Mukasyafatul Qulub Bab 8 | Taubat
| Nama kitab | : | Mukasyafatul Qulub |
| Judul kitab Arab | : | مُكَاشَفَةُ الْقُلُوْبِ |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub |
| Mata Pelajaran | : | Tasawuf |
| Musonif | : | Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali |
| Nama Arab | : | أَبُوْ حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْغَزَالِيُّ |
| Lahir | : | 450 H di Tus |
| Wafat | : | 505 H di Tus |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Mukasyafatul Qulub Bab 8 Tentang Taubat
Image by © LILMUSLIMIIN
اَلْبَابُ الثَّامِنُ
Bab Yang Kedelapan
فِي التَّوْبَةِ
Tentang Taubat
اَلتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : ﴿تُوبُوا إِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَصُوحاً﴾ وَالْأَمْرُ لِلْوُجُوبِ .
Taubat itu hukumnya wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan, Allah Ta’ala telah berfirman: ﴾Bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya﴿ dan perintah tersebut menunjukkan kewajiban.
Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 8
1.
Q.S At-Tahrim: Ayat 8
وَقَالَ تَعَالَى : ﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللّٰهَ﴾ يَعْنِيْ عَاهَدُوا اللّٰهَ وَنَبَذُوا كِتَابَهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ ﴿فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ﴾ يَعْنِيْ أَنْسَاهُمْ حَالَهُمْ حَتَّى لَمْ يَنْهَوْا أَنْفُسَهُمْ وَلَمْ يُقَدِّمُوا لَهَا خَيْراً .
Dan Allah Ta’ala berfirman: ﴾Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah﴿ yakni mereka berjanji kepada Allah namun membuang kitab-Nya ke belakang punggung mereka ﴾sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri﴿ yakni Allah menjadikan mereka lupa akan keadaan mereka sehingga mereka tidak melarang diri mereka (dari maksiat) dan tidak mendahulukan kebaikan untuknya.
Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 8
1.
Q.S Al-Hasyr: Ayat 19
وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : [مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللّٰهِ أَحَبَّ اللّٰهُ لِقَاءَهُ ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللّٰهِ كَرِهَ اللّٰهُ لِقَاءَهُ] ، ﴿أُولٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾ يَعْنِيْ الْعَاصُونَ النَّاقِضُونَ عَهْدَهُمْ، أَيْ، الْخَارِجُونَ عَنْ طَرِيقِ الْهِدَايَةِ، وَالرَّحْمَةِ، وَالْمَغْفِرَةِ .
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, maka Allah mencintai perjumpaan dengannya, dan barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, maka Allah membenci perjumpaan dengannya], ﴾mereka itulah orang-orang yang fasik﴿ yakni orang-orang yang bermaksiat yang melanggar janji mereka yakni, orang-orang yang keluar dari jalan hidayah, rahmat, dan ampunan.
Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 8
1.
Q.S Al-Hasyr: Ayat 19
وَالْفَاسِقُ عَلَى نَوْعَيْنِ : فَاسِقٌ كَافِرٌ، وَفَاسِقٌ فَاجِرٌ. فَالْفَاسِقُ الْكَافِرُ هُوَ، مَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِاللّٰهِ وَرَسُولِهِ، وَخَرَجَ عَنِ الْهِدَايَةِ، وَدَخَلَ فِي الضَّلَالَةِ، كَمَا قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : ﴿فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ﴾ يَعْنِيْ خَرَجَ عَنْ طَاعَةِ أَمْرِ رَبِّهِ بِالْإِيمَانِ،
Dan orang fasik itu ada dua macam: fasik kafir dan fasik fajir. Fasik kafir adalah orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan keluar dari hidayah, serta masuk ke dalam kesesatan, Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴾Maka dia fasik (mendurhakai) perintah Tuhannya﴿ yakni keluar dari ketaatan atas perintah Tuhannya untuk beriman,
Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 8
1.
