Mukasyafatul Qulub Bab 6 | Kelalaian

06 Jan, 2026
Nama kitab:Mukasyafatul Qulub
Judul kitab Arab: مُكَاشَفَةُ الْقُلُوْبِ
Judul terjemah: Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub
Mata Pelajaran:Tasawuf
Musonif:Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali
Nama Arab:أَبُوْ حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْغَزَالِيُّ
Lahir:450 H di Tus
Wafat:505 H di Tus
Penerjemah:Ahsan Dasuki

Mukasyafatul Qulub Bab 6 Tentang Kelalaian

Mukasyafatul QulubImage by © LILMUSLIMIIN

الباب السادس

Bab Yang Keenam

فى الغفلة

Tentang Kelalaian

اَلْغَفْلَةُ تَزِيْدُ الْحَسْرَةَ، اَلْغَفْلَةُ تُزِيْلُ النِّعْمَةَ وَتَحْجُبُ عَنِ الْخِدْمَةِ، اَلْغَفْلَةُ تَزِيْدُ الْحَسَدَ، اَلْغَفْلَةُ تَزِيْدُ الْمَلَامَةَ وَالنَّدَامَةَ .

Kelalaian itu dapat menambah penyesalan, kelalaian itu dapat menghilangkan nikmat dan kelalaian dapat menghalangi dari berkhidmah, kelalaian itu dapat menambah kedengkian, kelalaian itu dapat menambah celaan dan penyesalan.

حُكِيَ أَنَّ بَعْضَ الصَّالِحِيْنَ رَأَى أُسْتَاذَهُ فِي الْمَنَامِ فَسَأَلَهُ : أَيُّ الْحَسْرَةِ أَعْظَمُ عِنْدَكُمْ فَقَالَ : حَسْرَةُ الْغَفْلَةِ.

Dihikayatkan bahwa sebagian orang-orang saleh melihat gurunya di dalam mimpi, lalu ia bertanya kepadanya : Penyesalan manakah yang paling besar menurutmu? Maka ia menjawab: Penyesalan karena kelalaian.

وَرُوِيَ أَنَّ بَعْضَهُمْ رَأَى ذَا النُّوْنِ الْمِصْرِيَّ فِي مَنَامِهِ فَقَالَ لَهُ : مَا فَعَلَ اللّٰهُ بِكَ فَقَالَ : أَوْقَفَنِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ ، وَقَالَ لِيْ : يَا مُدَّعِيْ يَا كَذَّابُ، اِدَّعَيْتَ مَحَبَّتِيْ ثُمَّ غَفَلْتَ عَنِّيْ .

Dan diriwayatkan bahwa sebagian ulama melihat Dzun Nun al-Mishri di dalam mimpinya, lalu ia bertanya kepadanya: Apa yang telah Allah lakukan kepadamu? Maka ia menjawab: Dia (Allah) menjadikanku berdiri di hadapan-Nya, Dan Dia berfirman kepadaku: Wahai orang yang mengaku-ngaku, wahai pendusta, engkau mengaku mencintai-Ku kemudian engkau lalai dari-Ku.

ذَهَبَ الْعُمْرُ وَالذُّنُوْبُ كَمَا هِي * أَنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ وَقَلْبُكَ سَاهِيْ
Engkau berada dalam kelalaian dan hatimu dalam keadaan lengah * telah berlalu usia sedangkan dosa-dosa tetaplah sebagaimana adanya.

حُكِيَ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الصَّالِحِيْنَ رَأَى وَالِدَهُ فِيْ مَنَامِهِ فَقَالَ : يَا أَبَتِ كَيْفَ أَنْتَ، وَكَيْفَ حَالُكَ فَقَالَ لَهُ : يَا وَلَدِيْ عِشْنَا فِيْ الدُّنْيَا غَافِلِيْنَ ، وَمُتْنَا غَافِلِيْنَ.

Dihikayatkan bahwa sesungguhnya seorang laki-laki dari golongan orang-orang shalih melihat ayahnya di dalam mimpinya, lalu dia bertanya: Wahai ayahku, bagaimana kabarmu, dan bagaimana keadaanmu? Maka ayahnya menjawab kepadanya: Wahai anakku, kami telah hidup di dunia dalam keadaan lalai, dan kami telah mati dalam keadaan lalai.

