Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar Bagian 5 | Bab Siwak

05 Sep, 2026
Nama kitab:Kifayatul Akhyar
Judul kitab Arab: كفاية الأخيار
Judul terjemah: Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar
Mata Pelajaran:Fiqih
Musonif:Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi
Nama Arab:الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق
Lahir:Hauran, 752 H
Wafat:Damaskus, 1 Syawal 829 H
Penerjemah:Ahsan Dasuki

Hukum Dasar Bersiwak dan Kemakruhan bagi Orang Berpuasa

قَالَ: (فَصْلٌ: اَلسِّوَاكُ مُسْتَحَبٌّ فِيْ كُلِّ حَالٍ إِلَّا بَعْدَ الزَّوَالِ لِلصَّائِمِ، وَهُوَ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا: عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ مِنْ أَزْمٍ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ النَّوْمِ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ)

Syekh Abu Syuja telah berkata: (Pasal: Bersiwak itu disunnahkan dalam setiap keadaan kecuali setelah tergelincirnya matahari bagi orang yang berpuasa, dan bersiwak itu pada tiga tempat lebih sangat kesunnahannya: ketika berubahnya bau mulut sebab diam yang lama, dan ketika bangun dari tidur, dan ketika berdiri untuk melaksanakan shalat)

Dalil Kesunnahan Siwak Secara Mutlak

اَلسِّوَاكُ سُنَّةٌ مُطْلَقًا لِقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [اَلسِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ] وَ (مَطْهَرَةٌ) بِفَتْحِ الْمِيْمِ وَكَسْرِهَا هِيَ كُلُّ إِنَاءٍ يَتَطَهَّرُ بِهِ، فَشَبَّهَ السِّوَاكَ بِذٰلِكَ لِأَنَّهُ يُطَهِّرُ الْفَمَ،

Bersiwak itu hukumnya sunnah secara mutlak karena sabda Nabi ﷺ: [Bersiwak itu menyucikan bagi mulut dan mendatangkan keridhaan bagi Tuhan]. (مطهرة) dengan memfathah mim atau mengasrahnya adalah setiap wadah yang digunakan untuk bersuci, maka diserupakanlah siwak dengan hal itu karena ia menyucikan mulut.

Hukum Siwak Setelah Zawal Bagi Orang Puasa

وَهَلْ يُكْرَهُ لِلصَّائِمِ بَعْدَ الزَّوَالِ؟ فِيْهِ خِلَافٌ، اَلرَّاجِحُ فِي الرَّافِعِيِّ وَالرَّوْضَةِ أَنَّهُ يُكْرَهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

Dan apakah dimakruhkan bagi orang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari? Di dalamnya terdapat perbedaan pendapat, yang kuat menurut Imam ar-Rafi’i dan kitab ar-Raudhah bahwasanya hal itu dimakruhkan karena sabda Nabi ﷺ

[لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللّٰهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ] وَفِيْ رِوَايَةٍ [يَوْمَ الْقِيَامَةِ] وَالْخُلُوْفُ بِضَمِّ الْخَاءِ وَاللَّامِ هُوَ التَّغْيِيْرُ

[Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak misik] dan dalam sebuah riwayat [Pada Hari kiamat] Dan al-khuluf (bau mulut) dengan dhommah pada huruf kha’ dan lam adalah perubahan (bau mulut),

Sebab Kemakruhan Dikhususkan Setelah Zawal

وَخُصَّ بِمَا بَعْدَ الزَّوَالِ لِأَنَّ تَغَيُّرَ الْفَمِ بِسَبَبِ الصَّوْمِ حِيْنِئِذٍ يَظْهَرُ فَلَوْ تَغَيَّرَ فَمُهُ بَعْدَ الزَّوَالِ بِسَبَبٍ آخَرَ كَنَوْمٍ أَوْ غَيْرِهِ فَاسْتَاكَ لِأَجْلِ ذَلِكَ لَا يُكْرَهُ

dan dikhususkan (kemakruhan siwak) dengan waktu setelah tergelincirnya matahari (zuhur) karena sesungguhnya perubahan mulut sebab puasa pada saat itu mulai tampak, maka jika berubah mulutnya setelah zuhur sebab yang lain seperti tidur atau selainnya lalu ia bersiwak karena alasan tersebut maka tidak dimakruhkan.