Q.S Al-Kahfi: Ayat 50
وَالْفَاسِقُ الْفَاجِرُ هُوَ : اَلَّذِيْ يَشْرَبُ الْخَمْرَ، وَيَأْكُلُ الْحَرَامَ، وَيَزْنِيْ ، وَيَعْصِي اللّٰهَ تَعَالَى، وَيَخْرُجُ مِنْ طَرِيقِ الْعِبَادَةِ، وَدَخَلَ فِي الْمَعْصِيَةِ، وَلَا يَأْتِيْ بِالشِّرْكِ .
dan fasik fajir adalah orang yang meminum khamr, memakan harta haram, berzina, bermaksiat kepada Allah Ta’ala, keluar dari jalan ibadah, dan masuk ke dalam kemaksiatan, namun tidak melakukan kesyirikan.
وَالْفَرْقُ بَيْنَهُمَا : أَنَّ الْفَاسِقَ الْكَافِرَ لَا يُرْجَى غُفْرَانُهُ إِلَّا بِالشَّهَادَةِ، وَالتَّوْبَةِ قَبْلَ مَوْتِهِ، وَالْفَاسِقُ الْفَاجِرُ يُرْجَى غُفْرَانُهُ بِالتَّوْبَةِ وَالنَّدَامَةِ قَبْلَ الْمَوْتِ،
Dan perbedaan di antara keduanya adalah: sesungguhnya fasik kafir tidak dapat diharapkan ampunannya kecuali dengan bersyahadat dan bertaubat sebelum kematiannya, sedangkan fasik fajir dapat diharapkan ampunannya dengan taubat dan penyesalan sebelum kematian,
فَإِنَّ كُلَّ مَعْصِيَةٍ أَصْلُهَا مِنَ الشَّهْوَةِ النَّفْسَانِيَّةِ يُرْجَى غُفْرَانُهَا، وَكُلَّ مَعْصِيَةٍ أَصْلُهَا مِنَ الْكِبْرِ لَا يُرْجَى غُفْرَانُهَا. وَمَعْصِيَةُ إِبْلِيسَ كَانَ أَصْلُهَا مِنَ الْكِبْرِ.
Karena sesungguhnya setiap maksiat yang asalnya dari syahwat nafsu itu dapat diharapkan ampunannya, dan setiap maksiat yang asalnya dari kesombongan tidak dapat diharapkan ampunannya. Dan maksiatnya Iblis itu asalnya adalah dari kesombongan.
فَيَنْبَغِي لَكَ أَنْ تَتُوْبَ مِنْ ذُنُوْبِكَ قَبْلَ الْمَوْتِ رَجَاءَ أَنْ يَقْبَلَكَ اللّٰهُ ، كَمَا قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : ﴿وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوْا عَنِ السَّيِّئَاتِ﴾ يَعْنِيْ يَتَجَاوَزُ عَمَّا عَمِلُوْا بِقَبُوْلِهِ التَّوْبَةَ .
Maka seyogyanya bagimu agar engkau bertaubat dari dosa-dosamu sebelum kematian karena berharap agar Allah menerimamu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴾Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan﴿ yakni, Allah akan mengampuni apa yang telah mereka kerjakan dengan diterimanya taubat tersebut.
Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 8
1.
Q.S Asy-Syura: Ayat 25
وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : [التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ].
Dan Beliau (Nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [Orang yang bertaubat dari dosa itu seperti orang yang tidak memiliki dosa baginya].
حُكِيَ أَنَّ رَجُلًا كَانَ كُلَّمَا أَذْنَبَ يَكْتُبُ ذَنْبَهُ فِيْ دِيْوَانٍ : فَأَذْنَبَ يَوْمًا ذَنْبًا ، فَنَشَرَ دِيْوَانَهُ لِيَكْتُبَ فِيْهِ فَلَمْ يَجِدْ فِيْهِ إِلَّا قَوْلَهُ تَعَالَى : ﴿فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ ﴾ يَعْنِيْ يُبَدِّلُ مَكَانَ الشِّرْكِ الْإِيْمَانَ، وَمَكَانَ الذَّنْبِ الْعَفْوَ، وَمَكَانَ الْمَعْصِيَةِ الْعِصْمَةَ وَالطَّاعَةَ .
Dihikayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang setiap kali berbuat dosa ia menulis dosanya di sebuah buku catatan: maka pada suatu hari ia berbuat dosa, lalu ia membuka buku catatannya untuk menulis di dalamnya namun ia tidak mendapati di dalamnya kecuali firman-Nya Ta’ala: ﴾Maka mereka itu, Allah mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan-kebaikan﴿ yakni, Allah mengganti tempat kesyirikan dengan keimanan, tempat dosa dengan ampunan, dan tempat kemaksiatan dengan penjagaan dan ketaatan.
Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 8
1.
Q.S Al-Furqan: Ayat 70
وَحُكِيَ : أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ مَرَّ وَقْتًا مِنَ الْأَوْقَاتِ فِيْ سِكَكِ الْمَدِيْنَةِ، فَسْتَقْبَلَهُ شَابٌّ وَهُوَ حَامِلُ قَارُوْرَةٍ تَحْتَ ثِيَابِهِ، فَقَالَ عُمَرُ : أَيُّهَا الشَّابُّ ! مَا الَّذِيْ تَحْمِلُ تَحْتَ ثِيَابِكَ
Dan dihikayatkan: bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu suatu waktu melewat di jalan-jalan kota Madinah, lalu seorang pemuda berpapasan dengannya sementara ia membawa sebuah botol di bawah (dalam) pakaiannya, maka Umar berkata: Wahai pemuda! Apa yang engkau bawa di bawah (dalam) pakaianmu?
وَكَانَ فِيْهَا خَمْرٌ، فَخَجِلَ الشَّابُّ أَنْ يَقُوْلَ خَمْرًا، وَقَالَ فِيْ سِرِّهِ : إِلٰهِيْ لَا تُخْجِلْنِيْ عِنْدَ عُمَرَ، وَلَا تَفْضَحْنِيْ وَاسْتُرْنِيْ عِنْدَهُ، فَلَا أَشْرَبُ الْخَمْرَ أَبَدًا.
Dan terbukti di dalam pakaiannya adalah khamr, kemudian pemuda itu merasa malu untuk mengatakan khamr, Dan ia berkata dalam hatinya: Tuhanku, janganlah Engkau permalukan aku di hadapan Umar, dan janganlah Engkau buka aibku serta tutupilah aku di sisinya, maka aku tidak akan meminum khamr selamanya.
ثُمَّ قَالَ : يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْ أَحْمِلُ هُوَ خَلٌّ . فَقَالَ : أَرِنِيْ حَتَّى أَرَاهَا . فَكَشَفَهَا بَيْنَ يَدَيْهِ فَرَآهَا عُمَرُ صَارَتْ خَلًّا.
Kemudian ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, yang aku bawa ini adalah cuka. Maka Umar berkata: Perlihatkan padaku sehingga aku bisa melihatnya. Lalu ia membukanya di hadapan Umar, maka Umar melihatnya telah menjadi cuka.
فَانْظُرْ إِلَى مَخْلُوْقٍ تَابَ مِنْ خَوْفِ مَخْلُوْقٍ، فَبَدَّلَ اللّٰهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى خَمْرَهُ بِالْخَلِّ لَمَّا عَلِمَ مِنْهُ إِخْلَاصَ التَّوْبَةِ. فَلَوْ تَابَ الْعَاصِي الْمُفْلِسُ عَنِ الْأَعْمَالِ الْفَاسِدَةِ تَوْبَةً نَصُوْحًا، وَنَدِمَ عَلَى ذَنْبِهِ بَدَّلَ اللّٰهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ، خَمْرَ سَيِّئَاتِهِ بِخَلِّ الطَّاعَةِ .
