Terjemah Kitab Tanqihul Qoul Bab 13 | Keutamaan Puasa

Nama kitab
Tanqihul Qoul
Judul kitab Arab
تنقيح القول الحثيث
Judul terjemah
Terjemah Kitab Tanqihul Qoul
Mata Pelajaran
Hadits, Keutamaan Amal
Musonif
Syekh Nawawi al-Bantani
Nama Arab
الشيخ محمد بن عمر النووي البنتني
Lahir
813 Masehi; 1230 H, Tanara, Banten, Indonesia
Wafat
1897 M; 1316 H, Pemakaman Ma'la Makkah Al-Mukarramah, w. 672 H / 22 Februari 1274 M
Penerjemah
Ahsan Dasuki

Tanqihul Qoul Bab ke 13 Tentang Keutamaan Puasa

Tanqihul Qoul Image by © LILMUSLIMIIN

اَلْبَابُ الثَّالِثَ عَشَرَ: فِي فَضِيْلَةِ الصَّوْمِ

Bab Yang Ketiga Belas Tentang Keutamaan Puasa

Firman Allah tentang Keutamaan dan Kelipatgandaan Pahala Puasa

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيمَا حَكَاهُ عَنْهُ نَبِيُّهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَىٰ سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ] كَذَا فِي الْإِحْيَاءِ

Telah berfirman Allah Ta’ala dalam apa yang telah menghikayatkannya dari Allah oleh Nabi-Nya ﷺ: [Setiap kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya]. Demikian disebutkan dalam kitab Ihya.

Hadits 1: Puasa Adalah Ibadah Khusus untuk Allah dan Balasannya Tanpa Batas

(قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى) فِي الْحَدِيْثِ الْقُدْسِيِّ. وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقُرْآنِ أَنَّ الْقُرْآنَ نَزَلَ لِلْإِعْجَازِ بِأَقْصَرِ سُوْرَةٍ بِخِلَافِ ذٰلِكَ، فَإِنَّهُ لَيْسَ لِلْإِعْجَازِ، وَكُلٌّ مِنَ الْقُرْآنِ وَالْأَحَادِيْثِ يُتَعَبَّدُ بِقِرَاءَتِهِ

(Telah bersabda Nabi ﷺ: Telah berfirman Allah Ta’ala) dalam Hadits Qudsi. Perbedaan antara Hadits Qudsi dan Al-Qur’an adalah bahwa Al-Qur’an itu turun untuk mukjizat bahkan dengan surat terpendeknya, berbeda dengan Hadits Qudsi, karena sesungguhnya ia bukan untuk mukjizat, dan seluruhnya dari Al-Qur’an dan hadits-hadits itu dinilai ibadah dngan membacanya.

(الصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ) بِفَتْحِ الْهَمْزَةِ وَسُكُوْنِ الْيَاءِ، أَيْ جَزَاءً كَثِيْرًا مِنْ غَيْرِ تَعْيِيْنٍ لِمِقْدَارِهِ، وَقِيْلَ مَعْنَى ذٰلِكَ أَنَّ الصِّيَامَ أَحَبُّ الْعِبَادَاتِ إِلَيَّ، وَالْمُقَدَّمُ عِنْدِيْ رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

(Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya) dengan fathah pada أ dan sukun pada ي, maksudnya, balasan yang banyak tanpa menentukan pada ukurannya. Dan dikatakan maknanya itu adalah bahwa puasa merupakan ibadah yang paling dicintai oleh Ku dan yang paling utama di sisi-Ku. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani dari Abu Umamah dengan sanad yang hasan.

Hadits 2: Dua Kegembiraan Bagi Orang yang Berpuasa

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُ بِهِمَا فَرْحَةٌ عِنْدَ إِفْطَارِهِ) أَيْ بِزَوَالِ جُوْعِهِ وَعَطَشِهِ حِيْنَ أُبِيْحَ لَهُ الْفِطْرُ.

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang ia akan gembira dengan keduanya, yaitu kegembiraan saat ia berbuka) maksudnya, dengan hilangnya rasa lapar dan rasa hausnya ketika berbuka telah dibolehkan untuknya.

وَقِيْلَ: إِنَّ فَرْحَهُ بِفِطْرِهِ إِنَّمَا هُوَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ تَمَامُ صَوْمِهِ وَخَاتِمَةُ عِبَادَتِهِ وَتَخْفِيْفٌ مِنْ رَبِّهِ وَمَعُوْنَةٌ عَلَى مُسْتَقْبَلِ صَوْمِهِ

Dan dikatakan: Sesungguhnya kegembiraannya dengan ia berbuka adalah sesungguhnya kegembiraan itu hanyalah dari sisi bahwa berbuka adalah penyempurna puasanya, penutup ibadahnya, keringanan dari Tuhannya, dan pertolongan untuk masa depan puasanya.

(وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ) أَيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ لَيْسَ لِلْمُؤْمِنِ رَاحَةٌ دُوْنَ لِقَاءِ رَبِّهِ، أَيْ بِحُصُوْلِ الْجَزَاءِ وَالثَّوَابِ أَوْ بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِ رَبِّهِ انْتَهَى

(Dan kegembiraan saat bertemu Tuhannya) yakni pada hari Kiamat. Telah berkata Syekh Wahb bin Munabbih, “Tidak ada istirahat bagi seorang mukmin selain bertemu dengan Tuhannya,” maksudnya, dengan memperoleh balasan dan pahala atau dengan memandang wajah Tuhannya. Sampai sini perkataan Syekh Wahb bin Munabbih berkahir.

