Terjemah Kitab Tanqihul Qoul Bab 19 | Keutamaan Doa
- Nama kitab
- Tanqihul Qoul
- Judul kitab Arab
- تنقيح القول الحثيث
- Judul terjemah
- Terjemah Kitab Tanqihul Qoul
- Mata Pelajaran
- Hadits, Keutamaan Amal
- Musonif
- Syekh Nawawi al-Bantani
- Nama Arab
- الشيخ محمد بن عمر النووي البنتني
- Lahir
- 813 Masehi; 1230 H, Tanara, Banten, Indonesia
- Wafat
- 1897 M; 1316 H, Pemakaman Ma'la Makkah Al-Mukarramah, w. 672 H / 22 Februari 1274 M
- Penerjemah
- Ahsan Dasuki
Tanqihul Qoul Bab ke
Image by ©
LILMUSLIMIIN
Bab 19: Keutamaan Doa
الْبَابُ التَّاسِعَ عَشَرَ: فِي فَضِيْلَةِ الدُّعَاءِ
Bab kesembilan belas: tentang keutamaan doa.
قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ: لَا يَنْبَغِيْ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُوْمِ أَنْ يَخْرُجَا مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْ غَيْرِ دُعَاءٍ
Tuanku Syekh Abdul Qadir berkata: Tidak sepatutnya bagi imam dan makmum keluar dari masjid tanpa doa.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ﴾ [الإنشراح: ٨-٧] أَيْ إِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْعِبَادَةِ فَانْصَبْ فِي الدُّعَاءِ، وَارْغَبْ فِيْمَا عِنْدَ اللّٰهِ، وَاطْلُبْهُ مِنْهُ
Allah Ta’ala berfirman: ﴾Maka apabila engkau telah selesai (dari ibadah) maka tegaklah dan hanya kepada Tuhanmu maka berharaplah{﴿ [Al Insyirah: 7-8] yakni apabila engkau telah selesai dari ibadah maka tegaklah dalam berdoa, dan berharaplah pada apa yang ada di sisi Allah, dan mintalah kepada-Nya.
Hadits Anas bin Malik: Turunnya Rahmat dan Keuntungan Orang yang Berdoa
وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيْثِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: [إِذَا قَامَ الْإِمَامُ فِي مِحْرَابِهِ وَتَوَاتَرَتِ الصُّفُوْفُ نَزَلَتِ الرَّحْمَةُ، فَأَوَّلُ ذٰلِكَ تُصِيْبُ الْإِمَامَ ثُمَّ مَنْ عَنْ يَمِيْنِهِ، ثُمَّ مَنْ عَنْ يَسَارِهِ، ثُمَّ تَتَفَرَّقُ الرَّحْمَةُ عَلَى الْجَمَاعَةِ،
Dan sungguh telah datang dalam hadits dari Sayyidina Anas bin Malik dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: [“Apabila imam berdiri di mihrabnya dan shaf-shaf telah berderet, niscaya turunlah rahmat, maka awal dari rahmat tersebut itu menimpa imam kemudian orang yang di sebelah kanannya, kemudian orang yang di sebelah kirinya, kemudian rahmat itu menyebar kepada jamaah,”
ثُمَّ يُنَادِيْ مَلَكٌ رَبِحَ فُلَانٌ وَخَسِرَ فُلَانٌ فَالرَّابِحُ مَنْ يَرْفَعُ يَدَيْهِ بِالدُّعَاءِ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى إِذَا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ الْمَكْتُوْبَةِ، وَالْخَاسِرُ الَّذِيْ خَرَجَ مِنَ الْمَسْجِدِ بِلَا دُعَاءٍ،
Kemudian seorang malaikat menyeru: beruntunglah si fulan dan merugilah si fulan. Maka orang yang beruntung adalah orang yang mengangkat kedua tangannya dengan berdoa kepada Allah Ta’ala apabila telah selesai dari shalat wajibnya, dan orang yang merugi adalah orang yang keluar dari masjid tanpa doa,
فَإِذَا خَرَجَ بِلَا دُعَاءٍ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: يَا فُلَانُ اسْتَغْنَيْتَ عَنِ اللّٰهِ تَعَالَى مَا لَكَ عِنْدَ اللّٰهِ حَاجَةٌ] انْتَهَى
Maka apabila ia keluar tanpa doa, para malaikat berkata: Wahai fulan, engkau telah merasa cukup dari Allah Ta’ala, apakah tidak ada bagimu kebutuhan di sisi Allah.”] Selesai.
