Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Perkara Perkara Yang Membatalkan Puasa
| Nama kitab | : | Kifayatul Akhyar |
| Judul kitab Arab | : | كفاية الأخيار |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mata Pelajaran | : | Fiqih |
| Musonif | : | Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi |
| Nama Arab | : | الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق |
| Lahir | : | Hauran, 752 H |
| Wafat | : | Damaskus, 1 Syawal 829 H |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kitab Puasa
Image by © LILMUSLIMIIN
كِتَابُ الصِّيَامِ
Kitab puasa.
Perkara-Perkara Yang Membatalkan Puasa
قَالَ: (وَالَّذِيْ يُفْطِرُ بِهِ الصَّائِمُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ مَا وَصَلَ عَمْدًا إِلَى الْجَوْفِ أَوِ الرَّأْسِ وَالْحُقْنَةُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ وَالْقَيْءُ عَامِدًا وَالْوَطْءُ فِي الْفَرْجِ وَالْإِنْزَالُ عَنْ مُبَاشَرَةٍ وَالْحَيْضُ وَالنِّفَاسُ وَالْجُنُوْنُ وَالرِّدَّةُ)
Syekh Abu Syuja berkata: (Dan perkara yang dapat membatalkan puasa dengannya bagi orang yang berpuasa itu ada sepuluh perkara: apa-apa yang sampai dengan sengaja ke dalam perut atau kepala, suntikan (memasukkan obat) dari salah satu dua jalan (kemaluan/dubur), muntah dengan sengaja, bersetubuh di kemaluan, mengeluarkan mani sebab persentuhan kulit, haid, nifas, gila, dan murtad)
Masuknya Benda Dari Luar Ke Dalam Perut Atau Kepala
إِذَا صَحَّ الصَّوْمُ بِشُرُوْطِهِ وَأَرْكَانِهِ فَلِبُطْلَانِهِ أَسْبَابٌ مِنْهَا إِدْخَالُ عَيْنٍ مِنَ الظَّاهِرِ إِلَى الْجَوْفِ وَأَرَادَ الشَّيْخُ بِالْجَوْفِ الْبَطْنَ وَلِهَذَا ذَكَرَهُ مُعَرَّفًا فَلِهَذَا سَاغَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ ذِكْرُ الرَّأْسِ وَالْحُقْنَةِ
Apabila puasa telah sah dengan syarat-syaratnya dan rukun-rukunnya, maka bagi batalnya puasa itu ada beberapa sebab, di antaranya adalah memasukkan benda dari luar ke dalam perut, dan Syekh Abu Syuja menghendaki dengan kata الجوف bermakna perut, dan karena inilah beliau menyebutkannya dengan dimakrifatkan (ber-alif lam), maka karena inilah boleh baginya setelah itu menyebutkan kepala dan suntikan.
Muntah Dengan Sengaja
وَمِنْهَا الْقَيْءُ عَامِدًا فَإِنَّهُ مُبْطِلٌ وَفِيْهِ احْتِرَازٌ عَنْ غَيْرِ الْعَامِدِ وَقَدْ مَرَّ دَلِيْلُهُ
dan di antara perkara-perkaa yang membatalkan puasa adalah muntah dengan sengaja maka sesungguhnya hal itu membatalkan puasa, dan di dalamnya1 terdapat pengecualian dari orang yang tidak sengaja, dan sungguh telah lewat dalilnya.
Catatan
1.
dalam perkataan Syekh Abu Syuja pada lafadz عامدا (dengan sengaja)
Berjima
وَمِنْهَا الْوَطْءُ فِي الْفَرْجِ كَمَا تَقَدَّمَ وَكَذَا الْإِنْزَالُ يَعْنِيْ خُرُوْجَ الْمَنِيِّ بِالْإِجْمَاعِ وَقَوْلُهُ عَنْ مُبَاشَرَةٍ يَعْنِيْ سَوَاءً كَانَ حَرَامًا كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِهِ أَوْ غَيْرَ مُحَرَّمٍ كَإِخْرَاجِهِ بِيَدِ زَوْجَتِهِ أَوْ جَارِيَتِهِ كَذَا قَالَهُ بَعْضُ الشُّرَّاحِ
Dan di antara perkara perkara yang membatalkan puasa adalah bersetubuh di kemaluan sebagaimana telah terdahulu, dan demikian juga inzal yakni keluarnya mani dengan kesepakatan ulama (ijma’), dan perkataan Syekh Abu Syuja “sebab persentuhan” yakni sama saja terbukti hal itu haram seperti mengeluarkan mani dengan tangannya sendiri atau tidak diharamkan seperti mengeluarkan mani dengan tangan istrinya atau dengan tangan budak perempuannya, demikianlah sebagian penyarah telah berkata tentangnya .
