Terjemah Kitab Tanqihul Qoul Bab 17 | Keutamaan Shadaqah

Nama kitab
Tanqihul Qoul
Judul kitab Arab
تنقيح القول الحثيث
Judul terjemah
Terjemah Kitab Tanqihul Qoul
Mata Pelajaran
Hadits, Keutamaan Amal
Musonif
Syekh Nawawi al-Bantani
Nama Arab
الشيخ محمد بن عمر النووي البنتني
Lahir
813 Masehi; 1230 H, Tanara, Banten, Indonesia
Wafat
1897 M; 1316 H, Pemakaman Ma'la Makkah Al-Mukarramah, w. 672 H / 22 Februari 1274 M
Penerjemah
Ahsan Dasuki

Tanqihul Qoul Bab Ketujuh Belas Keutamaan Shadaqah

Tanqihul Qoul Image by © LILMUSLIMIIN

الباب السابع عشر: في فضيلة الصدقة

Hadits Yang Ketujuh Belas Tentang Keutamaan Sedekah

رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: [لَا تَرُدُّوا السَّائِلَ وَلَوْ كَانَ كَافِرًا

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: [Janganlah kalian menolak peminta-minta meskipun ia seorang kafir.

فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ وَهَلْ لَنَا أَنْ نَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ مِنْ أَمْوَالِنَا إِلَى الْكُفَّارِ؟ فَقَالَ: نَعَمْ إِنَّهُمْ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللّٰهِ تَعَالَى، وَإِنَّ الصَّدَقَةَ لَتَقَعُ فِي يَدِ الرَّحْمٰنِ] كَذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ.

Lalu berkata seorang laki-laki dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum: Wahai Rasulullah, apakah boleh bagi kami untuk bersedekah dengan sesuatu dari harta kami kepada orang-orang kafir? Maka beliau bersabda: Ya, sesungguhnya mereka adalah makhluk dari makhluk-makhluk Allh Ta’ala, dan sesungguhnya sedekah itu benar-benar jatuh di tangan Ar-Rahman]. Demikian dalam kitab Riyadhus Shalihin.

Hadits 1: Sedekah Mencegah Kematian yang Buruk

(قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّدَقَةُ تَمْنَعُ مِيتَةَ السَّوءِ) بِكَسْرِ الْمِيمِ لِلْهَيْئَةِ، ثُمَّ بِفَتْحِ السِّينِ رَوَاهُ الْقُضَاعِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَهُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ، وَالْمُرَادُ بِالسَّوءِ مَا لَا تُحْمَدُ عَاقِبَتُهُ مِنَ الْحَالَاتِ الرَّدِيئَةِ كَالْحَرْقِ وَالْغَرَقِ.

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Sedekah itu mencegah kematian yang buruk) dengan kasrah pada huruf mim untuk menunjukkan keadaan, kemudian dengan fathah pada huruf sin. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Qudha’i dari Abu Hurairah, dan ini adalah hadits yang lemah. Dan yang dimaksud dengan keburukan adalah sesuatu yang tidak terpuji akibatnya dari keadaan-keadaan yang buruk seperti terbakar dan tenggelam.

Hadits 2: Keutamaan Sedekah Sembunyi-Sembunyi dan Terang-Terangan

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ) أَيْ تَمْنَعُ عِقَابَهُ عَمَّنِ اسْتَحَقَّهُ (وَصَدَقَةُ الْعَلَانِيَةِ جُنَّةٌ) بِضَمِّ الْجِيمِ أَيْ سُتْرَةٌ (مِنَ النَّارِ)

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Sedekah secara sembunyi-sembunyi itu memadamkan murka Tuhan) maksudnya, mencegah siksa-Nya dari orang yang berhak menerimanya (dan sedekah secara terang-terangan adalah perisai) dengan dhammah pada huruf ج, maksudnya, pelindung (dari api neraka).

كَمَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: [مَا مِنْ عَبْدٍ أَعْطَى السَّائِلَ شَيْئًا، وَلَوْ لُقْمَةَ طَعَامٍ إِلَّا دَفَعَ اللّٰهُ عَنْهُ بِهَا نِقْمَةً].