Maka perhatikanlah kepada seorang makhluk yang bertaubat karena takut kepada makhluk (lainnya), lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengganti khamrnya dengan cuka tatkala Allah mengetahui keikhlasan taubat dari pemuda itu. Maka seandainya pelaku maksiat yang bangkrut bertaubat dari amal-amal yang rusak dengan taubat yang tulus (nasuha), dan ia menyesali dosanya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengganti khamr keburukan-keburukannya dengan cuka ketaatan.
وَذُكِرَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : خَرَجْتُ ذَاتَ لَيْلَةٍ بَعْدَ مَا صَلَّيْتُ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا أَنَا بِامْرَأَةٍ فِيْ الطَّرِيْقِ، فَقَالَتْ : يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِنِّيْ ارْتَكَبْتُ ذَنْبًا فَهَلْ لِيْ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فَقُلْتُ : مَا ذَنْبُكِ ؟
Dan disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Ia berkata: Pada suatu malam aku keluar setelah aku melaksanakan shalat Isya’ yang terakhir bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba aku bertemu seorang wanita di jalan, lalu ia berkata: Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa, maka apakah ada taubat bagiku? Maka aku bertanya: Apa dosamu?
قَالَتْ : إِنِّيْ زَنَيْتُ وَقَتَلْتُ وَلَدِيْ مِنَ الزِّنَا. فَقُلْتُ لَهَا : هَلَكْتِ وَأَهْلَكْتِ، وَاللّٰهِ مَا لَكِ مِنْ تَوْبَةٍ. فَخَرَّتْ مَغْشِيًّا عَلَيْهَا. فَمَضَيْتُ فَقُلْتُ فِيْ نَفْسِيْ : أُفْتِيْ وَرَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَظْهُرِنَا !
Ia berkata: Sesungguhnya aku telah berzina dan aku telah membunuh anakku dari hasil zina. Maka aku berkata kepadanya: Engkau telah binasa dan membinasakan, demi Allah tidak ada taubat bagimu. Lalu ia jatuh pingsan. Maka aku berlalu dan berkata dalam hatiku: Aku berfatwa sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada di tengah-tengah kita!
فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَأَخْبَرْتُهُ بِذَلِكَ، فَقَالَ : [هَلَكْتَ وَأَهْلَكْتَ] فَأَيْنَ أَنْتَ مِنْ هٰذِهِ الْآيَةِ : ﴿وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ إِلٰهًا آخَرَ﴾ إِلَى قَوْلِهِ : ﴿فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ ﴾،
Lalu aku kembali kepada Beliau dan mengabarkan hal itu, maka Beliau bersabda: [Engkau telah binasa dan membinasakan] maka di manakah engkau dari ayat ini: ﴾Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah﴿ sampai firman-Nya: ﴾Maka mereka itu, Allah mengganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan-kebaikan﴿
Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 8
1.
Q.S Al-Furqan: Ayat 68-70
فَخَرَجْتُ وَقُلْتُ: مَنْ يَدُلُّنِيْ عَلَى امْرَأَةٍ سَأَلَتْنِيْ مَسْأَلَةً وَالصِّبْيَانُ يَقُوْلُوْنَ: جُنَّ أَبُوْ هُرَيْرَةَ، حَتَّى أَدْرَكْتُهَا وَأَخْبَرْتُهَا بِذٰلِكَ، فَشَهَقَتْ شَهْقَةً مِنَ السُّرُوْرِ وَقَالَتْ: إِنَّ لِيْ حَدِيْقَةً جَعَلْتُهَا صَدَقَةً لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهِ.
