Terjemah Kitab Tanqihul Qoul Bab 14 | Keutamaan Ibadah Fardhu
- Nama kitab
- Tanqihul Qoul
- Judul kitab Arab
- تنقيح القول الحثيث
- Judul terjemah
- Terjemah Kitab Tanqihul Qoul
- Mata Pelajaran
- Hadits, Keutamaan Amal
- Musonif
- Syekh Nawawi al-Bantani
- Nama Arab
- الشيخ محمد بن عمر النووي البنتني
- Lahir
- 813 Masehi; 1230 H, Tanara, Banten, Indonesia
- Wafat
- 1897 M; 1316 H, Pemakaman Ma'la Makkah Al-Mukarramah, w. 672 H / 22 Februari 1274 M
- Penerjemah
- Ahsan Dasuki
Tanqihul Qoul Bab ke 14 Tentang Keutamaan Ibadah Fardhu
Image by ©
LILMUSLIMIIN
اَلْبَابُ الرَّابِعَ عَشَرَ: فِيْ فَضِيْلَةِ الْفَرِيْضَةِ
Bab Keempat Belas: Tentang Keutamaan Ibadah Fardhu
Hadits 1: Lima Fondasi Utama Bangunan Islam
(قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بُنِيَ الْإِسْلَامُ) بِالْبِنَاءِ لِلْمَفْعُولِ أَيْ أُسِّسَ الْإِسْلَامُ (عَلَى خَمْسٍ) أَيْ خَمْسِ دَعَائِمَ كَمَا فِيْ رِوَايَةِ عَبْدِ الرَّزَّاقِ،
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Islam dibangun) dengan bentuk pasif, maksudnya Islam didirikan (di atas lima perkara) maksudnya, lima tiang sebagaimana dalam riwayat Imam Abdur Razzaq,
فَالْمَبْنِيُّ هُوَ الْإِسْلَامُ الْكَامِلُ وَالْمَبْنِيُّ عَلَيْهِ أَصْلُ الْإِسْلَامِ، وَمَجْمُوعُ هَذِهِ الْخَمْسِ غَيْرُ الْمَبْنِيِّ عَلَيْهِ مِنْ حَيْثُ الْاِنْفِرَادِ، وَعَيْنُهُ مِنْ حَيْثُ الْجَمْعِ وَمِثَالُهُ الْبَيْتُ مَثَلًا يُجْعَلُ عَلَى خَمْسَةِ أَعْمِدَةٍ:
maka yang dibangun adalah Islam yang sempurna dan yang dibangun di atasnya adalah pokok Islam, dan kumpulan dari kelima ini bukanlah yang dibangun di atasnya dari segi sendiri-sendiri, dan ia adalah dirinya sendiri dari segi kumpulan. Contohnya adalah rumah, misalnya, yang didirikan di atas lima tiang:
أَحَدُهَا أَوْسَطُ، وَالْبَقِيَّةُ أَرْكَانٌ فَإِذَا دَامَ الْأَوْسَطُ قَائِمًا، فَسُمِّيَ الْبَيْتُ مَوْجُودًا، وَلَوْ سَقَطَ شَيْءٌ مِنَ الْأَرْكَانِ، فَإِذَا سَقَطَ الْأَوْسَطُ سَقَطَ مُسَمَّى الْبَيْتِ،
salah satunya adalah tiang tengah, dan sisanya adalah rukun-rukun. Jika tiang tengah tetap berdiri, maka rumah disebut ada, meskipun sebagian rukunnya roboh. Jika tiang tengah roboh, maka sebutan rumah pun hilang,
