Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar Bagian 7 | Sunnah Wudhu
| Nama kitab | : | Kifayatul Akhyar |
| Judul kitab Arab | : | كفاية الأخيار |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mata Pelajaran | : | Fiqih |
| Musonif | : | Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi |
| Nama Arab | : | الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق |
| Lahir | : | Hauran, 752 H |
| Wafat | : | Damaskus, 1 Syawal 829 H |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Sunan Wudhu Ada Sepuluh
قَالَ: (فَصْلٌ وَسُنَنُهُ عَشْرُ خِصَالٍ التَّسْمِيَةُ)
Syekh Abu Syuja telah berkata: (Pasal, dan sunnah-sunnahnya wudhu ada sepuluh perkara, yaitu membaca basmalah)
Sunnah Wudhu Ke 1: Menyebut Nama Allah
لِلْوُضُوْءِ سُنَنٌ مِنْهَا التَّسْمِيَةُ فِي ابْتِدَائِهِ [رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ يَدَهُ فِي إِنَاءٍ وَقَالَ لِأَصْحَابِهِ تَوَضَّؤُوْا بِاسْمِ اللّٰهِ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ قَالَ النَّوَوِيُّ اِسْنَادُهُ جَيِّدٌ
bagi wudhu terdapat sunnah-sunnah, di antaranya adalah membaca basmalah pada permulaannya [Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ meletakkan tangannya di dalam wadah dan bersabda kepada para sahabatnya: “Berwudhulah kalian dengan menyebut nama Allah”] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Baihaqi. Imam Nawawi berkata sanadnya jayyid (baik)
Sunnah Membaca Basmalah dalam Setiap Perkara Penting
وَفِى الْحَدِيْثِ [كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللّٰهِ فَهُوَ أَجْذَمُ] أَيْ، أَقْطَعُ وَهِيَ سُنَّةٌ مُتَأَكِّدَةٌ وَقَدْ قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بِوُجُوْبِهَا
Dan dalam suatu hadits [Setiap perkara yang memiliki kedudukan penting yang tidak dimulai di dalamnya dengan bismillah, maka ia terputus] yakni, terputus (keberkahannya), dan ia adalah sunnah yang sangat ditekankan, dan sungguh Imam Ahmad telah berpendapat dengan kewajibannya.
Lupa Membaca Basmalah karena Lupa atau Sengaja Ditinggalkan
فَلَوْ نَسِيَهَا فِي ابْتِدَاءِ الْوُضُوْءِ أَتَى بِهَا مَتَى ذَكَرَهَا فِي الْوُضُوْءِ كَمَا فِي تَسْمِيَةِ الطَّعَامِ وَلَوْ تَرَكَهَا عَمْدًا فَهَلْ يُشْرَعُ تَدَارُكُهَا فِيْهِ خِلَافٌ وَالرَّاجِحُ نَعَمْ
Seandainya seseorang melupakannya di awal wudhu, maka ia dapat mendatangkannya kapan saja ia mengingatnya di tengah wudhu sebagaimana dalam membaca basmalah pada makanan, dan seandainya seseorang meninggalkannya dengan sengaja maka apakah disyariatkan menyusulnya? Di dalamnya terdapat perbedaan pendapat dan yang kuat adalah iya,
Keutamaan Membaca Basmalah dalam Wudhu
وَفِي الْحَدِيْثِ [مَنْ تَوَضَّأَ وَذَكَرَ اسْمَ اللّٰهِ كَانَ طَهُوْرًا لِجَمِيْعِ بَدَنِهِ وَإِنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللّٰهِ تَعَالَى كَانَ طَهُوْرًا لِأَعْضَاءِ وُضُوْئِهِ] رَوَاهُ الدَّارُقُطْنِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ وَضَعَّفَهُ مِنْ جَمِيْعِ الطُّرُقِهِ.
Dan di dalam suatu hadits: [Barangsiapa yang berwudhu dan menyebut nama Allah maka ia menjadi pembersih bagi seluruh tubuhnya, dan jika ia tidak menyebut nama Allah Ta’ala maka ia menjadi pembersih bagi anggota-anggota wudhunya saja] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Daruqutni Imam Baihaqi dan beliau menilainya dhaif dari seluruh jalur periwayatannya.
Sunnah Wudhu Ke 2: Membasuh Kedua Telapak Tangan Sebelum Memasukkannya ke Bejana
قَالَ: (وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا الْإِنَاءَ) مِنْ سُنَنِ الْوُضُوْءِ غَسْلُ الْكَفَّيْنِ قَبْلَ الْوَجْهِ وَلَهُمَا أَحْوَالٌ
Syekh Abu Syuja berkata (Dan membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkan keduanya ke dalam wadah) termasuk sunnah-sunnah wudhu adalah membasuh kedua telapak tangan sebelum membasuh wajah, dan bagi keduanya terdapat beberapa keadaan.
Kondisi Pertama: Yakin Kedua Telapak Tangan Najis
أَحَدُهُمَا أَنْ يَتَيَقَّنَ نَجَاسَتَهُمَا فَهَذَا يُكْرَهُ لَهُ غَمْسُ كَفَّيْهِ فِي الْإِنَاءَ قَبْلَ غَسْلِهِمَا ثَلَاثًا كَرَاهَةَ تَحْرِيْمٍ لِأَنَّهُ يُفْسِدُ الْمَاءَ
Salah satunya adalah ia meyakini kenajisan keduanya, maka ini dimakruhkan baginya mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam wadah sebelum membasuh keduanya tiga kali dengan makruh tahrim karena hal itu merusak air.