Hadits 1: Doa adalah Inti Ibadah
(وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ) أَيْ خَالِصُهَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ عَنْ أَنَسٍ، وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Doa adalah inti ibadah) yakni kemurnian ibadah. Imam Tirmidzi telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidina Anas, dan ia adalah hadits shahih.
وَإِنَّمَا كَانَ مُخَّهَا لِأَمْرَيْنِ:
Dan doa menjadi inti ibadah hanyalah karena dua perkara:
أَحَدُهُمَا أَنَّهُ امْتِثَالُ أَمْرِ اللّٰهِ تَعَالَى حَيْثُ قَالَ ﴿ادْعُوْنِي﴾ فَهُوَ مُخُّ الْعِبَادَةِ وَخَالِصُهَا،
Salah satunya adalah bahwa doa merupakan pelaksanaan perintah Allah Ta’ala sebagaimana Allah berfirman: ﴾“Berdoalah kepada-Ku”﴿ maka doa adalah inti ibadah dan kemurniannya.
وَالثَّانِيْ أَنَّهُ إِذَا رَأَى نَجَاحَ الْأُمُوْرِ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى قَطَعَ أَمَلَهُ عَمَّنْ سِوَاهُ، وَدَعَاهُ لِحَاجَتِهِ وَحْدَهُ، وَهٰذَا هُوَ أَصْلُ الْعِبَادَةِ، وَلِأَنَّ الْغَرَضَ مِنَ الْعِبَادَةِ الثَّوَابُ عَلَيْهَا، وَهُوَ الْمَطْلُوْبُ بِالدُّعَاءِ
Dan yang kedua adalah bahwa apabila ia melihat keberhasilan segala urusan berasal dari Allah Ta’ala, maka ia memutus harapannya dari selain Allah, dan ia berdoa kepada Allah untuk kebutuhannya semata, dan inilah pokok ibadah, Dan karena sesungguhnya tujuan dari ibadah adalah mendapatkan pahala atasnya, dan pahala itulah yang dicari dengan doa.
وَقَالَ الْحَكِيْمُ: إِنَّمَا صَارَ مُخًّا لِأَنَّهُ تَبَرِّي مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ، وَاعْتِرَافٌ بِأَنَّ الْأَشْيَاءَ كُلَّهَا لَهُ تَعَالَى، وَتَسْلِيْمٌ إِلَيْهِ
Dan Imam Al-Hakim berkata: Doa menjadi inti hanyalah karena doa itu berlepas diri dari daya dan kekuatan, dan pengakuan bahwa segala sesuatu seluruhnya milik Allah Ta’ala, dan berserah diri kepada-Nya.
Adab Berdoa Menurut Syaikh Abdul Qadir
قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ: وَالْأَدَبُ فِي الدُّعَاءِ أَنْ يَمُدَّ يَدَيْهِ، وَيَحْمَدَ اللّٰهَ تَعَالَى، وَيُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ يَسْأَلَ حَاجَتَهُ وَلَا يَنْظُرَ إِلَى السَّمَاءِ فِي حَالِ دُعَائِهِ،
Tuanku Syekh Abdul Qadir berkata: Dan adab dalam berdoa adalah hendaknya ia memanjangkan kedua tangannya, dan memuji Allah Ta’ala, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ, kemudian meminta kebutuhannya, dan hendaknya ia tidak melihat ke langit dalam keadaan berdoanya,
وَإِذَا فَرَغَ مَسَحَ يَدَيْهِ عَلَى وَجْهِهِ لِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: [سَلُوا اللّٰهَ بِبُطُوْنِ أَكُفِّكُمْ] اهـ.
Dan apabila telah selesai, hendaknya ia mengusap kedua tangannya pada wajahnya karena hadits yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa Nabi bersabda: [“Mintalah kepada Allah dengan bagian dalam telapak tangan kalian.”] Selesai.