فَالْبَيْتُ بِالنَّظَرِ إِلَى مَجْمُوعَةٍ شَيْءٌ وَاحِدٌ، وَبِالنَّظَرِ إِلَى أَفْرَادِهِ أَشْيَاءُ كَثِيرَةٌ، وَأَيْضًا فَالنَّظَرُ إِلَى رَأْسِهِ وَأَرْكَانِهِ الْأُسُّ أَصْلٌ، وَالْأَرْكَانُ تَبَعٌ وَتَكْمَلَةٌ،
maka rumah jika dilihat dari kumpulannya adalah satu kesatuan, dan jika dilihat dari bagian-bagiannya adalah banyak hal. Dan juga, jika dilihat dari kepala dan rukun-rukunnya, maka pondasi adalah pokok, dan rukun-rukun adalah pengikut dan pelengkap,
وَأَيْضًا أَنَّ مَعْنَى الْإِسْلَامِ هُوَ التَّذَلُّلُ الْعَامُّ الَّذِيْ هُوَ اللُّغَوِيُّ، فَيُبْنَى عَلَيْهِ التَّذَلُّلُ الشَّرْعِيُّ الَّذِيْ هُوَ فِعْلُ الْوَاجِبَاتِ، فَلَا يَلْزَمُ عَلَى ذَلِكَ الْمَذْكُورِ بِنَاءُ الشَّيْءِ عَلَى نَفْسِهِ
Dan juga, Sesungguhnya makna Islam yaitu ketundukan umum yang bersifat bahasa, maka dibangun di atasnya ketundukan syar’i yaitu melakukan kewajiban-kewajiban, maka tidaklah mengharuskan atas hal yang disebutkan itu membangun sesuatu di atas dirinya sendiri.
(شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ) بِجَرِّ شَهَادَةٍ وَمَا بَعْدَهَا عَلَى الْبَدَلِ مِنْ خَمْسٍ، وَيَجُوزُ الرَّفْعُ عَلَى حَذْفِ الْخَبَرِ، وَالتَّقْدِيرُ مِنْهَا شَهَادَةٌ أَوْ عَلَى حَذْفِ الْمُبْتَدَأِ، وَالتَّقْدِيرُ أَحَدُهَا شَهَادَةٌ
(Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allāh dan bahwa Muhammad adalah utusan Allāh) dengan jar pada lafadz ‘شهادة’ dan setelahnya sebagai badal dari ‘خمس’, dan boleh juga rafa’ dengan membuang khabar, dan perkiraannya adalah ‘مِنْهَا شهادة’ atau dengan membuang mubtada’, dan perkiraannya adalah ‘أحدها شهادة’.
وَلَمْ يَذْكُرْ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجِهَادَ مَعَ هَذِهِ الْخَمْسِ، لِأَنَّهُ فَرْضُ كِفَايَةٍ وَهَذِهِ فُرُوضٌ عَيْنِيَّةٌ، وَلَمْ يَذْكُرِ الْإِيمَانَ بِالْمَلَائِكَةِ وَنَحْوِهِ، لِأَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ بِالشَّهَادَةِ تَصْدِيقَ الرَّسُولِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكُلِّ مَا جَاءَ بِهِ فَيَسْتَلْزِمُ ذَلِكَ
Nabi ﷺ tidak menyebutkan jihad bersama kelima ini, karena jihad adalah fardhu kifayah sedangkan lima rukun islam ini adalah fardhu ‘ainiyah. Dan beliau tidak menyebutkan iman kepada malaikat dan semisalnya, karena Nabi ﷺ menghendaki dengan syahadat itu membenarkan Rasul ﷺ dengan segala perkara yang datang dengannya, maka hal itu sudah semestinya.