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: [Tidaklah seorang hamba memberikan sesuatu kepada peminta-minta, meskipun hanya sesuap makanan, kecuali Allah akan menolak darinya suatu bencana dengan sebab sedekah itu].

Hadits 3: Sedekah Menutup Pintu Keburukan dan Menolak Berbagai Macam Bala

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِينَ بَابًا مِنَ السُّوءِ) بِالْمُهْمَلَةِ، وَفِي رِوَايَةٍ مِنَ الشَّرِّ بِالْمُعْجَمَةِ وَالرَّاءِ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ،

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu keburukan) dengan huruf sin tanpa titik, dan dalam riwayat lain dari kejahatan dengan huruf syin bertitik dan ra’. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani dari Rafi’ bin Khadij dengan sanad yang lemah,

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْخَطِيبِ عَنْ أَنَسٍ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ [الصَّدَقَةُ تَمْنَعُ سَبْعِينَ نَوْعًا مِنْ أَنْوَاعِ الْبَلَاءِ أَهْوَنُهَا الْجُذَامُ وَالْبَرَصُ هَذَا مِمَّا عَلَّمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى لِنَبِيِّهِ مِنَ الطِّبِّ الرُّوحَانِيِّ الَّذِي يَعْجِزُ عَنْ إِدْرَاكِهِ الْخَلْقُ].

dan dalam riwayat Imam Al-Khatib dari Anas dengan sanad yang lemah: [Sedekah itu mencegah tujuh puluh macam dari berbagai macam bala, yang paling ringannya adalah penyakit kusta dan sopak. Ini adalah sebagian dari apa yang Allah Ta’ala ajarkan kepada Nabi-Nya dari pengobatan rohani yang makhluk tidak mampu untuk memahaminya].

Hadits 4: Anjuran Menjaga Diri dari Neraka Melalui Sedekah Meskipun dengan Separuh Kurma

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقُوا النَّارَ) أَيْ اجْعَلُوا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ نَارِ جَهَنَّمَ وِقَايَةً مِنَ الصَّدَقَاتِ، وَأَعْمَالِ الْبِرِّ. (وَلَوْ) كَانَ الْاِتِّقَاءُ الْمَذْكُورُ (بِشِقِّ تَمْرَةٍ) بِكَسْرِ الشِّينِ الْمُعْجَمَةِ، أَيْ جَانِبِهَا أَوْ نِصْفِهَا،

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Jagalah diri kalian dari api neraka) maksudnya, jadikanlah antara kalian dan neraka Jahannam sebuah pelindung dari sedekah-sedekah, dan amal-amal kebaikan. (Meskipun) pelindung yang disebutkan itu (dengan separuh kurma) dengan kasrah pada huruf syin yang bertitik, maksudnya, sisinya atau separuhnya,

فَإِنَّهُ قَدْ يَسُدُّ الرَّمَقَ سِيَّمَا لِلطِّفْلِ فَلَا يَحْتَقِرُ الْمُصَدِّقُ ذَلِكَ (فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا) مَا تَتَصَدَّقُونَ بِهِ لِفَقْدِهِ حِسًّا أَوْ شَرْعًا، كَأَنْ احْتَجْتُمُوهُ لِمَنْ تَلْزَمُكُمْ نَفَقَتُهُ

karena sesungguhnya ia terkadang dapat menutupi kebutuhan pokok terutama bagi anak kecil, maka janganlah orang yang bersedekah meremehkan hal itu. (Maka jika kalian tidak menemukan) sesuatu yang kalian sedekahkan karena tidak adanya secara nyata atau secara syariat, seperti kalian membutuhkannya untuk orang yang wajib kalian nafkahi,

(فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ) أَيْ تُطَيِّبُ قَلْبَ الْإِنْسَانِ بِأَنْ يَتَلَطَّفَ بِهِ بِالْقَوْلِ أَوْ بِالْفِعْلِ، فَإِنَّهُ سَبَبٌ لِلنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ

(maka dengan perkataan yang baik) maksudnya, yang menyenangkan hati manusia dengan cara bersikap lembut kepadanya dengan ucapan atau perbuatan, karena sesungguhnya itu adalah sebab keselamatan dari api neraka. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Muslim dari ‘Adi bin Hatim.