Hadits 2: Allah Mencintai Orang yang Mendesak dalam Berdoa
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى يُحِبُّ الْمُلِحِّيْنَ فِي الدُّعَاءِ) أَيِ الْمُلَازِمِيْنَ لَهُ بِإِخْلَاصٍ وَصِدْقِ نِيَّةٍ رَوَاهُ الْحَكِيْمُ وَابْنُ عَدِيٍّ وَالْبَيْهَقِيُّ عَنْ عَائِشَةَ، وَهُوَ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ.
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang mendesak dalam berdoa) yakni orang-orang yang senantiasa melazimkan doa dengan keikhlasan dan kebenaran niat. Imam Hakim, Ibnu Adi, dan Imam Baihaqi telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidatina Aisyah, dan hadits ini adalah hadits dhaif.
وَفِي لَفْظٍ [يُحِبُّ اللَّحَاحَ فِي الدُّعَاءِ] أَيِ الْمُقْبِلَ عَلَيْهِ وَالْمُوَاظِبَ عَلَيْهِ،
Dan dalam suatu lafazh: [mencintai desakan dalam doa] yakni orang yang menghadap atas doa dan senantiasa menetapi doa.
وَفِي الْإِحْيَاءِ قَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [إِنَّ الْعَبْدَ لَا يُخْطِئُهُ مِنَ الدُّعَاءِ إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا ذَنْبٌ يُغْفَرُ لَهُ، وَإِمَّا خَيْرٌ يُعَجَّلُ لَهُ، وَإِمَّا خَيْرٌ يُدَّخَرُ لَهُ].
Dan dalam kitab Al-Ihya, Nabi ﷺ bersabda: [“Sesungguhnya seorang hamba tidak akan menyalahi padanya dari doa salah satu dari tiga perkara: adakalanya dosa yang diampuni baginya, atau adakalanya kebaikan yang disegerakan baginya, atau adakalanya kebaikan yang disimpan baginya.”]
وَقَالَ أَبُوْ ذَرٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: يَكْفِيْ مِنَ الدُّعَاءِ مَعَ الْبِرِّ مَا يَكْفِيْ الطَّعَامُ مِنَ الْمِلْحِ انْتَهَى.
Dan Sayyidina Abu Dzar Radhiallahu Anhu berkata: Cukuplah dari doa beserta kebaikan sebagaimana cukupnya makanan dengan garam. Selesai.
Hadits 3: Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Mulia di Sisi Allah daripada Doa
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ) بِالنَّصْبِ خَبَرُ لَيْسَ (عَلَى اللّٰهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ) لِدَلَالَتِهِ عَلَى اعْتِرَافِ الدَّاعِيْ بِالْعَجْزِ وَالِافْتِقَارِ إِلَى رَبِّهِ وَالذُّلِّ وَالْإِنْكَارِ رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَأَسَانِيْدُهُ صَحِيْحَةٌ.
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Tidak ada sesuatu yang lebih mulia) dengan nashab sebagai khabar dari laisa (di sisi Allah Ta’ala daripada doa) karena doa menunjukkan atas pengakuan orang yang berdoa akan kelemahan dan kefakiran kepada Tuhannya, serta kerendahan dan ketundukan. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Tirmidzi, dan Imam Nasai telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidina Abu Hurairah, dan sanad-sanadnya shahih.
وَفِي الْإِحْيَاءِ قَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [سَلُوا اللّٰهَ تَعَالَى مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهُ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَأَفْضَلُ الْعِبَادَةِ انْتِظَارُ الْفَرَجِ].
Dan dalam kitab Al-Ihya, Nabi ﷺ bersabda: [“Mintalah kepada Allah Ta’ala dari karunia-Nya, karena sesungguhnya Allah Ta’ala itu mencintai untuk dimintai, dan sebaik-baik ibadah adalah menunggu kelapangan.”]
Hadits 4: Aku Sesuai Prasangka Hamba-Ku dan Aku Bersamanya Jika Ia Berdoa
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللّٰهُ تَعَالَى يَا عَبْدِي أَنَا عِنْدَ ظَنِّكَ) أَيْ إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ مُقْتَضَى ظَنِّهِ، وَإِنْ ظَنَّ بِي شَرًّا بِأَنْ ظَنَّ أَنِّي أَفْعَلُ بِهِ شَرًّا فَلَهُ مَا ظَنَّ.
