehingga air tertelan tanpa sengaja maka puasanya batal dan jika tidak berlebihan maka tidak batal
(فَرْعٌ) أَصْبَحَ شَخْصٌ وَلَوْ لَمْ يَنْوِ صَوْمًا فَتَمَضْمَضَ وَلَمْ يُبَالِغْ فَسَبَقَ الْمَاءُ إِلَىٰ جَوْفِهِ ثُمَّ نَوَىٰ صَوْمَ تَطَوُّعٍ صَحَّ عَلَى الْأَصَحِّ قَالَ النَّوَوِيُّ وَهِيَ مَسْأَلَةٌ نَفِيسَةٌ وَقَدْ تَطَلَّبْتُهَا سِنِينَ حَتَّىٰ وَجَدْتُهَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
(Cabang) Seseorang memasuki waktu pagi dan ia belum berniat puasa, lalu ia berkumur-kumur dan tidak berlebih-lebihan, kemudian air mendahului (masuk) ke dalam rongga tubuhnya, kemudian ia berniat puasa sunnah, maka puasanya sah menurut pendapat yang paling shahih. Imam An-Nawawi berkata: Dan ini adalah masalah yang sangat berharga, dan sungguh aku telah mencarinya selama bertahun-tahun hingga aku menemukannya, dan adalah milik Allah segala puji, dan Allah lebih mengetahui.
Hukum Makan Atau Minum Karena Lupa Atau Bodoh
وَلَوْ أَكَلَ نَاسِيًا لِلصَّوْمِ لَمْ يُفْطِرْ فِى الصَّحِيْحَيْنِ: [مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللّٰهُ وَسَقَاهُ]
Dan sekiranya seseorang makan dalam keadaan lupa terhadap puasa, maka ia tidak batal, Dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim: [Barangsiapa yang lupa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan memberinya minum].
فَلَوْ كَثُرَ ذٰلِكَ فَوَجْهَانِ: الْأَصَحُّ عِنْدَ الرَّافِعِيِّ يُفْطِرُ لِأَنَّ النِّسْيَانَ مَعَ الْكَثْرَةِ نَادِرٌ وَلِهٰذَا قُلْنَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِالْكَلَامِ الْكَثِيرِ وَإِنْ كَانَ نَاسِيًا
Kemudian Sekiranya hal itu (makan/minum) banyak, maka ada dua pendapat, yang paling shahih menurut Imam Ar-Rafi’i adalah itu membatalkan puasa, karena sesungguhnya lupa beserta (jumlah yang) banyak itu jarang terjadi, dan karena inilah kami berpendapat bahwa shalat menjadi batal dengan ucapan yang banyak meskipun ia dalam keadaan lupa.
وَالْأَصَحُّ عِنْدَ النَّوَوِيِّ أَنَّهُ لَا يُفْطِرُ لِعُمُومِ الْأَخْبَارِ وَلَيْسَ الصَّوْمُ كَالصَّلَاةِ وَالْفَرْقُ أَنَّ لِلصَّلَاةِ أَفْعَالًا وَأَقْوَالًا تُذَكِّرُهُ الصَّلَاةَ فَيَنْدُرُ وُقُوعُ ذٰلِكَ مِنْهُ وَبِخِلَافِ الصَّوْمِ
Dan yang paling shahih menurut Imam An-Nawawi adalah sesungguhnya itu tidak membatalkan puasa karena keumuman hadits-hadits, dan puasa itu tidaklah seperti shalat. Adapun perbedaannya adalah bahwa shalat memiliki perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan yang dapat mengingatkannya akan shalat, sehingga kejadian tersebut (lupa) jarang terjadi darinya, berbeda halnya dengan puasa.
وَلَوْ أَكَلَ جَاهِلًا بِتَحْرِيمِ الْأكْلِ نُظِرَ إِنْ كَانَ قَرِيبَ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ أَوْ نَشَأَ فِي بَادِيَةٍ بَعِيدَةٍ لَمْ يُفْطِرْ وَإِلَّا أَفْطَرَ
Dan sekiranya seseorang makan dalam keadaan tidak tahu (bodoh) akan keharaman makan, maka dilihat; jika ia terbukti adalah orang yang dekat masanya dengan islam (baru masuk Islam) atau tumbuh besar di pedalaman yang jauh, maka itu tidak membatalkan puasa, dan jika tidak demikian maka itu membatalkan puasa.
Menahan Diri Dari Berjima
وَمِنْهَا أَيْ مِنَ الْمفَطِّرَاتِ الْجِمَاعُ وَهُوَ بِالْإِجْمَاعِ وَكَذَا الْاِسْتِمْنَاءُ بِالْيَدِ وَغَيْرِهَا وَحُكْمُهُ عِنْدَ النِّسْيَانِ كَالْأَكْلِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan di antaranya, yakni, dari perkara-perkara yang membatalkan puasa adalah bersetubuh, dan hal itu berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama), dan demikian pula mengeluarkan sperma dengan tangan dan selainnya, dan hukumnya ketika lupa adalah seperti halnya makan1, dan Allah lebih mengetahui.
