Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Hari-Hari Yang Diharamkan Untuk Berpuasa
| Nama kitab | : | Kifayatul Akhyar |
| Judul kitab Arab | : | كفاية الأخيار |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mata Pelajaran | : | Fiqih |
| Musonif | : | Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi |
| Nama Arab | : | الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق |
| Lahir | : | Hauran, 752 H |
| Wafat | : | Damaskus, 1 Syawal 829 H |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kitab Puasa
Image by © LILMUSLIMIIN
كِتَابُ الصِّيَامِ
Kitab puasa.
Hari-Hari Yang Diharamkan Untuk Berpuasa
قَالَ: (وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ: الْعِيدَيْنِ وَأَيَّامِ التَّشْرِيقِ الثَّلَاثَةِ)
Syekah Abu Syuja telah berkata: (Dan berpuasa haram pada lima hari: dua hari raya dan tiga hari tasyriq)
Hari Idul Fitri dan Idul Adha
لَا يَصِحُّ صَوْمُ عِيدِ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى بِالْإِجْمَاعِ، وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَهُوَ آثِمٌ لِأَنَّ نَفْسَ الْعِبَادَةِ عَيْنُ الْمَعْصِيَةِ.
Tidak sah puasa Idul Fitri dan Idul Adha berdasarkan ijma’, dan hal tersebut haram atas orang yang berpuasa dan ia berdosa; karena hakikat ibadah adalah inti kemaksiatan1.
Catatan
1.
Yakni hakikat berpuasa di hari Idul Fitri dan Idul Adha yang dengan tegas telah dilarang oleh Nabi ﷺ adalah inti dari kemaksiatan
وَفِي الصَّحِيحَيْنِ [نَهَى رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى] وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَصُومَهُمَا تَطَوُّعًا أَوْ عَنْ وَاجِبٍ أَوْ عَنْ نَذْرٍ.
Dan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim [Rasulullah ﷺ melarang dari berpuasa pada dua hari: hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha] dan tidak ada perbedaan antara ia berpuasa pada keduanya sebagai kesunnahan, atau dari kewajiban, atau dari nadzar.
وَلَوْ نَذَرَ صَوْمَهُمَا لَمْ يَنْعَقِدْ نَذْرُهُ، حَتَّى نَقَلَ الْإِمَامُ عَنِ الْقَفَّالِ أَنَّ الْأَوْقَاتَ الْمَنْهِيَّ عَنْهَا لَا بُدَّ أَنْ يَأْتِيَ فِيهَا بِمُنَافٍ لِلصَّوْمِ.
Dan jika seseorang bernadzar untuk berpuasa pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, maka tidak sah nadzarnya, hingga Al-Imam Haramain menukil dari Imam Qaffal bahwa waktu-waktu yang dilarang dari waktu-waktu tersebut itu haruslah seseorang mendatangkan di dalam waktu-waktu tersebut dengan sesuatu yang menafikan (meniadakan) puasa.
Hari Tasyriq
وَكَمَا يَحْرُمُ صَوْمُ الْعِيدَيْنِ يَحْرُمُ صَوْمُ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، وَهِيَ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ، وَهَذَا هُوَ الْجَدِيدُ الصَّحِيحُ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [نَهَى عَنْ صِيَامِهَا] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ.
Dan sebagaimana berpuasa haram pada dua hari raya, haram pula puasa pada hari-hari Tasyriq, yaitu tiga hari setelah hari kurban (Nahr), dan ini adalah pendapat Qaul Jadid yang shahih; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [melarang dari berpuasa pada hari hari Tasyriq] Telah meriwayatkan pada hadits ini Al-Imam Abu Dawud dengan sanad yang shahih.
وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ [إِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللّٰهِ تَعَالَىٰ] وَفِي الْقَدِيمِ أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمُتَمَتِّعِ الْعَادِمِ لِلْهَدْيِ أَنْ يَصُومَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ وَهِيَ الْمُشَارُ إِلَيْهَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ ﴿فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ﴾
Dan di dalam kitab Shahih Muslim [Sesungguhnya hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah Ta’ala] dan di dalam (pendapat) Qadim bahwasanya boleh bagi orang yang haji Tamattu’ yang tidak memiliki hewan kurban untuk berpuasa pada hari-hari Tasyriq, dan ia (hari Tasyriq) adalah yang diisyaratkan kepadanya (kepada tiga hari itu) dalam firman Allah Ta’ala ﴾Maka berpuasa tiga hari di dalam masa haji﴿
وَفِي الْبُخَارِيِّ عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا قَالَا لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْيَ
Dan di dalam kitab Shahih Bukhari dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya keduanya berkata: Tidak diberi keringanan pada hari-hari Tasyriq untuk dipuasakan kecuali bagi orang yang tidak mendapati hewan kurban
وَاخْتَارَ النَّوَوِيُّ هَذَا الْقَوْلَ وَصَحَّحَهُ ابْنُ الصَّلَاحِ قَبْلَهُ وَالْمَذْهَبُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ فَإِنْ قُلْنَا بِالْقَوْلِ الْقَدِيمِ فَهَلْ يَجُوزُ لِغَيْرِ الْمُتَمَتِّعِ صَوْمُهَا فِيهِ وَجْهَانِ الصَّحِيحُ التَّحْرِيمُ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan Imam an-Nawawi memilih pendapat ini dan Ibnu Shalah telah mensahihkannya sebelum Imam Nawawi, sedangkan menurut pendapat Madzhab bahwasanya hal itu tidak boleh, maka jika kita mengikuti pendapat Qadim, apakah boleh bagi selain orang haji Tamattu’ untuk berpuasa pada hari tersebut? Di dalamnya terdapat dua pendapat, pendapat yang sahih adalah keharamannya, dan Allah lebih mengetahui
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!