(وَإِقَامُ الصَّلَاةِ) أَيِ الْمُدَاوَمَةُ عَلَيْهَا (وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ) أَيْ إِعْطَاؤُهَا أَهْلَهَا (وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ وَالتِّرْمِذِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ،
(dan mendirikan shalat) maksudnya, mendawamkannya (dan menunaikan zakat) maksudnya, memberikannya kepada yang berhak menerimanya (dan haji ke Baitullah serta puasa Ramadhan). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Tirmidzi dari Ibnu Umar bin Khattab,
وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ تَقْدِيمُ الصَّوْمِ عَلَى الْحَجِّ وَقَدَّمَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّهَادَتَيْنِ، لِأَنَّهُمَا أَصْلُ الْأَمْرِ كُلِّهِ ثُمَّ الصَّلَاةَ، لِأَنَّهَا عِمَادُ الدِّينِ وَيُقْتَلُ تَارِكُهَا بِضَرْبِ عُنُقِهِ عَلَى الْمَذْهَبِ
dan dalam riwayat milik Imam Muslim dari Ibnu Umar, puasa didahulukan dari haji. Dan Nabi ﷺ mendahulukan dua kalimat syahadat, karena keduanya adalah pokok dari segala urusan, kemudian shalat, karena ia adalah tiang agama dan orang yang meninggalkannya dibunuh dengan dipenggal lehernya menurut pendapat mazhab.
وَقِيلَ: يُضْرَبُ بِالْخَشَبِ إِلَى أَنْ يَمُوتَ. وَقِيلَ بِنَخْسٍ بِحَدِيدَةٍ إِلَى أَنْ يُصَلِّيَ أَوْ يَمُوتَ،
Dan dikatakan: dipukul dengan kayu hingga ia mati. Dan dikatakan ditusuk dengan besi hingga ia shalat atau mati.
ثُمَّ الزَّكَاةَ لِأَنَّهَا فِطْرَةُ الْإِسْلَامِ وَلِشُمُولِهَا الْمُكَلَّفَ وَغَيْرَهُ، ثُمَّ الْحَجَّ لِلتَّغْلِيظَاتِ الْوَارِدَةِ فِيهِ مِنْ نَحْوِ قَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [مَنْ لَمْ تَحْبِسْهُ حَاجَةٌ، وَلَمْ يَحُجَّ وَلَهُ جَمْعٌ، فَلْيَمُتْ إِنْ شَاءَ يَهُودِيًّا، وَإِنْ شَاءَ نَصْرَانِيًّا]، وَالْمُرَادُ بِالْجَمْعِ مَالٌ وَغَيْرُهُ،
Kemudian zakat, karena ia adalah fitrah Islam dan karena ia mencakup mukallaf dan selainnya. Kemudian haji, karena ancaman-ancaman keras yang datang di dalamnya, seperti sabda Nabi ﷺ: [“Barangsiapa yang tidak terhalang oleh suatu kebutuhan, dan tidak berhaji padahal ia memiliki kumpulan, maka hendaklah ia mati jika mau sebagai seorang Yahudi, dan jika mau sebagai seorang Nasrani.”] Dan yang dimaksud dengan kemampuan adalah harta dan selainnya.
فَإِنَّ بِذَلِكَ الْمَذْكُورِ مِنَ التَّعَالِيلِ أَنْ يَقَعَ الصَّوْمُ آخِرًا.
Maka dengan alasan-alasan yang disebutkan itu, puasa berada di urutan terakhir.
وَوَجْهُ الْحَصْرِ فِي الْخَمْسِ أَنَّ الْعِبَادَةَ إِمَّا قَوْلِيَّةٌ، وَهِيَ الشَّهَادَةُ أَوْ غَيْرُ قَوْلِيَّةٍ وَهَذَا إِمَّا تَرْكِيٌّ وَهُوَ الصَّوْمُ، وَالْمُرَادُ بِالتَّرْكِ إِمْسَاكُ الصَّائِمِ، أَوْ فِعْلِيٌّ وَذَا إِمَّا بَدَنِيٌّ وَهُوَ الصَّلَاةُ أَوْ مَالِيٌّ وَهُوَ الزَّكَاةُ، أَوْ مُرَكَّبٌ مِنْهُمَا وَهُوَ الْحَجُّ.