وَفِيْ (زَهْرُ الرِّيَاضِ) كَانَ يَعْقُوْبُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مُؤَاخِيًا لِمَلَكِ الْمَوْتِ فَزَارَهُ، فَقَالَ لَهُ يَعْقُوْبُ : يَا مَلَكَ الْمَوْتِ أَزَائِرًا جِئْتَ أَمْ قَابِضًا رُوْحِيْ فَقَالَ : بَلْ زَائِرًا .

Dan di dalam ( Kitab Zahru ar-Riyadh ) Terbukti Nabi Ya’qub ‘alaihis salam menjalin persaudaraan dengan Malaikat Maut, lalu Malaikat Maut mengunjunginya, maka Nabi Ya’qub bertanya kepadanya: Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang sebagai pengunjung atau sebagai pencabut nyawaku? Maka ia menjawab: Bahkan sebagai pengunjung.

قَالَ : فَإِنِّيْ أَسْأَلُكَ حَاجَةً. قَالَ : وَمَا هِيَ قَالَ : أَنْ تُعَلِّمَنِيْ إِذَا دَنَا أَجَلِيْ وَأَرَدْتَ أَنْ تَقْبِضَ رُوْحِيْ . فَقَالَ : نَعَمْ أُرْسِلُ إِلَيْكَ رَسُوْلَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً. ؟

Nabi Ya’qub berkata: Maka sesungguhnya aku meminta kepadamu satu keperluan. Malaikat Maut bertanya: Dan apakah itu? Nabi Ya’qub menjawab: Hendaknya engkau memberitahuku apabila ajalku telah dekat dan engkau hendak mencabut nyawaku. Maka ia menjawab: Baik, aku akan mengirimkan kepadamu dua atau tiga utusan.

فَلَمَّا انْقَضَى أَجَلُهُ أَتَى إِلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ فَقَالَ : أَزَائِرًا جِئْتَ أَمْ لِقَبْضِ رُوْحِيْ فَقَالَ : لِقَبْضِ رُوْحِكَ . فَقَالَ : أَوَ لَسْتَ كُنْتَ أَخْبَرْتَنِيْ أَنَّكَ تُرْسِلُ إِلَيَّ رَسُوْلَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً

Maka tatkala ajalnya telah habis, Malaikat Maut mendatanginya, lalu Nabi Ya’qub bertanya: Apakah engkau datang sebagai pengunjung atau untuk mencabut nyawaku? Maka ia menjawab: Untuk mencabut nyawamu. Maka Nabi Ya’qub bertanya: Bukankah engkau telah mengabarkan kepadaku bahwa engkau akan mengirimkan kepadaku dua atau tiga utusan?

قَالَ : قَدْ فَعَلْتُ. بَيَاضُ شَعْرِكَ بَعْدَ سَوَادِهِ، وَضَعْفُ بَدَنِكَ بَعْدَ قُوَّتِهِ، وَانْحِنَاءُ جِسْمِكَ بَعْدَ اسْتِقَامَتِهِ، هَذِهِ رُسُلِيْ يَا يَعْقُوْبُ إِلَى بَنِيْ آدَمَ قَبْلَ الْمَوْتِ.

Malaikat Maut berkata: Sungguh aku telah melakukannya. Memutihnya rambutmu setelah hitamnya, dan lemahnya tubuhmu setelah kuatnya, dan bungkuknya badanmu setelah tegaknya, ini semua adalah utusan-utusanku wahai Ya’qub kepada anak cucu Adam sebelum datangnya kematian.

وَجَاءَ رَسُوْلُ الْمَوْتِ وَالْقَلْبُ غَافِلٌ * مَضَى الدَّهْرُ وَالْأَيَّامُ وَالذَّنْبُ حَاصِلٌ
Telah berlalu masa dan hari-hari sedangkan dosa sedang berlaku * telah datang utusan kematian sedangkan hati dalam keadaan lalai.
وَعَيْشُكَ فِيْ الدُّنْيَا مُحَالٌ وَبَاطِلٌ * نَعِيْمُكَ فِيْ الدُّنْيَا غُرُوْرٌ وَحَسْرَةٌ
Kenikmatanmu di dunia adalah tipuan dan penyesalan * kehidupanmu di dunia adalah kemustahilan dan kebatilan.

قَالَ أَبُوْ عَلِيٍّ الدَّقَّاقُ : دَخَلْتُ عَلَى رَجُلٍ صَالِحٍ أَعُوْدُهُ وَهُوَ مَرِيْضٌ، وَكَانَ مِنَ الْمَشَايِخِ الْكِبَارِ، وَحَوْلَهُ تَلَامِيْذُهُ ، وَهُوَ يَبْكِيْ، وَقَدْ بَلَغَ أَرْذَلَ الْعُمْرِ.