Catatan
1.
jika dilakukan dalam keadaan ingat sedang berpuasa maka batal dan jika lupa maka tidak batal
Menahan Diri Dari Menyengaja Muntah
قَالَ (وَتَعَمُّدُ الْقَيْءِ وَكَذَا عَدَمُ الْمَعْرِفَةِ بِطَرَفَيِ النَّهَارِ) وَمِنْ أَسْبَابِ الْمُفَطِّرَاتِ الْاِسْتِفْرَاغُ فَمَنْ تَقَيَّأَ عَمْدًا أَفْطَرَ وَإِنْ غَلَبَهُ الْقَيْءُ لَمْ يُفْطِرْ
Syekh Abu Syuja berkata: (Dan menahan diri dari menyengaja muntah, dan demikian pula tidak adanya pengetahuan tentang dua ujung siang) dan di antara sebab-sebab hal yang membatalkan puasa adalah mengeluarkan isi perut (muntah). Barangsiapa yang sengaja muntah maka itu membatalkan puasanya, dan jika muntah mengalahkannya (muntah tidak sengaja) maka itu tidak membatalkan puasa
لِقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ] رَوَاهُ أَصْحَابُ السُّنَنِ الْأَرْبَعَةِ, وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ حَسَنٌ غَرِيْبٌ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالدَّارُقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ. وَذَرَعَهُ غَلَبَهُ وَهُوَ بِالذَّالِ الْمَنْقُوْطَةِ
karena sabda Nabi ﷺ: [Barangsiapa yang muntah mengalahkannya sedangkan ia dalam keadaan berpuasa maka tidak ada qadha baginya, dan barangsiapa yang menyengaja muntah maka hendaklah ia meng-qadha] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam sunan yang empat dan Imam Tirmidzi berkata ini adalah hadits Hasan Ghorib dan telah menshahihkan pada hadtis ini Imam Ibnu Hibban Imam Ad-Daruqutni dan Imam Hakim. Lafadz درعه itu bermakna غلبه (telah mengalahkannya), dan lafadz tersebut menggunakan huruf Dzal yang diberi titik
Mengetahui Dua Ujung Siang
وَأَمَّا مَعْرِفَةُ طَرَفَيِ النَّهَارِ فَلَا بُدَّ مِنْ ذَلِكَ فِي الْجُمْلَةِ لِصِحَّةِ الصَّوْمِ حَتَّى لَوْ نَوَى بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ لَا يَصِحُّ صَوْمُهُ أَوْ أَكَلَ مُعْتَقِدًا أَنَّهُ لَيْلٌ وَكَانَ قَدْ طَلَعَ الْفَجْرُ لَزِمَهُ الْقَضَاءُ
Dan adapun mengetahui dua ujung siang (waktu fajar dan maghrib) maka hal itu harus dilakukan secara global demi sahnya puasa, sehingga jika seseorang berniat setelah terbitnya fajar maka tidak sah puasanya, atau ia makan dengan meyakini bahwa hari masih malam dan ternyata fajar telah terbit, maka wajib baginya mengqadha
وَكَذَا لَوْ أَكَلَ مُعْتَقِدًا أَنَّهُ قَدْ دَخَلَ اللَّيْلُ ثُمَّ بَانَ خِلَافُهُ لَزِمَهُ الْقَضَاءُ حَتَّى لَوْ أَكَلَ آخِرَ النَّهَارِ هَجْمًا بِلَا ظَنٍّ فَهُوَ حَرَامٌ بِلَا خِلَافٍ نَعَمْ إِذَا غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ الْغُرُوبُ بِالِاجْتِهَادِ بِوِرْدٍ وَنَحْوِهِ جَازَ لَهُ الْأَكْلُ عَلَى الصَّحِيْحِ
Dan demikian pula jika ia makan dengan meyakini bahwa malam telah masuk kemudian jelaslah kebalikannya (ternyata belum malam), maka wajib baginya mengqadha, bahkan jika ia makan di akhir siang segera (belum waktunya) tanpa adanya dugaan (sudah maghrib) maka hal itu haram tanpa ada perbedaan pendapat. Benar, namun apabila telah kuat dugaannya akan terbenamnya matahari dengan cara ijtihad melalui wirid (rutinitas) atau semisalnya, maka boleh baginya makan menurut pendapat yang shahih
وَقَالَ الْأُسْتَاذُ أَبُو إِسْحَاقَ لَا يَجُوزُ لِقُدْرَتِهِ عَلَى الْيَقِينِ بِالصَّبْرِ وَالْأَحْوَطُ لِلصَّائِمِ أَنْ لَا يَأْكُلَ حَتَّى يَتَيَقَّنَ غُرُوْبَ الشَّمْسِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan Al-Ustadz Abu Ishaq berkata: Tidak boleh, karena kemampuannya untuk mencapai keyakinan dengan cara bersabar. Dan yang lebih hati-hati bagi orang yang berpuasa adalah hendaknya ia tidak makan sampai ia meyakini terbenamnya matahari. Dan Allah Maha Mengetahui
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!