Tujuan pembatasan pada lima rukun ini karena ibadah itu adakalanya berupa ucapan, yaitu syahadat, atau bukan ucapan. Yang bukan ucapan ini adakalanya berupa meninggalkan sesuatu, yaitu puasa, dan yang dimaksud dengan meninggalkan adalah menahan diri bagi orang yang berpuasa, atau berupa perbuatan. Perbuatan ini adakalanya bersifat fisik, yaitu shalat, atau bersifat harta, yaitu zakat, atau gabungan dari keduanya, yaitu haji.
وَالْإِسْلَامُ الْحَقِيقِيُّ يَحْصُلُ بِالشَّهَادَتَيْنِ بِشَرْطِ التَّصْدِيقِ كَمَا أَفَادَهُ الْعَزِيزِيُّ
Dan Islam yang hakiki terwujud dengan dua kalimat syahadat dengan syarat membenarkannya, sebagaimana Telah menjelaskan tentangnya Imam al-‘Azizi.
Hadits 2: Jaminan Surga Tanpa Hisab Melalui Pengamalan Rukun Islam
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلُّوا خَمْسَكُمْ) أَيْ صَلَوَاتِكُمُ الْخَمْسَ (وَزَكُّوا أَمْوَالَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ) أَيْ رَمَضَانَ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Laksanakanlah Shalat lima waktu kalian) yakni shalat kalian yang lima waktu (dan tunaikanlah zakat harta harta kalian, dan berpuasalah di bulan kalian) yakni Ramadhan.
كَمَا رُوِيَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: [رَجَبُ شَهْرُ اللّٰهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِي وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي]
Sebagaimana telah diriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: [“Rajab adalah bulan Allāh, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”]
(وَحُجُّوا بَيْتَ رَبِّكُمْ) أَيِ الْكَعْبَةَ الْمُشَرَّفَةَ (تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ) أَيِ الَّذِيْ رَبَّاكُمْ فِيْ نِعْمَتِهِ (بِغَيْرِ حِسَابٍ) أَيْ بِغَيْرِ مُنَاقَشَةٍ فِيهِ فَقَوْلُهُ تَدْخُلُوا جَوَابُ الْأَمْرِ
(dan berhajilah ke rumah Tuhan kalian) yakni Ka’bah yang dimuliakan (niscaya kalian akan masuk surga Tuhan kalian) yakni Dzat yang telah memelihara kalian dalam nikmat-Nya (tanpa hisab) yakni tanpa diperdebatkan di dalamnya. Maka sabda nabi pada lafadz ‘تَدْخُلُ’ adalah (Jawabul Amri) jawab dari perintah.
Hadits 3: Shalat Sebagai Tiang Utama Penopang Agama
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ) أَيْ أَصْلُهُ وَأُسُّهُ فَالصَّلَاةُ تَحْقِيقٌ لِلْعُبُودِيَّةِ، وَأَدَاءُ حَقِّ الرُّبُوبِيَّةِ وَجَمِيعُ الْعِبَادَاتِ وَسَائِلُ إِلَى تَحْقِيقِ سِرِّهَا كَمَا أَفَادَهُ الْعَزِيزِيُّ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Shalat adalah tiang agama) yakni pokok dan pondasinya. Maka shalat adalah perwujudan penghambaan, penunaian hak ketuhanan, dan semua ibadah adalah sarana untuk mewujudkan rahasianya, sebagaimana Telah menjelaskan tentangnya Imam al-‘Azizi.
(فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ) بِالدَّالِ الْمُهْمَلَةِ، أَيْ أَزَالَهُ مِنْ أَصْلِهِ أَوْ بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ، أَيْ قَطَعَهُ فَقِوَامُ الدِّينِ لَيْسَ إِلَّا بِهَا كَمَا أَنَّ الْبَيْتَ لَا يَقُومُ إِلَّا عَلَى عَمُودِهِ
(Maka barangsiapa mendirikannya, sungguh ia telah mendirikan agama, dan barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah merobohkan agama) Lafadz هدم dengan huruf د tanpa titik, yakni menghilangkannya dari akarnya, atau dengan ذ bertitik, yakni memutuskannya. Maka tegaknya agama tidak lain kecuali dengannya, sebagaimana rumah tidak akan berdiri kecuali di atas tiangnya.