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, Aku sesuai prasangkamu”) yakni jika ia berprasangka baik kepada-Ku maka baginya sesuai tuntutan prasangkanya, dan jika ia berprasangka buruk kepada-Ku dengan menyangka bahwa Aku akan berbuat buruk kepadanya maka baginya sesuai apa yang ia sangka.
(وَأَنَا مَعَكَ) أَيْ بِالتَّوْفِيقِ (إِذَا دَعَوْتَنِي) فَأَسْمَعُ مَا تَقُولُ فَأُجِيبُكَ،
(Dan Aku bersamamu) yakni dengan taufiq (apabila engkau berdoa kepada-Ku) maka Aku mendengar apa yang engkau ucapkan lalu Aku mengabulkanmu.
وَفِي رِوَايَةِ الْعَسْكَرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: [مَنْ لَا يَدْعُونِي أَغْضَبُ عَلَيْهِ] بِإِثْبَاتِ حَرْفِ الْعِلَّةِ فِي يَدْعُونِي، فَيَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ لَا يَغْفُلَ عَنِ الطَّلَبِ مِنْ رَبِّهِ كَذَا أَفَادَهُ الْعَزِيزِيُّ
Dan dalam riwayat Imam Al-Askari dari Sayyidina Abu Hurairah dengan sanad hasan, Allah Ta’ala berfirman: [“Barang siapa yang tidak berdoa kepada-Ku, niscaya Aku murka kepadanya”] dengan menetapkan huruf illat pada lafadz “يَدْعُونِي”. Maka sepatutnya manusia tidak lalai dari meminta kepada Tuhannya. Demikianlah Imam Al-Azizi telah menjelaskan tentangnya.
Hadits 5: Siapa yang Tidak Berdoa kepada Allah, Allah Murka Kepadanya
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يَدْعُ اللّٰهَ تَعَالَى يَغْضَبْ عَلَيْهِ) قَالَ سَيِّدِي الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: [مَنْ لَا يَسْأَلِ اللّٰهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ]
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah Ta’ala, niscaya Allah murka kepadanya) Tuanku Syekh Abdul Qadir berkata, Nabi ﷺ bersabda dalam hadits Sayyidina Abu Hurairah Radhiallahu Anhu: [“Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, niscaya Allah murka kepadanya.”]
وَقَالَ الشَّاعِرُ:
Dan seorang penyair berkata:
| وَبُنَيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ | * | اللّٰهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ |
| Allah murka jika engkau meninggalkan permintaan kepada-Nya, | * | sedangkan anak Adam ketika diminta ia justru murka. |
Hadits 6: Meninggalkan Doa adalah Maksiat
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَرْكُ الدُّعَاءِ مَعْصِيَةٌ) أَيْ لِعَدَمِ امْتِثَالِ الْأَمْرِ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Meninggalkan doa adalah maksiat) yakni karena tidak menaati perintah.
Hadits 7: Doa adalah Senjata Mukmin, Tiang Agama, dan Cahaya Langit dan Bumi
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ) أَيْ بِهِ يُدَافِعُ الْبَلَاءَ كَمَا يُدَافِعُ عَدُوَّهُ بِالسِّلَاحِ (وَعِمَادُ الدِّينِ) أَيْ عَمُودُهُ الَّذِي يَقُومُ عَلَيْهِ (وَنُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ) أَيْ يَكُونُ لِلدَّاعِي نُورٌ فِيهِمَا رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى وَالْحَاكِمُ عَنْ عَلِيٍّ وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ.
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Doa adalah senjata mukmin) yakni dengannya ia dapat menolak bala sebagaimana ia dapat menolak musuhnya dengan senjata (dan tiang agama) yakni tiangnya yang agama tediri di atasnya (dan cahaya langit dan bumi) yakni terbukti bagi orang yang berdoa ada cahaya pada langit dan bumi. Imam Abu Ya’la dan Imam Hakim telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidina Ali, dan hadits ini adalah hadits shahih.