Kondisi Kedua: Ragu akan Kenajisan Kedua Telapak Tangan
اَلْحَالَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَشُكَّ فِي نَجَاسَتِهِمَا كَمَنْ نَامَ وَلَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ فَهَذَا يُكْرَهُ لَهُ أَيْضًا غَمْسُ كَفَّيْهِ فِي الْإِنَاءَ قَبْلَ غَسْلِهِمَا ثَلَاثًا
Keadaan kedua adalah ia ragu akan kenajisan keduanya seperti orang yang tidur dan tidak tahu di mana tangannya bermalam, maka ini dimakruhkan baginya juga mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam wadah sebelum membasuh keduanya tiga kali
Dalil Mencelepukan Tangan Sebelum Membasuhnya
لِقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا فِي الْإِنَاءِ ثَلَاثًا فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ] وَفِي رِوَايَةٍ [فَلَا يَغْمِسْ يَدَيْهِ فِي الْإِنَاءِ قَبْلَ أَنْ يَغْسِلَهُمَا ثَلَاثًا]
karena sabda Nabi ﷺ: [Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka hendaklah ia membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali sebelum ia memasukkan keduanya ke dalam wadah, karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana tangannya bermalam] dan dalam sebuah riwayat [Maka janganlah ia mencelupkan kedua tangannya ke dalam wadah sebelum ia membasuh keduanya tiga kali]
Perbedaan Mazhab: Tentang Membasuh Kedua Tangan setelah Bangun Tidur
وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَذَهَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِلَى وُجُوْبِ غَسْلِهِمَا قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا فِي الْإِنَاءِ عِنْدَ الْاِسْتِيْقَاظِ مِنَ النَّوْمِ لِظَاهِرِ النَّهْيِ وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ نَوْمِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
Dan ini adalah madzhab Asy-Syafi’i dan Malik, dan sebagian ulama berpendapat kepada wajibnya membasuh keduanya sebelum memasukkan keduanya ke dalam wadah ketika bangun dari tidur karena zahir larangan tersebut dan ia tidak membedakan antara tidur malam dan siang.
وَذَهَبَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ إِلَى وُجُوْبِ ذَلِكَ مِنْ نَوْمِ اللَّيْلِ دُوْنَ نَوْمِ النَّهَارِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ] وَالْمَبِيْتُ يَكُوْنُ بِاللَّيْلِ دُوْنَ النَّهَارِ
Dan Imam Ahmad berpendapat kepada wajibnya hal itu dari tidur malam bukan tidur siang karena sabda Nabi ﷺ [Di mana tangannya bermalam] dan bermalam itu terjadi pada malam hari bukan siang hari.
وَالشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ حَمَلَ النَّهْيَ عَلَى غَيْرِ الْوُجُوْبِ لِقَرِيْنَةٍ
Dan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah membawa larangan tersebut kepada selain wajib karena adanya qarinah (indikasi).
Kondisi Ketiga: Yakin Kedua Telapak Tangan Suci
اَلْحَالَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَتَيَقَّنَ طَهَارَتَهُمَا فَهَذَا لَا يُكْرَهُ لَهُ غَمْسُ كَفَّيْهِ فِي الْإِنَاءَ قَبْلَ غَسْلِهِمَا وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ
Keadaan ketiga adalah ia meyakini kesucian keduanya, maka ini tidak dimakruhkan baginya mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam wadah sebelum membasuh keduanya, akan tetapi disunnahkan.
وَهَذِهِ الْحَالَةُ هِيَ الَّتِي ذَكَرَهَا الشَّيْخُ وَمَأْخَذُهَا أَنَّهُ الْوَارِدُ فِي صِفَةِ وُضُوْءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ تَعَرُّضٍ لِسَبْقِ نَوْمٍ
Dan keadaan ini adalah yang disebutkan oleh Syaikh Abu Syuja, dan pengambilannya adalah bahwa hal itu yang datang dalam sifat wudhu Nabi ﷺ tanpa menyinggung tentang didahului oleh tidur.
وَانْتَفَتِ الْكَرَاهَةُ لِفَقْدِ الْعِلَّةِ الْوَارِدَةِ فِي الْخَبَرِ إِذِ الْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ الْعِلَّةِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan hilanglah kemakruhan karena ketiadaan ‘illat (sebab) yang datang dalam khabar (hadits), karena hukum itu berputar bersama ‘illat-nya baik dalam ada maupun tidak adanya, Wallahu A’lam.
Sunnah Wudhu Ke 3 dan 4: Berkumur dan Menghirup Air ke Hidung
قَالَ (وَالْمَضْمَضَةُ وَالِاسْتِنْشَاقُ) لِفِعْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بِوُجُوبِهِمَا
Syekh Abu Syuja berkata: (Dan berkumur serta menghirup air ke hidung) karena perbuatan Nabi ﷺ, dan Imam Ahmad berpendapat akan kewajiban keduanya.
Dalil Kesunnahan Berkumur dan Menghirup Air
وَحُجَّةُ الشَّافِعِيِّ قَوْلُهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [عَشْرٌ مِنَ السُّنَّةِ وَعَدَّ مِنْهَا الْمَضْمَضَةَ وَالِاسْتِنْشَاقَ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dan hujah (dalil) Imam Syafi’i adalah sabda Nabi ﷺ [Sepuluh perkara termasuk sunnah, dan beliau menyebutkan di antaranya adalah berkumur dan menghirup air ke hidung]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim
Asal Sunnah: Menyampaikan Air ke Mulut dan Hidung
ثُمَّ أَصْلُ السُّنَّةِ يَحْصُلُ بِإِيصَالِ الْمَاءِ إِلَى الْفَمِ وَالْأَنْفِ سَوَاءٌ أَدَارَهُ أَمْ لَا وَهَذَا هُوَ الرَّاجِحُ لَكِنْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى إِرَادَتِهِ فِي الْفَمِ
Kemudian asal kesunnahan itu bisa hasil dengan menyampaikan air ke dalam mulut dan hidung, baik ia memutar-mutarkannya (berkumur) atau tidak, dan inilah pendapat yang rajih (kuat), akan tetapi Imam Syafi’i menegaskan atas anjuran memutar-mutar air (berkumur) di dalam mulut.
Hukum Memuntahkan Air dan Mendahulukan Berkumur atas Menghirup Air
وَلَا يُشْتَرَطُ فِي تَحْصِيلِ السُّنَّةِ أَنْ يَمُجَّ الْمَاءَ حَتَّى لَوْ ابْتَلَعَهُ تَأَدَّتِ السُّنَّةُ قَالَهُ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ
Dan tidak disyaratkan dalam memperoleh kesunnahan untuk menyemburkan air, sehingga jika ia menelannya maka kesunnahan telah terpenuhi, hal ini dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitab Syarah al-Muhadzdzab.
وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ إِلَى اشْتِرَاطِ مَجِّ الْمَاءِ فِي تَحْصِيلِ السُّنَّةِ وَتَقْدِيمُ الْمَضْمَضَةِ عَلَى الْاِسْتِنْشَاقِ شَرْطٌ فِي تَحْصِيلِ السُّنَّةِ عَلَى الرَّاجِحِ وَقِيلَ مُسْتَحَبٌّ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan sekelompok ulama berpendapat atas pensyaratan menyemburkan air dalam memperoleh kesunnahan, dan mendahulukan berkumur atas menghirup air ke hidung adalah syarat dalam memperoleh kesunnahan menurut pendapat yang rajih, dan dikatakan (pendapat lain) hukumnya disunnahkan, Wallahu A’lam.
Cabang: Melebihkan Berkumur dan Menghirup Air bagi yang Tidak Berpuasa
(فَرْعٌ) يُسْتَحَبُّ الْمُبَالَغَةُ فِي الْمَضْمَضَةِ وَالْاِسْتِنْشَاقِ لِغَيْرِ الصَّائِمِ
(Cabang Masalah) Disunnahkan bersungguh-sungguh (mubalaghah) dalam berkumur dan menghirup air ke hidung bagi orang yang tidak berpuasa.
وَأَمَّا الصَّائِمُ فَقِيلَ يَحْرُمُ فِي حَقِّهِ قَالَهُ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَقِيلَ يُكْرَهُ قَالَهُ الْبَنْدَنِيجِيُّ وَغَيْرُهُ وَقِيلَ تَرْكُهَا مُسْتَحَبٌّ قَالَهُ ابْنُ الصَّبَّاغِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Adapun bagi orang yang berpuasa, maka dikatakan (satu pendapat) hukumnya haram baginya, hal ini dikatakan oleh Al-Qadhi Abu Thayyib, dan dikatakan (pendapat lain) hukumnya makruh sebagaimana Imam Al-Bandaniji dan selainnya telah mengatakannya, dan dikatakan pula meninggalkannya adalah mustahab, hal ini dikatakan oleh Ibnu Ash-Shabbagh, Wallahu A’lam.
Sunnah Wudhu Ke 5: Meratakan Usapan Seluruh Kepala
قَالَ (وَاسْتِيعَابُ الرَّأْسِ بِالْمَسْحِ) مِنْ سُنَنِ الْوُضُوءِ اسْتِيعَابُ الرَّأْسِ بِالْمَسْحِ لِفِعْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِلْخُرُوجِ مِنَ الْخِلَافِ
Beliau berkata: (Dan meratakan usapan pada seluruh kepala) termasuk sunnah-sunnah wudhu adalah meratakan usapan pada seluruh kepala karena perbuatan Nabi ﷺ dan untuk keluar dari perbedaan pendapat (ulama).
Tata Cara Sunnah Mengusap Kepala
وَالسُّنَّةُ فِي كَيْفِيَّةِ الْمَسْحِ أَنْ يَبْدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ثُمَّ يَدْهَبَ بِيَدَيْهِ إِلَى قَفَاهُ ثُمَّ يَرُدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ
Dan kesunnahan dalam tata cara mengusap adalah memulai dari bagian depan kepalanya kemudian menjalankan kedua tangannya hingga ke tengkuknya, lalu mengembalikan keduanya ke tempat ia memulainya.
Hadits Abdullah bin Zaid: Sifat Mengusap Kepala Rasulullah ﷺ
رَوَى ذَلِكَ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ زَيْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ فِي وَصْفِ وُضُوءِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَضَعُ إِبْهَامَيْهِ عَلَى صُدْغَيْهِ وَيُلْصِقُ السَّبَّابَتَيْنِ وَالذَّهَابُ وَالْعَوْدُ مَرَّةً
Telah meriwayatkan hal itu Abdullah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu dalam menyifati wudhu Rasulullah ﷺ, dan ia meletakkan kedua jempolnya pada kedua pelipisnya serta menempelkan kedua jari telunjuknya, adapun gerakan pergi dan kembali itu dihitung satu kali.
Tata Cara Mengusap Kepala bagi Orang Botak
وَهَذَا فِيمَنْ لَهُ شَعْرٌ يَنْقَلِبُ بِالذَّهَابِ وَالرَّدِّ لِيَصِلَ الْبَلَلُ إِلَى بَاطِنِ الشَّعْرِ وَظَاهِرِهِ وَأَمَّا مَنْ لَا شَعْرَ لَهُ أَوْ لَهُ شَعْرٌ لَا يَنْقَلِبُ فَيَقْتَصِرُ عَلَى الذَّهَابِ
Dan ini berlaku bagi orang yang memiliki rambut yang bisa terbolak-balik dengan gerakan pergi dan kembali agar basahan air sampai ke bagian dalam rambut dan bagian luarnya, adapun orang yang tidak memiliki rambut atau memiliki rambut yang tidak terbolak-balik maka ia cukup dengan gerakan pergi saja.
فَلَوْ رَدَّهُ لَمْ تُحْسَبْ ثَانِيَةً لِكَوْنِ الْمَاءِ بَقِيَ مُسْتَعْمَلًا
Maka seandainya ia mengembalikannya (tangan) maka tidak dihitung sebagai usapan kedua karena air tersebut telah menjadi musta’mal,
Mengusap Kepala Bagi yang TIdak Melepas Imamah
وَلَوْ لَمْ يُرِدْ نَزْعَ مَا عَلَى رَأْسِهِ مِنْ عِمَامَةٍ أَوْ غَيْرِهَا مَسَحَ عَلَى جُزْءٍ مِنْ رَأْسِهِ وَتَمَّمَ عَلَى الْعِمَامَةِ
dan jika ia tidak ingin melepas apa yang ada di atas kepalanya berupa sorban atau lainnya, maka ia mengusap sebagian kepalanya dan menyempurnakannya di atas sorban.