Abu Ali ad-Daqqaq berkata: Aku masuk menemui seorang lelaki saleh, aku menjenguknya sedangkan ia dalam keadaan sakit, dan ia terbukti termasuk dari kalangan guru-guru besar, dan di sekelilingnya terdapat murid-muridnya, dan ia sedang menangis, dan sungguh ia telah mencapai usia yang sangat senja.

فَقُلْتُ لَهُ : أَيُّهَا الشَّيْخُ مِمَّ بُكَاؤُكَ أَعَلَى الدُّنْيَا فَقَالَ : كَلَّا ، بَلْ أَبْكِيْ عَلَى فَوْتِ صَلَاتِيْ، قُلْتُ : وَكَيْفَ ذٰلِكَ وَقَدْ كُنْتَ مُصَلِّيًا

Maka aku berkata kepadanya: Wahai Syekh, karena apa tangisanmu? Apakah karena dunia? Maka ia menjawab: Sekali-kali tidak, melainkan aku menangis atas luputnya shalatku, aku bertanya: Dan bagaimana hal itu (bisa terjadi) padahal sungguh engkau adalah orang yang ahli shalat?

قَالَ : لِأَنِّيْ قَدْ بَقِيْتُ إِلَى يَوْمِيْ هٰذَا وَمَا سَجَدْتُ إِلَّا فِيْ غَفْلَةٍ، وَلَا رَفَعْتُ رَأْسِيْ إِلَّا فِيْ غَفْلَةٍ، وَهَا أَنَا أَمُوْتُ عَلَى الْغَفْلَةِ، ثُمَّ إِنَّهُ تَنَفَّسَ الصُّعَدَاءَ وَأَنْشَدَ يَقُوْلُ :

Ia menjawab: Karena sesungguhnya aku telah hidup hingga hariku ini dan tidaklah aku bersujud melainkan dalam keadaan lalai, dan tidaklah aku mengangkat kepalaku melainkan dalam keadaan lalai, dan inilah aku mati di atas kelalaian, Kemudian sesungguhnya ia menarik napas dengan tarikan nafas panjang dan bersenandung (seraya) berkata:

وَإِصْبَاحِ خَدِّيْ فِيْ الْمَقَابِرِ ثَاوِيًا * تَفَكَّرْتُ فِيْ حَشْرِيْ وَيَوْمِ قِيَامَتِيْ
Aku merenung tentang hari kebangkitanku dan hari kiamatku * dan (tentang) berpagi-paginya pipiku di dalam kuburan
رَهِيْنًا بِجُرْمِيْ وَالتُّرَابُ وِسَادِيَا * فَرِيْدًا وَحِيْدًا بَعْدَ عِزٍّ وَرِفْعَةٍ
dalam keadaan tinggal sendirian lagi sebatang kara setelah kemuliaan dan kedudukan tinggi * tergadai dengan dosaku dan tanah adalah bantalku
وَذُلِّ مَقَامِيْ حِيْنَ أُعْطَى كِتَابِيَا * تَفَكَّرْتُ فِيْ طُوْلِ الْحِسَابِ وَعَرْضِهِ
aku merenung tentang panjangnya hisab dan luasnya * dan (tentang) kehinaan kedudukanku ketika diberikan kitab (catatan amal)ku
بِأَنَّكَ تَعْفُوْ يَا إِلَهِيْ خَطَائِيَا * وَلَكِنَّ رَجَائِيْ فِيْكَ رَبِّيْ وَخَالِقِيْ
akan tetapi harapanku ada pada-Mu wahai Tuhanku dan Penciptaku * bahwasanya Engkau memaafkan wahai Tuhanku akan kesalahan-kesalahanku.

وَفِي (عُيُونِ الْأَخْبَارِ) ذُكِرَ عَنْ شَقِيقٍ الْبَلْخِيِّ أَنَّهُ قَالَ : النَّاسُ يَقُولُونَ ثَلَاثَةَ أَقْوَالٍ، وَقَدْ خَالَفُوهَا فِي أَعْمَالِهِمْ :

Dan di dalam kitab ( ‘Uyunul Akhbar ) disebutkan dari Syaqiq al-Balkhi bahwasanya ia berkata: Manusia mengatakan tiga perkataan, dan sungguh mereka menyalahinya dalam amal perbuatan mereka:

يَقُولُونَ نَحْنُ عَبِيدُ اللّٰهِ ، وَهُمْ يَعْمَلُونَ عَمَلَ الْأَحْرَارِ، وَهَذَا خِلَافُ قَوْلِهِمْ.