Hadits 8: Doa Orang yang Terzalimi Mustajab
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ) عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ (مُسْتَجَابَةٌ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ) رَوَاهُ الطَّيَالِسِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَرَوَاهُ عَنْهُ أَحْمَدُ، وَإِسْنَادُهُ عَنْهُ حَسَنٌ، وَذَلِكَ لِأَنَّهُ مُضْطَرٌّ مُلْتَجِئٌ إِلَى رَبِّهِ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Doa orang yang terzalimi) atas orang yang menzaliminya (itu mustajab walaupun terbuktu ia orang yang fajir (suka berbuat dosa), maka kefajirannya atas dirinya sendiri) Imam Ath-Thayalisi dan Imam Abu Dawud telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidina Abu Hurairah, dan Imam Ahmad juga meriwayatkannya darinya, dan sanadnya darinya adalah hasan. Hal itu karena bahwasannya ia dalam keadaan terdesak dan berlindung kepada Tuhannya.
Hadits 9: Takutlah Doa Orang yang Terzalimi
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ) أَيْ تَجَنَّبُوا الظُّلْمَ لِئَلَّا يَدْعُوَ عَلَيْكُمُ الْمَظْلُومُ، وَفِي ذَلِكَ تَنْبِيهٌ عَلَى الْمَنْعِ مِنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الظُّلْمِ (فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ) أَيْ يَأْمُرُ اللّٰهُ تَعَالَى بِارْتِفَاعِهَا حَتَّى تُجَاوِزَ الْغَمَامَ، أَيِ السَّحَابَ الْأَبْيَضَ حَتَّى تَصِلَ إِلَى حَضْرَتِهِ تَعَالَى
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Takutlah pada doa orang yang terzalimi) yakni hindarilah kezaliman agar orang yang terzalimi tidak mendoakan (keburukan) atas kalian. Dalam hdits itu terdapat peringatan tentang larangan dari segala jenis kezaliman (karena sesungguhnya doa itu diangkat di atas awan) yakni Allah Ta’ala memerintahkan agar doa itu naik hingga melewati awan, yaitu awan putih, hingga sampai ke hadirat-Nya Ta’ala.
(يَقُولُ اللّٰهُ وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَأَنْصُرَنَّكَ) بِنُونِ التَّوْكِيدِ الثَّقِيلَةِ وَفَتْحِ الْكَافِ، أَيْ لَأَسْتَخْلِصَنَّ لَكَ الْحَقَّ مِمَّنْ ظَلَمَكَ (وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ) أَيْ أَمَدٍ طَوِيلٍ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَالضِّيَاءُ عَنْ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ
(Allah berfirman: Demi keagungan-Ku dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku benar benar akan menolongmu) dengan nun taukid tsaqilah dan fathah pada kaf, yakni sungguh Aku benar benar akan mengambil hak dari orang yang telah mendzolimimu (walaupun setelah waktu yang lama) yakni masa yang panjang. Imam Ath-Thabari dan Imam Adh-Dhiya telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidina Khuzaimah bin Tsabit dengan sanad yang shahih.
Hadits 10: Doa Orang yang Terzalimi Tidak Terhalang Walau Ia Kafir
(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ) أَيْ فَإِنَّهَا مَقْبُولَةٌ (وَإِنْ كَانَ) أَيِ الْمَظْلُومُ (كَافِرًا) أَيْ مَعْصُومًا (فَإِنَّهُ) أَيِ الشَّأْنُ (لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ) أَيْ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْقَبُولِ مَانِعٌ رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالضِّيَاءُ الْمَقْدِسِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ
(Dan Nabi ﷺ bersabda: Takutlah pada doa orang yang terzalimi) yakni karena sesungguhnya doa itu mustajab (walaupun terbukti ia) yakni orang yang terzalimi (adalah kafir) yakni terjaga (kafir dzimmi) (maka sesungguhnya) yakni keadaannya (tidak ada penghalang di bawahnya) yakni tidak ada penghalang antara doa itu dan pengabulannya. Imam Ahmad dan Imam Adh-Dhiya Al-Maqdisi telah meriwayatkan hadits ini dari Sayyidina Anas bin Malik, dan sanadnya shahih.
قَالَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ هَذَا مُقَيَّدٌ بِالْحَدِيثِ الْآخَرِ، إِنَّ الدَّاعِيَ عَلَى ثَلَاثِ مَرَاتِبَ، إِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ مَا طَلَبَ، وَإِمَّا أَنْ يُدَّخَرَ لَهُ أَفْضَلُ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ يُدْفَعَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلُهُ.