Khilafiyah Ulama: Pendapat yang Tidak Memakruhkan Siwak Setelah Zawal

وَقِيْلَ لَا يُكْرَهُ الْاِسْتِيَاكُ مُطْلَقًا وَبِهِ قَالَ الْأَئِمَّةُ الثَّلَاثَةُ وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَقَالَ الْقَاضِيْ حُسَيْنٌ يُكْرَهُ فِيْ الْفَرْضِ دُوْنَ النَّفْلِ خَوْفًا مِنَ الرِّيَاءِ

Dan dikatakan (satu pendapat) tidak dimakruhkan bersiwak secara mutlak, dan dengan pendapat ini para Imam yang tiga (Maliki, Hanafi, Hambali) berpendapat, dan Imam Nawawi mengunggulkannya dalam kitab Syarh al-Muhadzdzab, dan Al-Qadhi Husain berkata: dimakruhkan dalam (puasa) fardu bukan (puasa) sunnah karena khawatir dari sifat riya'.

Batas Akhir Waktu Kemakruhan Siwak bagi Orang Berpuasa

وَقَوْلُ الْمُصَنِّفِ لِلصَّائِمِ يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْكَرَاهَةَ تَزُوْلُ بِغُرُوْبِ الشَّمْسِ وَهَذَا هُوَ الصَّحِيْحُ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَقِيْلَ تَبْقَى الْكَرَاهَةُ إِلَى الْفِطْرِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Dan perkataan Mushannif (penulis) “bagi orang yang berpuasa” diambil darinya pemahaman bahwa sesungguhnya kemakruhan itu hilang dengan terbenamnya matahari, dan ini adalah pendapat yang shahih dalam Kitab Syarh al-Muhadzdzab, dan dikatakan (pendapat lain) kemakruhan tetap ada sampai berbuka, dan Allah Maha Mengetahui.

Waktu-Waktu yang Sangat Dianjurkan untuk Bersiwak

ثُمَّ السِّوَاكُ يَتَأَكَّدُ اسْتِحْبَابُهُ فِيْ مَوَاضِعَ:

Kemudian bersiwak itu sangat ditekankan kesunnahannya pada beberapa tempat:

Saat Mulut Berubah karena Diam (Al-Azm) atau Makanan

مِنْهَا عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ مِنْ أَزْمٍ وَغَيْرِهِ، وَالْأَزْمُ قِيْلَ السُّكُوْتُ الطَّوِيْلُ وَقِيْلَ هُوَ تَرْكُ الْأَكْلِ، وَقَوْلُهُ وَغَيْرِهِ يَدْخُلُ فِيْهِ مَا إِذَا تَغَيَّرَ بِأَكْلِ مَا لَهُ رَائِحَةٌ كَرِيْهَةٌ كَالثُّوْمِ وَالْبَصَلِ وَنَحْوِهِمَا

di antaranya adalah ketika berubahnya (bau) mulut sebab diam yang lama dan selainnya. Dan adapun “al-azmu” dikatakan (maknanya) adalah diam yang lama, dan dikatakan (pula) ia adalah meninggalkan makan. Dan perkataan Mushannif “dan selainnya” masuk ke dalamnya keadaan apabila (mulut) berubah sebab memakan apa-apa yang memiliki aroma tidak sedap seperti bawang putih, bawang merah, dan sesamanya.

