Mukasyafatul Qulub Bab 5 | Mengalahkan Nafsu dan Permusuhan Setan

01 Jan, 2026
Nama kitab:Mukasyafatul Qulub
Judul kitab Arab: مُكَاشَفَةُ الْقُلُوْبِ
Judul terjemah: Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub
Mata Pelajaran:Tasawuf
Musonif:Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali
Nama Arab:أَبُوْ حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْغَزَالِيُّ
Lahir:450 H di Tus
Wafat:505 H di Tus
Penerjemah:Ahsan Dasuki

Mukasyafatul Qulub Bab 5 Tentang Mengalahkan Nafsu dan Permusuhan Setan

Mukasyafatul QulubImage by © LILMUSLIMIIN

الباب الخامس

Bab Yang Kelima

فِى غلبة النفس وَعداوة الشيطان

Tentang Mngalahkan Nafsu dan Permusuhan Setan

يَنْبَغِيْ لِلْعَاقِلِ أَنْ يَقْمَعَ شَهْوَةَ النَّفْسِ بِالْجُوْعِ، إِذِ الْجُوْعُ قَهْرٌ لِعَدُوِّ اللّٰهِ ، قَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : [إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضَيِّقُوْا مَجَارِيَهُ بِالْجُوْعِ].

Seyogyanya bagi orang yang berakal agar menekan syahwat nafsu dengan lapar, karena lapar itu dapat menundukkan musuh Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Sesungguhnya setan itu mengalir pada anak Adam melalui aliran darah, maka sempitkanlah aliran-alirannya dengan lapar].

إِنَّ أَقْرَبَ النَّاسِ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ طَالَ جُوْعُهُ وَعَطَشُهُ، وَأَعْظَمُ الْمُهْلِكَاتِ لِابْنِ آدَمَ شَهْوَةُ الْبَطْنِ، فَبِهَا أُخْرِجَ آدَمُ وَحَوَّاءُ مِنْ دَارِ الْقَرَارِ إِلَى دَارِ الذُّلِّ وَالِافْتِقَارِ ، إِذْ نَهَاهُمَا رَبُّهُمَا عَنْ أَكْلِ الشَّجَرَةِ ، فَغَلَبَتْهُمَا شَهْوَتُهُمَا حَتَّى أَكَلَا ، فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا. وَالْبَطْنُ عَلَى التَّحْقِيْقِ يَنْبُوْعُ الشَّهَوَاتِ.

Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Allah Ta’ala pada hari kiamat adalah orang yang lama laparnya dan hausnya, dan sebesar-besar perkara yang membinasakan bagi anak Adam adalah syahwat perut, Sebab syahwat perut Nabi Adam dan Siti Hawa dikeluarkan dari negeri ketetapan (surga) menuju negeri kehinaan dan kefakiran, ketika Tuhan mereka melarang keduanya dari memakan (buah) dari suatu pohon, lalu syahwat keduanya mengalahkan keduanya hingga keduanya memakan (buah itu), maka tampaklah bagi keduanya aurat-aurat keduanya. Dan perut itu menurut penelitian adalah sumber segala syahwat.

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : مَنِ اسْتَوْلَتْ عَلَيْهِ النَّفْسُ صَارَ أَسِيْرًا فِيْ حُبِّ شَهَوَاتِهَا، مَحْصُوْرًا فِيْ سِجْنِ هَفَوَاتِهَا ، وَمَنَعَتْ قَلْبَهُ مِنَ الْفَوَائِدِ. مَنْ سَقَى أَرْضَ الْجَوَارِحِ بِالشَّهَوَاتِ فَقَدْ غَرَسَ فِيْ قَلْبِهِ شَجَرَةَ النَّدَامَةِ.

Dan sebagian ahli hikmah berkata: Barangsiapa yang nafsunya telah menguasai dirinya maka ia menjadi tawanan dalam kecintaan pada syahwat-syahwatnya, terkurung dalam penjara kesalahan-kesalahannya, dan nafsu itu menghalangi hatinya dari faedah-faedah. Barangsiapa yang menyirami bumi anggota tubuh dengan syahwat-syahwat maka sungguh ia telah menanam di dalam hatinya pohon penyesalan.

إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَىٰ خَلَقَ الْخَلْقَ عَلَىٰ ثَلَاثَةِ ضُرُوْبٍ : خَلَقَ الْمَلَائِكَةَ وَرَكَّبَ فِيْهِمُ الْعَقْلَ، وَلَمْ يُرَكِّبْ فِيْهِمُ الشَّهْوَةَ وَخَلَقَ الْبَهَائِمَ، وَرَكَّبَ فِيْهَا الشَّهْوَةَ، وَلَمْ يُرَكِّبْ فِيْهَا الْعَقْلَ وَخَلَقَ ابْنَ آدَمَ وَرَكَّبَ فِيْهِ الْعَقْلَ وَالشَّهْوَةَ فَمَنْ غَلَبَتْ شَهْوَتُهُ عَقْلَهُ، فَالْبَهَائِمُ خَيْرٌ مِنْهُ، وَمَنْ غَلَبَ عَقْلُهُ شَهْوَتَهُ، فَهُوَ خَيْرٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ.

Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan makhluk atas tiga macam: Allah menciptakan malaikat dan menyusun (menanamkan) akal pada mereka, dan tidak menyusun syahwat pada mereka, Allah menciptakan binatang, dan menyusun syahwat padanya, dan tidak menyusun akal padanya dan Allah menciptakan anak Adam (manusia) dan menyusun akal dan syahwat padanya. Barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka binatang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik daripada malaikat.

حِكَايَةٌ : قَالَ إِبْرَاهِيْمُ الْخَوَّاصُ : كُنْتُ فِيْ جَبَلِ اللُّكَّامِ فَرَأَيْتُ رُمَّانًا فَاشْتَهَيْتُهُ، فَأَخَذْتُ مِنْهُ وَاحِدَةً فَشَقَقْتُهَا فَوَجَدْتُهَا حَامِضَةً، فَمَضَيْتُ وَتَرَكْتُ الرُّمَّانَ،

Sebuah hikayat: Ibrahim al-Khawwas berkata: Aku pernah berada di gunung al-Lukkam lalu aku melihat buah delima kemudian aku menginginkannya, lalu aku mengambil satu darinya lalu aku membelahnya dan aku mendapatinya masam, maka aku berlalu dan meninggalkan delima itu,

فَرَأَيْتُ رَجُلًا مَطْرُوْحًا قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَيْهِ الزَّنَابِيْرُ فَقُلْتُ : السَّلَامُ عَلَيْكَ ، فَقَالَ لِيْ : وَعَلَيْكَ السَّلَامُ يَا إِبْرَاهِيْمُ. فَقُلْتُ : مَنْ أَيْنَ عَرَفْتَنِيْ

lalu aku melihat seorang laki-laki yang tergeletak yang mana tawon-tawon benar benar telah mengerumuninya, maka aku berkata: “Assalamu’alaika”, lalu dia berkata kepadaku: “Wa’alaikassalam wahai Ibrahim”. Maka aku berkata: “Dari mana engkau mengenalku?”.

فَقَالَ : مَنْ عَرَفَ اللّٰهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ. فَقُلْتُ : أَرَىٰ لَكَ مَعَ اللّٰهِ حَالًا، فَهَلَّا سَأَلْتَهُ أَنْ يُنجِّيَكَ مِنْ هٰذِهِ الزَّنَابِيْرِ فَقَالَ : وَإِنِّيْ أَرَىٰ لَكَ مَعَ اللّٰهَ حَالًا، فَهَلَّا سَأَلْتَهُ أَنْ يُنَجِّيَكَ مِنْ شَهْوَةِ الرُّمَّانِ ؟

Maka dia berkata: “Barangsiapa mengenal Allah maka tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi baginya”. Maka aku berkata: “Aku melihat engkau memiliki kedudukan di sisi Allah, maka mengapa engkau tidak memohon kepada-Nya agar menyelamatkanmu dari tawon-tawon ini?”. Maka dia berkata: “Dan sesungguhnya aku melihat engkau memiliki kedudukan di sisi Allah, maka mengapa engkau tidak memohon kepada-Nya agar menyelamatkanmu dari syahwat delima?”.