Imam Ibnu Al-Arabi berkata: Ini dikaitkan dengan hadits yang lain, sesungguhnya orang yang berdoa terbagi pada tiga tingkatan: adakalanya disegerakan baginya apa yang ia minta, adakalanya disimpan untuknya sesuatu yang lebih baik darinya, dan adakalanya ditolak darinya keburukan yang semisalnya.
Penutup: Doa Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
(خَاتِمَةٌ) هَذَا الدُّعَاءُ لِسَيِّدِي الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيِّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ، وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ،
(Penutup) Doa ini adalah milik tuanku Syekh Abdul Qadir Al-Jilani: Segala puji milik Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, tidak ada tuhan selain Dia, kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan pemilik Arsy yang agung, Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan,
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا مَا أَظْهَرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا، وَمَا أَخْفَيْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا، اللّٰهُمَّ أَعْطِنَا رِضَاكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالسَّعَادَةِ وَالشَّهَادَةِ وَالْمَغْفِرَةِ،
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, baik yang kami tampakkan maupun yang kami sembunyikan, dan yang kami rahasiakan maupun yang kami nyatakan, dan yang Engkau lebih mengetahui tentangnya daripada kami. Ya Allah, berikanlah kepada kami keridhaan-Mu di dunia dan akhirat, dan akhiri hidup kami dengan kebahagiaan, kesyahidan, dan ampunan,
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ أَعْمَارِنَا خَيْرًا، وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِنَا خَيْرًا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، اللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَمِنْ فُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَمِنْ تَحْوِيلِ عَافِيَتِكَ،
Ya Allah, jadikanlah akhir umur kami akan kebaikan, penutup amal-amal kami akan kebaikan, dan sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari datangnya siksa-Mu secara tiba-tiba, dan dari berubahnya kesehatan (afiat) dari pemberianmu,
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ، وَجَهْدِ الْبَلَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ، وَتَغَيُّرِ النَّعْمَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ جَمِيعِ الْمَكَارِهِ وَالْأَسْوَاءِ، وَنَسْأَلُكَ اللّٰهُمَّ خَيْرَ الْعَطَاءِ،
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mendapati kecelakaan, dari beratnya cobaan, dari kegembiraan musuh atas musibah kami, dari berubahnya nikmat, dan dari buruknya ketetapan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari segala hal yang dibenci dan segala keburukan, dan kami memohon kepada-Mu ya Allah sebaik-baik pemberian,
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ سَقَمَنَا وَتُبْرِئَ مَرَضَنَا، وَتَرْحَمَ مَوْتَانَا وَتَصِحَّ أَبْدَانَنَا، وَتُخَلِّصَهَا لَكَ، وَأَنْ تُخَلِّصَ أَدْيَانَنَا، وَأَنْ تَحْفَظَ عِيَاذَنَا، وَتَشْرَحَ صُدُورَنَا وَتُدَبِّرَ أُمُورَنَا، وَتُجْبِرَ أَوْلَادَنَا وَتَسْتُرَ جُرْمَنَا وَتَرُدَّ غِيَابَنَا، وَأَنْ تُثَبِّتَنَا عَلَى دِينِنَا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا وَرَشَدًا،
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu agar Engkau menghilangkan penyakit kami dan menyembuhkan sakit kami, merahmati orang-orang yang telah mati di antara kami, menyehatkan badan-badan kami dan memurnikannya untuk (beribadah kepada) Mu, memurnikan agama-agama kami, menjaga perlindungan kami, menerangi dada-dada kami dan mengatur urusan-urusan kami, menuntun anak anak kami, menutupi dosa kami dan mengembalikan orang-orang yang hilang dari kami, serta meneguhkan kami di atas agama kami. Dan kami memohon kepada-Mu kebaikan dan petunjuk,
اللّٰهُمَّ رَبَّنَا إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُؤْتِيَنَا حَسَنَةً فِي الدُّنْيَا، وَحَسَنَةً فِي الْآخِرَةِ، وَأَنْ تَتَوَفَّانَا مُسْلِمِينَ بِرَحْمَتِكَ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَعَذَابَ الْقَبْرِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Ya Allah, Tuhan kami, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu agar Engkau memberikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan agar Engkau mewafatkan kami dalam keadaan muslim dengan rahmat-Mu, dan lindungilah kami dari azab neraka dan azab kubur, wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi, wahai Tuhan semesta alam.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!