Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Perkara-Perkara Yang Disunnahkan Dalam Puasa

25 Feb, 2026
Nama kitab:Kifayatul Akhyar
Judul kitab Arab: كفاية الأخيار
Judul terjemah: Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar
Mata Pelajaran:Fiqih
Musonif:Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi
Nama Arab:الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق
Lahir:Hauran, 752 H
Wafat:Damaskus, 1 Syawal 829 H
Penerjemah:Ahsan Dasuki

Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kitab Puasa

Kifayatul AkhyarImage by © LILMUSLIMIIN

كِتَابُ الصِّيَامِ

Kitab puasa.

Perkara-Perkara Yang Disunnahkan Dalam Puasa

(وَيُسْتَحَبُّ فِيْ الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ تَعْجِيْلُ الْفِطْرِ وَتَأْخِيْرُ السُّحُوْرِ وَتَرْكُ الْهَجْرِ مِنَ الْكَلَامِ)

(Dan disunnahkan dalam puasa tiga perkara: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meninggalkan perkataan yang buruk dari ucapan)

Disunnahkan Menyegerakan Berbuka

يُسَنُّ لِلصَّائِمِ أَنْ يُعَجِّلَ الْفِطْرَ عِنْدَ تَحَقُّقِ غُرُوْبِ الشَّمْسِ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: [لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ]

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk menyegerakan berbuka ketika telah nyata terbenamnya matahari karena sabda Nabi ﷺ: [Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka]

Dimakruhkan Mengakhirkan Berbuka

وَيُكْرَهُ لَهُ التَّأْخِيْرُ إِنْ قَصَدَ ذَلِكَ وَرَأَى أَنَّ فِيْهِ فَضِيْلَةً قَالَهُ الشَّافِعِيُّ فِيْ الْأُمِّ وَإِلَّا فَلَا بَأْسَ بِهِ وَلَا يُسْتَحَبُّ

dan dimakruhkan baginya mengakhirkan (berbuka) jika ia bermaksud demikian dan ia beranggapan bahwa di dalamnya terdapat keutamaan, Imam As-Syafi’i telah berkata tentangnya dalam kitab Al-Umm, dan jika tidak (bermaksud demikian) maka tidak mengapa namun tidak disunnahkan

وَقَدْ رَوَى ابْنُ حِبَّانَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ [كَانَ إِذَا كَانَ صَائِمًا لَمْ يُصَلِّ حَتَّى يُؤْتَى بِرُطَبٍ أَوْ مَاءٍ فَيَأْكُلُ أَوْ يَشْرَبُ وَإِذَا كَانَ فِيْ الشِّتَاءِ لَمْ يُصَلِّ حَتَّى نَأْتِيَهُ بِتَمْرٍ أَوْ مَاءٍ]

Dan sungguh Imam Ibnu Hibban telah meriwayatkan dengan sanad yang shohih bahwa Nabi ﷺ: [Terbukti apabila beliau sedang berpuasa tidaklah Nabi shalat hingga didatangkan kurma basah atau air lalu beliau makan atau minum, dan apabila Nabi berpuasa di musim dingin beliau tidak shalat hingga kami membawakannya kurma kering atau air]

Disunnahkan Berbuka Dengan Kurma / Yang Manis

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى تَمْرٍ وَإِلَّا فَعَلَى مَاءٍ لِلْحَدِيْثِ وَلِأَنَّ الْحُلْوَ يُقَوِّيْ وَالْمَاءَ يُطَهِّرُ وَقَالَ الرَّوْيَانِيُّ إِنْ لَمْ يَجِدِ التَّمْرَ فَعَلَى حُلْوٍ لِأَنَّ الصَّوْمَ يَنْقُصُ الْبَصَرَ وَالتَّمْرَ يَرُدُّهُ فَالْحُلْوُ فِيْ مَعْنَاهُ

Dan disunnahkan agar berbuka dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air karena adanya hadits, dan karena sesuatu yang manis itu menguatkan sedangkan air itu mensucikan, Imam Ar-Rauyani berkata: Jika tidak mendapati kurma maka dengan sesuatu yang manis karena puasa itu mengurangi (ketajaman) penglihatan dan kurma mengembalikannya, maka sesuatu yang manis itu semakna dengannya (kurma)

وَإِنْ كَانَ بِمَكَّةَ فَعَلَى مَاءِ زَمْزَمَ وَقَالَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ: اَلْأَوْلَى فِيْ زَمَانِنَا أَنْ يُفْطِرَ عَلَى مَاءٍ يَأْخُذُهُ بِكَفِّهِ مِنَ النَّهْرِ لِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الشُّبْهَةِ

Dan jika ia berada di Makkah maka dengan air Zamzam, dan Al-Qadhi Husain telah berkata: Yang lebih utama di zaman kita adalah berbuka dengan air yang ia ambil air itu dengan telapak tangannya dari sungai karena hal itu lebih jauh dari syubhat

وَقَالَ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَمَا قَالَاَهُ شَاذٌّ مُخَالِفٌ لِلْحَدِيْثِ

Dan Imam Nawawi telah berkata di dalam Syarah al-Muhadzdzab: “Dan apa yang mereka berdua1 katakan adalah pendapat syadz (ganjil) lagi bertentangan dengan hadits.”