وَقَالَ الْعَزِيزِيُّ نَقْلًا عَنِ السُّيُوطِيِّ: الذِّكْرُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ، وَهُوَ أَيْضًا يَدْفَعُ الْبَلَاءَ،

Telah berkata Imam Al-‘Azizi menukil dari Imam As-Suyuthi: Dzikir itu lebih utama daripada sedekah, dan dzikir juga menolak bala.

وَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: [تَصَدَّقُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَعَلَى أَمْوَاتِكُمْ وَلَوْ بِشَرْبَةِ مَاءٍ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرُوا عَلَى ذَلِكَ فَبِآيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللّٰهِ تَعَالَى،

Dan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: [Bersedekahlah untuk diri kalian dan untuk orang-orang mati kalian meskipun dengan seteguk air, maka jika kalian tidak mampu atas hal itu maka dengan satu ayat dari kitab Allah Ta’ala,

فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ فَادْعُوا لَهُمْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ، فَإِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمُ الْإِجَابَةَ] كَذَا فِي رِيَاضِ الصَّالِحِينَ.

maka jika kalian tidak mengetahui sesuatu pun dari Al-Qur’an maka doakanlah mereka dengan ampunan dan rahmat, karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian pengabulan]. Demikian dalam kitab Riyadhus Shalihin].

Hadits 5: Anjuran Tidak Malu Memberi Sedekah yang Sedikit

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَسْتَحْيُوا مِنْ إِعْطَاءِ الْقَلِيلِ فَإِنَّ الْحِرْمَانَ) أَيْ عَدَمَ الْإِعْطَاءِ بِالْكُلِّيَّةِ (أَقَلُّ مِنْهُ) أَيْ إِعْطَاءِ الْقَلِيلِ

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Janganlah kalian malu untuk memberi yang sedikit, karena sesungguhnya tidak memberi) maksudnya, tidak memberi sama sekali (itu lebih sedikit darinya) maksudnya, dari memberi yang sedikit.

Hadits 6: Peringatan Keras Bagi Orang yang Menghardik Peminta-minta

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَهَرَ سَائِلًا) أَحْوَجَتْهُ الْعَيْلَةُ إِلَى السُّؤَالِ، أَيْ مَنْ زَجَرَهُ وَأَغْلَظَ عَلَيْهِ الْقَوْلَ (نَهَرَتْهُ الْمَلَائِكَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) فَيَنْبَغِي أَنْ يَرُدَّهُ رَدًّا جَمِيلًا

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa menghardik seorang peminta) yang kemiskinan telah memaksanya untuk meminta, maksudnya, barangsiapa membentaknya dan berkata kasar kepadanya (maka para malaikat akan menghardiknya pada hari kiamat) maka seyogyanya ia menolaknya dengan penolakan yang baik.

قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ: نِعْمَ الْقَوْمُ السُّؤَّالُ يَحْمِلُونَ زَادَنَا إِلَى الْآخِرَةِ، وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ: السَّائِلُ بَرِيدُنَا، أَيْ رَسُولُنَا إِلَى الْآخِرَةِ يَجِيءُ إِلَى بَابِ أَحَدِكُمْ فَيَقُولُ: هَلْ تَبْعَثُونَ إِلَى أَهْلِيكُمْ بِشَيْءٍ

Telah berkata Ibrahim bin Adham: Sebaik-baik kaum adalah para peminta, mereka membawa bekal kita ke akhirat. Dan telah berkata Ibrahim An-Nakha’i: Peminta itu adalah kurir kita, maksudnya, utusan kita ke akhirat, ia datang ke pintu salah seorang dari kalian lalu berkata: Apakah kalian akan mengirimkan sesuatu kepada keluarga kalian?

وَقِيلَ: الْمُرَادُ بِالسَّائِلِ الَّذِي يَسْأَلُ عَنِ الدِّينِ. وَرُوِيَ عَنِ الزَّمَخْشَرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا رَدَدْتَ السَّائِلَ ثَلَاثًا، فَلَمْ يَرْجِعْ فَلَا عَلَيْكَ أَنْ تَزْبُرَهُ أَيْ تَزْجُرَهُ

Dan dikatakan: Yang dimaksud dengan peminta adalah orang yang bertanya tentang agama. Dan diriwayatkan dari Imam Zamakhsyari bahwa Nabi ﷺ bersabda: Jika engkau telah menolak peminta sebanyak tiga kali, lalu ia tidak pergi, maka tidak mengapa bagimu untuk membentaknya, maksudnya, menghardiknya.

