Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Hari Yang Dimakruhkan Untuk Berpuasa
| Nama kitab | : | Kifayatul Akhyar |
| Judul kitab Arab | : | كفاية الأخيار |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mata Pelajaran | : | Fiqih |
| Musonif | : | Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi |
| Nama Arab | : | الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق |
| Lahir | : | Hauran, 752 H |
| Wafat | : | Damaskus, 1 Syawal 829 H |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kitab Puasa
Image by © LILMUSLIMIIN
كِتَابُ الصِّيَامِ
Kitab puasa.
Hari Yang Dimakruhkan Untuk Berpuasa
قَالَ: (وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ أَوْ يَصِلَهُ بِمَا قَبْلَهُ)
Syekh Abu Syuja berkata: (Dan dimakruhkan1 berpuasa pada hari syak2 kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan baginya atau ia menyambung puasa tersebut dengan hari sebelumnya)
Catatan
1.
Yakni makruh tahrim
2.
Hari ke-30 di bulan Sya'ban ketika hilal tidak terlihat untuk menentukan awal bulan Ramadhan
Hukum Puasa Hari Syak
يُحْرَمُ صَوْمُ الشَّكِّ تَطَوُّعًا بِلَا سَبَبٍ وَكَذَا يُحْرَمُ صَوْمُهُ تَحَرِّيًا لِأَجْلِ رَمَضَانَ قَالَهُ الْبَنْدَنِيْجِيُّ لِقَوْلِ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ [مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ] صَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ تَعْلِيْقًا
Diharamkan puasa pada hari syak sebagai puasa sunnah tanpa sebab, dan demikian pula diharamkan puasa pada hari tersebut karena berhati-hati demi bulan Ramadhan, Imam Al-Bandaniji telah menjelaskan tentangnya karena perkataan Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘Anhu [Barangsiapa berpuasa pada hari syak maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim1] Telah menshahihkan hadits ini Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Hakim. Dan Imam Bukhari telah meriwayatkan hadits ini secara Ta’liq
Catatan
1.
Yakni Nabi Muhammad ﷺ
Tidak Sah Berpuasa Di Hari Syak
وَلَوْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ لَمْ يَصِحَّ فِيْ الْأَصَحِّ قِيَاسًا عَلَى صَوْمِ يَوْمِ الْعِيْدِ بِجَامِعِ التَّحْرِيْمِ وَقِيْلَ يَصِحُّ لِأَنَّهُ قَابِلٌ لِلصَّوْمِ فِيْ الْجُمْلَةِ بِخِلَافِ يَوْمِ الْعِيْدِ
Jika seseorang berpuasa pada hari syak maka tidaklah sah menurut pendapat yang paling shahih karena diqiyaskan atas puasa hari raya dengan titik temu (illat) keharamannya, dan dikatakan (pendapat lain) sah karena hari syak itu menerima puasa secara umum berbeda dengan hari raya
Tidak Sah Nadzar Berpuasa Hari Syak
وَلَوْ نَذَرَ صَوْمَ يَوْمِ الشَّكِّ لَمْ يَصِحَّ عَلَى الْأَصَحِّ
Dan sekiranya seseorang bernazar untuk berpuasa pada hari syak maka tidaklah sah menurut pendapat yang paling shahih
Pengecualian Bagi Yang Bertepatan Dengan Kebiasaan
وَيُسْتَثْنَى مَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ وَهُوَ أَنْ يُوَافِقَ يَوْمُ الشَّكِّ مَا يَعْتَادُ صَوْمَهُ تَطَوُّعًا بِأَنْ كَانَ يَسْرُدُ الصَّوْمَ أَوْ يَصُومُ يَوْمًا مُعَيَّنًا كَالِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ أَوْ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
Dan dikecualikan apa yang telah Syekh Abu Syuja sebutkan tentangnya, yaitu hari syak bertepatan dengan apa yang seseorang membiasakan puasanya secara sunnah, semisal ia terbukti terus menerus berpuasa atau ia berpuasa pada hari tertentu seperti hari Senin dan Kamis atau ia berpuasa sehari dan berbuka sehari
