Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Syarat-Syarat Wajib Puasa
| Nama kitab | : | Kifayatul Akhyar |
| Judul kitab Arab | : | كفاية الأخيار |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mata Pelajaran | : | Fiqih |
| Musonif | : | Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi |
| Nama Arab | : | الإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الحسين الحصن الدمشق |
| Lahir | : | Hauran, 752 H |
| Wafat | : | Damaskus, 1 Syawal 829 H |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar | Kitab Puasa
Image by © LILMUSLIMIIN
كِتَابُ الصِّيَامِ
Kitab puasa.
Syarat-Syarat Wajib Puasa
(وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: اَلْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ) اَلصَّوْمُ فِي اللُّغَةِ الْإِمْسَاكُ عَنِ الشَّيْءِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى ﴿إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا﴾ أَيْ إِمْسَاكًا وَهُوَ فِي الشَّرْعِ إِمْسَاكٌ مَخْصُوْصٌ مِنْ شَخْصٍ مَخْصُوْصٍ فِي وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشَرَائِطَ
(Syarat-syarat wajibnya puasa1 itu ada tiga perkara: Islam, baligh, dan berakal) Puasa menurut bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Allah Ta’ala berfirman: ﴾Sesungguhnya aku telah bernazar kepada (Tuhan) Yang Maha Pengasih untuk berpuasa﴿2 yakni, menahan diri. dan puasa menurut syara’ adalah menahan diri yang khusus3, dari orang yang khusus4, pada waktu yang khusus5, dengan syarat-syarat (tertentu).
Catatan
1.
Syarat Wajib: Kriteria yang menyebabkan seseorang terbebani kewajiban ibadah. Jika salah satu tidak terpenuhi (misal: belum baligh), maka ia belum wajib berpuasa secara hukum.
2.
Kutipan ayat tersebut merupakan perkataan Siti Maryam yang tercantum dalam surat Maryam ayat 26. Dalam konteks ayat tersebut, “puasa” yang dimaksud Siti Maryam adalah menahan diri dari berbicara kepada manusia, bukan menahan diri dari makan dan minum.
3.
Yakni Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari
4.
Merujuk pada orang Islam yang memenuhi syarat puasa.
5.
Hari-hari di mana puasa diperbolehkan atau diwajibkan seperti bulan Ramadhan. Hal ini mengecualikan hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Dalil Wajibnya Puasa
ثُمَّ وُجُوبُ الصَّوْمِ ثَابِتٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى ﴿فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾ وَفِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ [بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ] وَذُكِرَ صَوْمُ رَمَضَانَ وَانْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى وُجُوبِهِ
Kemudian kewajiban puasa itu tetap berdasarkan dalil Al-Qur’an, Hadits, dan Ijma’ (kesepakatan) umat, Allah Ta’ala berfirman: ﴾Maka barangsiapa di antara kalian melihat bulan (masuknya bulan Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa﴿ dan di dalam hadits yang shahih [Islam dibangun di atas lima perkara] dan (dalam hadits tersebut) disebutkan puasa Ramadhan, dan telah tetap kesepakatan (umat) atas kewajibannya.
ثُمَّ وُجُوْبُهُ يَتَعَلَّقُ بِالْمُسْلِمِ الْبَالِغِ الْعَاقِلِ الْقَادِرِ فَلَا يَجِبُ عَلَى الْكَافِرِ الْأَصْلِيِّ لِأَنَّهُ لَا يَصِحُّ مِنْهُ إِذْ لَيْسَ هُوَ مِنْ أَهْلِ الْعِبَادَةِ وَكَذَا لَا يَجِبُ عَلَى الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُوْنِ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ [رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ مِنْهُمُ الصَّبِيُّ وَالْمَجْنُوْنُ وَالنَّائِمُ]
Kemudian kewajibannya (puasa) berkaitan dengan orang muslim yang baligh, berakal, lagi mampu, maka puasa tidak wajib atas orang kafir asli karena sesungguhnya (puasa) tidak sah darinya sebab ia bukan termasuk ahli ibadah, dan begitu juga tidak wajib atas anak kecil dan orang gila karena sabda Nabi ﷺ [Telah diangkat pena dari tiga orang, di antaranya anak kecil, orang gila, dan orang yang tidur].
Ketentuan Bagi Orang Yang Tidak Mampu Berpuasa Sama Sekali
وَأَمَّا مَنْ لَا يَقْدِرُ عَلَى الصَّوْمِ أَصْلًا أَوْ لَوْ صَامَ لَأَضَرَّ بِهِ ضَرَرًا غَيْرَ مُحْتَمَلٍ لِكِبَرٍ أَوْ مَرَضٍ لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ فَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ الصَّوْمُ نَعَمْ يَلْزَمُهُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ مِنْ طَعَامٍ فِي الْأَصَحِّ إِنْ كَانَ مُوْسِرًا
Dan adapun orang yang tidak mampu atas puasa sama sekali atau seandainya ia berpuasa niscaya akan membahayakannya dengan bahaya yang tidak dapat ditanggung karena faktor usia tua atau sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya, maka tidak wajib atasnya berpuasa. Benar (tidak wajib), namun ia wajib mengeluarkan dari setiap harinya satu mud dari makanan pokok menurut pendapat yang paling shahih jika ia adalah orang yang berkecukupan.
فَلَوْ كَانَ مُعْسِرًا فَحِيْنِئِذٍ ثُمَّ أَيْسَرَ فَهَلْ يَلْزَمُهُ فِيْهِ قَوْلَانِ كَكَفَّارَةِ الْجِمَاعِ إِذَا كَانَ مُعْسِرًا ثُمَّ أَيْسَرَ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Maka seandainya ia adalah orang yang kesulitan (fakir) pada saat itu kemudian ia menjadi berkecukupan, maka apakah ia wajib (menggantinya)? Dalam hal ini ada dua pendapat sebagaimana kafarat jima’1 (persetubuhan) apabila ia terbukti dalam keadaan kesulitan kemudian menjadi berkecukupan. Dan Allah-lah yang lebih mengetahui.
Catatan
1.
Yakni jika ia tidak mampu maka dimaafkan namun ketika suatu hari ia mampu maka harus dibayarkan
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!