وَقِيلَ: أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ السَّائِلُ الْمُسْتَجْدِي، وَلَكِنْ طَالِبُ الْعِلْمِ إِذَا جَاءَكَ فَلَا تَنْهَرْهُ.

Dan dikatakan: Ketahuilah sesungguhnya ia bukanlah peminta yang mengemis, tetapi penuntut ilmu jika ia datang kepadamu maka janganlah engkau menghardiknya.

Hadits 7: Sedekah Sederhana Sebagai Mahar Bidadari Surga

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْرُ الْحُورِ الْعِينِ قَبْضَةُ التَّمْرِ وَفَلْقُ الْخُبْزِ) أَيْ شِقٌّ مِنْهُ

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Mahar bidadari-bidadari yang bermata jeli adalah segenggam kurma dan sepotong roti) maksudnya, sobekan darinya.

Hadits 8: Jaminan Harta Tidak Berkurang dan Keberkahan Melalui Sedekah

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا نَقَصَ مَالٌ مِنْ صَدَقَةٍ) أَيْ بَلْ يَزِيدُهُ فِي الدُّنْيَا بِالْبَرَكَةِ، وَدَفْعِ الْمُفْسِدَاتِ عَنْهُ وَفِي الْآخِرَةِ بِإِجْزَالِ الْأَجْرِ،

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Tidaklah harta berkurang karena sedekah) maksudnya, bahkan sedekah akan menambahnya di dunia dengan keberkahan, dan menolak kerusakan darinya, dan di akhirat dengan melimpahkan pahala,

وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ وَمُسْلِمٍ وَالتِّرْمِذِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ [مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ]، فَمِنْ زَائِدَةٌ، أَيْ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مَالًا أَوْ صِلَةٌ لِنَقَصَتْ، أَيْ مَا نَقَصَتْ شَيْئًا مِنْ مَالٍ [وَمَا زَادَ اللّٰهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّٰهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللّٰهُ].

dan dalam riwayat Imam Ahmad, Imam Muslim, dan Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah: [Tidaklah sedekah mengurangi harta], maka huruf ‘min’ adalah tambahan, maksudnya, tidaklah sedekah mengurangi harta atau huruf min adalah ‘shilah’ untuk ’naqashat’, maksudnya, tidaklah sedekah mengurangi sesuatu pun dari harta, [dan tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan sifat pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkatnya].

Hadits 9: Keutamaan Agung Sedekah Sebagai Pembebas dari Api Neraka

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّدَقَةُ شَيْءٌ عَظِيمٌ قَالَهَا) أَيْ تِلْكَ الْكَلِمَةَ (ثَلَاثًا) أَيْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فِي تِلْكَ اللَّحْظَةِ،

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Sedekah adalah sesuatu yang agung, beliau mengucapkannya) maksudnya, kalimat itu (sebanyak tiga kali) maksudnya, tiga kali pada saat itu,

وَفِي رِوَايَةٍ لِلطَّبَرَانِيِّ وَأَبِي نُعَيْمٍ عَنْ أَنَسٍ بِأَسَانِيدَ ثِقَاتٍ [تَصَدَّقُوا، فَإِنَّ الصَّدَقَةَ فِكَاكُكُمْ مِنَ النَّارِ،] أَيْ خَلَاصُكُمْ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ، وَالصَّدَقَةُ أَفْضَلُ مِنْ حَجِّ التَّطَوُّعِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ كَذَا نَقَلَهُ الْمُنَاوِيُّ عَنِ الْعِبَادِيِّ

dan dalam riwayat Imam Thabrani dan Imam Abu Nu’aim dari Anas dengan sanad-sanad yang terpercaya: [Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah adalah pembebas kalian dari api neraka,] maksudnya, penyelamat kalian dari api Jahannam, dan sedekah lebih utama daripada haji sunnah menurut Imam Abu Hanifah, demikianlah Imam Al-Munawi menukilnya dari Al-‘Ibadi.