فَإِنَّ الرُّمَّانَ يَجِدُ الْإِنْسَانُ أَلَمَهُ فِيْ الْآخِرَةِ، وَلَذْعُ الزَّنَابِيْرِ يَجِدُ أَلَمَهُ فِيْ الدُّنْيَا، وَلَذْعُ الزَّنَابِيْرِ عَلَىٰ النُّفُوْسِ، وَلَذْعُ الشَّهَوَاتِ عَلَىٰ الْقُلُوْبِ. فَمَضَيْتُ وَتَرَكْتُهُ.

“Karena sesungguhnya delima itu manusia akan mendapati rasa sakitnya di akhirat, sedangkan sengatan tawon ia dapati rasa sakitnya di dunia, dan sengatan tawon itu atas raga, sedangkan sengatan syahwat itu atas hati”. Maka aku berlalu dan meninggalkannya.

اَلشَّهْوَةُ تُصَيِّرُ الْمُلُوْكَ عَبِيْدًا، وَالصَّبْرُ يُصَيِّرُ الْعَبِيْدَ مُلُوْكًا، أَلَا تَرَىٰ إِلَىٰ قِصَّةِ يُوْسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَزُلَيْخَا ؟

Syahwat itu dapat menjadikan para raja sebagai budak, dan sabar itu dapat menjadikan para budak sebagai raja, tidakkah engkau melihat kepada kisah Nabi Yusuf Alaihis Salam dan Siti Zulaikha?

فَقَدْ صَارَ يُوْسُفُ سُلْطَانَ مِصْرَ بِصَبْرِهِ ، وَصَارَت زُلَيْخَا ذَلِيْلَةً حَقِيْرَةً فَقِيْرَةً عَجُوْزًا عَمْيَاءَ لِأَجْلِ شَهْوَتِهَا، فَإِنَّ زُلَيْخَا لَمْ تَصْبِرْ عَنْ مَحَبَّةِ يُوْسُفَ.

Maka sungguh Nabi Yusuf telah menjadi penguasa Mesir karena kesabarannya, dan Siti Zulaikha menjadi (seorang yang) hina, rendah, fakir, tua renta, lagi buta karena sebab syahwatnya, Maka sesungguhnya Siti Zulaikha tidak bersabar dari mencintai Yusuf.

حَكَى أَبُوْ الْحَسَنِ الرَّازِيُّ أَنَّهُ رَأَىٰ وَالِدَهُ فِيْ مَنَامِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ بِسَنَتَيْنِ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ مِنَ الْقَطِرَانِ فَقَالَ لَهُ : يَا أَبِيْ مَا لِيْ أَرَىٰ عَلَيْكَ هَيْئَةَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَ : يَا وَلَدِيْ جَذَبَتْنِيْ نَفْسِيْ إِلَىٰ النَّارِ ، فَاحْذَرْ يَا وَلَدِيْ مِنْ خَدِيْعَةِ نَفْسِكَ :

Abu Al-Hasan Ar-Razi menceritakan bahwa ia melihat ayahnya dalam mimpinya setelah wafatnya selama dua tahun, dan padanya terdapat pakaian dari aspal (cairan hitam yang panas), lalu ia berkata kepadanya: “Wahai ayahku, mengapa aku melihat padamu keadaan ahli neraka?” Maka ia menjawab: “Wahai anakku, nafsuku telah menyeretku ke neraka, maka waspadalah wahai anakku dari tipu daya nafsumu:

إِلَّا لِشِدَّةِ شَقْوَتِيْ وَعَنَائِيْ * إِنِّي ابْتُلِيْتُ بِأَرْبَعٍ مَا سُلِّطُوْا
Sesungguhnya aku diuji dengan empat perkara yang tidaklah empat perkara itu dikuasakan (kepadaku) * kecuali karena saking besarnya kecelakaan dan kesusahanku
كَيْفَ الْخَلَاصُ وَكُلُّهُمْ أَعْدَائِيْ * إِبْلِيْسُ وَالدُّنْيَا وَنَفْسِيْ وَالْهَوَىٰ
(yaitu) Iblis, dunia, nafsuku, dan hawa * bagaimana cara selamat sedangkan mereka semua adalah musuh-musuhku
فِيْ ظُلْمَةِ الشَّهَوَاتِ وَالْآرَاءِ * وَأَرَى الْهَوَىٰ تَدْعُوْ إِلَيْهِ خَوَاطِرِيْ
dan aku melihat hawa nafsu mengajak kepadanya bisikan bisikan hati * di dalam kegelapan syahwat dan berbagai pendapat.