Mereka berkata kami adalah hamba-hamba Allah, sedangkan mereka beramal dengan amalan orang-orang merdeka, dan ini menyelisihi perkataan mereka.

وَيَقُولُونَ : إِنَّ اللّٰهَ كَفِيلٌ بِأَرْزَاقِنَا، وَلَا تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ إِلَّا بِالدُّنْيَا، وَجَمْعِ حُطَامِهَا ، وَهَذَا أَيْضًا خِلَافُ قَوْلِهِمْ .

Mereka berkata: Sesungguhnya Allah menjamin rezeki-rezeki kami, namun hati mereka tidak merasa tenang kecuali dengan dunia, dan mengumpulkan serpihan-serpihan dunia, dan ini juga menyelisihi perkataan mereka.

وَيَقُولُونَ : لَا بُدَّ لَنَا مِنَ الْمَوْتِ، وَهُمْ يَعْمَلُونَ أَعْمَالَ مَنْ لَا يَمُوتُ، وَهَذَا أَيْضًا خِلَافُ قَوْلِهِمْ.

Dan mereka berkata: Tidak boleh tidak (pasti) bagi kita akan kematian, sedangkan mereka beramal dengan amalan orang yang tidak akan mati, dan ini juga menyelisihi perkataan mereka.

فَانْظُرْ لِنَفْسِكَ يَا أَخِي بِأَيِّ بَدَنٍ تَقِفُ بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ تَعَالَى وَبِأَيِّ لِسَانٍ تُجِيبُهُ وَمَاذَا تَقُولُ إِذَا سَأَلَكَ عَنِ الْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ فَأَعِدَّ لِلسُّؤَالِ جَوَابًا، وَلِلْجَوَابِ صَوَابًا :

Maka lihatlah pada dirimu wahai saudaraku, dengan tubuh yang mana engkau akan berdiri di hadapan Allah Ta’ala? Dan dengan lisan yang mana engkau akan menjawab-Nya? Dan apa yang akan engkau katakan jika Dia bertanya kepadamu tentang hal yang sedikit dan yang banyak? Maka siapkanlah sebuah jawaban untuk pertanyaan, dan sebuah kebenaran untuk jawaban:—

﴿وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾ أَيْ ، مِنَ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ . ثُمَّ وَعَظَ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنْ لَا يَتْرُكُوا أَمْرَهُ وَبِأَنْ يُوَحِّدُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ .

Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan﴿ yakni, dari kebaikan dan keburukan. Kemudian beliau menasihati orang-orang mukmin agar tidak meninggalkan perintah-Nya dan agar mereka mentauhidkan-Nya dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.

Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub bab 6
    
1.

Q.S Al-Hasyr: Ayat 18

جَاءَ فِيْ الْخَبَرِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : [مَكْتُوْبٌ عَلَى سَاقِ الْعَرْشِ : أَنَا مُطِيْعُ مَنْ أَطَاعَنِيْ، وَمُحِبُّ مَنْ أَحَبَّنِيْ، وَمُجِيْبُ مَنْ دَعَانِيْ، وَغَافِرٌ لِمَنِ اسْتَغْفَرَنِيْ].

Telah datang dalam sebuah khabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: [Tertulis pada tiang Arsy: Aku menaati orang yang menaati-Ku, dan mencintai orang yang mencintai-Ku, dan mengabulkan orang yang berdoa kepada-Ku, dan mengampuni bagi orang yang memohon ampun kepada-Ku].

فَيَنْبَغِيْ لِلْعَاقِلِ أَنْ يُطِيْعَ اللّٰهَ بِالْخَوْفِ وَالْإِخْلَاصِ فِيْ طَاعَتِهِ، وَالرِّضَا بِقَضَائِهِ، وَالصَّبْرِ عَلَى بَلَائِهِ، وَبِالشُّكْرِ عَلَى نَعْمَائِهِ، وَالْقَنَاعَةِ بِإِعْطَائِهِ.

maka seyogyanya bagi orang yang berakal agar menaati Allah dengan rasa takut dan ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya, dan ridha dengan ketetapan-Nya, dan sabar atas ujian-Nya, dan dengan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, dan merasa cukup dengan pemberian-Nya.

