Terjemah Kitab Tanqihul Qoul Bab 18 | Keutamaan Salam
- Nama kitab
- Tanqihul Qoul
- Judul kitab Arab
- تنقيح القول الحثيث
- Judul terjemah
- Terjemah Kitab Tanqihul Qoul
- Mata Pelajaran
- Hadits, Keutamaan Amal
- Musonif
- Syekh Nawawi al-Bantani
- Nama Arab
- الشيخ محمد بن عمر النووي البنتني
- Lahir
- 813 Masehi; 1230 H, Tanara, Banten, Indonesia
- Wafat
- 1897 M; 1316 H, Pemakaman Ma'la Makkah Al-Mukarramah, w. 672 H / 22 Februari 1274 M
- Penerjemah
- Ahsan Dasuki
Tanqihul Qoul Bab ke
Image by ©
LILMUSLIMIIN
Bab 18: Keutamaan Salam
الْبَابُ الثَّامِنَ عَشَرَ: فِيْ فَضِيْلَةِ السَّلَامِ
Bab Kedelapan Belas: Tentang keutamaan salam.
Hukum Memulai Salam dan Redaksinya
قَالَ سَيِّدِيْ الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِيُّ: الْاِبْتِدَاءُ بِالسَّلَامِ سُنَّةٌ، وَرَدُّهُ آكَدُ مِنَ ابْتِدَائِهِ، وَهُوَ مُخَيَّرٌ فِيْ صِيْغَتِهِ إِمَّا أَنْ يُدْخِلَ الْأَلِفَ وَاللَّامَ فَيَقُوْلَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَوْ يَحْذِفَهُمَا فَيَقُوْلَ: سَلَامٌ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَلَا يَزِيْدُ عَلَى ذَلِكَ،
Sayyidina Syekh Abdul Qadir Al-Jilani berkata: Memulai dengan salam adalah sunnah, dan menjawabnya lebih ditekankan daripada memulainya, dan ia boleh memilih dalam redaksinya, baik memasukkan alif dan lam lalu berkata: “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”, atau menghilangkan keduanya lalu berkata: “Salamun ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”, dan tidak menambah lebih dari itu,
Adab Siapa yang Mendahului Salam
وَالسُّنَّةُ أَنْ يُسَلِّمَ الْمَاشِيْ عَلَى الْجَالِسِ، وَالرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِيْ وَسَلَامُ الْوَاحِدِ مِنَ الْجَمَاعَةِ عَلَى غَيْرِهِمْ يُجْزِئُ، وَكَذَلِكَ رَدُّ الْوَاحِدِ مِنَ الْجَمَاعَةِ يُجْزِئُ،
Dan sunnah bahwa yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, dan yang berkendara kepada yang berjalan, dan salamnya satu orang dari suatu kelompok kepada yang lain mencukupi, demikian pula jawaban satu orang dari suatu kelompok mencukupi,
Salam kepada Non-Muslim
وَلَا يَجُوْزُ الْبِدَاءَةُ بِالسَّلَامِ عَلَى الْمُشْرِكِ بِحَالٍ، فَإِنْ بَدَأَ مُشْرِكٌ رُدَّ عَلَيْهِ بِأَنْ يَقُوْلَ وَعَلَيْكَ، وَأَمَّا رَدُّهُ عَلَى الْمُسْلِمِ فَيَقُوْلُ: وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ كَمَا قَالَ وَإِنْ زَادَ إِلَى قَوْلِهِ وَبَرَكَاتُهُ كَانَ أَوْلَى،
Dan tidak boleh memulai dengan salam kepada orang musyrik dalam keadaan apapun, maka jika orang musyrik memulai, dijawab kepadanya dengan mengucapkan “wa ‘alaika”, adapun jawabannya kepada orang muslim maka ia berkata: “wa ‘alaikumus salam” sebagaimana ia mengucapkan, dan jika menambah sampai ucapannya “wa barakatuh” maka itu lebih utama,
Salam yang Bukan Redaksi Islam
وَإِنْ قَالَ مُسْلِمٌ لِمُسْلِمٍ سَلَامٌ لَمْ يُجِبْهُ وَيُعَرِّفُهُ أَنَّهُ لَيْسَ بِتَحِيَّةِ الْإِسْلَامِ، لِأَنَّهُ لَيْسَ بِكَلَامٍ تَامٍّ
