Terjemah Kitab Tanqihul Qoul Bab 15 | Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah
- Nama kitab
- Tanqihul Qoul
- Judul kitab Arab
- تنقيح القول الحثيث
- Judul terjemah
- Terjemah Kitab Tanqihul Qoul
- Mata Pelajaran
- Hadits, Keutamaan Amal
- Musonif
- Syekh Nawawi al-Bantani
- Nama Arab
- الشيخ محمد بن عمر النووي البنتني
- Lahir
- 813 Masehi; 1230 H, Tanara, Banten, Indonesia
- Wafat
- 1897 M; 1316 H, Pemakaman Ma'la Makkah Al-Mukarramah, w. 672 H / 22 Februari 1274 M
- Penerjemah
- Ahsan Dasuki
Tanqihul Qoul Bab Ke Lima Belas Tentang Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah
Image by ©
LILMUSLIMIIN
اَلْبَابُ الْخَامِسَ عَشَرَ: فِي فَضِيْلَةِ السّٗنَنِ
Bab Yang Kelima Belas: Tentang Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah
أَيْ نَوَافِلِ الصَّلَاةِ
Yakni shalat-shalat sunnah.
قَالَ الْعُلَمَاءُ: وَالْحِكْمَةُ فِيْ مَشْرُوْعِيَّةِ النَّوَافِلِ التَّكْمِيْلُ لِلْفَرَائِضِ إِنْ عَرَضَ فِيْهَا نَقْصٌ.
Telah berkata para ulama: Dan hikmah disyariatkannya shalat-shalat sunnah adalah untuk menyempurnakan shalat-shalat fardhu jika terdapat kekurangan di dalamnya.
Hadits 1: Rumah di Surga Bagi Pengamal Shalat Sunnah Rawatib Dua Belas Rakaat
(قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا بَنَى اللّٰهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَأَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ عَنْ أُمِّ حَبِيْبَةَ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat sunnah dalam sehari semalam sebanyak dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam An-Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah dari Ummu Habibah.
وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ فِيْ بُلُوغِ الْمَرَامِ وَلِلتِّرْمِذِيِّ نَحْوُهُ، وَزَادَ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ انْتَهَى.
Telah berkata Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Bulughul Maram, dan bagi Imam Tirmidzi ada riwayat serupa, dan ia menambahkan: empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum shalat Fajar. selesai.
وَقَالَ الْعَزِيْزِيُّ: وَلَمْ يُبَيِّنْ فِيْ هَذِهِ الرِّوَايَةِ الْعَدَدَ الْمَذْكُوْرَ، وَقَدْ بَيَّنَهُ النَّسَائِيُّ عَنْ أُمِّ حَبِيْبَةَ فَقَالَ: أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهُ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْعَصْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ
Telah berkata Al-Azizi: Dalam riwayat ini tidak dijelaskan bilangan yang disebutkan, dan Imam An-Nasa’i telah menjelaskannya dari Ummu Habibah, ia berkata: empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sebelum Ashar, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat sebelum shalat Isya.
Hadits 2: Keutamaan Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Fardhu
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى قَبْلَ الْفَجْرِ رَكْعَتَيْنِ وَقَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا وَبَعْدَهَا أَرْبَعًا) أَيْ مِنَ الرَّكَعَاتِ (وَأَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ دَخَلَ الْجَنَّةَ) أَيْ مَعَ السَّابِقِيْنَ،
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat dua rakaat sebelum Fajar, empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya), maksudnya, dari rakaat-rakaat (dan empat rakaat sebelum Ashar, maka ia akan masuk surga) yakni, bersama orang-orang yang terdahulu.
وَفِي الْخَبَرِ [رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا] رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِيْهِ لَا تَدَعُوْا رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ، وَإِنْ طَرَدَتْكُمُ الْخَيْلُ، أَيْ خَيْلُ الْعَدُوِّ مِنَ الْكُفَّارِ وَغَيْرِهَا بَلْ صَلُّوْهُمَا،
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan: [Dua rakaat Fajar lebih baik dari dunia dan seisinya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim. Dan di dalamnya disebutkan: Janganlah kalian meninggalkan dua rakaat Fajar, meskipun kalian dikejar oleh kuda, maksudnya, kuda musuh dari orang-orang kafir dan selainnya, tetapi shalatlah kalian berdua.