Hadits 4: Pintu Surga Bagi Wanita yang Taat Ibadah dan Menjaga Kehormatan
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلْمَرْأَةُ إِذَا صَلَّتْ خَمْسَهَا) أَيِ الْمَكْتُوبَاتِ الْخَمْسَ (وَزَكَّتْ مَالَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا) أَيْ رَمَضَانَ غَيْرَ أَيَّامِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ إِنْ كَانَ (وَحَجَّتْ بَيْتَ رَبِّهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا) أَيْ فِيْ غَيْرِ مَعْصِيَةٍ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Seorang wanita apabila ia melaksanakan shalat lima waktunya) maksudnya, shalat lima waktu yang diwajibkan (dan menunaikan zakat hartanya, dan berpuasa di bulannya) yakni Ramadhan selain hari-hari haid dan nifas jika ada (dan berhaji ke rumah Tuhannya, dan mentaati suaminya) maksudnya, dalam hal selain maksiat.
(وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا) أَيْ مِنْ وَطْءِ غَيْرِ حَلِيلِهَا (تَدْخُلُ جَنَّةَ رَبِّهَا مِنْ أَيِّ بَابٍ شَاءَتْ) وَأَضَافَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَاعَةَ الزَّوْجِ إِلَى مَبَانِي الْإِسْلَامِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّهَا عَظِيمَةٌ
(dan menjaga kemaluannya) maksudnya, dari hubungan badan selain dengan suaminya yang halal (ia akan masuk surga Tuhannya dari pintu mana saja yang ia kehendaki). Dan Nabi ﷺ menambahkan ketaatan kepada suami ke dalam bangunan-bangunan Islam sebagai isyarat bahwa hal itu adalah perkara yang agung.
Hadits 5: Shalat Sebagai Panji Utama Keimanan
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ شَيْءٍ عِلَمٌ) أَيْ لِوَاءٌ (وَعِلَمُ الْإِيمَانِ الصَّلَاةُ)
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Segala sesuatu memiliki panji) yakni bendera (dan panji keimanan adalah shalat).
Hadits 6: Perintah Bertakwa dalam Shalat dan Menjaga Hak Kelompok Yang Lemah
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقُوا اللّٰهَ فِي الصَّلَاةِ اتَّقُوا اللّٰهَ فِي الصَّلَاةِ اتَّقُوا اللّٰهَ فِي الصَّلَاةِ) أَيْ بِتَعْلِيمِ أَرْكَانِهَا وَشُرُوطِهَا وَهَيْئَاتِهَا وَأَبْعَاضِهَا، وَالْإِتْيَانِ بِهَا فِي أَوْقَاتِهَا وَتَكْرِيرِ الْجُمْلَةِ ثَلَاثًا لِمَزِيدِ التَّأْكِيدِ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Bertakwalah kalian kepada Allāh dalam shalat, bertakwalah kalian kepada Allāh dalam shalat, bertakwalah kalian kepada Allāh dalam shalat) maksudnya, dengan mempelajari rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, sunnah sunnah hai’atnya, dan sunnah sunnah ab’adhnya, serta melaksanakannya pada waktunya. Pengulangan kalimat sebanyak tiga kali adalah untuk penekanan lebih.