Dan jika seorang muslim berkata kepada muslim lainnya dengan ucapan “salam”, ia tidak perlu menjawabnya dan hendaknya ia memberitahunya bahwa itu bukan penghormatan Islam, karena itu bukanlah perkataan yang sempurna
Salam kepada Wanita dan Anak
وَيُسْتَحَبُّ لِلنِّسَاءِ السَّلَامُ بَعْضُهُنَّ عَلَى بَعْضٍ، وَأَمَّا سَلَامُ الرَّجُلِ عَلَى الْمَرْأَةِ الشَّابَّةِ فَمَكْرُوْهٌ، وَإِنْ كَانَتْ بَرْزَةً فَلَا حَرَجَ، وَأَمَّا السَّلَامُ عَلَى الصِّبْيَانِ فَمُسْتَحَبٌّ، لِأَنَّ فِيْهِ تَعْلِيْمَ الْأَدَبِ لَهُمْ،
Dan disunnahkan bagi para wanita memberi salam sebagian mereka kepada sebagian yang lain, adapun salamnya seorang laki-laki kepada wanita muda maka itu makruh, dan jika ia wanita tua maka tidak ada dosa, adapun salam kepada anak-anak maka disunnahkan, karena sungguh di dalamnya terdapat pengajaran adab bagi mereka,
Salam Saat Berpindah dan Bertemu Kembali
وَكَذَلِكَ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ قَامَ مِنَ الْمَجْلِسِ أَنْ يُسَلِّمَ عَلَى أَهْلِهِ، وَكَذَلِكَ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ إِذَا عَادَ إِلَيْهِمْ وَكذَالِكَ إِنْ حَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ حَائِلٌ مِثْلُ الْبَابِ وَالْحَائِطِ
Dan demikian pula disunnahkan bagi orang yang bangkit dari majelis untuk memberi salam kepada ahli majlis, dan demikian pula disunnahkan memberi salam kepada mereka ketika ia kembali ke pada mereka, dan demikian pula disunnahkan memberi salam jika menghalangi di antara dirinya dan di antara mereka penghalang seperti pintu dan tembok
وَكَذَلِكَ إِذَا سَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ، ثُمَّ الْتَقَاهُ ثَانِيًا سَلَّمَ عَلَيْهِ،
dan demikian pula disunnahkan memberi salam jika ia memberi salam kepada seseorang, kemudian ia bertemu dengannya kedua kalinya, ia memberi salam kepadanya,
Salam kepada Ahli Maksiat
وَلَا يُسَلِّمُ عَلَى الْمُتَلَبِّسِيْنَ بِالْمَعَاصِيْ كَمَنْ اجْتَازَ عَلَى قَوْمٍ يَلْعَبُوْنَ بِالشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ،وَيَشْرَبُوْنَ الْخَمْرَ وَيَلْعَبُوْنَ بِالْجَوْزِ وَالْقِمَارِ،
Dan tidak memberi salam kepada orang-orang yang bergelimang dalam kemaksiatan seperti orang yang melewati suatu kaum yang bermain catur dan dadu, dan meminum khamr serta bermain dengan biji (jauz) dan perjudian,
Jabat Tangan dan Mencium
وَيُسْتَحَبُّ لِلْمُسْلِمِ الْمُصَافَحَةُ لِأَخِيْهِ، وَلَا يَنْزِعُ الْآخَرُ يَدَهُ إِذَا كَانَ هُوَ الْمُبْتَدِئَ، وَإِنْ تَعَانَقَا وَقَبَّلَ أَحَدُهُمَا رَأْسَ الْآخَرِ وَيَدَهُ عَلَى وَجْهِ التَّبَرُّكِ جَازَ، وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْفَمِ فَمَكْرُوْهٌ انْتَهَى.
Dan disunnahkan bagi seorang muslim berjabat tangan dengan saudaranya, dan janganlah yang lain menarik tangannya jika ia adalah yang memulai, dan jika keduanya berpelukan dan salah satunya mencium kepala yang lain dan tangannya dengan maksud tabarruk (mencari berkah) maka itu boleh, adapun mencium mulut maka itu makruh. Selesai.
