Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar Bagian 6 | Fardhu Fardhu Wudhu
| Nama kitab | : | Kifayatul Akhyar |
| Judul kitab Arab | : | كفاية الْأخيار |
| Judul terjemah | : | Terjemah Kitab Kifayatul Akhyar |
| Mata Pelajaran | : | Fiqih |
| Musonif | : | Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Al-Husaini Al-Hisni Ad-Dimasyqi |
| Nama Arab | : | اَلْإمام تقي الدين أبى بكر بن محمد الْحسين الْحصن الدمشق |
| Lahir | : | Hauran, 752 H |
| Wafat | : | Damaskus, 1 Syawal 829 H |
| Penerjemah | : | Ahsan Dasuki |
Fardhu-Fardhu Wudhu Ada Enam
قَالَ: (فَصْلٌ وَفَرَائِضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةٌ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الْوَجْهِ)
Syekh Abu Syuja telah berkata: (Pasal: Dan fardu-fardu wudu itu ada enam: niat ketika membasuh wajah)
Syarat-Syarat Sah Wudhu
اِعْلَمْ أَنَّ الْوُضُوْءَ لَهُ شُرُوْطٌ وَفُرُوْضٌ
Ketahuilah bahwasanya wudu itu memiliki syarat-syarat dan fardu-fardu.
فَاَلشُّرُوْطُ: الْإِسْلَامُ وَالتَّمَيُّزُ وَطَهُوْرِيَّةُ الْمَاءِ وَعَدَمُ الْمَانِعِ الْحِسِّيِّ كَالْوَسَخِ وَعَدَمُ الْمَانِعِ الشَّرْعِيِّ كَالْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ فِيْ حَقِّ ذَوِيْ الضَّرُوْرَاتِ كَالْمُسْتَحَاضَةِ وَمَنْ بِهِ الرِّيْحُ الدَّائِمُ
Maka syarat-syaratnya adalah: Islam, tamyiz, sucinya air, tidak adanya penghalang yang bersifat indrawi seperti kotoran, tidak adanya penghalang syar’i seperti haid dan nifas, serta masuknya waktu bagi orang yang memiliki kebutuhan mendesak (darurat) seperti wanita yang istihadhah dan orang yang terus-menerus keluar angin (kentut) yang menetap.
Fardhu Wudhu Pertama: Niat dan Dalilnya
وَأَمَّا الْفُرُوْضُ فَسِتَّةٌ كَمَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ أَحَدُهَا النِّيَّةُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ [إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ] رَوَاهُ الشيخان.
Dan adapun fardu-fardu wudhu itu ada enam sebagaimana Syekh Abu Syuja telah menyebutkannya, salah satunya adalah niat karena sabda Nabi ﷺ [Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niat-niat]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Perbedaan Niat dalam Menghilangkan Najis dan Hadas
وَهِيَ فَرْضٌ فِيْ طَهَارَاتِ الْأَحْدَاثِ وَلَا تَجِبُ فِيْ إِزَالَةِ النَّجَاسَاتِ عَلَى الصَّحِيْحِ وَالْفَرْضُ أَنَّ الْمَقْصُوْدَ مِنَ النَّجَاسَاتِ إِزَالَتُهَا وَهِيَ تَحْصُلُ بِالْغَسْلِ
Dan niat adalah fardu dalam bersuci dari hadas-hadas dan tidak wajib dalam menghilangkan najis-najis menurut pendapat yang sahih, dan fardu (alasannya) adalah bahwasanya maksud dari najis-najis itu adalah menghilangkannya dan hal itu telah berhasil dengan membasuh,
بِخِلَافِ الْأَحْدَاثِ فَإِنَّ طَهَارَتَهَا عِبَادَةٌ فَتَفْتَقِرُ إِلَى نِيَّةٍ كَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ كَذَا قَالَهُ الرَّافِعِيُّ
berbeda dengan hadas-hadas karena sesungguhnya bersuci darinya adalah ibadah maka ia membutuhkan kepada niat seperti seluruh ibadah-ibadah lainnya, demikianlah Imam Ar-Rafi’i telah berkata tentangnya.
Syarat Sahnya Niat: Harus Muslim
وَشَرْطُ صِحَّتِهَا الْإِسْلَامُ، فَلَا يَصِحُّ وُضُوْءُ الْكَافِرِ وَلَا غُسْلُهُ عَلَى الصَّحِيْحِ؛ لِأَنَّ النِّيَّةَ عِبَادَةٌ، وَالْكَافِرُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهَا، وَلَا تَصِحُّ طَهَارَةُ الْمُرْتَدِّ قَطْعًا تَغْلِيْظًا عَلَيْهِ.
Dan syarat sahnya wudhu adalah Islam, maka tidak sah wudhu orang kafir dan tidak sah pula adusnya menurut pendapat yang shahih; karena niat adalah ibadah, sedangkan orang kafir bukan termasuk ahli ibadah, dan tidak sah kesucian orang murtad secara pasti sebagai bentuk pemberatan baginya.
Waktu Niat yang Wajib
وَوَقْتُ النِّيَّةِ الْوَاجِبَةِ عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ الْوَجْهِ لِأَنَّهُ أَوَّلُ الْعِبَادَاتِ الْوَاجِبَةِ، وَلَا يُثَابُ عَلَى السُّنَنِ الْمَاضِيَةِ.
Dan waktu niat yang wajib adalah ketika membasuh bagian pertama dari wajah; karena ia adalah awal dari ibadah-ibadah yang wajib, dan tidak diberi pahala atas sunnah-sunnah yang telah berlalu (sebelum niat).
Tiga Pilihan Tata Cara Niat bagi Orang Sehat
وَكَيْفِيَّتُهَا إِنْ كَانَ الْمُتَوَضِّئُ سَلِيْمًا لَا عِلَّةَ بِهِ أَنْ يَنْوِيَ أَحَدَ ثَلَاثَةِ أُمُوْرٍ:
Dan tata caranya jika orang yang berwudhu itu sehat tidak ada uzur padanya adalah dengan berniat salah satu dari tiga perkara:
أَحَدُهَا: رَفْعُ الْحَدَثِ، أَوِ الطَّهَارَةُ عَنِ الْحَدَثِ.