Maka aku keluar dan aku berkata: “Siapakah yang dapat menunjukkanku kepada seorang wanita yang telah bertanya kepadaku sebuah masalah?” Dan anak-anak kecil berkata: “Abu Hurairah telah gila,” hingga aku menemukannya dan aku mengabarkannya dengan hal itu, maka ia (wanita itu) menarik nafas panjang (tersedu) karena kegembiraan. Dan ia berkata: “Sesungguhnya aku memiliki sebuah kebun aku jadikan kebun itu sebagai sedekah karena Allah dan Rasul-Nya.”
حِكَايَةٌ: عَنْ عُتْبَةَ الْغُلَامِ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى، وَكَانَ مِنْ أَهْلِ الْفِسْقِ وَالْفُجُوْرِ، مَشْهُوْرًا بِالْفَسَادِ، وَشُرْبِ الْخَمْرِ،
Sebuah Hikayat: Dari Utbah al-Ghulam semoga Allah Ta’ala merahmatinya, Dan ia (Utbah) adalah termasuk ahli kefasikan dan kemaksiatan, yang masyhur dengan kerusakan dan meminum khamr.
فَدَخَلَ يَوْمًا فِيْ مَجْلِسِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَهُوَ يَقْرَأُ فِيْ تَفْسِيْرِ قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ﴾ يَعْنِيْ أَلَمْ يَجِىءْ وَقْتٌ تَخَافُ قُلُوْبُهُمْ
Maka pada suatu hari ia masuk ke dalam majelis Hasan al-Bashri dan beliau sedang membaca tafsir firman Allah Ta’ala: ﴾Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah﴿ yakni, bukankah telah datang waktu di mana hati mereka merasa takut?
Catatan Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 8
1.
Q.S Al-Hadid: Ayat 16
فَوَعَظَ الشَّيْخُ فِيْ تَفْسِيْرِ هٰذِهِ الْآيَةِ وَعْظًا بَلِيْغًا حَتَّى أَبْكَى النَّاسَ، فَقَامَ مِنْ بَيْنِهِمْ شَابٌّ فَقَالَ: يَا تَقِيَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، أَيَقْبَلُ اللّٰهُ تَعَالَى الْفَاسِقَ الْفَاجِرَ مِثْلِيْ إِذَا تَابَ
Maka Syekh (Hasan al-Bashri) memberikan nasihat dalam tafsir ayat ini dengan nasihat yang mendalam hingga membuat orang-orang menangis. Lalu berdirilah seorang pemuda dari antara mereka dan berkata: “Wahai orang yang bertakwa di antara orang-orang mukmin,” “Apakah Allah Ta’ala menerima orang fasik lagi durhaka seperti diriku jika ia bertaubat?”
فَقَالَ الشَّيْخُ: نَعَمْ يَقْبَلُ اللّٰهُ تَوْبَةَ فِسْقِكَ وَفُجُوْرِكَ. فَلَمَّا سَمِعَ عُتْبَةُ الْغُلَامُ هٰذَا الْكَلَامَ اصْفَرَّ وَجْهُهُ، وَارْتَعَدَتْ فَرَائِصُهُ فَصَاحَ صَيْحَةً، فَخَرَّ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ. فَلَمَّا أَفَاقَ دَنَا مِنْهُ الْحَسَنُ وَقَالَ الْأَبْيَاتَ:
Maka Syekh menjawab: “Ya, Allah menerima taubat dari kefasikanmu dan kedurhakaanmu.” Maka tatkala Utbah al-Ghulam mendengar perkataan ini, wajahnya menjadi pucat, dan gemetarlah persendiannya lalu ia berteriak dengan satu teriakan, kemudian ia tersungkur pingsan. Maka tatkala ia telah sadar, Hasan (al-Bashri) mendekat kepadanya Dan beliau (Hasan al-Bashri) mengucapkan bait-bait syair:
| أَتَدْرِيْ مَا جَزَاءُ ذَوِي الْمَعَاصِيْ | * | أَيَا شَبًّا لِرَبِّ الْعَرْشِ عَاصِيْ |
| Wahai pemuda yang bermaksiat kepada Tuhan Pemilik Arsy | * | Tahukah engkau apa balasan bagi para pelaku maksiat? |
| وَغَيْظٌ يَوْمَ يُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِيْ | * | سَعِيْرٌ لِلْعُصَاةِ لَهَا زَفِيْرٌ |
| Neraka Sa'ir bagi para pendurhaka yang memiliki suara mengerikan | * | Dan kemurkaan pada hari di mana ubun-ubun diseret |
| وَإِلَّا كُنْ عَنِ الْعِصْيَانِ قَاصِيْ | * | فَإِنْ تَصْبِرْ عَلَى النِّيْرَانِ فَاعْصِهِ |
| Maka jika engkau mampu bersabar atas api neraka, maka bermaksiatlah kepada-Nya | * | Namun jika tidak, maka menjauhlah dari kemaksiatan |
| رَهَنْتَ النَّفْسَ فَاجْهَدْ فِي الْخَلَاصِ | * | وَفِيْمَا قَدْ كَسَبْتَ مِنَ الْخَطَايَا |
| Dan dalam apa yang telah engkau perbuat dari kesalahan-kesalahan | * | Engkau telah menggadaikan jiwamu, maka bersungguh-sungguhlah dalam mencari keselamatan |
فَصَاحَ عُتْبَةُ صَيْحَةً عَظِيْمَةً، وَخَرَّ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ. فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ: يَا شَيْخُ هَلْ يَقْبَلُ الرَّبُّ الرَّحِيْمُ تَوْبَةَ مِثْلِيَ اللَّئِيْمِ؟ فَقَالَ الشَّيْخُ: هَلْ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ الْجَافِيْ إِلَّا الرَّبُّ الْمُعَافِيْ؟
Lalu Utbah berteriak dengan teriakan yang keras, Dan ia tersungkur pingsan. Maka tatkala ia sadar, ia berkata: Wahai Syekh, apakah Tuhan Yang Maha Penyayang menerima taubat orang yang hina seperti aku? Maka Syekh menjawab: Apakah ada yang menerima taubat hamba yang durhaka kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan?
ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَدَعَا ثَلَاثَ دَعَوَاتٍ: الْأُوْلَى قَالَ: إِلٰهِيْ إِنْ كُنْتَ قَبِلْتَ تَوْبَتِيْ، وَغَفَرْتَ ذُنُوْبِيْ فَأَكْرِمْنِيْ بِالْفَهْمِ، وَالْحِفْظِ حَتَّىٰ أَحْفَظَ كُلَّ مَا سَمِعْتُ مِنَ الْعِلْمِ وَالْقُرْآنِ،
Kemudian ia mengangkat kepalanya dan berdoa dengan tiga doa: yang pertama ia berkata: Tuhanku, jika Engkau telah menerima taubatku, dan mengampuni dosa-dosaku, maka muliakanlah aku dengan pemahaman, dan hafalan sehingga aku dapat menghafal setiap apa yang aku dengar dari ilmu dan Al-Qur’an,
وَالثَّانِيَةُ قَالَ: إِلٰهِيْ أَكْرِمْنِيْ بِحُسْنِ الصَّوْتِ، حَتَّىٰ إِنَّ كُلَّ مَنْ سَمِعَ قِرَاءَتِيْ يَزْدَادُ رِقَّةً فِيْ قَلْبِهِ، وَإِنْ كَانَ قَاسِيَ الْقَلْبِ،
Dan yang kedua ia berkata: Tuhanku, muliakanlah aku dengan suara yang bagus, sehingga sesungguhnya setiap orang yang mendengar bacaanku bertambah kelembutan di dalam hatinya, Dan meskipun ia adalah orang yang keras hati,