Hadits-Hadits tentang Keutamaan Salam
Hadits 1: Salam Sebelum Berbicara
(وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: السَّلَامُ قَبْلَ الْكَلَامِ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ عَنْ جَابِرٍ، وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Salam itu sebelum berbicara) Imam Tirmidzi telah meriwayatkan hadits ini dari Jabir, dan itu adalah hadits shahih.
قَالَ الْعَزِيْزِيُّ يَحْتَمِلُ أَنَّ الْمَعْنَى يُنْدَبُ السَّلَامُ قَبْلَ الشُّرُوْعِ فِي الْكَلَامِ لِأَنَّهُ تَحِيَّةُ هَذِهِ الْأُمَّةِ، فَإِذَا شَرَعَ الْمُقْبِلُ فِي الْكَلَامِ فَاتَ مَحَلُّهُ. وَقَالَ النَّوَوِيُّ: وَالسُّنَّةُ أَنَّ الْمُسْلِمَ يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ قَبْلَ كُلِّ كَلَامٍ
Imam Al-‘Azizi berkata: kemungkinan maknanya adalah disunnahkan salam sebelum memulai berbicara karena bahwasannya itu adalah penghormatan umat ini, maka jika orang yang datang memulai berbicara maka hilanglah tempat salam. Dan Imam Nawawi berkata: dan sunnah bahwa seorang muslim memulai dengan salam sebelum setiap perkataan
Hadits 2: Jangan Menjawab yang Berbicara Sebelum Salam
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ بَدَأَ بِالْكَلَامِ قَبْلَ السَّلَامِ فَلَا تُجِيْبُوْهُ) فِيْهِ حَثٌّ عَلَى السَّلَامِ وَزَجْرٌ عَنْ تَرْكِهِ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Barangsiapa memulai dengan berbicara sebelum salam maka janganlah kalian menjawabnya) di dalamnya terdapat dorongan untuk salam dan larangan dari meninggalkannya. Imam Thabrani telah meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Umar bin Al-Khaththab
Hadits 3: Yang Memulai Salam Lebih Utama
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ بَدَأَ بِالسَّلَامِ) أَيْ عَلَى مَنْ لَقِيَهُ أَوْ قَدِمَ عَلَيْهِ (فَهُوَ أَوْلَى بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ) رَوَاهُ أَحْمَدُ عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Barangsiapa memulai dengan salam) yakni kepada orang yang ia jumpai atau yang datang kepadanya (maka ia lebih utama di sisi Allah dan Rasul-Nya) Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits ini dari Abu Umamah.
قَالَ الْعَزِيْزِيُّ: يَحْتَمِلُ أَنَّ الْمُرَادَ أَوْلَى بِأَمَانِ اللّٰهِ وَأَمَانِ رَسُوْلِهِ، أَيْ أَوْلَى لِأَنْ يُرَدَّ عَلَيْهِ مَنْ سَلَّمَ عَلَيْهِ وَيُؤَمِّنُهُ، لِأَنَّ السَّلَامَ مَعْنَاهُ الْأَمَانُ، فَيَجِبُ الرَّدُّ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ اهـ.
Imam Al-‘Azizi berkata: kemungkinan yang dimaksud adalah lebih berhak mendapatkan keamanan dari Allah dan keamanan dari Rasul-Nya, yakni lebih utama untuk dijawab pada orang yang telah memberi salam kepadanya dan ia memberi keamanan, karena salam maknanya adalah keamanan, maka wajib menjawabnya. Dan Allah lebih mengetahui. Selesai.
Hadits 4: Salam adalah Nama Allah yang Ditebarkan di Bumi
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: السَّلَامُ مِنْ أَسْمَاءِ اللّٰهِ تَعَالَى وَضَعَهُ اللّٰهُ فِي الْأَرْضِ فَأَفْشُوْهُ) بِقَطْعِ الْهَمْزَةِ، أَيْ أَظْهِرُوْهُ بَيْنَكُمْ أَنْ تُسَلِّمُوْا عَلَى كُلِّ مَا لَقِيْتُمُوْهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ مِمَّنْ يُشْرَعُ عَلَيْهِ السَّلَامُ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Salam adalah salah satu nama Allah Ta’ala, Allah meletakkannya di bumi maka tebarkanlah salam) lafadz أفشوه dengan memutus hamzah, yakni tampakkanlah salam di antara kalian yaitu kalian memberi salam kepada setiap muslim yang kalian jumpai dari orang-orang yang disyariatkan memberi salam kepadanya
Keutamaan Orang yang Memulai Salam
(فَإِنَّ الرَّجُلَ الْمُسْلِمَ إِذَا مَرَّ بِقَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ فَرَدُّوا عَلَيْهِ كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ فَضْلُ دَرَجَةٍ بِتَذْكِيْرِهِ إِيَّاهُمُ السَّلَامَ، فَإِنْ لَمْ يَرُدُّوا عَلَيْهِ رَدَّ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَأَطْيَبُ) رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ.
