Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar Bagian 3 | Kulit Bangkai dan Dagingnya

04 Sep, 2026
Nama kitab:Kifayatul Akhyar
Judul kitab Arab: كفاية الأخيار
Judul terjemah: Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar
Mata Pelajaran:Fiqih
Musonif:Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi
Nama Arab:الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق
Lahir:Hauran, 752 H
Wafat:Damaskus, 1 Syawal 829 H
Penerjemah:Ahsan Dasuki

Hukum Kulit Bangkai Menjadi Suci dengan Disamak

قَالَ: (فَصْلٌ: وَجُلُوْدُ الْمَيْتَةِ تَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ إِلَّا جِلْدَ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا) الْحَيَوَانُ الَّذِيْ يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ إِذَا دُبِغَ جِلْدُهُ يَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ سَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ مَأْكُوْلُ اللَّحْمِ وَغَيْرُهُ

Syekh Abu Syuja telah berkata: (Fasal: Dan kulit-kulit bangkai itu menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi, dan apa-apa yang lahir dari keduanya atau dari salah satu dari keduanya) adapun hewan yang menjadi najis sebab mati, apabila kulitnya disamak maka ia menjadi suci dengan disamak, sama saja dalam hal itu hewan yang dimakan dagingnya maupun selainnya.

Dalil-Dalil Kesucian Kulit Setelah Disamak

وَالْأَصْلُ فِيْ ذَلِكَ حَدِيْثُ مَيْمُوْنَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا حَيْثُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ شَاتِهَا [لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَقَالُوْا إِنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطَهِّرُهُ الْمَاءُ وَالْقَرَظُ]

Dan dasar dalam hal itu adalah hadits Maimunah radhiyallahu ‘anha sekiranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang kambingnya [Sekiranya kalian mengambil kulitnya, lalu mereka berkata: Sesungguhnya ia adalah bangkai, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Air dan daun qardh dapat mensucikannya].

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ [إِذَا دُبِغَ الْإِيْهَابُ فَقَدْ طَهُرَ]

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda [Apabila kulit mentah telah disamak, maka sungguh ia telah suci].

Kesucian Bagian Luar dan Dalam Kulit yang Disamak

ثُمَّ إِذَا دُبِغَ الْجِلْدُ طَهُرَ ظَاهِرُهُ قَطْعًا وَكَذَا بَاطِنُهُ عَلَى الْمَشْهُوْرِ الْجَدِيْدِ فَيُصَلَّى عَلَيْهِ وَفِيْهِ وَيُسْتَعْمَلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْيَابِسَةِ وَالرَّطْبَةِ وَيَجُوْزُ بَيْعُهُ وَهِبَتُهُ وَالْوَصِيَّةُ بِهِ

Kemudian apabila kulit telah disamak, maka suci bagian luarnya secara pasti, dan demikian pula bagian dalamnya menurut pendapat yang masyhur (dalam madzhab) Jadid. Maka boleh shalat di atasnya dan di dalamnya, dan boleh digunakan pada benda-benda yang kering maupun yang basah, serta boleh menjualnya, menghibahkannya, dan mewasiatkannya.

Hukum Memakan Kulit Hewan Halal yang Telah Disamak

وَهَلْ يَجُوْزُ أَكْلُهُ مِنْ مَأْكُوْلِ اللَّحْمِ رَجَّحَ الرَّافِعِيُّ بِالْجَوَازِ وَرَجَّحَ النَّوَوِيُّ التَّحْرِيْمَ

Dan apakah boleh memakannya dari (kulit) hewan yang dagingnya boleh dimakan? Imam Ar-Rafi’i mengunggulkan pendapat yang membolehkan, sedangkan Imam An-Nawawi mengunggulkan pendapat yang mengharamkan.

Bahan-Bahan Penyamak Kulit

وَيَكُوْنُ الدِّبَاغُ بِالْأَشْيَاءِ الْحَرِيْفَةِ كَالشَّبِّ وَالشَّثِّ وَالْقَرَظِ وَقُشُوْرِ الرُّمَّانِ وَالْعَفْصِ وَيَحْصُلُ الدِّبَاغُ بِالْأَشْيَاءِ الْمُتَنَجِّسَةِ وَالنَّجِسَةِ كَذَرْقِ الْحَمَامِ عَلَى الْأَصَحِّ

Dan penyamakan itu dilakukan dengan benda-benda yang tajam (rasanya/sifatnya) seperti tawas, pohon syats, daun qardh, kulit delima, dan afsh (buah majakane). Dan penyamakan itu (tetap) sah dengan benda-benda yang terkena najis (mutanajjis) maupun benda najis seperti kotoran burung merpati menurut pendapat yang paling shahih.