قَالَ حَاتِمٌ الْأَصَمُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ : نَفْسِيْ رِبَاطِيْ ، وَعِلْمِيْ سِلَاحِيْ ، وَذَنْبِيْ خَيْبَتِيْ ، وَالشَّيْطَانُ عَدُوِّيْ ، وَأَنَا بِنَفْسِيْ غَادِرٌ.

Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: Nafsuku adalah bentengku, ilmuku adalah senjataku, dosaku adalah kerugianku, setan adalah musuhku, dan aku terhadap diriku sendiri adalah seorang pengkhianat.

حُكِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْمَعْرِفَةِ أَنَّهُ قَالَ : اَلْجِهَادُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَصْنَافٍ : جِهَادٌ مَعَ الْكُفَّارِ ، وَهُوَ جِهَادُ الظَّاهِرِ كَالَّذِيْ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ﴾.

Dihikayatkan dari sebagian ahli makrifat bahwasanya ia berkata: Jihad itu ada tiga macam: jihad melawan orang-orang kafir, dan ia adalah jihad yang nampak seperti yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala: Mereka berjihad di jalan Allah﴿

Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 5
    
1.

Q.S Al-Maidah: Ayat 54

وَجِهَادٌ مَعَ أَصْحَابِ الْبَاطِلِ بِالْعِلْمِ وَالْحُجَّةِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ﴾.

Dan jihad melawan para pengikut kebatilan dengan ilmu dan hujah (argumentasi) seperti firman Alllah Ta’ala: Dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik﴿.

Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 5
    
1.

Q.S An-Nahl: Ayat 125

وَجِهَادٌ مَعَ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ كَالَّذِيْ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا﴾. وَقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : [أَفْضَلُ الْجِهَادِ جِهَادُ النَّفْسِ].

Dan jihad melawan nafsu ammarah yang memerintahkan pada keburukan seperti yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami﴿. Dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: [Jihad yang paling utama adalah jihad melawan nafsu].

Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 5
    
1.

Q.S Al-Ankabut: Ayat 69

وَإِنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللّٰهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ كَانُوْا إِذَا رَجَعُوْا مِنْ جِهَادِ الْكُفَّارِ يَقُوْلُوْنَ : رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ.

Dan sesungguhnya para sahabat Ridhwanullahi Alaihim mereka itu terbukti apabila pulang dari jihad melawan orang-orang kafir, mereka berkata: Kita telah pulang dari jihad yang lebih kecil menuju jihad yang lebih besar.—

وَإِنَّمَا سَمَّوُا الْجِهَادَ مَعَ الْهَوَى وَالنَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ أَكْبَرَ لِأَنَّ الْجِهَادَ مَعَهَا أَدْوَمُ، وَجِهَادُ الْكُفَّارِ يَكُوْنُ فِيْ وَقْتٍ دُوْنَ وَقْتٍ.

Dan hanyasanya mereka menamakan jihad melawan hawa nafsu, jiwa, dan setan sebagai (jihad) yang lebih besar karena sesungguhnya jihad melawan mereka itu lebih langgeng (terus-menerus), sedangkan jihad melawan orang-orang kafir terjadi pada suatu waktu bukan di waktu yang lain.