Hadits 10: Sedekah Menolak Bala, Memanjangkan Umur, serta Bahaya Bersedekah dengan Harta Haram

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّدَقَةُ تَرُدُّ الْبَلَاءَ وَتُطَوِّلُ الْعُمْرَ) أَيْ تُبَارِكُ فِيهِ فَيُصْرَفُ فِي الطَّاعَاتِ،

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Sedekah itu menolak bala dan memanjangkan umur) maksudnya, memberkahi pada umurnya maka umurnya akan digunakan dalam ketaatan,

وَفِي رِوَايَةٍ لِأَبِي نُعَيْمٍ عَنْ عَلِيٍّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ [اَلصَّدَقَةُ عَلَى وَجْهِهَا، وَاصْطِنَاعُ الْمَعْرُوفِ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَصِلَةُ الرَّحِمِ تُحَوِّلُ الشَّقَاءَ سَعَادَةً، وَتَزِيدُ فِي الْعُمْرِ وَتَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ].

dan dalam riwayat Imam Abu Nu’aim dari Ali dengan sanad yang lemah: [Sedekah pada tempatnya, berbuat baik, berbakti kepada orang tua, dan menyambung silaturahmi akan mengubah kesengsaraan menjadi kebahagiaan, menambah umur, dan melindungi dari kematian yang buruk].

وَحُكِيَ أَنَّ رَجُلًا كَانَ لَهُ شَجَرَةٌ عَظِيمَةٌ عِنْدَ بَيْتِهِ، فِيهَا أَفْرَاخُ الْوَرْشَانَةِ فَقَالَتْ لَهُ زَوْجَتُهُ: اصْعَدْ إِلَى تِلْكَ الشَّجَرَةِ، وَنَزِّلِ الْأَفْرَاخَ لِنُطْعِمَ بِهَا الْأَوْلَادَ، فَفَعَلَ ذَلِكَ فَشَكَتِ الْوَرْشَانَةُ إِلَى سَيِّدِنَا سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ،

Dan diceritakan bahwa seorang laki-laki memiliki pohon yang besar di dekat rumahnya, pada pohon itu ada anak-anak burung tekukur, maka istrinya berkata kepadanya: “Naiklah ke pohon itu, dan turunkanlah anak-anak burung itu agar kita bisa memberikannya makan kepada anak-anak kita.” Maka ia melakukan hal itu, lalu burung tekukur itu mengadu kepada tuanku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam,

وَقَصَّتْ عَلَيْهِ الْقِصَّةَ فَدَعَا سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِالرَّجُلِ، وَأَوْعَدَهُ بِالتَّوْبَةِ فَقَالَ الرَّجُلُ: مَا أَعُودُ إِلَى فِعْلِ ذَلِكَ أَبَدًا. فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ لِزَوْجِهَا مِثْلَ مَقَالَتِهَا الْأُولَى فَقَالَ الرَّجُلُ: لَا أَفْعَلُ ذَلِكَ، فَإِنَّ سَيِّدَنَا سُلَيْمَانَ نَهَانِي عَنْ ذَلِكَ.

dan burung tersebut menceritakan kisah itu kepadanya. Maka Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memanggil laki-laki itu, dan mengancamnya untuk bertaubat. Maka laki-laki itu berkata: “Aku tidak akan kembali melakukan perbuatan itu selamanya.” Lalu wanita itu berkata kepada suaminya seperti perkataannya yang pertama, maka laki-laki itu berkata: “Aku tidak akan melakukan itu, karena tuanku Sulaiman telah melarangku dari hal itu.”