Kewajiban Membasuh Kulit Setelah Proses Penyamakan

وَلَا يَكْفِي التَّجْمِيْدُ بِالتُّرَابِ وَالشَّمْسِ عَلَى الصَّحِيْحِ وَيَجِبُ غَسْلُهُ بَعْدَ الدِّبَاغِ إِنْ دُبِغَ بِنَجَسٍ قَطْعًا وَكَذَا إِنْ دُبِغَ بِطَاهِرٍ عَلَى الْأَصَحِّ

Dan tidaklah cukup pengeringan dengan debu dan sinar matahari menurut pendapat yang shahih. Dan wajib membasuhnya setelah penyamakan jika disamak dengan benda najis secara pasti, dan demikian pula jika disamak dengan benda suci menurut pendapat yang paling shahih.

Tiga Syarat Kulit Dinyatakan Telah Tersamak

قَالَ الْأَصْحَابُ وَيُعْتَبَرُ فِيْ كَوْنِهِ صَارَ مَدْبُوْغًا ثَلَاثَةُ أُمُوْرٍ أَحَدُهَا نَزْعُ فَضَلَاتِهِ الثَّانِيْ أَنْ يُطَيِّبَ نَفْسَ الْجِلْدِ الثَّالِثُ أَنْ يَنْتَهِيَ فِيْ الدِّبْغِ إِلَى حَالَةٍ بِحَيْثُ لَوْ نُقِعَ فِيْ الْمَاءِ لَمْ يَعُدْ الْفَسَادُ وَالنَّتْنُ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Para sahabat (ulama kalangan madzhab Syafi’i) berkata: Dan dianggap dalam hal keberadaannya (kulit tersebut) telah menjadi tersamak itu ada tiga perkara; salah satunya adalah menghilangkan sisa-sisa kotorannya (daging atau lemak), yang kedua adalah agar menjadi baik/harum zat kulitnya, yang ketiga adalah agar proses penyamakan mencapai suatu keadaan yang sekiranya jika direndam di dalam air maka tidak akan kembali lagi kerusakan dan bau busuknya, dan Allah lebih mengetahui.

Alasan Kulit Anjing dan Babi Tidak Suci Meski Disamak

وَأَمَّا جِلْدُ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ وَفَرْعُ أَحَدِهِمَا فَلَا يَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ عِنْدَنَا بِلَا خِلَافٍ لِأَنَّهُمَا نَجِسَانِ فِيْ حَالِ الْحَيَاةِ وَالدِّبَاغُ إِنَّمَا يُطَهِّرُ جِلْدًا نَجُسَ بِالْمَوْتِ لِأَنَّ غَايَةَ الدِّبَاغِ نَزْعُ الْفَضَلَاتِ وَدَفْعُ الْاِسْتِحَالَاتِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ الْحَيَاةَ أَبْلَغُ فِيْ ذٰلِكَ مِنَ الدِّبَاغِ فَإِذَا لَمْ تُفِدِ الْحَيَاةُ الطَّهَارَةَ فَأَوْلَى أَنْ لَا يُفِيْدَ الدِّبَاغُ

Dan adapun kulit anjing dan babi serta keturunan dari salah satu keduanya, maka tidak bisa suci dengan disamak menurut kami (madzhab Syafi’i) tanpa ada perbedaan pendapat, karena sesungguhnya keduanya adalah najis dalam keadaan hidup, sedangkan menyamak itu hanyalah mensucikan kulit yang menjadi najis karena kematian, karena tujuan dari menyamak adalah menghilangkan sisa-sisa kotoran dan mencegah kerusakan, dan telah diketahui bahwa kehidupan itu lebih kuat dalam hal tersebut daripada menyamak, maka apabila kehidupan saja tidak memberikan faedah kesucian, maka lebih utama lagi bahwa menyamak tidak memberikan faedah (kesucian).

Hukum Tulang dan Rambut Bangkai

(وَعَظْمُ الْمَيْتَةِ وَشَعْرُهَا نَجِسٌ إِلَّا الْآدَمِيَّ) الْأَصْلُ فِيْ ذٰلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ﴾ وَتَحْرِيْمُ مَا لَيْسَ بِحَرَامٍ وَلَا ضَرَر فِيْ أَكْلِهِ يَدُلُّ عَلَى نَجَاسَتِهِ وَلَا شَكَّ أَنَّ الْعَظْمَ وَالشَّعْرَ مِنْ أَجْزَاءِ الْحَيَوَانِ

(Dan tulang bangkai serta rambutnya adalah najis kecuali manusia) Dasar dalam hal tersebut adalah firman Allah Ta’ala ﴾Diharamkan atas kalian bangkai﴿ dan pengharaman terhadap apa-apa yang bukan merupakan perkara haram serta tidak ada bahaya dalam memakannya menunjukkan atas kenajisannya, dan tidak diragukan lagi bahwa tulang dan rambut termasuk dari bagian-bagian hewan.