وَجْهُ الْإِفْطَارِ أَنَّ الْمَقْصُودَ الْأَعْظَمَ مِنَ الْجِمَاعِ الْإِنْزَالُ، فَإِذَا حُرِّمَ الْجِمَاعُ وَأَفْطَرَ بِلَا إِنْزَالٍ كَانَ الْإِنْزَالُ أَوْلَى بِذَلِكَ، وَاحْتَرَزَ الشَّيْخُ بِالْمُبَاشَرَةِ عَمَّا إِذَا أَنْزَلَ بِالْفِكْرِ أَوْ الاِحْتِلَامِ، وَلَا خِلَافَ أَنَّهُ لَا يُفْطِرُ بِذَلِكَ. وَادَّعَى بَعْضُهُمُ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ،
Pandangan batalnya puasa adalah bahwa tujuan terbesar dari hubungan intim adalah keluarnya sperma (inzal), maka apabila hubungan intim diharamkan dan membatalkan puasa tanpa keluarnya sperma, maka keluarnya sperma lebih utama untuk itu (membatalkan). Dan Syekh mengecualikan dengan kata “mubasyarah” (persentuhan kulit) dari keadaan apabila seseorang keluar sperma karena berpikir atau mimpi basah, dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa hal itu tidak membatalkan puasa. Dan sebagian ulama mengklaim adanya ijma’ (kesepakatan) atas hal tersebut.
Haid Dan Nifas
وَأَمَّا النَّقَاءُ مِنَ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ فَقَدْ نَقَلَ النَّوَوِيُّ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّ صِحَّةَ الصَّوْمِ مُتَوَقِّفَةٌ عَلَى فَقْدِهِمَا، فَلَوْ طَرَأَ فِـيْ أَثْنَاءِ الصَّوْمِ بَطَلَ،
Adapun suci dari haid dan nifas, maka sungguh Imam An-Nawawi telah menukil ijma’ bahwa sahnya puasa itu bergantung pada ketiadaan keduanya, maka jika (haid/nifas) itu datang di tengah-tengah puasa maka puasanya batal.
Gila
وَكَذَا لَوْ طَرَأَ جُنُونٌ أَوْ رِدَّةٌ بَطَلَ الصَّوْمُ لِلْخُرُوجِ عَنْ أَهْلِيَّةِ الْعِبَادَةِ.
Begitu pula jika datang kegilaan atau murtad, maka puasa batal karena keluar dari kelayakan (ahliyyah) ibadah.
Apakah Sah Puasa Orang Yang Pingsan Sepanjang Hari?
وَلَوْ طَرَأَ إِغْمَاءٌ نُظِرَ إِنِ اسْتَغْرَقَ جَمِيعَ النَّهَارِ فَهَلْ يَصِحُّ صَوْمُهُ أَمْ لَا اَلْأَظْهَرُ أَنَّهُ إِنْ أَفَاقَ فِـيْ لَحْظَةٍ مِنَ النَّهَارِ صَحَّ وَإِلَّا فَلَا.
Dan jika datang pingsan, maka dilihat: jika pingsan itu menghabiskan seluruh siang hari, maka apakah sah puasanya atau tidak? Pendapat Adhhar adalah bahwa jika ia sadar sekejap saja dari siang hari maka puasanya sah, dan jika tidak (sadar sama sekali) maka tidak sah.
Apakah Sah Puasa Orang Yang TIdur Sepanjang Hari?
وَلَوْ نَامَ جَمِيعَ النَّهَارِ فَهَلْ يَصِحُّ صَوْمُهُ؟ قِيلَ لَا كَالْإِغْمَاءِ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا يَضُرُّ لِبَقَاءِ أَهْلِيَّةِ الْخِطَابِ، وَلَوْ نَامَ جَمِيعَ النَّهَارِ إِلَّا لَحْظَةً فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّ بِالْاِتِّفَاقِ،
Dan jika seseorang tidur sepanjang siang hari, maka apakah puasanya sah? Dikatakan tidak sah seperti pingsan. Namun pendapat yang Shahih adalah bahwa hal itu tidak (tidak membatalkan) karena masih adanya kelayakan menerima khitab (beban syariat). Dan jika ia tidur sepanjang siang kecuali sekejap saja, maka sesungguhnya hal itu tidak membatalkan berdasarkan kesepakatan ulama (ittifaq).
Murtad
وَطُرُوُّ الرِّدَّةِ مُبْطِلٌ لِلْخُرُوجِ عَنْ أَهْلِيَّةِ الْعِبَادَةِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.
Dan datangnya kemurtadan adalah pembatal puasa karena keluar dari kelayakan ibadah. Dan Allah lebih mengetahui.
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!