فَقَالَتْ لَهُ: أَتَظُنُّ أَنَّ سُلَيْمَانَ يَتَفَرَّغُ لَكَ أَوْ لِلْوَرْشَانَةِ وَهُوَ مَشْغُولٌ بِمُلْكِهِ، وَلَمْ تَزَلْ كَذَلِكَ بِهِ حَتَّى صَعِدَ وَأَنْزَلَ الْأَفْرَاخَ، فَعَادَتِ الْوَرْشَانَةُ إِلَى سَيِّدِنَا سُلَيْمَانَ وَأَعْلَمَتْهُ بِذَلِكَ،

Maka wanita itu berkata kepadanya: “Apakah engkau mengira bahwa Sulaiman akan menyempatkan diri untukmu atau untuk burung tekukur itu, sedangkan ia sibuk dengan kerajaannya?” Dan wanita itu terus-menerus demikian dengannya hingga ia naik dan menurunkan anak-anak burung itu. Maka burung tekukur itu kembali kepada tuanku Nabi Sulaiman dan memberitahukan hal itu kepadanya,

فَغَضِبَ وَدَعَا بِشَيْطَانَيْنِ أَحَدُهُمَا مِنَ الْمَشْرِقِ وَالْآخَرُ مِنَ الْمَغْرِبِ وَقَالَ لَهُمَا: الْزَمَا الشَّجَرَةَ فَإِذَا عَادَ الرَّجُلُ إِلَى الْأَفْرَاخِ، فَخُذَا بِرِجْلَيْهِ وَأَلْقِيَاهُ مِنَ الشَّجَرَةِ، فَذَهَبَا يَلْزَمَانِ تِلْكَ الشَّجَرَةَ،

maka beliau marah dan memanggil dua setan, salah satunya dari timur dan yang lainnya dari barat, dan berkata kepada keduanya: “Tetaplah kalian berdua di pohon itu, maka apabila laki-laki itu kembali kepada anak-anak burung itu, maka peganglah oleh kalian berdua kedua kakinya dan lemparkanlah ia dari pohon itu.” Maka keduanya pergi dan tetap berada di pohon itu,

فَلَمَّا فَرَّخَتِ الْوَرْشَانَةُ عَمَدَ الرَّجُلُ أَنْ يَصْعَدَ إِلَيْهَا، وَوَضَعَ رِجْلَيْهِ عَلَيْهَا، وَإِذَا بِسَائِلٍ عَلَى الْبَابِ، فَأَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تُعْطِيَهُ شَيْئًا

Maka ketika burung tekukur itu telah menetaskan telurnya, laki-laki itu sengaja untuk naik ke pohon itu, dan ia meletakkan kedua kakinya di atasnya, dan tiba-tiba ada seorang peminta-minta di pintu, maka ia memerintahkan istrinya untuk memberinya sesuatu.

فَقَالَتْ لَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ فَرَجَعَ الرَّجُلُ، فَوَجَدَ لُقْمَةً فَدَفَعَهَا لِلسَّائِلِ، ثُمَّ صَعِدَ إِلَى تِلْكَ الشَّجَرَةِ، وَأَنْزَلَ الْأَفْرَاخَ فَرَجَعَتِ الْوَرْشَانَةُ إِلَى سَيِّدِنَا سُلَيْمَانَ، وَأَخْبَرَتْهُ بِذَلِكَ فَغَضِبَ غَضَبًا شَدِيدًا، وَدَعَا بِالشَّيْطَانَيْنِ فَقَالَ: عَصَيْتُمَانِي.

Maka istrinya berkata: “Aku tidak punya apa-apa.” Lalu laki-laki itu kembali, dan ia menemukan sesuap makanan, lalu ia memberikannya kepada peminta-minta itu, kemudian ia naik ke pohon itu, dan menurunkan anak-anak burung itu. Maka burung tekukur itu kembali kepada tuanku Nabi Sulaiman, dan memberitahukan hal itu kepadanya, maka beliau marah dengan sangat marah, dan memanggil kedua setan itu, lalu berkata: “Kalian berdua telah mendurhakaiku.”

فَقَالَا: مَا عَصَيْنَاكَ وَإِنَّا لَزِمْنَا تِلْكَ الشَّجَرَةَ، فَلَمَّا صَعِدَ الرَّجُلُ جَاءَ إِلَى بَابِهِ سَائِلٌ، فَأَعْطَاهُ لُقْمَةً مِنْ شَعِيرٍ، ثُمَّ عَادَ فَابْتَدَرْنَا إِلَيْهِ لِنَأْخُذَهُ

Maka keduanya berkata: “Kami tidak mendurhakaimu, dan sesungguhnya kami telah tetap berada di pohon itu. Ketika laki-laki itu naik, datanglah seorang peminta-minta ke pintunya, lalu ia memberinya sesuap gandum, kemudian ia kembali, lalu kami segera menghampirinya untuk menangkapnya,

