Terjemah Kitab Tanqihul Qoul Bab 12 | Keutamaan Sorban-Sorban

30 Nov, 2025
Nama kitab:Tanqihul Qoul
Judul kitab Arab: تنقيح القول الحثيث
Judul terjemah: Terjemah Kitab Tanqihul Qoul
Mata Pelajaran:Hadits, Keutamaan Amal
Musonif:Syekh Nawawi al-Bantani
Nama Arab:الشيخ محمد بن عمر النووي البنتني
Lahir:813 Masehi; 1230 H, Tanara, Banten, Indonesia
Wafat:1897 M; 1316 H, Pemakaman Ma'la Makkah Al-Mukarramah, w. 672 H / 22 Februari 1274 M
Penerjemah:Ahsan Dasuki

Tanqihul Qoul Bab Kedua Belas Tentang Keutamaan Sorban-Sorban

Tanqihul QoulImage by © LILMUSLIMIIN

اَلْبَابُ الثَّانِي عَشَرَ: فِي فَضِيْلَةِ الْعَمَائِمِ

Bab Yang Kedua Belas Tentang Keutamaan Sorban-Sorban

Rahmat Allah Dan Doa Malaikat Untuk Pemakai Sorban Di Hari Jumat

رَوَى وَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: [إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى أَصْحَابِ الْعَمَائِمِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ،

Telah meriwayatkan Watsilah bin al-Asqa’ bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: [Sesungguhnya Allāh memberikan rahmat dan para malaikat-Nya memohonkan ampunan kepada orang-orang yang memakai sorban pada hari Jumat,

فَإِنْ أَكْرَبَهُ الْحَرُّ فَلَا بَأْسَ بِنَزْعِهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ وَبَعْدَهَا، وَلَكِنْ لَا يَنْزَعُ فِي وَقْتِ السَّعْيِ مِنَ الْمَنْزِلِ إِلَى الْجُمُعَةِ وَلَا فِي وَقْتِ الصَّلَاةِ، وَلَا عِنْدَ صُعُودِ الْإِمَامِ الْمِنْبَرَ، وَلَا فِي خُطْبَتِهِ] كَذَا فِي الْإِحْيَاءِ.

maka jika panas menyulitkannya, maka tidak mengapa melepasnya sebelum shalat dan sesudahnya, akan tetapi janganlah ia melepasnya pada waktu berjalan dari rumah menuju shalat Jumat dan tidak pula pada waktu shalat, dan tidak pula ketika imam naik mimbar, dan tidak pula dalam khutbahnya.] Demikian disebutkan dalam kitab Ihya'.

Hadits Ke 1: Sorban Sebagai Mahkota Orang Arab

(قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْعَمَائِمُ تِيجَانُ الْعَرَبِ) أَيْ هِيَ لَهُمْ بِمَنْزِلَةِ التِّيجَانِ لِلْمُلُوكِ، لِأَنَّهُمْ أَكْثَرُ مَا يَكُونُونَ بِالْبَوَادِي رُؤُوسُهُمْ مَكْشُوفَةٌ وَالْعَمَائِمُ فِيهِمْ قَلِيلٌ

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Sorban adalah mahkota orang Arab) maksudnya, sorban bagi mereka itu **sama dengan mahkota bagi para raja, karena mereka yang lebih sering berada di padang pasir, kepala mereka terbuka dan sorban di antara mereka sedikit.

(فَإِذَا وَضَعُوا الْعَمَائِمَ وَضَعُوا عِزَّهُمْ) رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ. قَالَ الْمُنَاوِيُّ لَفْظُ رِوَايَةِ الدَّيْلَمِيِّ وَضَعَ اللّٰهُ عِزَّهُمْ كَذَا فِي السِّرَاجِ الْمُنِيرِ.

(Maka apabila mereka meletakkan sorban, Niscaya mereka meletakkan kemuliaan mereka). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami dari Ibnu Abbas dan sanadnya lemah. Telah berkata Imam al-Munawi lafadz riwayat Imam ad-Dailami adalah “Allah meletakkan kemuliaan mereka”, demikian dalam kitab as-Siraj al-Munir.

Hadits Ke 2: Bersorbanlah ! Karena Para Malaikat Bersorban

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَعَمَّمُوا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَعَمَّمَتْ).

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Bersorbanlah kalian karena sesungguhnya para malaikat bersorban).