Salah satunya: mengangkat hadas, atau bersuci dari hadas.
اَلثَّانِي: أَنْ يَنْوِيَ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ أَوْ غَيْرِهَا مِمَّا لَا يُبَاحُ إِلَّا بِالطَّهَارَةِ.
Yang kedua: berniat agar diperbolehkan shalat atau selainnya dari perkara yang tidak diperbolehkan kecuali dengan bersuci.
اَلثَّالِثُ: أَنْ يَنْوِيَ فَرْضَ الْوُضُوْءِ أَوْ أَدَاءَ الْوُضُوْءِ وَإِنْ كَانَ النَّاوِي صَبِيًّا،
Yang ketiga: berniat fardhu wudhu atau menunaikan wudhu. walaupun orang yang berniat adalah anak kecil
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ: وَلَوْ نَوَى الطَّهَارَةَ لِلصَّلَاةِ أَوِ الطَّهَارَةَ لِغَيْرِهَا مِمَّا يَتَوَقَّفُ عَلَى الْوُضُوْءِ كَفَى. وَذَكَرَهُ فِيْ التَّنْبِيْهِ.
Imam An-Nawawi berkata dalam Syarh al-Muhadzdzab: “Dan jika seseorang berniat bersuci untuk shalat atau bersuci untuk selainnya dari perkara yang bergantung pada wudhu, maka itu sudah cukup.” Dan beliau (Mushannif) telah menyebutkannya di dalam (kitab) al-Tanbih,
Hukum Berniat Bersuci Tanpa Menyebut Hadas
وَلَوْ نَوَى الطَّهَارَةَ وَلَمْ يَقُلْ عَنِ الْحَدَثِ لَا يُجْزِيْهِ عَلَى الصَّحِيْحِ
dan sekiranya ia berniat bersuci dan tidak mengucapkan “dari hadas”, maka tidak mencukupinya (tidak sah) menurut pendapat yang shahih.
لِأَنَّ الطَّهَارَةَ تَكُوْنُ عَنِ الْحَدَثِ وَعَنِ النَّجَسِ فَلَا بُدَّ مِنْ نِيَّةٍ تُمَيِّزُ
Karena sesungguhnya bersuci itu adakalanya dari hadas dan adakalanya dari najis, maka harus ada niat yang membedakan (keduanya).
Hukum Berniat Wudhu Saja Tanpa Menyebut Hadas
وَلَوْ نَوَى الْوُضُوْءَ فَقَطْ صَحَّ عَلَى الْأَصَحِّ فِيْ التَّحْقِيْقِ وَشَرْحِ الْمُهَذَّبِ بِخِلَافِ مَا إِذَا نَوَى الْغُسْلَ وَهُوَ جُنُبٌ فَلَا يَكْفِيْ وَفَرَّقَ الْمَاوَرْدِيُّ بِأَنَّ الْوُضُوْءَ لَا يُطْلَقُ عَلَى غَيْرِ الْعِبَادَةِ بِخِلَافِ الْغُسْلِ
Dan sekiranya seseorang berniat wudhu saja, maka sah menurut pendapat yang lebih shahih dalam kitab at-Tahqiq dan Syarh al-Muhadzdzab, berbeda dengan apabila seseorang berniat mandi sedangkan ia dalam keadaan junub, maka hal itu tidak mencukupi. Dan Imam al-Mawardi membedakan (keduanya) dengan alasan bahwa wudhu tidaklah dimutlakkan (digunakan) pada selain ibadah, berbeda dengan mandi.
Niat Mengangkat Hadas dan Istibahah Sekaligus
وَلَوْ نَوَى رَفْعَ الْحَدَثِ وَالْاِسْتِبَاحَةَ فَهُوَ نِهَايَةُ النِّيَّةِ
Dan sekiranya ia berniat mengangkat hadas dan istibahah (boleh melakukan ibadah), maka itu adalah puncak niat.
Niat bagi Orang yang Memiliki Uzur (Beser/Istihadhah)
وَأَمَّا مَنْ بِهِ عِلَّةٌ كَمَنْ بِهِ سَلَسُ الْبَوْلِ أَوْ كَانَتْ مُسْتَحَاضَةً فَيَنْوِي الْاِسْتِبَاحَةَ عَلَى الصَّحِيْحِ وَلَا يَصِحُّ أَنْ يَنْوِيَ رَفْعَ الْحَدَثِ لِأَنَّ الْحَدَثَ مُسْتَمِرٌّ وَلَا يَتَصَوَّرُ رَفْعُهُ وَقِيْلَ يَجِبُ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا وَقِيْلَ يَكْفِيْ أَحَدُهُمَا
Adapun orang yang memiliki uzur (penyakit) seperti orang yang beser kencing atau wanita yang istihadhah, maka ia berniat istibahah menurut pendapat yang shahih. Dan tidak sah berniat mengangkat hadas karena sesungguhnya hadasnya terus-menerus dan tidak tergambar pengangkatannya. Dan menurut sebagian pendapat wajib menggabungkan antara keduanya, dan menurut sebagian pendapat cukup salah satunya.
Cabang: Syarat Niat Harus Yakin dan Tidak Ragu
[فَرْعٌ] شَرْطُ النِّيَّةِ الْجَزْمُ فَلَوْ شَكَّ فِيْ أَنَّهُ مُحْدِثٌ فَتَوَضَّأَ مُحْتَاطًا ثُمَّ تَيَقَّنَ أَنَّهُ مُحْدِثٌ لَمْ يُعْتَدَّ بِوُضُوْئِهِ عَلَى الْأَصَحِّ لِأَنَّهُ تَوَضَّأَ مُتَرَدِّدًا
[Cabang] Syarat niat adalah mantap (yakin), maka jika seseorang ragu dalam hal bahwasannya ia berhadats lalu ia berwudhu karena berhati-hati (ihtiyath), kemudian ia yakin bahwa ia memang berhadats, maka wudhunya tidak dianggap sah menurut pendapat yang paling shahih, karena ia berwudhu dalam keadaan ragu-ragu.