وَلِأَنَّ الْغَازِيَ يَرَى الْعَدُوَّ وَلَا يَرَى الشَّيْطَانَ، وَالْجِهَادُ مَعَ عَدُوٍّ يَرَاهُ أَسْهَلُ مِنَ الْجِهَادِ مَعَ عَدُوٍّ لَا يَرَاهُ،

Dan karena orang yang berperang itu dapat melihat musuh sedangkan ia tidak dapat melihat setan, dan jihad melawan musuh yang ia dapat melihatnya itu lebih mudah daripada jihad melawan musuh yang ia tidak dapat melihatnya,

وَلِأَنَّ لِلشَّيْطَانِ مُعِيْنًا مِنْ نَفْسِكَ وَهُوَ الْهَوَى، وَلَيْسَ لِلْكَافِرِ مِنْ نَفْسِكَ مُعِيْنٌ، فَلِذٰلِكَ كَانَ أَشَدَّ.

Dan karena sesungguhnya bagi setan itu ada penolong dari dirimu sendiri yaitu hawa nafsu, dan tidak ada bagi orang kafir itu penolong dari dirimu sendiri, maka karena itulah jihad nafsu menjadi lebih berat.

وَلِأَنَّكَ إِذَا قَتَلْتَ الْكَافِرَ تَجِدُ النَّصْرَ وَالْغَنِيْمَةَ، وَإِنْ قَتَلَكَ الْكَافِرُ تَجِدُ الشَّهَادَةَ وَالْجَنَّةَ. وَلَا تَقْدِرُ أَنْ تَقْتُلَ الشَّيْطَانَ، وَإِنْ قَتَلَكَ الشَّيْطَانُ تَقَعُ فِيْ عُقُوْبَةِ الرَّحْمٰنِ.

Dan karena sesungguhnya engkau apabila membunuh orang kafir maka engkau mendapati kemenangan dan harta rampasan perang, Dan jika orang kafir membunuhmu maka engkau mendapati kesyahidan dan surga. Dan engkau tidak akan mampu untuk membunuh setan, dan jika setan membunuhmu (menyesatkanmu) maka engkau akan jatuh ke dalam siksaan Tuhan Yang Maha Pengasih.

كَمَا قِيْلَ : مَنْ فَرَّ مِنْهُ فَرَسُهُ فِيْ الْحَرْبِ وَقَعَ فِيْ أَيْدِيْ الْكُفَّارِ ، وَمَنْ فَرَّ مِنْهُ الْإِيْمَانُ يَقَعُ فِيْ غَضَبِ الْجَبَّارِ. نَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْهُ.

Sebagaimana dikatakan: Barangsiapa yang kudanya lari darinya di dalam peperangan maka ia akan jatuh ke dalam tangan-tangan orang-orang kafir, dan barangsiapa yang keimanan lari darinya maka ia akan jatuh ke dalam kemurkaan (Allah) Dzat Yang Maha Perkasa. Kami berlindung kepada Allah darinya.

وَمَنْ وَقَعَ فِيْ أَيْدِيْ الْكُفَّارِ لَا تُغَلُّ يَدُهُ إِلَى عُنُقِهِ، وَلَا تُقَيَّدُ رِجْلُهُ، وَلَا يَجُوْعُ بَطْنُهُ، وَلَا يُعَرَّى بَدَنُهُ. وَمَنْ وَقَعَ فِيْ غَضَبِ الْجَبَّارِ يَسْوَدُّ وَجْهُهُ، وَتُغَلُّ يَدُهُ إِلَى عُنُقِهِ بِالْأَغْلَالِ، وَتُقَيَّدُ رِجْلُهُ بِقُيُوْدِ النَّارِ، وَيَكُوْنُ طَعَامُهُ نَارًا ، وَشَرَابُهُ نَارًا ، وَلِبَاسُهُ مِنْ نَارٍ.

Dan barangsiapa yang jatuh ke dalam tangan-tangan orang-orang kafir, maka tangannya tidak akan dibelenggu ke lehernya, dan kakinya tidak akan diikat, dan perutnya tidak akan lapar, dan badannya tidak akan ditelanjangi. Dan barangsiapa yang jatuh ke dalam kemurkaan (Allah) Dzat Yang Maha Perkasa, maka akan menjadi hitam wajahnya, dan tangannya akan dibelenggu ke lehernya dengan belenggu-belenggu, dan kakinya akan diikat dengan ikatan-ikatan api, dan terbukti makanannya adalah api, dan minumannya adalah api, dan pakaiannya itu dari api.