وَالْأَفْضَلُ أَنْ لَا يَقْتَصِرَ عَلَى أَقَلَّ مِنَ النَّاصِيَةِ لِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى عِمَامَتِهِ
Dan yang lebih utama adalah tidak mencukupkan diri pada bagian yang kurang dari ubun-ubun, karena Nabi ﷺ mengusap ubun-ubunnya dan di atas sorbannya.
وَشَرَطَ الرَّافِعِيُّ أَنْ يَعْسُرَ رَفْعُ الْعِمَامَةِ ذَكَرَهُ فِي الشَّرْحَيْنِ وَالْمُحَرَّرِ وَتَبِعَهُ فِي الْمِنْهَاجِ وَحَذَفَهُ مِنَ الرَّوْضَةِ
Dan Imam Ar-Rafi’i mensyaratkan adanya kesulitan dalam melepas sorban, beliau menyebutkan hal itu dalam dua kitab Syarah dan Al-Muharrar, dan diikuti dalam Al-Minhaj namun beliau menghapusnya dalam kitab Ar-Raudhah.
وَلَا يَجُوزُ الْاِقْتِصَارُ عَلَى مَسْحِ الْعِمَامَةِ قَطْعًا فِي الرَّافِعِيِّ وَالرَّوْضَةِ لِأَنَّهُ مَأْمُورٌ بِمَسْحِ الرَّأْسِ وَالْمَاسِحُ عَلَى الْعِمَامَةِ لَيْسَ بِمَاسِحٍ لَهُ
Dan tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan mengusap sorban secara pasti menurut Imam Ar-Rafi’i dan kitab Ar-Raudhah, karena ia diperintahkan untuk mengusap kepala, sedangkan orang yang mengusap di atas sorban bukanlah orang yang mengusap kepala.
وَفِي الْبَحْرِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ نَصْرٍ مِنْ كِبَارِ الْأَصْحَابِ أَنَّهُ يَكْفِي وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan di dalam kitab Al-Bahr dari Muhammad bin Nashr yang termasuk pembesar Ashhab (ulama Syafi’iyyah) bahwasanya hal itu mencukupi, Wallahu A’lam.
Sunnah Wudhu Ke 6: Menyapu Kedua Telinga
قَالَ (وَمَسْحُ الْأُذُنَيْنِ) يُسْتَحَبُّ مَسْحُ الْأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدِيدٍ وَكَذَا يُسْتَحَبُّ مَسْحُ الصِّمَاخَيْنِ بِمَاءٍ جَدِيدٍ
Syekh Abu Syuja berkata: (Dan mengusap kedua telinga) disunnahkan mengusap kedua telinga, bagian luarnya dan bagian dalamnya dengan air yang baru, dan begitu juga disunnahkan mengusap kedua lubang telinga dengan air yang baru.
Dalil Mengusap Kedua Telinga
قَالَ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ زَيْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ [رَأَيْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ فَأَخَذَ لِأُذُنَيْهِ مَاءً خِلَافَ الْمَاءِ الَّذِي أَخَذَهُ لِرَأْسِهِ] رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ وَقَالَا اِسْنَادُهُ صَحِيْحٌ وَزَادَ الْحَاكِمُ فَقَالَ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ.
Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: [Aku melihat Rasulullah ﷺ berwudu, lalu beliau mengambil air untuk kedua telinganya selain air yang beliau ambil untuk kepalanya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim dan Imam Baihqi dan keduanya berkata sanadnya shahih dan Imam Hakim menambahkan dan ia berkata hadits ini memenuhi syarat Imam Muslim
Tata Cara Menyapu Kedua Telinga
وَكَيْفِيَّةُ الْمَسْحِ أَنْ يُدْخِلَ مُسَبِّحَتَيْهِ فِي صِمَاخَيْهِ وَيُدِيرَهُمَا فِي الْمَعَاطِفِ وَيُمِرَّ إِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ ثُمَّ يُلْصِقَ كَفَّيْهِ وَهُمَا مَبْلُولَتَانِ بِالْأُذُنَيْنِ اسْتِظْهَارًا
Dan tata cara mengusap adalah dengan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam kedua lubang telinganya dan memutarkannya pada lipatan-lipatan telinga, serta menjalankan kedua ibu jarinya pada bagian luar kedua telinganya, kemudian menempelkan kedua telapak tangannya dalam keadaan keduanya basah pada kedua telinga sebagai bentuk kehati-hatian.
وَهَذِهِ الْكَيْفِيَّةُ ذَكَرَهَا الرَّافِعِيُّ وَأَسْقَطَهَا النَّوَوِيُّ مِنَ الرَّوْضَةِ
Dan tata cara ini telah disebutkan oleh Imam Ar-Rafi’i dan telah menggugurkannya (tidak mencantumkannya) Imam An-Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah.
Sunnah Wudhu 7: Menyela Jenggot Lebat dan Sela-sela Jari
قَالَ (وَتَخْلِيلُ اللِّحْيَةِ الْكَثَّةِ وَتَخْلِيلُ أَصَابِعِ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ)
Beliau berkata: (Dan menyela-nyela jenggot yang lebat, serta menyela-nyela jari-jemari kedua tangan dan kedua kaki).
Dalil Menyela Jenggot Lebat
رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُمَا [أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ شَبَّكَ لِحْيَتَهُ الْكَرِيمَةَ بِأَصَابِعِهِ مِنْ تَحْتِهَا] رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ta’ala ‘anhuma: [Bahwasanya Baginda Nabi ‘alaihis shalatu wa sallam apabila berwudu, beliau menyela-nyela jenggotnya yang mulia dengan jari-jemarinya dari arah bawahnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah
وَرَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا [أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ] قَالَ البخاري وَهٰذَا أَصَحُّ مَا فِى الْبَابِ وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ أَنَّهُ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma telah meriwayatkan pada hadits ini: [Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menyela-nyela jenggotnya]. Imam Bukhari berkata dan ini adlaah riwayat paling shahih dalam bab ini dan Imam Tirmidzi berkata sesungguhnya hadits ini hasan shahih
Dalil Menyela Sela-sela Jari
وَأَمَّا تَخْلِيلُ الْأَصَابِعِ فَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا [أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا تَوَضَّأْتَ فَخَلِّلْ أَصَابِعَ يَدَيْكَ وَرِجْلَيْكَ] رَوَاهُ ابن ماجه وَالترمذي وَقَالَ حسن غريب وَقَالَ فى علِلهِ سألت البخاري عَنْهُ فَقَالَ حسن.