وَإِنْ كُنْتُمْ رُكْبَانًا أَوْ مُشَاةً بِالْإِيْمَاءِ إِلَى الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ أَخْفَضَ، وَلَوْ إِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ فَيُكْرَهُ تَرْكُهُمَا رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ،
Meskipun kalian sedang berkendara atau berjalan kaki dengan isyarat untuk ruku’ dan sujud lebih rendah, walaupun ke arah selain kiblat, maka dimakruhkan meninggalkannya. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud dari Abu Hurairah.
وَفِيْهِمَا قَوْلٌ بِأَنَّهُمَا أَفْضَلُ مِنَ الْوِتْرِ الَّذِيْ قِيْلَ بِوُجُوْبِهِ. وَيُسَنُّ أَنْ يَفْصِلَ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الْفَرْضِ بِاضْطِجَاعٍ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ، فَإِنْ تَعَذَّرَ فَبِكَلَامٍ أَوْ تَحَوُّلٍ مِنْ مَحَلِّهِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ،
Dan pada keduanya terdapat pendapat bahwa keduanya lebih utama daripada shalat witir yang dikatakan wajib. Dan disunnahkan untuk memisahkan antara keduanya dan antara shalat fardhu dengan berbaring pada sisi kanannya, jika tidak memungkinkan maka dengan berbicara atau berpindah dari tempatnya atau semacamnya.
وَفِي الْخَبَرِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَأَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيْمِ،
Dan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Dzuhur, dan bahwasanya beliau shalat empat rakaat sebelum Ashar dengan memisahkan di antara keduanya dengan salam.
وَرُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: [رَحِمَ اللّٰهُ امْرَأً صَلَّى أَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ] رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ
Dan diriwayatkan bahwa Telah bersabda Nabi ﷺ: [Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi.
Hadits 3: Pahala Empat Rakaat Sebelum Dzuhur Setara Memerdekakan Budak
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا كَانَ) أَيْ ثَوَابُ ذَلِكَ (كَعَدْلِ رَقَبَةٍ مِنْ بَنِيْ إِسْمَاعِيْلَ) رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ رَجُلٍ صَحَابِيٍّ أَنْصَارِيٍّ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat empat rakaat sebelum Dzuhur, maka adalah) maksudnya, pahalanya (seperti memerdekakan seorang budak dari keturunan Nabi Ismail). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani dari seorang laki-laki sahabat Anshar.
Hadits 4: Jaminan Pembebasan dari Api Neraka Bagi Shalat Sunnah di Tempat Sepi
(وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ) أَيْ بِأَيِّ صَلَاةٍ كَانَتْ (فِيْ خَلَاءٍ) أَيْ فِيْ مَحَلٍّ خَالٍ مِنَ الْآدَمِيِّيْنَ بِحَيْثُ (لَا يَرَاهُ إِلَّا اللّٰهُ وَالْمَلَائِكَةُ) أَيْ وَمَنْ فِيْ مَعْنَاهُمْ وَهُمُ الْجِنُّ
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat dua rakaat) maksudnya, dengan shalat apa pun itu (di tempat yang sepi) maksudnya, di tempat yang kosong dari manusia sekiranya (tidak ada yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat) maksudnya, dan siapa saja yang semakna dengan mereka, yaitu jin.
(كُتِبَ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ) رَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ عَنْ جَابِرٍ، وَذَلِكَ يُحْتَمَلُ أَنَّ اللّٰهَ تَعَالَى بِسَبَبِ ذَلِكَ يُوَفِّقُهُ لِلتَّوْبَةِ أَوْ يَعْفُوْ عَنْهُ وَيُرْضِيْ خُصَمَاءَهُ، فَلَا تَمَسُّهُ النَّارُ أَفَادَهُ الْعَزِيْزِيُّ
(maka dituliskan baginya pembebasan dari api neraka). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu ‘Asakir dari Jabir, dan hal itu dimungkinan bahwa Allah Ta’ala dengan sebab itu memberinya taufik untuk bertaubat atau mengampuninya dan Allah membuat ridha musuh-musuhnya, sehingga api neraka tidak akan menyentuhnya. Telah menjelaskan tentangnya Imam Al-‘Azizi.