Khilafiah Mengenai Kesucian Rambut Bangkai

نَعَمْ فِيْ الشَّعْرِ خِلَافٌ فِيْ أَنَّهُ يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ أَمْ لَا وَهُوَ قَوْلَانِ أَحدهمَا لَا يَنْجُسُ لِأَنَّهُ لَا تَحُلُّهُ الْحَيَاةُ فَلَا رُوْحَ فِيْهِ فَلَا يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ بِدَلِيْلِ أَنَّهُ إِذَا قُطِعَ لَا يُحِسُّ وَلَا يَأْلَمُ

Benar, di dalam masalah rambut terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah ia menjadi najis sebab kematian atau tidak, dan hal itu ada dua pendapat: salah satunya adalah tidak najis karena kehidupan tidak menempatinya sehingga tidak ada ruh di dalamnya, maka ia tidak najis sebab kematian dengan dalil bahwa sesungguhnya rambut apabila dipotong tidak merasa dan tidak sakit,

وَأَظْهَرُهُمَا أَنَّهُ يَنْجُسُ وَهُوَ الَّذِيْ جَزَمَ بِهِ الشَّيْخُ لِأَنَّهُ إِنْ حَلَّتْهُ الْحَيَاةُ فَيَنْجُسُ وَإِلَّا فَيَنْجُسُ تَبَعًا لِلْجُمْلَةِ لِأَنَّهُ مِنْ جُمْلَتِهَا كَمَا يَجِبُ غَسْلُهُ فِيْ الطَّهَارَةِ وَالْجَنَابَةِ

dan pendapat yang paling kuat dari keduanya adalah bahwa rambut itu najis, dan itulah pendapat yang dipastikan oleh Syaikh (Abu Syuja’), karena jika kehidupan menempatinya maka ia najis, dan jika tidak (menempatinya) maka ia tetap najis karena mengikuti keseluruhan tubuh sebab ia adalah bagian dari keseluruhannya sebagaimana wajib membasuhnya dalam bersuci dan jinabah.

Khilafiah Mengenai Kesucian Tulang Bangkai

وَأَمَّا الْعَظْمُ فَفِيْهِ خِلَافٌ قِيْلَ إِنَّهُ كَالشَّعْرِ وَالْمَذْهَبُ الْقَطْعُ بِنَجَاسَتِهِ لِأَنَّهُ يَحُسُّ وَيَأْلَمُ بِالْقَطْعِ وَالصُّوْفُ وَالْوَبَرُ وَالرِّيْشُ كَالشَّعْرِ

Dan adapun tulang, maka di dalamnya terdapat perbedaan pendapat, dikatakan bahwa sesungguhnya ia (tulang) itu seperti rambut, dan madzhab (yang kuat) adalah memastikan kenajisannya karena sesungguhnya ia (tulang) dapat merasa dan sakit sebab dipotong. Dan bulu domba, bulu unta, dan bulu burung adalah seperti rambut.

Hukum Rambut Mayit (Manusia)

فَإِذَا قُلْنَا بِنَجَاسَةِ الشَّعْرِ فَفِيْ شَعْرِ الْآدَمِيِّ قَوْلَانِ بِنَاءً عَلَى نَجَاسَتِهِ بِالْمَوْتِ إِنْ قُلْنَا يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ فَكَذَا يَنْجُسُ شَعْرُهُ وَإِنْ قُلْنَا لَا يَنْجُسُ وَهُوَ الرَّاجِحُ فَلَا يَنْجُسُ شَعْرُهُ بِالْمَوْتِ عَلَى الْأَصَحِّ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Maka apabila kita berpendapat dengan najisnya rambut, maka di dalam rambut manusia terdapat dua pendapat berdasarkan atas kenajisannya sebab kematian; jika kita berpendapat ia (manusia) menjadi najis sebab kematian, maka demikian pula najis rambutnya, dan jika kita berpendapat ia tidak menjadi najis—dan inilah pendapat yang unggul (rajih)—maka tidaklah najis rambutnya sebab kematian menurut pendapat yang paling shahih. Dan Allah lebih mengetahui.