Ketika Bangun dari Tidur

وَمِنْهَا عِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ النَّوْمِ [كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَيْقَظَ مِنَ النَّوْمِ اسْتَاكَ] وَرُوِيَ [يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ] وَمَعْنَى يَشُوْصُ يُنَظِّفُ وَيَغْسِلُ،

Dan di antaranya (tempat yang ditekankan bersiwak) adalah ketika bangun dari tidur [adalah Rasulullah ﷺ apabila bangun dari tidur, beliau bersiwak] dan telah diriwayatkan [Beliau menggosok mulutnya dengan siwak] dan makna “يشوص” adalah membersihkan dan membasuh.

Alasan Siwak Ditekankan Saat Bangun Tidur

وَوَجْهُ تَأْكِيْدِ الِاسْتِحْبَابِ عِنْدَ الْقِيَامِ مِنْهُ أَنَّ النَّوْمَ يَسْتَلْزِمُ تَرْكَ الْأَكْلِ وَالسُّكُوْتَ وَهُمَا مِنْ أَسْبَابِ التَّغَيُّرِ

Adapun sisi penekanan kesunnahannya ketika bangun dari tidur adalah sesungguhnya tidur itu mengharuskan meninggalkan makan dan diam, sedangkan keduanya termasuk dari sebab-sebab berubahnya (bau mulut).

Ketika Hendak Mendirikan Shalat

وَمِنْهَا عِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ]

Dan di antaranya (tempat yang ditekankan bersiwak) adalah ketika hendak melaksanakan shalat karena sabda Nabi ﷺ [Sekiranya tidak memberatkan atas umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat].

Keutamaan Shalat dengan Bersiwak dan Penerapannya pada Shalat Bersalam Banyak

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ [رَكْعَتَانِ بِالسِّوَاكِ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِلَا سِوَاكٍ]

Dan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ beliau bersabda [Dua rakaat dengan bersiwak itu lebih utama daripada tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak].

وَالسِّوَاكُ مُتَأَكِّدٌ عِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْفَمُ مُتَغَيِّراً وَلَا فَرْقَ بَيْنَ صَلَاةِ الْفَرْضِ وَالنَّفْلِ حَتَّى لَوْ صَلَّى صَلَاةً ذَاتَ تَسْلِيْمَاتٍ كَالضُّحَى وَالتَّرَاوِيْحِ وَالتَّهَجُّدِ اسْتُحِبَّ لَهُ أَنْ يَسْتَاكَ لِكُلِّ رَكْعَتَيْنِ

Dan bersiwak itu sangat dianjurkan ketika hendak berdiri untuk shalat meskipun mulut tidak berubah (baunya), dan tidak ada perbedaan antara shalat fardhu dan shalat sunnah, bahkan jika ia melaksanakan shalat yang memiliki beberapa kali salam seperti shalat Dhuha, Tarawih, dan Tahajud, maka disunnahkan baginya untuk bersiwak pada setiap dua rakaat.

Kesunnahan Siwak untuk Jenazah, Thawaf, Wudhu, dan Membaca Al-Qur’an

وَكَذَا لِلْجَنَازَةِ وَالطَّوَافِ وَلَا فَرْقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ بِالْوُضُوْءِ أَوْ التَّيَمُّمِ أَوْ عِنْدَ فَقْدِ الطَّهُوْرَيْنِ

Dan demikian pula (dianjurkan) untuk shalat jenazah dan thawaf, dan tidak ada perbedaan antara shalat dengan wudhu atau tayamum atau ketika tidak adanya dua alat pensuci (air dan debu).

وَيَتَأَكَّدُ الْاِسْتِحْبَابُ أَيْضاً عِنْدَ الْوُضُوْءِ وَإِنْ لَمْ يُصَلِّ لِمَا وَرَدَ (لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ) وَيُسْتَحَبُّ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَعِنْدَ اصْفِرَارِ الْأَسْنَانِ وَإِنْ لَمْ يَتَغَيَّرِ الْفَمُ

Dan kesunnahannya juga sangat ditekankan ketika berwudhu meskipun tidak (langsung) shalat karena adanya riwayat (Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap kali wudhu), dan disunnahkan ketika membaca Al-Qur’an dan ketika gigi menguning meskipun mulut tidak berubah (baunya).