يَقُوْلُ اللّٰهُ تَعَالَى : [مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ، وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِيْ، وَلَمْ يَشْكُرْ عَلَى نَعْمَائِيْ، وَلَمْ يَقْنَعْ بِعَطَائِيْ، فَلْيَطْلُبْ رَبًّا سِوَائِيْ].

Allah Ta’ala berfirman: [Barangsiapa yang tidak ridha dengan ketetapan-Ku, dan tidak bersabar atas ujian-Ku, dan tidak bersyukur kepada-Ku atas nikmat-nikmat-Ku, dan tidak merasa cukup dengan pemberian-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain-Ku].

وَقَالَ رَجُلٌ لِلْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللّٰهُ : إِنِّيْ لَا أَجِدُ لِلطَّاعَةِ لَذَّةً . فَقَالَ لَهُ : لَعَلَّكَ نَظَرْتَ فِيْ وَجْهِ مَنْ لَا يَخَافُ اللّٰهَ، الْعُبُوْدِيَّةُ أَنْ تَتْرُكَ الْأَشْيَاءَ كُلَّهَا لِلّٰهِ .

Dan seorang laki-laki berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah: Sesungguhnya aku tidak mendapati kelezatan bagi ketaatan. Maka beliau berkata kepadanya: Barangkali engkau telah memandang pada wajah orang yang tidak takut kepada Allah, adapun penghambaan itu adalah engkau meninggalkan segala sesuatu seluruhnya karena Allah.

وَقَالَ رَجُلٌ لِأَبِيْ يَزِيْدَ رَحِمَهُ اللّٰهُ : إِنِّيْ لَا أَجِدُ لِلطَّاعَةِ لَذَّةً . فَقَالَ : لِأَنَّكَ تَعْبُدُ الطَّاعَةَ وَلَا تَعْبُدُ اللّٰهَ، اعْبُدِ اللّٰهَ حَتَّى تَجِدَ لِلطَّاعَةِ لَذَّةً .

Dan seorang laki-laki berkata kepada Abu Yazid rahimahullah: Sesungguhnya aku tidak mendapati kelezatan bagi ketaatan. Maka beliau berkata: Karena sesungguhnya engkau menyembah ketaatan dan tidak menyembah Allah, sembahlah Allah sehingga engkau mendapati kelezatan bagi ketaatan.—

حُكِيَ أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ فِيْ الصَّلَاةِ، فَلَمَّا انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ خَطَرَ بِبَالِهِ أَنَّهُ عَابِدٌ لِلّٰهِ فِيْ الْحَقِيْقَةِ ، فَنُوْدِيَ فِيْ السِّرِّ : كَذَبْتَ، إِنَّمَا تَعْبُدُ الْخَلْقَ. فَتَابَ وَاعْتَزَلَ النَّاسَ،

Dihikayatkan bahwa seorang laki-laki masuk ke dalam shalat, maka tatkala ia sampai pada ucapannya “Hanya kepada-Mu kami menyembah” terlintas di hatinya bahwa ia adalah orang yang menyembah kepada Allah pada hakikatnya, maka ia diseru dalam batin: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau hanyalah menyembah makhluk. Maka ia bertaubat dan mengasingkan diri dari manusia,

ثُمَّ شَرَعَ فِيْ الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ : إِيَّاكَ نَعْبُدُ نُوْدِيَ : كَذَبْتَ، إِنَّمَا تَعْبُدُ مَالَكَ، فَتَصَدَّقَ بِمَالِهِ كُلِّهِ ،

Kemudian ia memulai dalam shalat, maka tatkala ia sampai pada ucapannya: “Hanya kepada-Mu kami menyembah” ia diseru: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau hanyalah menyembah hartamu, kemudian ia menyedekahkan hartanya seluruhnya,

ثُمَّ شَرَعَ فِيْ الصَّلَاةِ، فَلَمَّا انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ : إِيَّاكَ نَعْبُدُ نُوْدِيَ : كَذَبْتَ إِنَّمَا تَعْبُدُ ثِيَابَكَ، فَتَصَدَّقَ بِهَا إِلَّا مَا لَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ ،

Kemudian ia memulai dalam shalat, maka tatkala ia sampai pada ucapannya: “Hanya kepada-Mu kami menyembah” ia diseru: Engkau telah berdusta sesungguhnya engkau hanyalah menyembah pakaianmu, maka ia menyedekahkan pakaian itu kecuali apa yang tidak boleh tidak (harus ada) baginya darinya,

ثُمَّ شَرَعَ فِيْهَا ، فَلَمَّا انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ نُوْدِيَ : الْآنَ صَدَقْتَ إِنَّمَا تَعْبُدُ رَبَّكَ .