Hadits Ke 3: Rahmat Allah Dan Doa Malaikat Untuk Orang Yang Bersorban

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ) أَيْ يُعَظِّمُونَ (عَلَى أَصْحَابِ الْعَمَائِمِ) أَيِ الَّذِينَ يَلْبَسُونَهَا

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Sesungguhnya Allāh Ta'ala akan memberikan rahmat dan para malaikat-Nya akan memohonkan ampunan) yakni mengagungkan (atas orang-orang yang memakai sorban) maksudnya, orang-orang yang memakainya

(يَوْمَ الْجُمُعَةِ) فَيُتَأَكَّدُ لُبْسُهَا فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَيُنْدَبُ لِلْإِمَامِ أَنْ يَزِيدَ فِي حُسْنِ الْهَيْئَةِ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَهُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ كَذَا قَالَهُ الْعَزِيزِيُّ.

(pada hari Jumat) maka sangat dianjurkan memakainya pada hari itu, dan disunnahkan bagi imam untuk menambah dalam kebaikan penampilannya. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam ath-Thabrani dari Abu Darda’ dan hadits ini lemah, demikian telah berkata Imam al-‘Azizi.

Hadits Ke 4: Sorban Di Atas Peci Sebagai Pembeda Muslim Dan Musyrik

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَرْقُ مَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ الْعَمَائِمُ عَلَى الْقَلَانِسِ) أَيْ لُبْسُ الْعِمَامَةِ عَلَى الْقَلَنْسُوَةِ، وَهِيَ مَا يُلَفُّ عَلَيْهِ الْعِمَامَةُ،

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Perbedaan perkara antara kita dan kaum musyrikin adalah sorban di atas peci) maksudnya, memakai sorban di atas peci, yaitu sesuatu yang dililitkan sorban di atasnya,

فَالْمُسْلِمُونَ يَلْبَسُونَ الْقَلَنْسُوَةَ وَفَوْقَهَا الْعِمَامَةَ، وَلُبْسُ الْقَلَنْسُوَةِ، وَحْدَهَا زِيُّ الْمُشْرِكِينَ فَلُبْسُ الْعِمَامَةِ سُنَّةٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ عَنْ رُكَانَةَ بِضَمِّ الرَّاءِ، وَتَخْفِيفِ الْكَافِ ابْنِ عَبْدِ يَزِيدَ.

maka kaum muslimin memakai peci dan di atasnya ada sorban, dan memakai peci saja adalah pakaian kaum musyrikin, maka memakai sorban adalah sunnah. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Dawud dan Imam at-Tirmidzi dari Rukanah dengan dhammah pada huruf ra’ dan takhfif pada huruf kaf, Ibnu Abdi Yazid.

Hadits Ke 5: Doa Keberkahan Dari Malaikat Untuk Orang Yang Bersorban

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَّتِ الْمَلَائِكَةُ عَلَى الْمُتَعَمِّمِينَ) أَيْ دَعَتْ لَهُمْ بِالْبَرَكَةِ وَاسْتَغْفَرَتْ لَهُمْ (يَوْمَ الْجُمُعَةِ)

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Para malaikat mendoakan keberkahan dan memohonkan ampunan atas orang-orang yang bersorban) yakni, mendoakan mereka dengan keberkahan dan memohonkan ampunan untuk mereka (pada hari Jumat).

Hadits Ke 6: Keutamaan Shalat Sambil Mengenakan Sorban

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَكْعَتَانِ بِعِمَامَةٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً بِلَا عِمَامَةٍ).

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Dua rakaat dengan sorban itu lebih baik dari tujuh puluh rakaat tanpa sorban).

رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ عَنْ جَابِرٍ قَالَ الْمُنَاوِيُّ: لِأَنَّ الصَّلَاةَ حَضْرَةُ الْمَلِكِ وَالدُّخُولُ إِلَى حَضْرَةِ الْمَلِكِ بِغَيْرِ تَجَمُّلٍ خِلَافُ الْأَدَبِ.

Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami dari Jabir. Telah berkata Imam al-Munawi: Karena shalat adalah menghadap Sang Raja dan masuk ke hadapan Sang Raja tanpa berhias adalah menyalahi adab.

Hadits Ke 7: Setan Tidak Bersorban

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَعَمَّمُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَتَعَمَّمُ).

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Bersorbanlah kalian karena sesungguhnya setan-setan itu tidak bersorban).

Hadits Ke 8: Sorban Sebagai Ciri Khas Malaikat

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْعَمَائِمُ سِيمَا الْمَلَائِكَةِ) بِالْقَصْرِ أَيْ عَلَامَاتٌ لَهُمْ يَوْمَ بَدْرٍ

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Sorban-sorban adalah ciri khas para malaikat) dengan dibaca qosr, maksudnya, tanda-tanda bagi mereka pada hari perang Badar.