Cabang: Yakin Berhadas tapi Ragu Sudah Bersuci
وَلَوْ تَيَقَّنَ أَنَّهُ مُحْدِثٌ وَشَكَّ فِيْ أَنَّهُ تَطَهَّرَ ثُمَّ بَانَ مُحْدِثًا أَجْزَأَهُ قَطْعًا لِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ الْحَدَثِ فَلَا يَضُرُّ تَرَدُّدُهُ مَعَهُ فَقَوِيَ جَانِبُ النِّيَّةِ بِأَصْلِ الْحَدَثِ بِخِلَافِ الصُّوْرَةِ الْأُوْلَى وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan jika ia yakin bahwa ia berhadats dan ragu dalam hal bahwasannya ia telah bersuci, kemudian jelaslah bahwa ia memang berhadats, maka hal itu mencukupinya (sah) secara pasti (qath’an), karena hukum asalnya adalah menetapnya hadats, maka keragu-raguannya tidaklah membahayakan (niatnya) bersamaan dengan hukum asal tersebut, sehingga sisi niat menjadi kuat dengan adanya hukum asal hadats, berbeda dengan gambaran masalah yang pertama. Dan Allah lebih mengetahui.
Cabang: Lupa Basuhan Pertama lalu Terbasuh di Basuhan Berikutnya
[فَرْعٌ] لَوْ كَانَ يَتَوَضَّأُ فَنَسِيَ لُمْعَةً فِيْ الْمَرَّةِ الْأُوْلَى فَانْغَسَلَتْ فِيْ الْغَسْلَةِ الثَّانِيَةِ أَوِ الثَّالِثَةِ أَجْزَأَهُ عَلَى الصَّحِيْحِ بِخِلَافِ مَا إِذَا انْغَسَلَتِ اللُّمْعَةُ فِيْ تَجْدِيْدِ الْوُضُوْءِ فَإِنَّهُ لَا يُجْزِئُهُ عَلَى الصَّحِيْحِ
[Cabang] Jika seseorang sedang berwudhu lalu ia lupa (membasuh) satu bagian kecil pada basuhan pertama, kemudian bagian tersebut terbasuh pada basuhan kedua atau ketiga, maka hal itu mencukupinya (sah) menurut pendapat yang shahih, berbeda dengan apabila bagian kecil tersebut terbasuh dalam wudhu tajdid (memperbaharui wudhu), maka sesungguhnya hal itu tidak mencukupinya menurut pendapat yang shahih.
وَاَلْفَرْقُ أَنَّ نِيَّةَ التَّجْدِيْدِ لَمْ تَشْتَمِلْ عَلَى نِيَّةِ فَرْضٍ بِخِلَافِ الْغَسْلَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ فَإِنَّ نِيَّةَ فَرْضِ الْوُضُوْءِ شَمَلَتِ الثَّلَاثَ فَمَا لَمْ يُتَمِّمِ الْأُوْلَى لَا تَحْصُلُ الثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ
Dan perbedaannya adalah bahwa niat tajdid tidak mencakup niat fardhu, berbeda dengan basuhan kedua dan ketiga, karena sesungguhnya niat fardhu wudhu mencakup ketiga basuhan tersebut, maka selama basuhan pertama belum sempurna, tidaklah terhitung basuhan kedua dan ketiga.
وَاَلْخَطَأُ فِيْ الْاِعْتِقَادِ لَا يَضُرُّ أَلَا تَرَى أَنَّ الْمُصَلِّيَ لَوْ تَرَكَ سَجْدَةً مِنَ الْأُوْلَى نَاسِيًا وَسَجَدَ فِيْ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ تَمَّتِ الْأُوْلَى وَإِنِ اعْتَقَدَ خِلَافَ ذَلِكَ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan kesalahan dalam keyakinan tidaklah membahayakan (keabsahan), tidakkah engkau melihat bahwa orang yang shalat jika ia meninggalkan satu sujud dari rakaat pertama karena lupa, lalu ia bersujud pada rakaat kedua, maka sempurnalah rakaat pertama tersebut meskipun ia meyakini sebaliknya. Dan Allah lebih mengetahui.
Fardhu Kedua: Membasuh Wajah dan Batasannya
قَالَ (وَغَسْلُ الْوَجْهِ) الْفَرْضُ الثَّانِي غَسْلُ الْوَجْهِ وَهُوَ أَوَّلُ الْأَرْكَانِ الظَّاهِرَةِ قَالَ تَعَالَى ﴿فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ﴾
Syekh Abu Syuja berkata (dan membasuh wajah) fardhu yang kedua adalah membasuh wajah, dan ia adalah rukun pertama dari rukun-rukun yang nampak, Allah Ta’ala berfirman ﴾Maka basuhlah wajah-wajah kalian﴿
وَيَجِبُ اسْتِيعَابُهُ بِالْغَسْلِ وَحَدُّهُ مِنْ مُبْتَدَأِ تَسْطِيحِ الْجَبْهَةِ إِلَى مُنْتَهَى الذَّقَنِ طُولًا وَمِنَ الْأُذُنِ إِلَى الْأُذُنِ عَرْضًا
Dan wajib meratakannya dengan basuhan, adapun batasannya adalah dari permulaan dataran dahi sampai akhir dagu secara memanjang, dan dari telinga sampai telinga secara melintang
Pembagian Rambut di Wajah dan Hukum Membasuhnya
وَمَوْضِعُ التَّحْذِيفِ لَيْسَ مِنَ الْوَجْهِ وَالصُّدْغَانِ لَيْسَا مِنَ الْوَجْهِ عَلَى الْأَصَحِّ فِي شَرْحِ الرَّوْضَةِ وَرَجَّحَ فِي الْمُحَرَّرِ أَنَّهُمَا مِنَ الْوَجْهِ
Dan tempat tahdzif (rambut yang biasa dibuang) bukanlah bagian dari wajah, dan dua pelipis bukanlah bagian dari wajah menurut pendapat yang paling shahih dalam kitab Syarh Ar-Raudhah, namun beliau menguatkan dalam Al-Muharrar bahwa keduanya termasuk bagian wajah,
ثُمَّ الشَّعْرُ النَّابِتُ فِي الْوَجْهِ قِسْمَانِ: أَحَدُهُمَا لَمْ يَخْرُجْ عَنْ حَدِّ الْوَجْهِ. اَلثَّانِي خَارِجٌ عَنْهُ
kemudian rambut yang tumbuh di wajah terbagi menjadi dua bagian: Salah satunya adalah yang tidak keluar dari batasan wajah. Yang kedua adalah yang keluar darinya.