Hadits 5: Shalat Sempurna di Rumah Gelap Sebagai Jalan Masuk Surga Tanpa Hisab
(وَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ عَبْدٍ يُصَلِّيْ فِيْ بَيْتٍ مُظْلِمٍ بِرُكُوْعٍ تَامٍّ وَسُجُوْدٍ تَامٍّ إِلَّا وَجَبَتْ) أَيْ ثَبَتَتْ (لَهُ الْجَنَّةُ) بِفَضْلِهِ تَعَالَى (بِلَا حِسَابٍ) أَيْ مُنَاقَشَةٍ فِيْهِ
(Telah bersabda Rasulullah ﷺ: Tidaklah seorang hamba shalat di rumah yang gelap dengan ruku’ yang sempurna dan sujud yang sempurna, melainkan wajib) maksudnya, tetap (baginya surga) dengan karunia-Nya Allah Ta’ala (tanpa hisab) maksudnya, tanpa perdebatan di dalamnya.
Hadits 6: Shalat Sunnah Tersembunyi Sebagai Pembebas dari Kemunafikan dan Sesat
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِحَيْثُ) أَيْ فِيْ مَوْضِعٍ (لَا تَرَاهُ النَّاسُ فَقَدْ بَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ) أَيْ نِفَاقِ الْاِعْتِقَادِ (وَالْكُفْرِ وَالْبِدْعَةِ وَالضَّلَالَةِ)
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat empat rakaat sekiranya) maksudnya, di tempat (yang tidak dilihat oleh manusia, maka ia telah terbebas dari kemunafikan) maksudnya, kemunafikan dalam keyakinan (kekufuran, bid’ah, dan kesesatan).
Hadits 7: Perlindungan dari Api Neraka Bagi Pengamal Empat Rakaat Sebelum Ashar
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا حَرَّمَهُ اللّٰهُ عَلَى النَّارِ) أَيْ كَفَّرَ اللّٰهُ عَنْهُ بِذَلِكَ ذُنُوْبَهُ، فَلَا يُعَاقَبُ بِالنَّارِ عَلَيْهَا، وَيُحْتَمَلُ الْمَعْنَى غَيْرَ ذَلِكَ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ.
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat empat rakaat sebelum Ashar, maka Allah mengharamkannya dari api neraka) maksudnya, Allah menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu, maka ia tidak akan disiksa di neraka karenanya, dan dimungkinkan memiliki makna selain makna tersebut. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani dari Ibnu Umar.
قَالَ الْمُنَاوِيُّ وَفِيْ رِوَايَةٍ [لَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ]، وَفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ نَدْبُ أَرْبَعٍ قَبْلَ الْعَصْرِ وَعَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ.
Telah berkata Imam Al-Munawi: Dan dalam sebuah riwayat disebutkan [“api neraka tidak akan menyentuhnya”]. Dan dalam hadits ini terdapat anjuran untuk shalat empat rakaat sebelum Ashar, dan atas pendapat inilah Imam Syafi’i.
Hadits 8: Keutamaan Shalat Sunnah Setelah Maghrib dan Anjuran Menghidupkan Shalat Awwabin
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ) أَيْ بِشَيْءٍ مُطْلَقًا أَوْ بِشَيْءٍ مِنْ أُمُوْرِ الدُّنْيَا (كُتِبَتَا) أَيِ الرَّكْعَتَانِ أَيْ ثَوَابُهُمَا (فِيْ عِلِّيِّيْنَ)
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat dua rakaat setelah Maghrib sebelum ia berbicara) maksudnya, dengan sesuatu secara mutlak atau dengan sesuatu dari urusan dunia (maka keduanya dituliskan) maksudnya, dua rakaat itu, yakni pahala keduanya (di ‘Illiyyin).
هُوَ اسْمٌ لِدِيْوَانِ الْخَيْرِ الَّذِيْ دُوِّنَ فِيْهِ كُلُّ مَا عَمِلَهُ صُلَحَاءُ الثَّقَلَيْنِ رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَكْحُوْلٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.