Alat-Alat yang Sah dan Paling Utama untuk Digunakan Bersiwak

وَاعْلَمْ أَنَّهُ يَحْصُلُ الْاِسْتِيَاكُ بِخِرْقَةٍ وَبِكُلِّ خَشِنٍ مُزِيْلٍ وَالْعُوْدُ أَوْلَى وَالْأَرَاكُ أَوْلَى وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَكُوْنَ بِيَابِسٍ نُدِّيَ بِالْمَاءِ

Dan ketahuilah bahwasanya bersiwak itu dapat dihasilkan (sahnya) dengan kain dan dengan setiap benda kasar yang dapat menghilangkan (kotoran), dan kayu itu lebih utama, dan kayu Arak itu lebih utama lagi, dan yang paling afdhal adalah dengan kayu yang kering yang dibasahi dengan air.

Hukum Bersiwak Menggunakan Jari dan Meminjam Siwak Orang Lain

وَيُسْتَحَبُّ غَسْلُهُ لِيَسْتَاكَ بِهِ ثَانِيًا وَلَوْ اسْتَاكَ بِإِصْبَعِ غَيْرِهِ وَهِيَ خَشِنَةٌ أَجْزَأَ قَطْعاً قَالَهُ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ

Dan disunnahkan mencucinya agar dapat digunakan bersiwak kembali, dan seandainya ia bersiwak dengan jari orang lain yang kasar, maka hal itu mencukupi (sah) secara pasti, hal itu telah dijelaskan tentangnya dalam Syarh al-Muhadzdzab.

وَفِيْ إِصْبَعِهِ خِلَافٌ اَلرَّاجِحُ فِيْ الرَّوْضَةِ لَا يُجْزِىءُ وَالرَّاجِحُ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ الْأَجْزَاءُ وَبِهِ قَطَعَ الْقَاضِيْ حُسَيْنٌ وَالْمَحَامِلِيُّ وَالْبَغَوِيُّ وَالشَّيْخُ أَبُوْ حَامِدٍ وَاخْتَارَهُ الرَّوْيَانِيُّ فِيْ الْبَحْرِ وَلَا بَأْسَ أَنْ يَسْتَاكَ بِسِوَاكِ غَيْرِهِ بِإِذْنِهِ

Dan di dalam (menggunakan) jarinya sendiri terdapat perbedaan pendapat; pendapat yang unggul dalam kitab ar-Raudhah adalah tidak mencukupi (tidak sah), sedangkan pendapat yang unggul dalam Syarh al-Muhadzdzab adalah mencukupi, dan dengan pendapat inilah Al-Qadhi Husain, Al-Mahamili, Al-Baghawi, dan Asy-Syaikh Abu Hamid memastikannya, dan Ar-Ruyani memilihnya dalam kitab al-Bahr, dan tidak mengapa bersiwak dengan siwak orang lain dengan seizinnya.

Adab, Tata Cara, dan Niat Saat Bersiwak

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَسْتَاكَ بِيَمِيْنِهِ وَبِالْجَانِبِ الْأَيْمَنِ مِنْ فَمِهِ وَأَنْ يُمِرَّهُ عَلَى سَقْفِ حَلْقِهِ إِمْرَاراً لَطِيْفاً وَكَرَاسِيِّ أَضْرَاسِهِ وَيَنْوِيْ بِالسِّوَاكِ السُّنَّةَ وَيُسْتَحَبُّ عِنْدَ دُخُوْلِ الْمَنْزِلِ وَعِنْدَ إِرَادَةِ النَّوْمِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

Dan disunnahkan bersiwak dengan tangan kanannya dan pada bagian sisi kanan mulutnya, dan hendaknya ia menjalankannya di atas langit-langit tenggorokannya dengan gerakan yang lembut serta pada bagian gerahamnya, dan ia berniat dengan siwak tersebut untuk melakukan sunnah, dan disunnahkan pula ketika masuk ke dalam rumah dan ketika hendak tidur, dan Allah lebih mengetahui.