(فَأَرْسِلُوهَا خَلْفَ ظُهُورِكُمْ) قَالَتْ عَائِشَةُ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسِخًا قَطُّ، وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: [اللّٰهَ يَبْغُضُ الْوَسَخَ وَالشَّعَثَ

(Maka julurkanlah ia di belakang punggung kalian). Telah berkata Aisyah: Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ kotor sama sekali, dan terbukti Beliau ﷺ bersabda: [Allāh membenci kotoran dan rambut yang acak-acakan.

وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ لُبْسَ الْقَمِيصِ، وَكَانَ يُطْلِقُ إِزَارَهُ، وَيُحِبُّ لُبْسَ الْحِبَرَةِ]. بِكَسْرِ الْحَاءِ وَفَتْحِ الْبَاءِ ثَوْبٌ يَمَانِيٌّ مِنْ قُطْنٍ مُخَطَّطٍ،

Dan terbukti Beliau ﷺ suka memakai gamis, dan terbukti Beliau melonggarkan sarungnya, dan suka memakai kain Hibarah]. Dengan kasrah pada huruf ح dan fathah pada huruf ب, yaitu pakaian dari Yaman yang terbuat dari katun bergaris,

وَكَانَ حَمَّادٌ يَلْبَسُ قَلَنْسُوَةً بَيْضَاءَ، وَيُدِيرُ الْعِمَامَةَ وَيَغْرِزُهَا مِنْ وَرَائِهِ، وَيُرْسِلُ لَهَا ذُؤَابَةً بَيْنَ كَتِفَيْهِ، وَأَقَلُّ مَا وَرَدَ فِي قَدْرِ الْعُذْبَةِ أَرْبَعُ أَصَابِعَ،

dan terbukti Hammad memakai peci putih, dan melilitkan sorban serta menancapkannya dari belakangnya, dan menjulurkan ujungnya di antara kedua pundaknya, dan ukuran paling sedikit yang diriwayatkan tentang ukuran ujung sorban adalah empat jari,

وَأَكْثَرُ مَا وَرَدَ ذِرَاعٌ وَبَيْنَهُمَا شِبْرٌ كَذَا فِي تَنْبِيهِ الْأَخْيَارِ لِابْنِ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيِّ.

dan ukuran paling banyak yang warid adalah satu hasta, dan di antara keduanya adalah satu jengkal. Demikian dalam kitab Tanbih al-Akhyar karya Ibnu Hajar al-Haitami.

Hadits Ke 9: Anjuran Membuat Tanda Diri Dengan Sorban

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَوَّمُوا) أَيْ اجْعَلُوا لَكُمْ عَلَامَةً بِلُبْسِ اللِّبَاسِ (فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ قَدْ تَسَوَّمَتْ) .

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Buatlah oleh kalian tanda) maksudnya, buatlah tanda bagi kalian dengan memakai pakaian (karena sesungguhnya para malaikat telah membuat tanda).

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي تَنْبِيهِ الْأَخْيَارِ: وَقَدْ أَمَرَنَا صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلُبْسِ أَجْوَدِ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ مَا نَجِدُ، وَأَنْ نَلْبَسَ الْبَيَاضَ.

Telah berkata Imam Ibnu Hajar dalam Kitab Tanbih al-Akhyar: Dan sungguh Beliau ﷺ telah memerintahkan kita untuk memakai pakaian terbaik yang kita temukan, dan agar kita memakai wewangian terbaik yang kita temukan, dan agar kita memakai pakaian putih.

نَعَمْ فِي يَوْمِ الْعِيدِ يُقَدِّمُ الْأَحْسَنَ غَيْرَ الْأَبْيَضِ عَلَى الْأَبْيَضِ غَيْرِ الْأَحْسَنِ فَيُسَنُّ فِي يَوْمِ الْعِيدِ تَقْدِيمُ الْأَخْضَرِ عَلَى الْأَبْيَضِ،

Benar, pada hari raya, seseorang mendahulukan pakaian bagus selain putih di atas pakaian putih yang tidak bagus. Maka disunnahkan pada hari raya mendahulukan warna hijau daripada putih,

لَكِنْ لَا خُصُوصِيَّةَ لِلْأَخْضَرِ، بَلْ كُلُّ ذِي لَوْنٍ كَذَلِكَ، فَإِنَّ الْخُضْرَةَ أَفْضَلُ الْأَلْوَانِ بَعْدَ الْأَبْيَضِ، وَكَانَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفَارِقُ الطَّيْلَسَانَ،

akan tetapi tidak ada kekhususan untuk warna hijau, bahkan setiap yang berwarna itu seperti demikian, karena sesungguhnya warna hijau adalah warna terbaik setelah putih, dan terbukti Beliau ﷺ tidak pernah meninggalkan Thailasan (jubah hijau yang dipakai oleh sebagian ulama dan para syekh di atas bahu),