Adapun menyela-nyela jari-jemari, maka diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: [Bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: Apabila engkau berwudu, maka sela-selalah jari-jemari kedua tanganmu dan kedua kakimu]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah dan Imam Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan ghorib dan Imam Tirmidzi berkata dalam kitab Al-Ilalnya aku bertanya kepada Imam Bukhari tentang hadits ini dan beliau berkata hadits ini hasan
Tata Cara Menyela Jari Kak
وَكَيْفِيَّةُ تَخْلِيْلِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ أَنْ يَبْدَأَ بِخِنْصِرِ يَدِهِ الْيُسْرَى مِنْ أَسْفَلِ الرِّجْلِ مُبْتَدِئًا بِخِنْصِرِ الرِّجْلِ الْيُمْنَى خَاتِمًا بِخِنْصِرِ الْيُسْرَى
Dan tata cara menyela-nyela jari-jemari kedua kakinya adalah dengan memulai menggunakan jari kelingking tangan kirinya dari arah bawah kaki, dimulai dari jari kelingking kaki kanan dan diakhiri dengan jari kelingking kaki kiri.
وَهَذِهِ الْكَيْفِيَّةُ رَجَّحَهَا النَّوَوِيُّ فِي الرَّوْضَةِ وَحَكَى وَجْهًا أَنَّهُ يُخَلِّلُ بَيْنَ كُلِّ إِصْبَعٍ مِنْ أَصَابِعِ الرِّجْلَيْنِ بِإِصْبَعٍ مِنْ أَصَابِعِ يَدِهِ
Dan tata cara ini telah diunggulkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah, dan beliau menceritakan satu pendapat bahwasanya seseorang menyela-nyela di antara setiap jari dari jari-jemari kedua kaki dengan satu jari dari jari-jemari tangannya.
وَحَكَى فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَجْهًا آخَرَ أَنَّهُ يَبْدَأُ بِخِنْصِرِ الْيَدِ الْيُمْنَى وَأَخْبَرَ أَنَّهُمَا سَوَاءٌ وَعَزَاهُ إِلَى إِمَامِ الْحَرَمَيْنِ
Dan beliau menceritakan dalam kitab Syarh Al-Muhadzdzab akan pendapat yang lain bahwasanya ia memulai dengan jari kelingking tangan kanan, dan beliau mengabarkan bahwa keduanya adalah sama, serta menyandarkannya kepada Imamul Haramain.
ثُمَّ قَالَ إِنَّ مَا قَالَهُ الْإِمَامُ هُوَ الرَّاجِحُ الْمُخْتَارُ وَكَذَا اخْتَارَهُ فِي التَّحْقِيقِ
Kemudian beliau berkata: Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Al-Imam (Imamul Haramain) itulah yang unggul lagi terpilih, dan demikian pula beliau memilihnya dalam kitab At-Tahqiq.
وَتَخْلِيلُ الْأَصَابِعِ الْيَدَيْنِ بِالتَّشْبِيكِ ثُمَّ إِنْ كَانَتِ الْأَصَابِعُ مُلْتَفَّةً لَا يَصِلُ الْمَاءُ إِلَيْهَا إِلَّا بِالتَّخْلِيلِ وَجَبَ
Dan menyela-nyela jari-jemari kedua tangan adalah dengan cara tasybik (menyilangkan jari), kemudian jika jari-jemari tersebut rapat sehingga air tidak sampai kepadanya kecuali dengan menyela-nyela, maka hukumnya menjadi wajib.
وَإِنْ كَانَتْ مُلْتَحِمَةً قَالَ لَا يَجِبُ فَتْقُهَا وَلَا يُسْتَحَبُّ قَالَهُ فِي زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ بَلْ لَا يَجُوزُ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan jika jari-jemari tersebut menyatu, beliau berkata: Tidak wajib membedahnya dan tidak disunnahkan, Imam Nawawi telah berpendapat tentangnya dalam kitab Ziyadatur Raudhah, bahkan tidak diperbolehkan, dan Allah Maha Mengetahui.
Sunnah Wudhu 8, 9, 10: Mendahulukan Anggota Kanan, Membasuh Tiga Kali, dan Berturut-turut
قَالَ (وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَالطَّهَارَةُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا وَالْمُوَالَاةُ)
Syekh Abu Syuja berkata: (Dan mendahulukan anggota kanan atas yang kiri, dan bersuci sebanyak tiga kali tiga kali, dan muwalah/berkesinambungan).
Dalil Mendahulukan Anggota Kanan
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ [إِذَا تَوَضَّأْتُمْ فَابْدَءُوْا بِمَيَامِنِكُمْ] رَوَاهُ أبو داود وَابن ماجه وَصححه ابن خزيمة وَابن حبان.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Apabila kalian berwudhu, maka mulailah dengan anggota-anggota kanan kalian]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah dan telah menshohihkan pada hadits ini Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam Ibnu Hibban
[وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَامُنَ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِيْ شَأْنِهِ كُلِّهِ]
[Dan dari Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Adalah Rasulullah ﷺ menyukai mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam setiap urusannya].
وَمَعْنَى التَّرَجُّلِ التَّسْرِيْحُ يُبْدَأُ بِالشِّقِّ الْأَيْمَنِ فِيْ الطُّهُوْرِ وَيُبْدَأُ بِالْيَدِ الْيُمْنَى وَالرِّجْلِ الْيُمْنَى فِيْ الْوُضُوْءِ وَبِالشِّقِّ الْأَيْمَنِ فِيْ الْغُسْلِ
Dan makna at-tarajjul adalah menyisir rambut; dimulai dengan bagian sisi kanan dalam bersuci, dan dimulai dengan tangan kanan serta kaki kanan dalam wudhu, dan dengan sisi kanan dalam mandi.