وَحُجَّتُهُ قَوْلُهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [لَا تَقَدَّمُوْا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُوْمُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ]
Dan hujjahnya adalah sabda Nabi ﷺ [Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu hari atau dua hari, kecuali seseorang yang telah terbiasa melakukan suatu puasa, maka hendaklah ia berpuasa pada hari itu]
وَقَوْلُهُ عَلَيْهِ اَلصَّلَاةُ وَاَلسَّلَامُ [لَا تَقَدَّمُوْا] هُوَ بِفَتْحِ اَلتَّاءِ لِأَنَّهُ مُضَارِعٌ أَصْلُهُ تَتَقَدَّمُوْا وَلَكِنْ حُذِفَ مِنْهُ إِحْدَى التَّاءَيْنِ
Dan sabda Nabi ﷺ [Janganlah kalian mendahului] itu dengan memfathah huruf Ta’, karena ia adalah fi’il mudhari’ yang asalnya adalah تَتَقَدَّمُوْا akan tetapi dibuang darinya salah satu dari dua huruf Ta’
Pengecualian Bagi Yang Menyambung Dengan Hari Sebelumnya
وَيُسْتَثْنَى مَا إِذَا وَصَلَهُ بِمَا قَبْلَهُ لِأَنَّهُ بِالْوَصْلِ يَنْتَفِي التَّحَرِّيْ لِرَمَضَانَ
Dan dikecualikan apa-apa apabila seseorang menyambung puasa dengan hari sebelumnya, karena dengan menyambungnya maka hilanglah unsur kesengajaan (mencari-cari waktu) untuk Ramadhan
وَقَوْلُ الشَّيْخِ أَوْ يَصِلَهُ بِمَا قَبْلَهُ يَصْدُقُ ذٰلِكَ عَلَىٰ مَا لَوْ وَصَلَهُ بِيَوْمٍ وَفِيْهِ نَظَرٌ مِنْ جِهَةِ الْحَدِيْثِ وَيَنْبَغِيْ أَنْ يُحْمَلَ كَلَامُ الشَّيْخِ عَلَىٰ مَا إِذَا وَصَلَهُ بِأَكْثَرَ مِنْ يَوْمٍ
Dan perkataan Syaikh Abu Syuja “atau seseorang menyambung puasa dengan hari sebelumnya” hal itu berlaku (mencakup) pada keadaan sekiranya ia menyambungnya dengan satu hari, dan di dalamnya terdapat tinjauan dari sisi hadits, dan seyogyanya ucapan Syaikh Abu Syuja tersebut dibawa (diarahkan) pada keadaan apabila ia menyambungnya dengan lebih dari satu hari.
وَقَدْ صَرَّحَ بِذٰلِكَ الْبَنْدَنِيْجِيُّ فَقَالَ وَلَا يَتَقَدَّمُ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ مَا كَانَ أَبَدًا يَصُوْمُهُ أَوْ كَانَ يَسْرُدُ الصَّوْمَ
Dan sungguh Imam al-Bandaniji telah menjelaskan hal itu, beliau berkata: Dan janganlah seseorang mendahului bulan (Ramadhan) dengan satu hari atau dua hari, kecuali jika ia bertepatan dengan hari yang terbukti ia selalu berpuasa pada hari tersebut atau ia adalah orang yang menyambung puasa (puasa terus-menerus).
Pengecualian Untuk Puasa Wajib Dan Qadha
وَيُسْتَثْنَى أَيْضًا مَا إِذَا صَامَهُ عَنْ نَذْرٍ أَوْ قَضَاءٍ مُسَارَعَةً إِلَى بَرَاءَةِ الذِّمَّةِ أَوْ كَانَ لَهُ سَبَبٌ فَجَازَ كَنَظِيْرِهِ مِنَ الصَّلَوَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ الْمَكْرُوْهَةِ وَلَيْسَ مِنَ الْأَسْبَابِ الْاِحْتِيَاطُ لِرَمَضَانَ بِلَا خِلَافٍ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan dikecualikan juga, keadaan apabila seseorang berpuasa karena nadzar atau qadha demi menyegerakan pembebasan tanggung, atau terbukti puasa tersebut memiliki sebab, maka hukumnya boleh sebagaimana keserupaannya dari shalat-shalat di waktu-waktu yang dimakruhkan1, dan tidaklah termasuk dari sebab-sebab (yang membolehkan) yaitu sikap berhati-hati untuk Ramadhan tanpa ada perbedaan pendapat, dan Allah lebih mengetahui.
Catatan
1.
Ba'da Subuh, ba'da Ashar, ketika matahari terbit, ketika matahari tepat di atas kepala, ketika matahari terbenam
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!