وَالثَّالثَةُ قَالَ: إِلٰهِيْ أَكْرِمْنِيْ بِالرِّزْقِ الْحَلَالِ، وَارْزُقْنِيْ مِنْ حَيْثُ لَا أَحْتَسِبُ. فَاسْتَجَابَ اللّٰهُ جَمِيْعَ دُعَائِهِ حَتَّىٰ زَادَ فَهْمُهُ وَحِفْظُهُ، وَكَانَ إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ تَابَ كُلُّ مَنْ سَمِعَ قِرَاءَتَهُ،
dan yang ketiga ia berkata: Tuhanku, muliakanlah aku dengan rezeki yang halal, dan berilah aku rezeki dari arah yang tidak aku sangka-sangka. Maka Allah mengabulkan semua doanya sehingga bertambah pemahamannya dan hafalannya, Dan terbukti apabila ia membaca Al-Qur’an, maka bertaubatlah setiap orang yang mendengar bacaannya,
وَكَانَ يُوْضَعُ فِيْ بَيْتِهِ كُلَّ يَوْمٍ قَصْعَةٌ مِنَ الْمَرَقِ، وَرَغِيْفَانِ، وَلَا يَدْرِيْ أَحَدٌ مَنْ يَضَعُهَا، وَكَانَ عَلَىٰ هٰذِهِ الْحَالِ حَتَّىٰ فَارَقَ الدُّنْيَا. وَهٰذَا حَالُ مَنْ أَنَابَ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَىٰ، لِأَنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا.
dan terbukti diletakkan di rumahnya setiap hari semangkuk kuah, dan dua potong roti, dan tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang meletakkannya, dan ia berada di atas keadaan ini hingga ia meninggalkan dunia. Dan ini adalah keadaan orang yang kembali kepada Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan amalnya.—
وَسُئِلَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: هَلْ يَعْرِفُ الْعَبْدُ إِذَا تَابَ أَنَّ تَوْبَتَهُ قُبِلَتْ أَمْ رُدَّتْ فَقَالَ: لَا حُكْمَ فِيْ ذٰلِكَ، وَلٰكِنْ لِذٰلِكَ عَلَامَاتٌ:
Dan sebagian ulaman ditanya: Apakah seorang hamba mengetahui apabila ia bertaubat bahwa taubatnya diterima atau ditolak? Maka ia menjawab: Tidak ada ketetapan pasti dalam hal itu, akan tetapi bagi hal itu ada tanda-tanda:
أَنْ يَرَى نَفْسَهُ مَعْصُوْمَةً مِنَ الْمَعْصِيَةِ، وَيَرَى الْفَرَحَ عَنْ قَلْبِهِ غَائِبًا، وَالرَّبَّ شَاهِدًا، وَيُقَارِبَ أَهْلَ الْخَيْرِ، وَيُبَاعِدَ أَهْلَ الْفِسْقِ، فَيَرَى الْقَلِيْلَ مِنَ الدُّنْيَا كَثِيْرًا، وَالْكَثِيْرَ مِنْ عَمَلِ الْآخِرَةِ قَلِيْلًا،
yaitu ia melihat dirinya terjaga dari kemaksiatan, dan ia melihat kegembiraan (yang melalaikan) hilang dari hatinya, dan Tuhan selalu mengawasi, dan ia mendekati ahli kebaikan, dan menjauhi ahli kefasikan, maka ia melihat yang sedikit dari dunia itu banyak, dan yang banyak dari amal akhirat itu sedikit,
وَيَرَى قَلْبَهُ مُشْتَغِلًا بِمَا فَرَضَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ عَلَيْهِ، وَيَكُوْنَ حَافِظًا لِلِسَانِهِ، دَائِمَ الْفِكْرَةِ مُلَازِمَ الْغَمِّ وَالنَّدَامَةِ عَلَىٰ مَا فَرَّطَ مِنْ ذُنُوْبِهِ.
dan ia melihat hatinya sibuk dengan apa yang Allah Ta’ala wajibkan atasnya, dan ia menjaga lisannya, senantiasa berpikir, serta menetapi kesedihan dan penyesalan atas apa yang telah ia lalaikan dari dosa-dosanya.
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!