Rambut yang Tidak Keluar dari Batasan Wajah (Alis, Bulu Mata, Kumis)
وَالَّذِي لَمْ يَخْرُجْ عَنْ حَدِّ الْوَجْهِ قَدْ يَكُونُ نَادِرَ الْكَثَافَةِ وَقَدْ يَكُونُ غَيْرَ نَادِرِ الْكَثَافَةِ
Dan rambut yang tidak keluar dari batasan wajah terkadang jarang lebatnya dan terkadang tidak jarang lebatnya.
فَاَلنَّادِرُ الْكَثَافَةِ كَالْحَاجِبَيْنِ وَالْأَهْدَابِ وَالشَّارِبَيْنِ وَالْعِذَارَيْنِ وَهُمَا الْمُحَاذِيَانِ لِلْأُذُنَيْنِ بَيْنَ الصُّدْغِ وَالْعَارِضِ فَيَجِبُ غَسْلُ ظَاهِرِ هَذِهِ الشُّعُورِ وَبَاطِنِهَا مَعَ الْبَشَرَةِ تَحْتَهَا وَإِنْ كَثُفَ لِأَنَّهَا مِنَ الْوَجْهِ
Maka yang jarang lebatnya seperti dua alis, bulu mata, kumis, dan dua idzar (rambut di depan telinga), yaitu dua rambut yang sejajar dengan kedua telinga di antara pelipis dan jenggot samping, maka wajib membasuh bagian luar rambut-rambut ini dan bagian dalamnya beserta kulit di bawahnya meskipun lebat karena ia termasuk bagian wajah
Hukum Rambut Jenggot Samping (Aridh): Tipis dan Lebat
وَأَمَّا شَعْرُ الْعَارِضَيْنِ فَإِنْ كَانَ خَفِيفًا وَجَبَ غَسْلُ ظَاهِرِهِ وَبَاطِنِهِ مَعَ الْبَشَرَةِ وَإِنْ كَثِيفًا وَجَبَ غَسْلُ ظَاهِرِهِ عَلَى الْأَظْهَرِ
Dan adapun rambut dua jenggot samping (aridh), jika tipis maka wajib membasuh bagian luar dan dalamnya beserta kulitnya, dan jika lebat maka wajib membasuh bagian luarnya saja menurut pendapat adhar
وَلَوْ خَفَّ بَعْضُهُ وَكَثُفَ بَعْضُهُ فَالرَّاجِحُ أَنَّ لِلْخَفِيفِ حُكْمَ الْخَفِيفِ الْمَحْضِ وَلِلْكَثِيفِ حُكْمَ الْكَثِيفِ الْمَحْضِ
Dan seandainya sebagiannya tipis dan sebagiannya lebat, maka pendapat yang unggul adalah bahwa bagi yang tipis berlaku hukum tipis murni, dan bagi yang lebat berlaku hukum lebat murni
Batasan Tipis dan Lebat pada Rambut Wajah
وَفِي ضَابِطِ الْخَفِيفِ وَالْكَثِيفِ خِلَافٌ الصَّحِيحُ أَنَّ الْخَفِيفَ مَا تُرَى الْبَشَرَةُ تَحْتَهُ فِي مَجْلِسِ التَّخَاطُبِ وَالْكَثِيفُ مَا يَمْنَعُ الرُّؤْيَةَ
Dan dalam batasan tipis dan lebat terdapat perbedaan pendapat, yang shahih adalah bahwa yang tipis itu adalah apa yang kulitnya terlihat di bawahnya dalam majelis pembicaraan, dan yang lebat adalah apa yang menghalangi penglihatan (kulit)
Rambut yang Keluar dari Batasan Wajah (Jenggot Panjang)
اَلْقِسْمُ الثَّانِي الشُّعُورُ الْخَارِجَةُ عَنْ حَدِّ الْوَجْهِ وَهُوَ شَعْرُ اللِّحْيَةِ وَالْعَارِضِ وَالْعِذَارِ وَالسِّبَالِ طُولًا وَعَرْضًا فَالرَّاجِحُ وُجُوبُ غَسْلِ ظَاهِرِهَا فَقَطْ لِأَنَّهُ يَحْصُلُ بِهِ الْمُوَاجَهَةُ وَقِيلَ لَا يَجِبُ لِأَنَّهَا خَارِجَةٌ عَنْ حَدِّ الْوَجْهِ
Bagian kedua adalah rambut-rambut yang keluar dari batasan wajah, yaitu rambut jenggot, aridh, idzar, dan kumis yang memanjang baik secara panjang maupun lebar, maka pendapat yang unggul adalah wajib membasuh bagian luarnya saja karena dengannya terjadi tatap muka, dan dikatakan tidak wajib karena ia keluar dari batasan wajah
Hal-Hal yang Wajib Dibasuh Bersama Wajah
قَالَ فِي زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ يَجِبُ غَسْلُ جُزْءٍ مِنْ رَأْسِهِ وَرَقَبَتِهِ وَمَا تَحْتَ ذَقَنِهِ مَعَ الْوَجْهِ لِيَتَحَقَّقَ اسْتِيعَابُهُ وَلَوْ قُطِعَ أَنْفُهُ أَوْ شَفَتُهُ لَزِمَهُ غَسْلُ مَا ظَهَرَ بِالْقَطْعِ فِي الْوُضُوءِ وَالْغُسْلِ عَلَى الصَّحِيحِ لِأَنَّهُ يَبْقَى وَجْهًا
Imam Nawawi berkata dalam Kitab Ziyadat Ar-Raudhah: wajib membasuh sebagian dari kepalanya, lehernya, dan apa yang ada di bawah dagunya beserta wajah agar terwujud perataan basuhannya, dan seandainya hidungnya atau bibirnya terpotong, maka ia wajib membasuh apa yang nampak sebab potongan tersebut dalam wudhu dan mandi menurut pendapat yang shahih karena ia tetap dinamakan wajah
وَيَجِبُ غَسْلُ مَا ظَهَرَ مِنْ حُمْرَةِ الشَّفَتَيْنِ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَأْخُذَ الْمَاءَ بِيَدَيْهِ جَمِيعًا
Dan wajib membasuh apa yang nampak dari bagian merah kedua bibir, dan disunnahkan untuk mengambil air dengan kedua tangannya secara bersamaan
Fardhu Ketiga: Membasuh Kedua Tangan Beserta Siku