(Karena sesungguhnya seorang laki-laki muslim apabila melewati suatu kaum lalu memberi salam kepada mereka dan mereka menjawab kepadanya, maka ada baginya atas mereka keutamaan satu derajat karena ia mengingatkan mereka akan salam, maka jika mereka tidak menjawab kepadanya, maka yang menjawab adalah yang lebih baik dari mereka dan lebih wangi) Imam Al-Bazzar dan Imam Al-Baihaqi telah meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Mas’ud dan hadits ini adalah hadits shahih.
قَوْلُهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُمْ هُمُ الْمَلَائِكَةُ الْكِرَامُ فَخَوَاصُّ الْمَلَائِكَةِ أَفْضَلُ مِنْ عَوَامِّ الْبَشَرِ، وَفِي الْحَدِيْثِ أَنَّ بَدْءَ السَّلَامِ، وَإِنْ كَانَ سُنَّةً أَفْضَلُ مِنْ جَوَابِهِ، وَإِنْ كَانَ وَاجِبًا كَذَا أَفَادَهُ الْعَزِيْزِيُّ
Sabda Nabi “yang lebih baik dari mereka” yaitu para malaikat yang mulia, maka malaikat khusus lebih utama daripada manusia awam, dan di dalam hadits ini bahwa memulai salam, meskipun sunnah, lebih utama daripada jawabannya, meskipun jawaban itu wajib. Demikianlah yang telah dijelaskan oleh Imam Al-‘Azizi
Hadits 5: Yang Paling Utama Memulai Salam
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللّٰهِ) أَيْ بِرَحْمَتِهِ وَكَرَامَتِهِ (مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلَامِ) أَيْ عِنْدَ الْمُلَاقَاةِ وَالْمُفَارَقَةِ، لِأَنَّهُ السَّابِقُ إِلَى ذِكْرِ اللّٰهِ وَمُذَكِّرِهِمْ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya manusia yang paling utama di sisi Allah) yakni dengan rahmat dan kemuliaan-Nya (adalah orang yang memulai salam kepada mereka) yakni ketika bertemu dan ketika berpisah, karena sesungguhnya dialah yang lebih dahulu menyebut Allah dan mengingatkan mereka. Imam Abu Dawud telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidina Abu Umamah, dan hadits ini adalah hadits shahih.
Hadits 6: Puncak Tawadhu adalah Memulai Salam
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَأْسُ التَّوَاضُعِ الْاِبْتِدَاءُ بِالسَّلَامِ) قَالَ النَّوَوِيُّ: الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَيْسَ بِمَشْهُورٍ بِفِسْقٍ وَلَا بِدْعَةٍ يُسَلِّمُ وَيُسَلَّمُ عَلَيْهِ، فَيُسَنُّ لَهُ السَّلَامُ وَيَجِبُ الرَّدُّ عَلَيْهِ،
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Puncak tawadhu adalah memulai salam.) Imam Nawawi berkata: Seorang lelaki muslim yang tidak terkenal dengan kefasikan dan kebid’ahan, ia memberi salam dan diberi salam kepadanya, maka disunnahkan baginya memberi salam dan wajib menjawab salamnya.
وَأَمَّا الْمُبْتَدِعُ وَمَنِ اقْتَرَفَ ذَنْبًا عَظِيمًا وَلَمْ يَتُبْ مِنْهُ، فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَلَا يُرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَذَا قَالَهُ الْبُخَارِيُّ وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ اهـ.
Adapun ahli bid’ah dan orang yang melakukan dosa besar lalu tidak bertaubat darinya, maka sebaiknya tidak diberi salam kepadanya dan tidak dijawab salamnya. Demikianlah telah berkata tentangnya Imam Bukhari dan ulama lainnya. Selesai.