Kemudian ia memulai di dalam shalat, maka tatkala ia sampai pada ucapannya “Hanya kepada-Mu kami menyembah” ia diseru: Sekarang engkau telah benar sesungguhnya engkau hanya menyembah Tuhanmu.

وَفِي (رَوْنَقِ الْمَجَالِسِ) : ضَاعَ لِرَجُلٍ جُوَالِقٌ فَلَمْ يَدْرِ مَنْ أَخَذَهُ مِنْهُ . فَلَمَّا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ تَذَكَّرَهُ ، فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ لِغُلَامِهِ : اذْهَبْ إِلَى فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ وَاسْتَرِدَّ مِنْهُ الْجُوَالِقَ.

Dan di dalam kitab (Raunaq al-Majalis) : telah hilang karung milik seorang laki-laki maka dia tidak mengetahui siapa yang telah mengambil karung darinya. Maka ketika dia masuk ke dalam shalat dia mengingatnya, maka ketika dia salam ia berkata kepada pelayannya: Pergilah kepada Fulan bin Fulan dan mintalah kembali karung itu darinya.

فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ : مَتَى ذَكَرْتَهُ فَقَالَ : حِيْنَ كُنْتُ فِي الصَّلَاةِ . فَقَالَ : يَا مَوْلَايَ كُنْتَ طَالِبَ الْجُوَالِقِ لَا طَالِبَ الْخَالِقِ، فَأَعْتَقَهُ مَوْلَاهُ بِبَرَكَةِ اعْتِقَادِهِ.

Maka pelayan itu berkata kepadanya: Kapan engkau mengingatnya? Maka dia menjawab: Ketika aku sedang di dalam shalat. Maka pelayan itu berkata: Wahai tuanku, engkau tadi sedang mencari karung bukan mencari Sang Pencipta, maka tuannya memerdekakannya dengan berkah keyakinannya.

فَيَنْبَغِي لِلْعَاقِلِ أَنْ يَتْرُكَ الدُّنْيَا وَيَعْبُدَ اللّٰهَ وَيَتَفَكَّرَ أَمَامَهُ وَيُرِيدُ الْآخِرَةَ، كَمَا قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : ﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا﴾ أَيْ : مَلَاذَّهَا مِنْ لِبَاسِهَا وَطَعَامِهَا وَشَرَابِهَا ﴿نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ﴾ بِأَنْ يُنْزَعَ مِنْ قَلْبِهِ حُبُّ الْآخِرَةِ .

Maka seyogyanya bagi orang yang berakal agar meninggalkan dunia dan menyembah Allah serta bertafakkur di hadapannya dan dia menghendaki akhirat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ****Siapa yang menghendaki balasan di akhirat, akan Kami tambahkan balasan itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia,﴿ yakni, kelezatan-kelezatannya berupa pakaiannya, makanannya, dan minumannya, **Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.**﴿ dengan dicabut dari hatinya kecintaan pada akhirat.

وَلِذَلِكَ أَنْفَقَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعِينَ أَلْفَ دِينَارٍ فِي السِّرِّ ، وَأَرْبَعِينَ أَلْفَ دِينَارٍ فِي الْعَلَانِيَةِ حَتَّى لَمْ يَبْقَ لَهُ شَيْءٌ .

Dan karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu telah menginfakkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam empat puluh ribu dinar secara rahasia, dan empat puluh ribu dinar secara terang-terangan hingga tidak tersisa baginya sesuatu pun.—

وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْرِضًا عَنِ الدُّنْيَا وَشَهَوَاتِهَا وَلَذَّاتِهَا هُوَ وَأَهْلُهُ . وَلِذَلِكَ كَانَ جِهَازُ السَّيِّدَةِ الزَّهْرَاءِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا لَمَّا زَوَّجَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عَلِيٍّ جِلْدَ كَبْشٍ مَدْبُوغٍ وَوِسَادَةَ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيفٌ .

Dan terbukti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpaling dari dunia, syahwat-syahwatnya, dan kelezatan-kelezatannya, baik beliau maupun keluarganya. Dan karena itulah terbukti perlengkapan Sayyidah Fatimah Az-Zahra Radhiyallahu ‘Anha ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahkannya dengan Ali berupa kulit domba yang disamak dan bantal dari kulit yang isinya adalah serabut.