Catatan
    
1.

Imam Ar-Rauyani dan Al-Qadhi Husain

Disunnahkan Mengakhirkan Sahur

وَأَمَّا اسْتِحْبَابُ تَأْخِيْرِ السُّحُوْرِ فَفِيْ الْحَدِيْثِ [إِنَّ تَأْخِيْرَ السُّحُوْرِ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِيْنَ] رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِى صَحِيْحِهِ.

Adapun kesunnahan mengakhirkan sahur, maka itu terdapat di dalam hadits. [“Sesungguhnya mengakhirkan sahur adalah termasuk sunnah-sunnah para Rasul”] Imam Ibnu Hibban telah meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya.

وَفِيْ الْحَدِيْثِ أَيْضًا أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ [لَا تَزَالُ أُمَّتِيْ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ وَأَخَّرُوْا السُّحُوْرَ] رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِى مُسْنَدِهِ. وَلِأَنَّ فِيْ التَّأْخِيْرِ حِكْمَةَ مَشْرُوْعِيَّتِهِ وَهِيَ التَّقَوِّيْ عَلَى الْعِبَادَةِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

dan di dalam hadits juga bahwasanya Nabi ﷺ telah bersabda: [“Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”] Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits ini di dalam musnadnya. dan karena di dalam mengakhirkan (sahur) terdapat hikmah disyariatkannya, yaitu menguatkan diri untuk beribadah. Dan Allah lebih mengetahui.

Dalil Kesunnahan Sahur

وَاعْلَمْ أَنَّ اسْتِحْبَابَ السُّحُوْرِ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ وَيَحْصُلُ بِقَلِيْلِ الْأكْلِ وَبِالْمَاءِ. فِيْ صَحِيْحِ ابْنِ حِبَّانَ [تَسَحَّرُوْا وَلَوْ بِجُرْعَةِ مَاءٍ] وَذَكَرَ ذَلِكَ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَيَدْخُلُ وَقْتُ السُّحُوْرِ بِنِصْفِ اللَّيْلِ ذَكَرَهُ الرَّافِعِيُّ فِيْ آخِرِ كِتَابِ الْإِيْمَانِ

Ketahuilah bahwasanya kesunnahan sahur adalah perkara yang disepakati (ijma’) dan sahur dapat hasil dengan sedikit makanan dan dengan air. Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban: [“Bersahurlah kalian walaupun dengan seteguk air”]. Dan Imam Nawawi telah menyebutkan tentangnya di dalam kitab Syarah al-Muhadzdzab. Dan waktu sahur masuk dengan (sampainya) pertengahan malam, Imam Rafi’i telah menyebutkannya di akhir Kitab Iman.

Anjuran Bagi Orang Yang Berpuasa

وَاعْلَمْ أَنَّ الصَّائِمَ يُتَأَكَّدُ فِيْ حَقِّهِ صَوْنُ لِسَانِهِ عَنِ الْكَذِبِ وَالْغِيْبَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُوْرِ الْمُحَرَّمَةِ فَفِيْ صَحِيْحِ الْبُخَارِيِّ [مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ]

Dan ketahuilah bahwasanya orang yang berpuasa ditekankan pada haknya untuk menjaga lisannya dari dusta, ghibah, dan selain hal itu dari perkara-perkara yang diharamkan. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari: [“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan tidak meninggalkan perbuatan dusta, maka tidak ada bagi Allah hajat (kepentingan) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya”].

وَفِيْ الْحَدِيْثِ [رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ إِنَّهُ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ. وَلِأَنَّ الْكَلَامَ الْهُجْرَ أَيْ، الْفُحْشَ يُحْبِطُ الثَّوَابَ وَقَدْ صَرَّحَ بِذَلِكَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالرُّويَانِيُّ

Dan di dalam hadits: [“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak ada baginya dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam tidak ada baginya dari shalat malamnya kecuali begadang”]. Imam Hakim telah meriwayatkan hadits ini dan ia berkata sesungguhnya hadits ini atas syarat Imam Bukhari. Dan karena sesungguhnya perkataan yang buruk yakni, keji, itu dapat menghapus pahala. Dan sungguh Imam Mawardi dan Imam Ruyani telah menjelaskan hal itu.