Hukum Hijrah dan Salam kepada Ahli Bid’ah
وَقَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ: وَلَا يَهْجُرُ الْمُسْلِمُ أَخَاهُ فَوْقَ الثَّلَاثِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالضَّلَالِ وَالْمَعَاصِي، فَمُسْتَحَبٌّ اسْتِدَامَةُ الْهَجْرِ لَهُمْ وَبِالسَّلَامِ يَتَخَلَّصُ مِنْ إِثْمِ الْهَجْرِ لِلْمُسْلِمِ اهـ.
Dan Sayyidina Syekh Abdul Qadir berkata: Dan seorang muslim tidak boleh menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari, kecuali jika ia termasuk ahli bid’ah, kesesatan, dan kemaksiatan, maka disunnahkan untuk terus menjauhinya. Dan dengan memberi salam, seseorang terbebas dari dosa menjauhi seorang muslim. Selesai.
Hadits 7: Yang Memulai Salam Lebih Dekat kepada Allah
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ أَقْرَبُهُمَا إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى مَنْ بَدَأَ بِالسَّلَامِ) وَفِي رِوَايَةٍ لِأَبِي دَاوُدَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ [إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ فَتَصَافَحَا، وَحَمِدَا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَا غُفِرَ لَهُمَا] وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ،
(Dan Nabi ﷺ bersabda: “Apabila dua orang muslim bertemu, maka yang paling dekat di antara keduanya kepada Allah Ta’ala adalah yang memulai salam.”) Dan dalam riwayat Imam Abu Dawud dari Sayyidina Al-Bara’ bin ‘Azib: [“Apabila dua orang muslim bertemu lalu keduanya berjabat tangan, memuji Allah, dan memohon ampun kepada Allah, maka diampuni dosa keduanya.”] Dan ini adalah hadits hasan.
Cakupan Kata “Dua Muslim” dan Pengecualian Jabat Tangan
وَقَوْلُهُ الْمُسْلِمَانِ يَشْمَلُ الذَّكَرَيْنِ وَالْأُنْثَيَيْنِ، وَالذَّكَرَ وَمَحْرَمَهُ وَحَلِيلَتَهُ، وَيُسْتَثْنَى مِنْ هَذَا الْحُكْمِ الْأَمْرَدُ الْجَمِيلُ الْوَجْهِ، فَتَحْرُمُ مُصَافَحَتُهُ وَمَنْ بِهِ عَاهَةٌ كَالْأَبْرَصِ وَالْأَجْذَمِ، فَتُكْرَهُ مُصَافَحَتُهُ،
Dan sabda Nabi “dua orang muslim” mencakup dua lelaki dan dua perempuan, serta lelaki dengan mahramnya dan istrinya. Dan dikecualikan dari hukum ini adalah pemuda tampan yang belum berjenggot (amrad), maka haram berjabat tangan dengannya; dan orang yang memiliki penyakit seperti penderita kusta dan lepra, maka dimakruhkan berjabat tangan dengannya.
Hadits: Pahala Bersalaman
وَفِي رِوَايَةِ الْحَكِيمِ التِّرْمِذِيِّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ [إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ، فَسَلَّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ كَانَ أَحَبُّهُمَا إِلَى اللّٰهِ أَحْسَنَهُمَا بِشْرًا بِصَاحِبِهِ، فَإِذَا تَصَافَحَا أَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا مِائَةَ رَحْمَةٍ لِلْبَادِي تِسْعُونَ، وَلِلْمُصَافِحِ عَشَرَةٌ.]
Dan dalam riwayat Imam Al-Hakim At-Tirmidzi dari Sayyidina Ibnu Umar: [“Apabila dua orang muslim bertemu, lalu salah satunya memberi salam kepada sahabatnya, maka yang paling dicintai Allah di antara keduanya adalah yang paling baik berseri seri (keramahannya) kepada sahabatnya. Apabila keduanya berjabat tangan, Allah menurunkan kepada keduanya seratus rahmat; bagi yang memulai sembilan puluh, dan bagi yang berjabat tangan sepuluh.”]