وَأَمَّا الْأُذُنَانِ وَالْخَدَّانِ فَيُطَهَّرَانِ مَعًا فَإِنْ كَانَ أَقْطَعَ قَدَّمَ الْيَدَ الْيُمْنَى
Adapun kedua telinga dan kedua pipi maka keduanya disucikan secara bersamaan, maka jika (seseorang) terputus tangannya, ia mendahulukan tangan yang kanan.
Dalil Membasuh Tiga Kali
وَأَمَّا اسْتِحْبَابُ كَوْنِهِ ثَلَاثًا فَفِيْ حَدِيْثِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ [أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا] رَوَاهُ مسلم
Adapun kesunnahan membasuh tiga kali, maka terdapat dalam hadits Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhu: [Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu tiga kali tiga kali]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim
Perbedaan Pendapat Tentang Jumlah Usapan Kepala
وَلَا فَرْقَ فِيْ ذَلِكَ بَيْنَ الرَّأْسِ وَغَيْرِهِ وَاسْتَحَبَّ بَعْضُ الْأَصْحَابِ مَسْحَ الرَّأْسِ مَرَّةً وَاحْتَجَّ بِأَنَّ أَحَادِيْثَ عُثْمَانَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ الصِّحَاحَ تَدُلُّ عَلَى مَسْحِ الرَّأْسِ مَرَّةً
Dan tidak ada perbedaan dalam hal itu antara kepala dan lainnya, namun sebagian Ashab (ulama Syafi’iyyah) menyunnahkan mengusap kepala satu kali, dan berhujjah bahwa hadits-hadits Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhu yang shahih menunjukkan atas mengusap kepala satu kali.
قَالَ وَقَدْ جَاءَ فِيْ مُسْلِمٍ فِيْ وَصْفِ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ زَيْدٍ وُضُوْءَ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَسَحَ رَأْسَهُ مَرَّةً وَاحِدَةً وَقَدْ قِيْلَ إِنَّ التِّرْمِذِيَّ حَكَاهُ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ
Beliau berkata: Dan sungguh telah datang dalam riwayat Imam Muslim dalam pensifatan Abdullah bin Zaid mengenai wudhu Rasulullah ﷺ bahwasanya beliau mengusap kepalanya satu kali saja, dan sungguh telah dikatakan bahwa Imam At-Tirmidzi menceritakannya dari nash Imam Asy-Syafi’i.
وَالْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَبِه جَزَمَ الْجُمْهُوْرُ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ مَسْحُهُ ثَلَاثًا وَحُجَّةُ ذَلِكَ حَدِيْثُ عُثْمَانَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ
Dan yang masyhur dari madzhab Syafi’i dan dengannya jumhur (mayoritas ulama) memastikan bahwasanya disunnahkan mengusapnya tiga kali, dan hujjah hal tersebut adalah hadits Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhu.
وَفِيْ رِوَايَةِ أَبِيْ دَاوُدَ فِيْ حَدِيْثِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَسَحَ رَأْسَهُ ثَلَاثًا نَعَمْ فِيْ سَنَدِهِ عَامِرُ بْنُ شَقِيْقٍ قَالَ الْحَاكِمُ لَا أَعْلَمُ فِيْ عَامِرٍ طَعْنًا بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوْهِ
Dan dalam riwayat Imam Abu Dawud pada hadits Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhu bahwasanya beliau ‘alaihish shalatu was salam mengusap kepalanya tiga kali; benar, di dalam sanadnya terdapat ‘Amir bin Syaqiq, Imam Hakim berkata: Aku tidak mengetahui pada diri ‘Amir suatu celaan dari sisi manapun.
وَفِيْ ابْنِ مَاجَهْ [أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلَاثًا وَقَالَ هَذَا وُضُوْءُ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ] وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan dalam riwayat Imam Ibnu Majah [Bahwasanya Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu berwudhu tiga kali tiga kali dan mengusap kepalanya tiga kali, dan beliau berkata: Ini adalah wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam] Wallahu A’lam.
Ikhtilaf Kesunnahan Mengusap Leher
وَأَهْمَلَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللّٰهُ سُنَنًا مِنْهَا مَسْحُ الرَّقَبَةِ وَصَحَّحَ الرَّافِعِيُّ فِـيْ شَرْحِ الصَّغِـيْرِ أَنَّهَا سُنَّةٌ
Dan Mushannif telah mengabaikan (tidak mencantumkan) pada beberapa sunnah, di antaranya adalah mengusap leher, dan Imam Ar-Rafi’i telah mensahihkan di dalam kitab Syarh Ash-Shaghir bahwasanya hal itu adalah sunnah.
وَاحْتَجَّ فِـيْ الشَّرْحِ الْكَبِـيْرِ بِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ (مَسْحُ الرَّقَبَةِ أَمَانٌ مِنَ الْغُلِّ)
Dan beliau berhujjah di dalam kitab Ash-Syarh Al-Kabir bahwasanya Nabi ﷺ telah bersabda [Mengusap leher adalah pengaman dari belenggu].
وَاعْتَرَضَ النَّوَوِيُّ فَقَالَ لَا يُمْسَحُ لِأَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ فِـيْهَا شَيْءٌ وَلِهَذَا لَمْ يَذْكُرْهُ الشَّافِعِيُّ وَمُتَقَدِّمُوا الْأَصْحَابِ وَهُوَ الصَّوَابُ
Dan Imam An-Nawawi menyanggah seraya berkata: Tidak perlu diusap karena tidak ada dalil yang tetap di dalamnya sedikitpun, dan karena inilah Imam Asy-Syafi’i dan para pengikut madzhab terdahulu tidak menyebutkannya, dan pendapat inilah yang benar.