Ia adalah nama bagi catatan amal kebaikan yang di dalamnya dituliskan semua amal yang dikerjakan oleh orang-orang saleh dari dua makhluk (manusia dan jin). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abdur Razzaq dari Makhul dengan sanad yang shahih.
وَفِي الْحَدِيْثِ الَّذِيْ رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالطَّبَرَانِيُّ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ، [مَا مِنْ صَلَاةٍ مَفْرُوْضَةٍ إِلَّا وَبَيْنَ يَدَيْهَا]، أَيْ أَمَامَهَا [رَكْعَتَانِ]، وَفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ نَدْبُ الرَّوَاتِبِ الْقَبْلِيَّةِ لِلْفَرَائِضِ،
Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Thabrani dari Zubair bin Awwam, [“Tidak ada shalat fardhu melainkan di antara kedua tangannya,”] maksudnya, di hadapannya, [“ada dua rakaat.”] Dan dalam hadits ini terdapat anjuran untuk shalat sunnah rawatib qabliyah sebelum shalat fardhu.
وَفِي الْحَدِيْثِ الَّذِيْ رَوَاهُ ابْنُ نَصْرٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ [مَنْ صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْمَغْرِبِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ، غُفِرَ لَهُ بِهَا ذُنُوْبُ خَمْسِيْنَ سَنَةً،] وَذَلِكَ صَلَاةُ الْأَوَّابِيْنَ، وَإِحْيَاءُ مَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ
Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Nashr dari Ibnu Umar, [“Barangsiapa yang shalat enam rakaat setelah Maghrib sebelum ia berbicara, maka diampuni baginya dosa-dosa selama lima puluh tahun”] dan itu adalah shalat Awwabin. Dan menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya adalah sunnah muakkadah.
Hadits 9: Empat Rakaat Setelah Isya Serasa Mendapati Lailatul Qadar di Masjidil Haram
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْعِشَاءِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ فَكَأَنَّمَا أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ) وَفِي لَفْظٍ [فَقَدْ أَحْيَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ] (فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ)
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat empat rakaat setelah Isya sebelum ia berbicara, maka seakan-akan ia telah mendapati Lailatul Qadar) dan dalam lafadz lain [maka sungguh ia telah menghidupkan Lailatul Qadar] (di Masjidil Haram).
قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا: [كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بَعْدَ الْعِشَاءِ الْأَخِيرَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ يَنَامُ] كَذَا فِي الْأَحْيَاءِ.
Telah berkata Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha: [Adalah Rasulullah ﷺ shalat empat rakaat setelah Isya yang terakhir, kemudian beliau tidur], demikianlah dalam kitab Al-Ihya.
Hadits 10: Keutamaan Tingkatan Rakaat Shalat Dhuha dan Limpahan Pahalanya
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً إِيمَانًا) أَيْ اِعْتِقَادًا بِحَقٍّ (وَاحْتِسَابًا) أَيْ طَلَبًا لِلْأَجْرِ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى
(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa yang shalat Dhuha dua belas rakaat karena iman) maksudnya, meyakini dengan benar (dan mengharap pahala) maksudnya, mencari pahala dari Allah Ta’ala
(كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبَنَى اللّٰهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَغَفَرَ اللّٰهُ لَهُ ذُنُوبَهُ كُلَّهَا)
(maka Allah akan menuliskan untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan, mengangkat untuknya satu juta derajat, membangunkan untuknya sebuah rumah di surga, dan mengampuni semua dosanya).