قَالَ (وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ) الْفَرْضُ الثَّالِثُ غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَىٰ ﴿وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ﴾
Syekh Abu Syuja berkata (dan membasuh kedua tangan beserta kedua siku) fardhu yang ketiga adalah membasuh kedua tangan beserta kedua siku karena firman Allah Ta’ala ﴾dan tangan-tanganmu hingga ke siku-siku﴿
Makna Kata “Ila” dalam Ayat Wudhu
وَلَفْظَةُ إِلَىٰ تَرِدُ بِمَعْنَىٰ مَعَ كَمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ ﴿مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللّٰهِ﴾ أَيْ، مَعَ اللّٰهِ وَيَدُلُّ لِذٰلِكَ مَا رَوَى جَابِرٌ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ
Dan lafadz إلى datang dengan makna مغ (beserta) sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala ﴾siapakah penolong-penolongku menuju Allah﴿ yakni, beserta Allah, dan menunjukkan pada hal tersebut apa yang diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallahu ‘Anhu
Dalil Mengalirkan Air ke Atas Siku
قَالَ [رَأَيْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدِيرُ الْمَاءَ عَلَى الْمَرَافِقِ] رَوَاهُ الدَّارُقُطْنِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ وَلَمْ يُضَعِّفَاهُ وَرُوِيَ [أَنَّهُ أَدَارَ الْمَاءَ عَلَىٰ مِرْفَقَيْهِ وَقَالَ هٰذَا وُضُوءٌ لَا يَقْبَلُ اللّٰهُ الصَّلَاةَ إِلَّا بِهِ]
Beliau berkata [aku telah melihat Rasulullah ﷺ mengalirkan air ke atas siku-siku] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Daraquthni dan Imam Al-Baihaqi, dan keduanya tidak mendhaifkannya dan diriwayatkan [bahwasanya Rasulullah ﷺ mengalirkan air ke atas kedua sikunya dan bersabda: ini adalah wudhu yang Allah tidak akan menerima shalat kecuali dengannya]
Wajibnya Menyampaikan Air ke Kulit dan Kuku
وَيَجِبُ إِيصَالُ الْمَاءِ إِلَىٰ جَمِيعِ الشَّعْرِ وَالْبَشَرَةِ حَتَّىٰ لَوْ كَانَ تَحْتَ أَظَافِرِهِ وَسَخٌ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ لَمْ يَصِحَّ وُضُوءُهُ وَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan wajib menyampaikan air ke seluruh rambut dan kulit, sehingga jika seandainya di bawah kuku-kukunya terdapat kotoran yang menghalangi sampainya air ke kulit, maka tidak sah wudhunya dan shalatnya batal, dan Allah lebih mengetahui
Fardhu Keempat: Mengusap Sebagian Kepala
قَالَ (وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ) الْفَرْضُ الرَّابِعُ مَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ لِقَوْلِهِ تَعَالَىٰ ﴿وَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ﴾
Syehk Abu Syuja berkata (dan mengusap sebagian kepala) fardhu yang keempat adalah mengusap sebagian kepala karena firman Allah Ta’ala ﴾dan usaplah kepala-kepala kalian﴿.
Dalil Tidak Wajibnya Mengusap Seluruh Kepala
وَلَيْسَ الْمُرَادُ هُنَا مَسْحَ جَمِيْعِ الرَّأْسِ لِحَدِيْثِ الْمُغِيْرَةِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ [أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَىٰ عِمَامَتِهِ وَعَلَى الْخُفَّيْنِ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dan bukanlah yang dimaksud di sini adalah mengusap seluruh kepala karena hadits Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu [bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudu dan mengusap ubun-ubunnya, di atas sorbannya, dan di atas kedua khufnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim
Batasan Minimal Mengusap Kepala
وَلِأَنَّ مَنْ أَمَرَّ يَدَهُ عَلَىٰ هَامَةِ الْيَتِيْمِ صَحَّ أَنْ يُقَالَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَحِيْنئِذٍ فَالْوَاجِبُ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْمَسْحِ وَلَوْ بَعْضَ شَعْرَةٍ أَوْ قَدْرَهُ مِنَ الْبَشَرَةِ
Dan karena sesungguhnya orang yang menjalankan tangannya di atas kepala anak yatim, maka sah untuk dikatakan ia telah mengusap kepalanya, dan ketika itu maka yang wajib adalah apa yang bisa disebut dengan nama mengusap walaupun hanya sebagian rambutnya atau seukuran itu dari kulit kepala.