Larangan Mengikuti Orang-Orang Dzalim

قُلْتُ وَمِنَ الْمَصَائِبِ الْعَظِيْمَةِ مَا يَصْنَعُهُ الظَّلَمَةُ مِنْ تَقْلِيْدِ الظَّالِمِ وَأَخْذِ الْأَمْوَالِ بِالْبَاطِلِ ثُمَّ يَصْنَعُوْنَ بِذَلِكَ شَيْئًا مِنَ الْأَطْعِمَةِ يَتَصَدَّقُوْنَ بِهِ فَيَتَعَدَّى شُؤْمُهُمْ إِلَى الْفُقَرَاءِ

Aku berkata: Dan termasuk musibah yang besar adalah apa yang orang orang dzalim lakukan terhadapnya berupa mengikuti orang dzalim (lainnya) dan mengambil harta-harta dengan cara batil, kemudian mereka membuat dengan (harta) itu sesuatu dari makanan yang mereka sedekahkan dengannya, sehingga kesialan mereka menular kepada orang-orang fakir.

وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ مُصِيْبَةً تَرَدُّدُ فُقَهَاءِ السُّوْءِ وَصُوْفِيَّةِ الرِّجْسِ إِلَى أَسْمِطَةِ هَؤُلَاءِ الظَّلَمَةِ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هُوَ يُشْتَرَى فِيْ الذِّمَّةِ

Dan yang lebih besar musibahnya dari hal itu adalah bolak-baliknya ulama buruk dan sufi yang kotor ke meja makan para orang zalim ini, kemudian mereka berkata: “Ia dibeli dalam tanggungan (dzimmah)”.

وَأَيْضًا تُكْرَهُ مُعَامَلَةُ مَنْ أَكْثَرُ مَالِهِ حَرَامٌ وَالَّذِيْ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمٍ أَنَّهُ حَرَامٌ وَفَرْضُ الْمَسْأَلَةِ فِيْ جَائِزَةِ الْأُمَرَاءِ وَلَا فَرْقَ فِيْ الْمَعْنَى فَاعْرِفْهُ

Dan juga dimakruhkan bermuamalah dengan orang yang mayoritas hartanya adalah haram, dan yang terdapat di dalam kitab Syarah Muslim bahwasanya hal itu haram, dan gambaran masalahnya adalah pada pemberian dari para penguasa, dan tidak ada perbedaan dalam maknanya, maka ketahuilah hal itu.

وَلَا يَعْلَمُ هَؤُلَاءِ الْحُمْقَى أَنَّ فِيْ ذَلِكَ إِغْرَاءً عَلَى تَعَاطِي الْمُحَرَّمَاتِ وَيَتَضَمَّنُ مُجَالَسَةَ الْفَسَقَةِ وَهِيَ حَرَامٌ عَلَى وَجْهِ الْمُؤَانَسَةِ بِلَا خِلَافٍ

Dan orang-orang bodoh ini tidak mengetahui bahwasanya di dalam hal itu1 itu terdapat dorongan untuk melakukan hal-hal yang diharamkan, dan mengandung unsur duduk bersama orang-orang fasik, yang mana hal itu haram atas dasar ramah tamah tanpa ada perselisihan (ulama).

Catatan
    
1.

yakni mondar mandirnya mereka ke meja makanan penguasa dzalim

وَقَدْ عَدَّهَا جَمْعٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْكَبَائِرِ وَنَسَبَهُ الْقَاضِي عِيَاضٌ إِلَى الْمُحَقِّقِيْنَ وَهُمْ عَلَى ارْتِكَابِ ذَلِكَ لَا يَنْهَوْنَهُمْ عَنْ مُنْكَرٍ وَذَلِكَ سَبَبُ إِرْسَالِ الْمَصَائِبِ عَلَى الْأُمَمِ بَلْ سَبَبُ هَلَاكِهِمْ وَلَعْنِهِمْ عَلَى لِسَانِ الْأَنْبِيَاءِ

Dan sungguh sekelompok ulama telah menganggapnya termasuk dosa-dosa besar, dan Al-Qadhi Iyadh menisbatkannya kepada para ulama ahli Tahqiq. Dan mereka, di samping melakukan hal itu, mereka tidak melarang orang-orang zalim itu dari kemungkaran, dan hal itu adalah sebab dikirimkannya musibah-musibah kepada umat-umat, bahkan sebab kehancuran mereka dan terlaknatnya mereka melalui lisan para Nabi.

وَقَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ وَلِهَذَا تَتِمَّةٌ مُهِمَّةٌ فِيْ كِتَابِنَا (قَمْعُ النُّفُوْسِ) وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Dan sungguh Al-Qur’an yang agung telah menash hal itu. Dan bagi hal ini terdapat penyempurna yang penting di dalam kitab kami: (“Qam’un Nufus”). Dan Allah lebih mengetahui.