(اتَّقُوا اللّٰهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ) أَيْ مِنْ آدَمِيٍّ وَحَيَوَانٍ مُحْتَرَمٍ (اتَّقُوا اللّٰهَ فِي الضَّعِيفَيْنِ: الْمَرْأَةِ الْأَرْمَلَةِ) أَيِ الْمُحْتَاجَةِ الْمِسْكِينَةِ الَّتِي لَا كَافِلَ لَهَا
(Bertakwalah kepada Allāh terhadap apa yang kalian miliki) yakni dari manusia dan hewan yang dimuliakan (Bertakwalah kepada Allāh terhadap dua orang yang lemah: wanita janda) maksudnya, yang membutuhkan dan miskin yang tidak memiliki penanggung.
(وَالصَّبِيِّ الْيَتِيمِ) أَيِ الصَّغِيرِ الَّذِيْ لَا أَبَ لَهُ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، وَهُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ، وَهُوَ مَا عُرِفَ مَخْرَجُهُ مِنْ كَوْنِهِ حِجَازِيًّا شَامِيًّا عِرَاقِيًّا مَكِّيًّا كُوفِيًّا
(dan anak yatim) yakni anak kecil yang tidak memiliki ayah, baik laki-laki maupun perempuan. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Baihaqi dari Anas bin Malik, dan ini adalah hadits hasan, yaitu hadits yang diketahui sumbernya dari Hijaz, Syam, Irak, Mekah, atau Kufah.
Hadits 7: Kewajiban Mengikuti Tatacara Shalat Rasulullah ﷺ
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِيْ) أَيْ عَلِمْتُمُونِيْ (أُصَلِّيْ)
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku) maksudnya, mengetahui aku (shalat).
Hadits 8: Ancaman Bahaya Meninggalkan Shalat Secara Sengaja
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ كَفَرَ جِهَارًا) أَيْ اِسْتَوْجَبَ عُقُوبَةَ مَنْ كَفَرَ أَوْ قَارَبَ أَنْ يَكْفُرَ فَإِنْ تَرَكَهَا جَاحِدًا لِوُجُوبِهَا كَفَرَ حَقِيقَةً، رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ أَنَسٍ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia telah kafir secara terang-terangan) maksudnya, ia berhak mendapatkan hukuman orang kafir atau mendekati kekafiran. Jika ia meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya, maka ia kafir secara hakiki. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani dari Anas dan sanadnya hasan.
Hadits 9: Shalat Lima Waktu dan Shalat Jumat Sebagai Penebus Dosa
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ) أَيْ وَصَلَاةُ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ (كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ) رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ عَنْ أَنَسٍ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Shalat lima waktu adalah penebus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi, dan Jumat ke Jumat) maksudnya, dan shalat Jumat ke Jumat (adalah penebus dosa di antara keduanya dan tambahan tiga hari). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu’aim dari Anas.
وَقَالَ الْغَزَالِيُّ فِي الْإِحْيَاءِ: وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ عَذْبٍ غَمْرٍ بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَقْتَحِمُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، فَمَا تَرَوْنَ ذَلِكَ يُبْقِيْ مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا: لَا شَيْءَ.
Telah berkata Imam Ghazali dalam kitab Ihya’: Telah bersabda Nabi ﷺ: [“Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sungai yang tawar dan melimpah di depan pintu salah seorang dari kalian, ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, maka apa pendapat kalian hal itu akan menyisakan kotorannya?” Mereka menjawab: “Tidak ada sedikit pun.”
قَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ تُذْهِبُ الذُّنُوبَ كَمَا يُذْهِبُ الْمَاءُ الدَّرَنَ].
Telah bersabda Nabi ﷺ: “Maka sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran.”]
Hadits 10: Larangan Menjamak Dua Shalat Tanpa Uzur Syar’i
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ) كَسَفَرٍ وَمَطَرٍ (فَقَدْ أَتَى بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْكَبَائِرِ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa menjamak dua shalat tanpa uzur) seperti bepergian dan hujan (maka sungguh ia telah mendatangi salah satu pintu dari pintu-pintu dosa besar). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Tirmidzi dan Imam Hakim dari Ibnu Abbas.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!