قَوْلُهُ بِشْرًا بِكَسْرِ الْمُوَحَّدَةِ، أَيْ طَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَبَشَاشَتُهُ. قَوْلُهُ لِلْبَادِي تِسْعُونَ، أَيْ الْبَادِئُ بِالسَّلَامِ وَالْمُصَافَحَةِ تِسْعُونَ. قَوْلُهُ وَلِلْمُصَافِحِ عَشَرَةٌ بِفَتْحِ الْفَاءِ، وَفِي ذَلِكَ أَنَّ الْمَنْدُوبَ قَدْ يُفَضِّلُ الْوَاجِبَ
Sabda Nabi “بِشْرًا” dengan kasrah pada huruf ba’ (muwahhadah), yakni kecerahan wajah dan keramahannya. Sabda Nabi “bagi yang memulai sembilan puluh”, yakni yang memulai salam dan jabat tangan mendapat sembilan puluh. Sabda Nabi “dan bagi yang berjabat tangan sepuluh” dengan fathah pada huruf fa’, dan di dalamnya terkandung bahwa perkara yang disunnahkan kadang melebihi perkara yang wajib.
Catatan
1.
Maksud perkara yang disunnahkan terkadang melebihi perkara wajib adalah seperti memulai salam dan berjabat tangan hukumnya sunnah tapi mendapatkan sembilan puluh, sedangkan menjawab salam dan menerima jabat tangan hukumnya wajib namun hanya mendapat sepuluh.
Hadits 8: Salam Saat Masuk dan Keluar Majelis
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا دَخَلْتُمْ فِي مَجْلِسٍ فَسَلِّمُوْا وَإِذَا خَرَجْتُمْ فَسَلِّمُوْا) أَيْ فَيُنْدَبُ السَّلَامُ عِنْدَ مُلَاقَاةِ الْمُسْلِمِ، وَعِنْدَ مُفَارَقَتِهِ بَذْلًا لِلْأَمَانِ، وَإِقَامَةً لِشَعَائِرِ أَهْلِ الْإِيمَانِ. كَذَا قَالَهُ الْعَزِيزِيُّ.
(Dan Nabi ﷺ bersabda: “Apabila kalian masuk ke dalam suatu majelis, maka ucapkanlah salam; dan apabila kalian keluar, maka ucapkanlah salam.”) Yakni disunnahkan memberi salam ketika bertemu dengan seorang muslim dan ketika berpisah dengannya, sebagai pemberian rasa aman dan penegakan syiar-syiar ahli iman. Demikian yang dikatakan oleh Imam Al-‘Azizi.
Salam Saat Masuk Rumah dan Masjid yang Kosong
وَقَالَ النَّوَوِيُّ: يُسْتَحَبُّ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ أَنْ يُسَلِّمَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ أَحَدٌ، وَلْيَقُلِ السَّلَامُ عَلَيْنَا، وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِينَ،
Dan Imam Nawawi berkata: Disunnahkan apabila seseorang masuk ke rumahnya untuk mengucapkan salam, meskipun tidak ada seorang pun di dalamnya, dan hendaklah ia mengucapkan: “السَّلَامُ عَلَيْنَا، وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِينَ”.
وَكَذَا إِذَا دَخَلَ مَسْجِدًا أَوْ بَيْتًا لِغَيْرِهِ لَيْسَ فِيهِ أَحَدٌ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُسَلِّمَ، وَأَنْ يَقُولَ: السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِينَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ،
Demikian pula apabila ia masuk ke masjid atau rumah milik orang lain yang tidak ada seorang pun di dalamnya, disunnahkan untuk mengucapkan salam dan hendaknya ia mengucapkan: “السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِينَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ”.
Adab bagi yang Salutnya Tidak Dijawab
وَيُسْتَحَبُّ لِمَنْ سَلَّمَ عَلَى إِنْسَانٍ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ أَنْ يَقُولَ لَهُ بِعِبَارَةٍ لَطِيفَةٍ رَدُّ السَّلَامِ وَاجِبٌ، فَيَنْبَغِي لَكَ أَنْ تَرُدَّ عَلَيَّ يَسْقُطُ عَنْكَ الْفَرْضُ، وَاللّٰهُ أَعْلَمُ.