وَفِي رِوَايَةِ التِّرْمِذِيِّ وَابْنِ مَاجَهْ عَنْ أَنَسٍ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ [مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً، بَنَى اللّٰهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ مِنْ ذَهَبٍ]،
Dan dalam riwayat Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dari Anas dan Imam Ibnu Majah dari Anas dengan sanad yang lemah: [Barangsiapa yang shalat Dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah istana di surga yang terbuat dari emas],
وَفِي رِوَايَةِ الطَّبَرَانِيِّ [إِنْ صَلَّيْتَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لَمْ تُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، أَوْ أَرْبَعًا كُتِبْتَ مِنَ الْمُخْبِتِينَ، أَوْ سِتًّا كُتِبْتَ مِنَ الْقَانِتِينَ، أَوْ ثَمَانِيًا كُتِبْتَ مِنَ الْفَائِزِينَ، أَوْ عَشْرًا لَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكَ ذَلِكَ الْيَوْمَ ذَنْبٌ،
dan dalam riwayat Imam Thabrani: [Jika engkau shalat Dhuha dua rakaat, engkau tidak akan ditulis termasuk orang-orang yang lalai, atau empat rakaat, engkau akan ditulis termasuk orang-orang yang tunduk, atau enam rakaat, engkau akan ditulis termasuk orang-orang yang taat, atau delapan rakaat, engkau akan ditulis termasuk orang-orang yang beruntung, atau sepuluh rakaat, tidak akan ditulis atasmu dosa pada hari itu,
وَإِنْ صَلَّيْتَهَا ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللّٰهُ لَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ]، وَنَظَمَ ذَلِكَ عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ مِنْ بَحْرِ الطَّوِيلِ فَقَالَ:
dan jika engkau shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan untukmu sebuah rumah di surga.] Dan telah menadhomkan hal itu Abdus Salam bin Abdul Malik dari bahar Thawil, lalu ia berkata:
| فَبَادِرْ إِلَيْهَا يَا لَكَ اللّٰهَ مِنْ حُرِّ | * | صَلَاةُ الضُّحَى يَا صَاحِ سَعْدٌ لِمَنْ يَدْرِي |
| Shalat Dhuha, wahai sahabat, adalah kebahagiaan bagi siapa yang mengetahui, | * | maka bersegeralah kepadanya, wahai engkau, demi Allah, dari orang yang merdeka. |
| فَخُذْ عَدَدًا قَدْ جَاءَنَا عَنْ أَبِي ذَرٍّ | * | فَفِيهَا عَنِ الْمُخْتَارِ سِتُّ فَضَائِلٍ |
| Di dalamnya terdapat enam keutamaan dari Nabi yang terpilih, | * | maka ambillah bilangan yang telah datang kepada kita dari Abu Dzar. |
| وَأَرْبَعُ تُدْعَى مُخْبِتًا يَا أَبَا عَمْرُو | * | فَثِنْتَانِ مِنْهَا لَيْسَ تُكْتَبُ غَافِلًا |
| Dua rakaat darinya, engkau tidak akan ditulis sebagai orang yang lalai, | * | dan dengan empat rakaat, engkau akan disebut sebagai orang yang tunduk, wahai Abu Amr. |
| ثَمَانٍ بِهَا فَوْزُ الْمُصَلِّي لَدَى الْحَشْرِ | * | وَسِتٌّ هَدَاكَ اللّٰهُ تُكْتَبُ قَانِتًا |
| Dan dengan enam rakaat, semoga Allah memberimu petunjuk, engkau akan ditulis sebagai orang yang taat, | * | dengan delapan rakaat, keberuntungan bagi orang yang shalat di hari pengumpulan. |
| فَإِنْ جِئْتَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ فُزْتَ بِالْقَصْرِ | * | وَتُمْحَى ذُنُوبُ الْيَوْمِ بِالْعَشْرِ فَاصْطَبِرْ |
| Dan dosa-dosa hari itu akan dihapus dengan sepuluh rakaat, maka bersabarlah, | * | jika engkau mengerjakan dua belas rakaat, engkau akan beruntung dengan istana. |
| وَيَا رَبِّ فَارْزُقْنَا مُجَاوَرَةَ الْبَدْرِ | * | فَيَا رَبِّ وَفِّقْنَا لِنَعْمَلَ صَالِحًا |
| Wahai Tuhanku, berilah kami taufik untuk beramal saleh, | * | dan wahai Tuhanku, berilah kami rezeki untuk bertetangga dengan sang purnama. |
| حَدَا نَحْوَهُ الْحَادِي وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ. | * | مُحَمَّدٍ الْهَادِي وَصَلِّ عَلَيْهِ مَا |
| Yaitu Muhammad sang pemberi petunjuk, dan bershalawatlah atasnya selama | * | penggiring unta menggiring ke arahnya, dan atas para sahabatnya yang mulia. |
halaman terkait
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!