إِذْ بَعَثَ اللّٰهُ مَلَكَيْنِ: أَخَذَ أَحَدُهُمَا بِعُنُقِي وَأَلْقَانِي فِي مَطْلَعِ الشَّمْسِ، وَأَخَذَ الْآخَرُ صَاحِبِي وَأَلْقَاهُ فِي مَغْرِبِ الشَّمْسِ،

tiba-tiba Allah mengutus dua malaikat: salah satunya memegang leherku dan melemparkanku ke tempat terbitnya matahari, dan yang lainnya memegang temanku dan melemparkannya ke tempat terbenamnya matahari.

وَهَذَا إِذَا كَانَتِ الصَّدَقَةُ مِنْ حَلَالٍ، وَأَمَّا إِذَا كَانَتْ مِنْ حَرَامٍ، فَلَا يُنْتِجُ إِلَّا عَذَابًا

Dan ini jika sedekah itu dari yang halal, adapun jika dari yang haram, maka tidak akan menghasilkan kecuali siksaan.

كَمَا رُوِيَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [إِنَّ فِي جَهَنَّمَ بَيْتًا يُسَمَّى بَيْتَ الْحُزْنِ أَعَدَّهُ اللّٰهُ لِمَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالٍ حَرَامٍ]

Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata: Telah bersabda Nabi ﷺ: [Sesungguhnya di neraka Jahannam ada sebuah rumah yang disebut rumah kesedihan, Allah menyiapkannya bagi orang yang bersedekah dari harta yang haram].

وَعَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: [مَا مِنْ عَبْدٍ وَلَا أَمَةٍ تَصَدَّقَا بِلُقْمَةٍ مِنْ حَرَامٍ عَلَى مِسْكِينٍ إِلَّا أَطْعَمَهُمَا اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْغِسْلِينِ،

Dan dari Al-Hasan Al-Bashri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: [Tidaklah seorang hamba laki-laki maupun perempuan bersedekah dengan sesuap makanan dari yang haram kepada seorang miskin, kecuali Allah akan memberinya makan pada hari kiamat dari ghislin,

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ وَمَا طَعَامُ الْغِسْلِينِ؟ قَالَ: طَعَامٌ خَلَقَهُ اللّٰهُ تَعَالَى مِنْ حَدِيدٍ يَابِسٍ، وَيُذَابُ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ حَتَّى يَصِيرَ كَالْمَاءِ،

Dikatakan: “Wahai Rasulullah, apakah makanan ghislin itu?” Beliau bersabda: “Makanan yang Allah Ta’ala ciptakan dari besi kering, dan dilelehkan dari api Jahannam hingga menjadi seperti air,

فَإِذَا أَكَلَ مِنْهُ ذَلِكَ الْإِنْسَانُ تَقَطَّعَتْ أَمْعَاؤُهُ، فَتَدْخُلُ اللُّقْمَةُ مِنْ فِيهِ، وَتَخْرُجُ مِنْ دُبُرِهِ وَتُنَادِيهِ الزَّبَانِيَةُ، هَذَا جَزَاءُ مَنْ كَانَ يَكْتَسِبُ الْحَرَامَ وَيَأْكُلُهُ، وَيَتَصَّدَّقُ مِنْهُ ذَلِكَ بِمَا كُنْتُمْ تَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ] اهـ.

maka apabila manusia itu memakannya, ususnya akan terpotong-potong, lalu suapan itu masuk dari mulutnya, dan keluar dari duburnya, dan para malaikat Zabaniyah menyerunya, ‘Ini adalah balasan bagi orang yang mencari kasab yang haram dan memakannya, dan bersedekah darinya, itu karena apa yang kalian cari di bumi tanpa hak dan karena apa yang kalian lakukan dari kefasikan.’”] Selesai.

Tinggalkan Komentar

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Komentar Anda akan ditampilkan secara publik 0/500 karakter

Komentar Pembaca

Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain

Memuat komentar...

Bookmark Saya

Daftar artikel yang Anda simpan

Belum ada artikel yang disimpan.