Syarat Rambut yang Diusap Tidak Keluar dari Batas Kepala
وَشَرْطُ الشَّعْرِ الْمَمْسُوْحِ أَنْ لَا يَخْرُجَ عَنْ حَدِّ الرَّأْسِ لَوْ مَدَّهُ بِأَنْ كَانَ مُتَجَعِّدًا وَلَا يَضُرُّ مُجَاوَزَةُ مَنْبَتِ الْمَمْسُوْحِ عَلَى الصَّحِيْحِ
Dan syarat rambut yang diusap adalah tidak keluar dari batas kepala seandainya ia memanjangkannya dengan gambaran rambut tersebut dalam keadaan keriting, dan tidaklah membahayakan (tetap sah) melampaui tempat tumbuh rambut yang diusap menurut pendapat yang shahih.
Hukum Mengganti Usapan dengan Basuhan pada Kepala
وَلَوْ غَسَلَ رَأْسَهُ بَدَلَ الْمَسْحِ أَوْ أَلْقَىٰ عَلَيْهِ قَطْرَةً وَلَمْ تَسُلْ أَوْ وَضَعَ يَدَهُ الَّتِيْ عَلَيْهَا الْمَاءُ عَلَىٰ رَأْسٍ وَلَمْ يُمِرَّهَا أَجْزَأَهُ عَلَى الصَّحِيْحِ
Dan seandainya ia membasuh kepalanya sebagai ganti dari mengusap, atau ia menjatuhkan satu tetesan air padanya dan air itu tidak mengalir, atau ia meletakkan tangannya yang terdapat air padanya di atas kepala dan tidak menjalankannya, maka hal itu sudah mencukupi (sah) menurut pendapat yang shahih.
Alat untuk Mengusap Kepala Tidak Harus Tangan
قَالَ فِيْ زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ وَلَا تَتَعَيَّنُ الْيَدُ لِلْمَسْحِ بَلْ يَجُوْزُ بِخَشَبَةٍ أَوْ خِرْقَةٍ وَغَيْرِهِمَا وَيُجْزِيْ مَسْحُ غَيْرِهِ لَهُ وَالْمَرْأَةُ كَالرَّجُلِ فِي الْمَسْحِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Imam Nawawi berkata di dalam kitab Ziyadatur Raudhah: Dan tidaklah tertentu tangan untuk mengusap, bahkan boleh dengan kayu atau kain dan selain keduanya, dan mencukupi usapan orang lain untuknya, dan perempuan itu seperti laki-laki dalam hal mengusap, dan Allah lebih mengetahui.
Fardhu Kelima: Membasuh Kedua Kaki Beserta Mata Kaki
قَالَ (وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ﴾ فَعَلَى قِرَاءَةِ النَّصْبِ يَكُونُ الْغَسْلُ مُتَعَيِّنًا وَالتَّقْدِيرُ وَاغْسِلُوا أَرْجُلَكُمْ وَعَلَى قِرَاءَةِ الْجَرِّ فَالسُّنَّةُ بَيَّنَتِ الْغَسْلَ
Syekh Abu Syuja berkata (dan membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki) karena firman Allah Ta’ala ﴾dan basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki﴿ maka berdasarkan qira’ah nashab (wa arjulakum) maka membasuh itu menjadi hal yang ditentukan (wajib) dan takdirnya adalah “dan basuhlah kaki-kaki kalian”, dan berdasarkan qira’ah jarr (wa arjulikum) maka as-Sunnah telah menjelaskan tentang membasuh tersebut.
وَلَوْ كَانَ الْمَسْحُ جَائِزًا لَبَيَّنَهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ مَرَّةً كَمَا فَعَلَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَيْرِ ذَلِكَ
Dan sekiranya mengusap (kaki tanpa khuf) itu diperbolehkan, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya walaupun sekali sebagaimana yang Nabi ﷺ lakukan dalam selain hal itu.
Definisi Dua Mata Kaki Menurut Ijma’ Ulama
قَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْكَعْبَيْنِ الْعَظْمَانِ النَّاتِئَانِ بَيْنَ السَّاقِ وَالْقَدَمِ وَفِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبَانِ
Imam An-Nawawi berkata di dalam Syarah Muslim: Dan para ulama telah bersepakat bahwa yang dimaksud dengan dua mata kaki adalah dua tulang yang menonjol di antara betis dan telapak kaki, dan pada setiap kaki terdapat dua mata kaki.
Bantahan terhadap Kelompok Rafidhah tentang Mata Kaki
وَشَذَّتِ الرَّافِضَةُ قَبَّحَهُمُ اللّٰهُ تَعَالَى فَقَالَتْ فِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبٌ وَهُوَ الْعَظْمُ الَّذِي فِي ظَهْرِ الْقَدَمِ وَحُكِيَ هَذَا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ وَلَا يَصِحُّ
Dan kaum Rafidhah telah menyimpang (semoga Allah Ta’ala menghinakan mereka) lalu mereka berkata bahwa pada setiap kaki hanya ada satu mata kaki, yaitu tulang yang berada di punggung telapak kaki. Dan hal ini diceritakan dari Muhammad bin al-Hasan dan tidak shahih.
Hujah Ulama tentang Letak Mata Kaki
وَحُجَّةُ الْعُلَمَاءِ فِي ذَلِكَ نَقْلُ أَهْلِ اللُّغَةِ وَالْاِشْتِقَاقِ وَهَذَا الْحَدِيثُ الصَّحِيحُ الَّذِي نَحْنُ فِيهِ يَدُلُّ لِذَلِكَ فَفِيهِ [فَغَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَرِجْلَهُ الْيُسْرَى كَذَلِكَ]
Dan hujah para ulama dalam hal itu adalah penukilan para ahli bahasa dan pembentukan kata (isytiqaq). Dan hadits shahih yang sedang kita bahas ini menunjukkan hal tersebut, di dalamnya disebutkan: [Maka beliau membasuh kaki kanannya sampai kedua mata kaki dan kaki kirinya juga demikian],
فَأَثْبَتَ فِي كُلِّ رِجْلٍ كَعْبَيْنِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ قُلْتُ وَحَدِيثُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللّٰهُ تَعَالَى عَنْهُ صَرِيحٌ فِي ذَلِكَ
maka beliau menetapkan adanya dua mata kaki pada setiap kaki. Dan Allah lebih mengetahui. Aku berkata: Dan hadits Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu sangat jelas dalam hal itu.