Dan disunnahkan bagi orang yang memberi salam kepada seseorang lalu orang itu tidak menjawab kepadanya, hendaknya ia mengatakan kepadanya dengan ungkapan yang lembut: “Menjawab salam itu wajib, maka sebaiknya engkau menjawab salam kepadaku agar kewajiban gugur darimu.” Wallahu A’lam
Hadits Dhaif: Salam Saat Masuk dan Keluar Rumah
وَفِي رِوَايَةِ الْبَيْهَقِيِّ عَنْ قَتَادَةَ [إِذَا دَخَلْتُمْ بَيْتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهِ، فَإِذَا خَرَجْتُمْ فَأَوْدِعُوا قَبْلَهُ بِالسَّلَامِ،] وَهَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ، أَيْ إِذَا وَصَلَ أَحَدٌ إِلَى مَحَلٍّ فِيهِ مُسْلِمُونَ، فَسَلِّمُوْا فَالتَّعْبِيْرُ بِالدُّخُولِ وَبِالْبَيْتِ وَبِالْجَمْعِ غَالِبِيٌ
Dan dalam riwayat Imam Al-Baihaqi dari Qatadah: [“Apabila kalian masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam kepada penghuninya dan apabila kalian keluar, maka titipkanlah sebelumnya dengan salam.”] Dan ini adalah hadits dhaif, yakni apabila seseorang sampai ke suatu tempat yang di dalamnya terdapat orang-orang muslim, maka ucapkanlah salam. maka ungkapan dengan masuk, dengan rumah dan dengan jamak itu secara umum .
Hadits 9: Orang Paling Bakhil adalah yang Bakhil dengan Salam
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلَامِ) وَقَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي تَنْبِيهِ الْأَخْيَارِ، وَيَحْرِصُ أَنْ يُسَلِّمَ فِي كُلِّ يَوْمٍ عَلَى عَشَرَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَنْ يَكُونَ هُوَ الْمُبْتَدِئَ، فَإِنَّهُ أَفْضَلُ مِنَ الرَّدِّ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: “Orang yang paling bakhil di antara manusia adalah orang yang bakhil dengan salam.”) Dan Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tanbih Al-Akhyar: Dan hendaklah ia bersemangat untuk memberi salam setiap hari kepada sepuluh orang muslim dan hendaklah terbukti ia yang memulai, karena itu lebih utama daripada menjawab.
وَصِيغَتُهُ الْكَامِلَةُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، وَلَوْ لِوَاحِدٍ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَيُرِيْدُ الرَّادُّ وَمَغْفِرَتُهُ وَرِضْوَانُهُ،
Dan bentuk salam yang sempurna adalah “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ” meskipun kepada satu orang, beserta وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ dan orang yang menjawab menambahkan “وَمَغْفِرَتُهُ وَرِضْوَانُهُ”
Praktik Salam Nabi kepada Anak-Anak
وَمَرَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى صِبْيَانٍ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا صِبْيَانُ وَفِي الْحَدِيثِ [إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ فَتَصَافَحَا، وَحَمِدَا اللّٰهَ وَصَلَّيَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتَغْفَرَا وَضَحِكَ كُلٌّ مِنْهُمَا فِي وَجْهِ صَاحِبِهِ غُفِرَ اللّٰهُ لَهُمَا، وَنَزَلَ عَلَيْهِمَا مِائَةُ رَحْمَةٍ لِلْبَادِي تِسْعُونَ، وَلِلْمُصَافِحِ عَشَرَةٌ] وَيُقَدَّمُ السَّلَامُ عَلَى الْمُصَافَحَةِ اهـ.
Dan Nabi ﷺ melewati anak-anak kecil lalu bersabda: “Semoga keselamatan atas kalian, wahai anak-anak.” Dan dalam hadits: [“Apabila dua orang muslim bertemu lalu keduanya berjabat tangan, memuji Allah, bershalawat kepada Nabi ﷺ, memohon ampun, dan masing-masing dari keduanya tersenyum kepada wajah sahabatnya, maka Allah mengampuni keduanya, dan diturunkan kepada keduanya seratus rahmat, bagi yang memulai sembilan puluh, dan bagi yang berjabat tangan sepuluh”.] Dan salam didahulukan sebelum jabat tangan. Selesai.
Hadits 10: Salam adalah Penghormatan Millah Kita dan Keamanan Dzimmah Kita
(وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: السَّلَامُ تَحِيَّةٌ لِمِلَّتِنَا) أَيْ سَبَبٌ لِبَقَاءِ الْأُلْفَةِ بَيْنَ أَهْلِهَا (وَأَمَانٌ لِذِمَّتِنَا) فَإِذَا سَلَّمَ الْمُسْلِمُ عَلَى الْمُسْلِمِ اطْمَأَنَّ وَزَالَ رَوْعُهُ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: “Salam adalah penghormatan bagi agama kita”) yakni sebab bagi kelestarian keakraban di antara ahlinya (dan keamanan bagi tanggungan kita.) Apabila seorang muslim memberi salam kepada muslim lainnya, Maka ia menjadi tenang dan hilanglah rasa takutnya.
Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Keutamaan Salam
Ayat: Menjawab Salam dengan yang Lebih Baik
(قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا﴾)
(Allah Ta’ala berfirman: ﴾“Dan apabila kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka hormatilah dengan yang lebih baik darinya atau kembalikanlah.”﴿)
Hadits: Tingkatan Pahala Salam
وَرَوَى أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ قَالَ: [جَاءَ رَجُلٌ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَرَدَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَشْرٌ]
Dan Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidina Imran bin Al-Hushain, ia berkata: [Seorang lelaki badui datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ” Maka Nabi menjawab kepadanya, kemudian ia duduk, lalu Nabi ﷺ bersabda: “Sepuluh.”
ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عِشْرُونَ.
Kemudian datanglah lelaki lain lalu berkata: “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ” Maka Nabi menjawab kepadanya, lalu ia duduk, lalu Nabi ﷺ bersabda: “Dua puluh.”
ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ثَلَاثُونَ»] أَيْ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً،
Kemudian datang lelaki lain lalu berkata: “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ” Maka beliau menjawab kepadanya, lalu ia duduk, lalu Nabi ﷺ bersabda: “Tiga puluh,”] yakni tiga puluh kebaikan.
Tambahan Redaksi Salam dan Pahalanya
وَفِي رِوَايَةٍ لِأَبِي دَاوُدَ مِنْ رِوَايَةِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ زِيَادَةٌ عَلَى هَذَا قَالَ: [ثُمَّ أَتَى آخَرُ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَمَغْفِرَتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَقَالَ: أَرْبَعُونَ وَقَالَ: هَكَذَا تَكُونُ الْفَضَائِلُ]
Dan dalam riwayat Imam Abu Dawud dari riwayat Mu’adz bin Anas terdapat tambahan atas ini, ia berkata: [Kemudian datang lelaki lain lalu berkata: “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَمَغْفِرَتُهُ” Maka Nabi menjawab kepadanya lalu bersabda: “Empat puluh.” Dan beliau bersabda: “Demikianlah keutamaan-keutamaan itu.”]
Riwayat Dhaif: Jawaban Salam Nabi yang Lebih Panjang
وَفِي كِتَابِ ابْنِ السُّنِّيِّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: [كَانَ رَجُلٌ يَمُرُّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْعَى دَوَابَّ أَصْحَابِهِ، فَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ فَيَقُولُ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ وَمَغْفِرَاتُهُ وَرِضْوَانُهُ
Dan dalam kitab Ibnu As-Sunni dengan sanad yang dhaif dari Sayyidina Anas, ia berkata: [Ada seorang lelaki yang melewati Nabi ﷺ yang sedang menggembalakan hewan-hewan tunggangan para sahabatnya, lalu ia berkata: “السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ” Maka Nabi ﷺ menjawab kepadanya: “وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ وَمَغْفِرَاتُهُ وَرِضْوَانُهُ”.
فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ تُسَلِّمُ عَلَى هَذَا سَلَامًا مَا تُسَلِّمُهُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِكَ؟ قَالَ: وَمَا يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ وَهُوَ يَنْصَرِفُ بِأَجْرِ بِضْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا] كَذَا فِي الْأَذْكَارِ لِلنَّوَوِيِّ وَالْغُنْيَةِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيِّ.
”Lalu dikatakan: “Wahai Rasulullah, engkau memberi salam kepada orang ini dengan salam yang tidak engkau berikan salam tersebut kepada seorang pun dari sahabat-sahabatmu?” Nabi bersabda: “Dan apa yang menghalangiku dari itu, sedangkan ia pergi dengan pahala belasan orang?”] Demikian dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi dan kitab Al-Ghunyah karya Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.
Catatan
1.
kata بِضْعَةَ عَشَرَ digunakan untuk menunjukkan bilangan bertingkat belasan yang nilainya berada di kisaran 13 hingga 19
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!