وَكَانَ طُولُ طَيْلَسَانِهِ سِتَّةُ أَذْرُعٍ، وَعَرْضُهُ ثَلَاثَةُ أَذْرُعٍ انْتَهَى. وَاسْتَعْمَلَهُ الصُّوفِيَّةُ.

dan panjang Thailasan-nya adalah enam hasta, dan lebarnya tiga hasta. perkataan Imam Ibnu Hajar berakhir disini. Dan para sufi menggunakannya.

Hadits Ke 10: Larangan Bersorban Tanpa Mengalungkannya DI Bawah Dagu

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُهِيَ) بِالْبِنَاءِ لِلْمَفْعُولِ وَمَا بَعْدَهُ نَائِبُ الْفَاعِلِ (عَنِ الِاقْتِعَاطِ) بِالْقَافِ ثُمَّ الْعَيْنِ الْمُهْمَلَةِ، أَيِ التَّعَمُّمِ مِنْ غَيْرِ إِدَارَةٍ تَحْتَ الْحَنَكِ وَهُوَ مَا تَحْتَ الذَّقْنِ

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ, telah dilarang) dengan bentuk pasif dan kata setelahnya adalah na’ib fa’il (dari al-iqti'ath) dengan huruf ق kemudian ع tanpa titik, yakni bersorban tanpa mengalungkannya di bawah dagu, yaitu apa yang ada di bawah dagu

(وَأُمِرَ بِالتَّلَحِّي) بِتَشْدِيدِ الْحَاءِ الْمُهْمَلَةِ بَعْدَ اللَّامِ، أَيْ تَطْوِيقِ الْعِمَامَةِ تَحْتَ الْحَنَكِ. قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ وَالْمَنْدُوبُ عَلَى قِسْمَيْنِ:

(Dan diperintahkan untuk at-talahhi) dengan tasydid pada huruf ح tanpa titik setelah ل, yakni mengalungkan sorban di bawah dagu. Telah berkata tuanku Syaikh Abdul Qadir: Dan yang disunnahkan ada dua bagian:

أَحَدُهُمَا فِي حَقِّ اللّٰهِ تَعَالَى، وَهُوَ الرِّدَاءُ إِذَا كَانَ فِي جَمَاعَةٍ، وَمَجْمَعِ النَّاسِ فَلَا يُعَرِّي مَنْكِبَيْهِ مِنْ شَيْءٍ مِنَ الثِّيَابِ الْجَمِيلَةِ كَالْأَعْيَادِ وَالْجُمَعِ وَغَيْرِ ذَلِكَ،

Pertama dari keduanya adalah dalam hak Allāh Ta’ala, yaitu selendang jika berada dalam jamaah, dan perkumpulan manusia maka janganlah ia membuka kedua pundaknya dari pakaian yang bagus seperti pada hari-hari raya, Jumat dan selain hal itu.-

الثَّانِي فِي حَقِّ الْمَخْلُوقِينَ وَهُوَ مَا يَتَجَمَّلُونَ بِهِ بَيْنَهُمْ مِنْ أَنْوَاعِ الثِّيَابِ الْمُبَاحَةِ، وَلَا يَزْدَرِي بِصَاحِبِهِ، وَلَا يَنْقُصُ مُرُوءَتَهُ بَيْنَهُمْ

Kedua dalam hak para makhluk, yaitu sesuatu yang mereka berhias dengannya di antara mereka dari berbagai jenis pakaian yang mubah, dan tidak merendahkan pemiliknya, serta tidak mengurangi kewibawaannya di antara mereka.

وَيُكْرَهُ الِاقْتِعَاطُ، وَهُوَ التَّعَمُّمُ بِغَيْرِ الْحَنَكِ، وَيُسْتَحَبُّ التَّلَحِّي وَهُوَ إِذَا كَانَ بِالْحَنَكِ انْتَهَى، وَهَذَا لَا يَعْمَلُهُ إِلَّا بَعْضُ الصُّوفِيَّةِ.

Dan dimakruhkan al-iqti’ath, yaitu bersorban tanpa melilitkan di bawah dagu, dan disunnahkan at-talahhi yaitu jika dililitkan di bawah dagu. Perkataan Syekh Abdul Qodir berakhir di sini, dan ini tidak mengamalkan padanya kecuali oleh sebagian kaum sufi.