Dalil dari Hadits Nu’man bin Basyir tentang Mata Kaki
قَالَ [قَالَ لَنَا رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْصِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ] رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Beliau berkata [Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: “Tegakkanlah shaf-shaf kalian”, maka aku melihat seseorang dari kami menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan mata kakinya dengan mata kakinya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhari
وَمَعْلُومٌ أَنَّ هَذَا فِي كَعْبِ الْمَفْصِلِ وَلَا يَتَأَتَّى فِي الَّذِي عَلَى ظَهْرِ الْقَدَمِ وَاللّٰهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
Dan sudah dimaklumi bahwa hal ini berlaku pada mata kaki di persendian, dan tidak mungkin terjadi pada (tulang) yang berada di punggung telapak kaki. Dan Allah Ta’ala lebih mengetahui.
Kewajiban Membasuh Seluruh Kaki Termasuk Celah-Celahnya
وَاعْلَمْ أَنَّ الْغُسْلَ وَاجِبٌ إِذَا لَمْ يَمْسَحْ عَلَى الْخُفِّ وَقِرَاءَةُ الْجَرِّ مَحْمُولَةٌ عَلَى مَسْحِ الْخُفِّ وَيَجِبُ غَسْلُ جَمِيعِ الرِّجْلَيْنِ بِالْمَاءِ وَيُنَقِّي الْبَشَرَةَ وَالشَّعْرَ حَتَّى يَجِبُ غَسْلُ مَا ظَهَرَ بِالشَّقِّ
Dan ketahuilah bahwa membasuh (kaki) adalah wajib apabila tidak mengusap di atas khuf, dan bacaan jar (pada ayat wudhu) diarahkan atas mengusap khuf, dan wajib membasuh seluruh kedua kaki dengan air, dan (wajib) membersihkan kulit dan rambut hingga wajib membasuh apa yang tampak pada belahan (pecah-pecah kulit).
Hukum Benda yang Menghalangi Air pada Kaki
وَلَوْ وَضَعَ فِي الشَّقِّ شَمْعَةً أَوْ حِنَّاءً وَلَهُ جِرْمٌ لَا يُجْزِيءُ وُضُوءُهُ وَلَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَكَذَا يَجِبُ عَلَيْهِ إِزَالَةُ خُرْءِ الْبَرَاغِيثِ حَيْثُ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَحْتَرِزْ عَنْ مِثْلِ ذَلِكَ
Dan sekiranya ia meletakkan pada belahan (kulit) itu lilin atau pacar kuku yang memiliki jirim (massa yang menghalangi air), maka tidak sah wudhunya dan tidak sah shalatnya, dan demikian pula wajib baginya menghilangkan kotoran kutu sekiranya ia bangun dari tidurnya, maka hendaklah ia berhati-hati dari yang semisal hal tersebut.
فَلَوْ تَوَضَّأَ وَنَسِيَ إِزَالَتَهُ ثُمَّ عَلِمَ وَجَبَ عَلَيْهِ غَسْلُ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَمَا بَعْدَهُ وَإِعَادَةُ الصَّلَاةِ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Maka sekiranya ia berwudhu dan lupa menghilangkannya kemudian ia tahu, maka wajib baginya membasuh tempat tersebut dan anggota setelahnya, serta mengulangi shalat. Dan Allah lebih mengetahui.
Cabang: Berkumpulnya Hadas Kecil dan Besar Sekaligus
(فَرْعٌ) إِذَا اجْتَمَعَ عَلَى الشَّخْصِ حَدَثٌ أَصْغَرُ وَهُوَ الْوُضُوءُ وَحَدَثٌ أَكْبَرُ وَهُوَ الْغُسْلُ فَفِيهِ خِلَافٌ مُنْتَشِرٌ
(Cabang) Apabila berkumpul pada seseorang hadats kecil yaitu wudhu dan hadats besar yaitu mandi janabah, maka di dalamnya terdapat perbedaan pendapat yang luas,
اَلصَّحِيحُ الْمُفْتَى بِهِ يَكْفِيهِ غَسْلُ جَمِيعِ بَدَنِهِ بِنِيَّةِ الْغُسْلِ وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْجَمْعُ بَيْنَ الْوُضُوءِ وَالْغُسْلِ وَلَا تَرْتِيبَ فِي ذَلِكَ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
pendapat yang shahih yang difatwakan dengannya adalah cukup baginya membasuh seluruh tubuhnya dengan niat mandi, dan tidak wajib baginya menggabungkan antara wudhu dan mandi, serta tidak ada kewajiban tertib dalam hal tersebut. Dan Allah lebih mengetahui.
Fardhu Keenam: Tertib dan Dalilnya
قَالَ (وَالتَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ) الْفَرْضُ السَّادِسُ التَّرْتِيْبُ وَفَرْضِيَّتُهُ مُسْتَفَادَةٌ مِنَ الْآيَةِ إِذَا قُلْنَا الْوَاوُ لِلتَّرْتِيْبِ وَإِلَّا فَمِنْ فِعْلِهِ
Beliau berkata (dan tertib atas apa yang telah kami sebutkan) fardhu yang keenam adalah tertib, dan kefardhuannya diambil faedah dari ayat (Al-Quran) apabila kita berpendapat bahwa huruf Wawu menunjukkan tertib, dan jika tidak (demikian) maka diambil dari perbuatan Nabi ﷺ.
وَقَوْلُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذْ لَمْ يُنْقَلْ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ ما تَوَضَّأَ إِلَّا مُرَتَّبًا وَلِأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ بَعْدَ أَنْ تَوَضَّأَ مُرَتَّبًا [هَذَا وُضُوْءٌ لَا يَقْبَلُ اللّٰهُ الصَّلَاةَ إِلَّا بِهِ] أَيْ بِمِثْلِهِ رَوَاهُ الْبخاري
Dan perkataan Nabi ﷺ, karena tidak dinukil dari Nabi ﷺ bahwasanya tidaklah beliau berwudhu kecuali secara tertib, dan karena Nabi ﷺ bersabda setelah berwudhu secara tertib [Ini adalah wudhu yang mana Allah tidak akan menerima shalat kecuali dengannya] yakni, dengan yang sepertinya. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Bukhari
وَلِأَنَّ الْوُضُوْءَ عِبَادَةٌ يُرْجَعُ فِي حَالَةِ الْعُذْرِ إِلَى نِصْفِهَا فَوَجَبَ فِيْهَا التَّرْتِيْبُ كَالصَّلَاةِ فَلَوْ نَسِيَ التَّرْتِيْبَ لَمْ يُجْزِهِ كَمَا لَوْ نَسِيَ الْفَاتِحَةَ فِي الصَّلَاةِ أَوِ النَّجَاسَةَ عَلَى بَدَنِهِ
Dan karena wudhu adalah ibadah yang kembali pada kondisi udzur kepada setengahnya, maka wajib di dalamnya tertib seperti shalat, maka seandainya ia lupa tertib maka tidak mencukupinya sebagaimana seandainya ia lupa Al-Fatihah dalam shalat atau lupa najis pada badannya.
Cabang: Cairan yang Meragukan antara Mani dan Madzi
(فَرْعٌ) خَرَجَ مِنْ فَرْجِهِ بَلَلٌ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ مَنِيًّا وَيَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ مَذْيًا وَاشْتَبَهَ عَلَيْهِ الْحَالُ فَمَا الَّذِيْ يَجِبُ عَلَيْهِ فِيْهِ خِلَافٌ مُنْتَشِرٌ
(Cabang) Telah keluar dari kemaluannya suatu basahan yang mungkin itu adalah mani dan mungkin itu adalah madzi, dan keadaan tersebut menjadi samar baginya, maka apa yang wajib atasnya? Di dalamnya terdapat perbedaan pendapat yang tersebar.
عَلَّقْتُهُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَكْثَرَ مِنْ ثَلَاثَ عَشَرَةَ مَقَالَةً الرَّاجِحُ فِي الرَّافِعِيِّ وَالرَّوْضَةِ أَنَّهُ يَتَخَيَّرُ فَإِنْ شَاءَ جَعَلَهُ مَنِيًّا وَاغْتَسَلَ وَإِنْ شَاءَ جَعَلَهُ مَذْيًا وَغَسَلَ مَا أَصَابَهُ مِنْ بَدَنِهِ وَثَوْبِهِ وَتَوَضَّأَ
Aku telah mencatatnya di sebagian kitab lebih dari tiga belas pendapat, pendapat yang unggul (rajih) dalam kitab Ar-Rafi’i dan kitab Ar-Raudhah bahwasanya ia boleh memilih, jika ia mau maka ia dapat menjadikannya mani lalu mandi, dan jika ia mau maka ia dapat menjadikannya madzi lalu membasuh apa yang mengenainya dari badannya dan pakaiannya serta berwudhu.
لِأَنَّهُ إِذَا جَعَلَهُ مَذْيًا وَتَوَضَّأَ فَقَدْ أَتَى بِمَا يَقْتَضِي الْوُضُوْءَ فَارْتَفَعَ حَدَثُهُ الْأَصْغَرُ وَبَقِيَ الْحَدَثُ الْأَكْبَرُ مَشْكُوْكًا فِيْهِ وَالْأَصْلُ عَدَمُهُ
Karena sesungguhnya apabila ia menjadikannya madzi dan berwudhu, maka sungguh ia telah mendatangkan apa yang menuntut wudhu, maka terangkatlah hadats kecilnya dan tetapnya hadats besar dalam keadaan diragukan padanya, sedangkan hukum asalnya adalah ketiadaan hadats besar.
Pendapat yang Mewajibkan Ihtiyat (Kehati-hatian)
وَكَذَا يُقَالُ إِذَا اغْتَسَلَ وَقِيْلَ يَجِبُ عَلَيْهِ الْأَخْذُ بِالْإِحْتِيَاطِ لِأَنَّا تَحَقَّقْنَا شُغْلَ ذِمَّتِهِ بِأَحَدِ الْحَدَثَيْنِ وَلَا يَخْرُجُ عَنْ ذَلِكَ إِلَّا بِيَقِيْنٍ بِأَنْ يَحْتَاطَ كَمَا لَوْ لَزِمَ ذِمَّتَهُ صَلَاةٌ مِنْ صَلَاتَيْنِ وَلَمْ يَعْرِفْ عَيْنَهَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَهُمَا
Dan demikian pula dikatakan apabila ia mandi, dan dikatakan wajib atasnya mengambil sikap hati-hati (ihtiyat) karena kami telah meyakini kesibukan tanggungannya dengan salah satu dari dua hadats, dan ia tidak keluar dari hal itu kecuali dengan keyakinan dengan cara berhati-hati, sebagaimana seandainya tetap dalam tanggungannya satu shalat dari dua shalat dan ia tidak mengetahui rinciannya maka wajib atasnya untuk menshalati keduanya.
وَهَذَا قَوِيٌّ رَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ فِي شَرْحِ التَّنْبِيْهِ وَفِي رُؤُوْسِ الْمَسَائِلِ لَهُ وَاللّٰهُ أَعْلَمُ
Dan ini adalah pendapat yang kuat yang telah diunggulkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah At-Tanbih dan dalam kitab Ru’usul Masa’il miliknya, dan Allah Maha Mengetahui.
Tinggalkan Komentar
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda
Komentar Pembaca
Diskusi dan tanggapan dari pembaca lain
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!