قَالَ فِـيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَالْحَدِيثُ مَوْضُوعٌ قَالَ الْحَمَوِيُّ شَارِحُ التَّنْبِـيْهِ الْجَدِيدِ أَنَّ مَسْحَ الرَّقَبَةِ لَيْسَ بِسُنَّةٍ وَمُقْتَضَاهُ أَنَّ فِـيْ ذَلِكَ قَوْلَيْنِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Imam An-Nawawi berkata di dalam kitab Syarh Al-Muhadzdzab bahwa hadits tersebut adalah palsu. Al-Hamawi pensyarah kitab At-Tanbih yang baru berkata bahwa mengusap leher bukanlah sunnah, dan konsekuensinya adalah bahwa dalam masalah itu terdapat dua pendapat, Wallahu A’lam.
Membaca Doa Pada Anggota Wudhu
وَمِنْهَا الدَّعَوَاتُ عَلَى أَعْضَاءِ الْوُضُوءِ قَالَهُ الرَّافِعِيُّ قَالَ النَّوَوِيُّ هَذِهِ الْأَدْعِيَةُ لَا أَصْلَ لَهَا وَلَمْ يَذْكُرْهَا إِلَّا الشَّافِعِيُّ وَالْجُمْهُورُ
Dan di antaranya adalah doa-doa atas anggota-anggota wudhu, hal itu dikatakan oleh Imam Ar-Rafi’i. Imam An-Nawawi berkata: Doa-doa ini tidak memiliki dasar, dan tidak ada yang menyebutkannya kecuali Imam Asy-Syafi’i dan mayoritas ulama.
Hukum Isti’anah
وَمِنْهَا الْاِسْتِعَانَةُ هَلْ تُكْرَهُ وَجْهَانِ قَالَ النَّوَوِيُّ الْوَجْهَانِ فِـيْمَا إِذَا اسْتَعَانَ بِمَنْ يَصُبُّ عَلَيْهِ وَأَصَحُّهُمَا لَا يُكْرَهُ
Dan di antaranya adalah meminta bantuan, apakah dimakruhkan? Ada dua pendapat. Imam An-Nawawi berkata: Dua pendapat tersebut adalah dalam hal apabila seseorang meminta bantuan kepada orang yang menuangkan air kepadanya, dan yang paling shahih dari keduanya adalah tidak dimakruhkan.
أَمَّا إِذَا اسْتَعَانَ بِمَنْ يَغْسِلُ أَعْضَاءَهُ فَمَكْرُوهٌ قَطْعًا وَإِنْ كَانَ بِاخْضَارِ الْمَاءِ فَلَا بَأْسَ وَلَا يُقَالُ خِلَافُ الْأَوْلَى وَحَيْثُ كَانَ لَهُ عُذْرٌ فَلَا بَأْسَ بِالْإِسْتِعَانَةِ مُطْلَقًا
Adapun apabila ia meminta bantuan kepada orang yang membasuhkan anggota-anggota wudhunya maka hukumnya makruh secara pasti, dan jika hal itu untuk menghadirkan air maka tidak mengapa dan tidak dikatakan menyalahi yang utama, dan sekiranya ia memiliki udzur maka tidak mengapa meminta bantuan secara mutlak.
Ikhtilaf Tentang Hukum Mengeringkan Anggota Wudhu
وَمِنْهَا هَلْ يُسْتَحَبُّ تَرْكُ التَّنْشِيْفِ فِيْهِ أَوْجُهٌ، الصَّحِيْحُ أَنَّ تَرْكَهُ مُسْتَحَبٌّ، كَذَا صَحَّحَهُ فِيْ أَصْلِ الرَّوْضَةِ،
Dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah (permasalahan) apakah disunnahkan meninggalkan mengeringkan anggota wudhu (dengan handuk)? Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat, yang shahih adalah sesungguhnya meninggalkannya itu disunnahkan, demikianlah Imam Nawawi menshahihkannya dalam kitab Ashlur Raudhah,
وَقِيْلَ إِنَّهُ مُبَاحٌ فِعْلُهُ وَتَرْكُهُ سَوَاءٌ، وَاخْتَارَهُ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ، وَقِيْلَ مُسْتَحَبٌّ مُطْلَقًا، وَقِيْلَ يُكْرَهُ التَّنْشِيْفُ مُطْلَقًا، وَقِيْلَ يُكْرَهُ فِي الصَّيْفِ دُوْنَ الشِّتَاءِ.
dan dikatakan (pendapat lain) bahwa sesungguhnya hal itu mubah, melakukannya dan meninggalkannya adalah sama, dan (pendapat ini) dipilih oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Syarhul Muhadzdzab, dan dikatakan (pendapat lain) disunnahkan secara mutlak, dan dikatakan dimakruhkan mengeringkan secara mutlak, dan dikatakan dimakruhkan pada musim panas bukan pada musim dingin.
قَالَ النَّوَوِيُّ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ: مَحَلُّ الْخِلَافِ إِذَا لَمْ تَكُنْ حَاجَةٌ إِلَى التَّنْشِيْفِ لِحَرٍّ أَوْ بَرْدٍ أَوْ اِلْتِصَاقِ نَجَاسَةٍ، فَإِنْ كَانَ فَلَا كَرَاهَةَ قَطْعًا، وَلَا يُقَالُ إِنَّهُ خِلَافُ الْمُسْتَحَبِّ.
Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Syarhul Muhadzdzab: Letak perbedaan pendapat adalah apabila tidak ada hajat untuk mengeringkan karena panas atau dingin atau menempelnya najis, maka jika ada (hajat), maka tidak ada kemakruhan secara pasti, dan tidak dikatakan bahwa hal itu menyalahi yang sunnah.
Ikhtilaf Tentang Kesunnahan Tidak Mengibaskan Tangan
وَمِنْهَا يُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَنْفُضَ يَدَيْهِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [إِذَا تَوَضَّأْتُمْ فَلَا تَنْفُضُوْا أَيْدِيَكُمْ فَإِنَّهَا مَرَاوِحُ الشَّيْطَانِ] رَوَاهُ ابن أبى حاتم وَغَيْرِهِ.
Dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah disunnahkan agar tidak mengibaskan kedua tangannya karena sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: [Apabila kalian berwudhu maka janganlah kalian mengibaskan tangan-tangan kalian karena sesungguhnya tangan itu adalah kipas-kipas setan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Abi Hatim dan Imam yang lainnya.
فَلَوْ خَالَفَ وَنَفَضَ فَالَّذِيْ جَزَمَ بِهِ الرَّافِعِيُّ أَنَّهُ يُكْرَهُ، وَخَالَفَ النَّوَوِيُّ فَرَجَّحَ أَنَّهُ لَا يُكْرَهُ بَلْ هُوَ مُبَاحٌ فِعْلُهُ وَتَرْكُهُ سَوَاءٌ.
Maka seandainya ia menyalahi (sunnah) dan mengibaskan (tangan), maka pendapat yang ditegaskan oleh Imam Ar-Rafi’i adalah sesungguhnya hal itu makruh, dan Imam An-Nawawi berbeda pendapat lalu menguatkan bahwa sesungguhnya hal itu tidak makruh, bahkan hal itu mubah, melakukannya dan meninggalkannya adalah sama.
وَقَالَ فِي التَّحْقِيْقِ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْأَوْلَى، وَالْحَدِيْثُ قَالَ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ إِنَّهُ ضَعِيْفٌ لَا يُعْرَفُ.
Dan beliau Imam Nawawi berkata dalam kitab At-Tahqiq karena hal itu menyalahi yang lebih utama (khilaful aula), dan hadits tersebut, beliau berkata dalam kitab Syarhul Muhadzdzab sesungguhnya hadits itu dhaif (lemah) tidak diketahui.
Sunah Berkesinambungan dan Adab Wudhu
وَمِنْهَا الْمُوَالَاةُ وَهِيَ وَاجِبَةٌ فِي الْقَدِيْمِ، وَأَنْ يَقُوْلَ بَعْدَ التَّسْمِيَةِ: الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَاءَ طَهُوْرًا.
Dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah muwalah (berkesinambungan), dan ia wajib menurut Qaul Qadim, dan hendaknya mengucapkan setelah basmalah: Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air itu suci mensucikan.
وَيُخَلِّلُ الْخَاتَمَ وَيَتَعَهَّدُ مَا يَحْتَاجُ إِلَى الْاِحْتِيَاطِ، وَيَبْدَأُ بِأَعْلَى وَجْهِهِ وَبِمُقَدَّمِ الرَّأْسِ، وَفِي الْيَدِ وَالرِّجْلِ بِأَطْرَافِ الْأَصَابِعِ إِنْ صَبَّ عَلَى نَفْسِهِ.
Dan menyela-nyela cincin, dan memperhatikan apa yang butuh pada kehati-hatian, dan memulai dengan bagian atas wajahnya dan dengan bagian depan kepala, dan pada tangan serta kaki dengan ujung jari-jemari jika ia menuangkan (air) pada dirinya sendiri.
وَإِنْ صَبَّ عَلَيْهِ غَيْرُهُ بَدَأَ بِالْمِرْفَقَيْنِ وَالْكَفَّيْنِ، وَأَنْ لَا يَنْقُصَ مَاءُ الْوُضُوْءِ عَنْ مُدٍّ، وَلَا يُسْرِفَ، وَلَا يَزِيْدَ عَلَى ثَلَاثِ مَرَّاتٍ. وَلَا يَتَكَلَّمُ فِيْ أَثْنَاءِ الْوُضُوْءِ، وَلَا يَلْطِمُ وَجْهَهُ بِالْمَاءِ،
Dan jika orang lain menuangkan (air) kepadanya, maka dimulai dari kedua siku dan kedua telapak tangan, dan hendaknya air wudhu tidak kurang dari satu mud, dan tidak berlebihan, serta tidak menambah lebih dari tiga kali basuhan. Dan tidak berbicara di tengah-tengah wudhu, dan tidak menampar wajahnya dengan air,
Doa Setelah Wudhu
وَأَنْ يَقُوْلَ بَعْدَ الْوُضُوْءِ: ”أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ، سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ“.
dan hendaknya mengucapkan setelah wudhu: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci. Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)”.
وَبَقِيَتْ سُنَنٌ أُخَرُ مَذْكُوْرَةٌ فِي الْكُتُبِ الْمُطَوَّلَةِ تَرَكْنَاهَا خَشْيَةَ الْإِطَالَةِ، وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.
Dan tersisa sunnah-sunnah lain yang disebutkan dalam kitab-kitab yang panjang lebar, kami meninggalkannya karena khawatir terlalu panjang, Wallahu A’lam.
Ragu dalam Membasuh Sebagian Anggota Wudhu
(فَرْعٌ) لَوْ شَكَّ فِيْ غَسْلِ بَعْضِ أَعْضَائِهِ فِيْ أَثْنَاءِ الطَّهَارَةِ لَمْ يُحْسَبْ لَهُ. وَبَعْدَ الْفَرَاغِ لَا يَضُرُّ الشَّكُّ عَلَى الرَّاجِحِ لِكَثْرَةِ الشَّكِّ مَعَ أَنَّ الظَّاهِرَ كَمَالُ الطَّهَارَةِ،
(Cabang) Seandainya seseorang ragu dalam membasuh sebagian anggota tubuhnya di tengah-tengah bersuci, maka hal itu tidak dianggap baginya. Dan setelah selesai (bersuci), keraguan tidaklah membahayakan (tidak berpengaruh) menurut pendapat yang kuat karena banyaknya keraguan, padahal secara lahiriyah bersuci telah sempurna,
Syarat Dalam Membasuh Anggota
وَيُشْتَرُطُ فِيْ غَسْلِ الْأَعْضَاءِ جَرَيَانُ الْمَاءِ عَلَى الْعُضْوِ الْمَغْسُوْلِ بِلَا خِلَافٍ، وَاللّٰهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.
dan disyaratkan dalam membasuh anggota tubuh adanya aliran air pada anggota yang dibasuh tanpa ada perbedaan pendapat, Wallahu A’lam.
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!