Hadits 3: Keutamaan Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَخُلُوْفُ) بِضَمِّ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ وَاللَّامِ وَسُكُوْنِ الْوَاوِ، وَبَعْدَهَا فَاءٌ وَاللَّامُ جَوَابُ قَسَمٍ وَهُوَ قَوْلُهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَهُ: [وَالَّذِيْ نَفْسِ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ] أَيْ بِقُدْرَتِهِ وَتَصْرِيْفِهِ

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Sungguh bau mulut) dengan dhammah pada خ yang bertitik dan ل, serta sukun pada و, dan setelahnya ف. dan ل adalah jawab dari sumpah, yaitu sabda Nabi ﷺ sebelumnya: [Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaannya] maksudnya, dalam kekuasaan dan pengaturan-Nya,

لَخُلُوْفُ (فَمِ الصَّائِمِ) أَيْ تَغَيُّرُهُ (أَطْيَبُ عِنْدَ اللّٰهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ) أَيْ رِيْحُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللّٰهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ عِنْدَكُمْ.

Sungguh bau mulut (mulut orang yang berpuasa) maksudnya, perubahannya (itu lebih wangi di sisi Allah daripada aroma kesturi) yakni aroma mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada aroma kesturi di sisi kalian.

وَقِيْلَ: الْمُرَادُ أَنَّ اللّٰهَ يَجْزِيْهِ فِي الْآخِرَةِ فَتَكُوْنُ نَكْهَتُهُ أَطْيَبَ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. وَقِيْلَ: الْمُرَادُ أَنَّ صَاحِبَهُ يَنَالُ مِنَ الثَّوَابِ مَا هُوَ أَفْضَلُ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ،

Dan dikatakan: Yang dimaksud adalah bahwa Allah akan membalasnya di akhirat sehingga  aromanya menjadi lebih wangi dari aroma kesturi. Dan dikatakan: Yang dimaksud adalah bahwa pemiliknya itu akan mendapatkan pahala berupa perkara yang perkara itu lebih utama daripada aroma kesturi.

وَرَجَّحَ النَّوَوِيُّ أَنَّ مَعْنَى ذٰلِكَ أَنَّ الْخُلُوْفَ أَكْثَرُ ثَوَابًا مِنَ الْمِسْكِ الْمَنْدُوْبِ إِلَيْهِ فِي الْجَمْعِ، وَمَجَالِسِ الذِّكْرِ، وَهُوَ حَمْلُ مَعْنَى الطِّيْبِ عَلَى الْقَبُوْلِ وَالرِّضَا،

Imam Nawawi menguatkan pendapat bahwa maknanya adalah sesungguhnya bau mulut (orang berpuasa) itu lebih banyak pahalanya daripada kesturi yang disunnahkan menggunakannya pada saat berkumpul dan di majelis-majelis zikir. Perkataan Imam Nawawi itu mengandung makna ‘wangi’ sebagai penerimaan dan keridhaan.

وَقَدْ نَقَلَ الْقَاضِيْ حُسَيْنٌ أَنَّ لِلطَّاعَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رِيْحًا يَفُوْحُ، فَرَائِحَةُ الصِّيَامِ فِيْهَا بَيْنَ الْعِبَادَاتِ كَالْمِسْكِ

Dan telah menukil Imam Al-Qadhi Husain bahwa bagi ketaatan-ketaatan pada hari kiamat ada aroma yang semerbak, dan aroma puasa pada hari kiamat di antara ibadah-ibadah lainnya adalah seperti aroma kesturi.

Hadits 4: Puasa di Musim Dingin Sebagai Ghanimah yang Dingin (mudah didapat)

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِالْغَنِيْمَةِ الْبَارِدَةِ) أَيِ الْزَمُوْهَا (قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَمَا الْغَنِيْمَةُ الْبَارِدَةُ؟ قَالَ: الصَّوْمُ فِي الشِّتَاءِ الْغَنِيْمَةُ الْبَارِدَةُ).

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Hendaklah kalian mengambil ghanimah yang dingin) maksudnya, tetapilah ia. (Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ghanimah yang dingin itu?” Beliau bersabda: Puasa di musim dingin adalah ghanimah yang dingin).

Hadits 5: Keutamaan Puasa Ramadhan dan Pengampunan Dosa

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ) وَالْمُرَادُ الصَّغَائِرُ

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Ramadhan, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang) dan yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil.

(فَإِذَا تَمَّ رَمَضَانُ لَا يُكْتَبُ عَلَيْهِ ذَنْبٌ إِلَى الْحَوْلِ الْآخَرِ، فَإِنْ مَاتَ قَبْلَ رَمَضَانَ آخَرَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ عَلَيْهِ ذَنْبٌ) أَيْ مِنَ الصَّغَائِرِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِحَقِّ اللّٰهِ تَعَالَى وَجُمْلَةُ قَوْلِهِ، وَلَيْسَ عَلَيْهِ ذَنْبٌ حَالِيَّةٌ مِنْ فَاعِلِ جَاءَ، فَالْوَاوُ لِلْحَالِ

(Maka apabila Ramadhan telah sempurna, tidak akan dicatat atasnya dosa hingga tahun berikutnya. Jika ia meninggal sebelum Ramadhan berikutnya, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki dosa) maksudnya, dari dosa-dosa kecil yang berkaitan dengan hak Allah Ta’ala. Dan kalimat dari sabda Nabi “وَلَيْسَ عَلَيْهِ ذَنْبٌ” adalah hal (keadaan) dari fa’il (subjek) ‘jaa-a’. Maka wawu tersebut adalah wawu haliyah.

وَفِيْ رِوَايَةٍ [مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ] رَوَاهُ الْخَطِيْبُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ. قَوْلُهُ إِيْمَانًا، أَيْ اعْتِقَادًا بِحَقِّ فَرْضِ الصَّوْمِ، قَوْلُهُ وَاحْتِسَابًا أَيْ طَالِبَ الثَّوَابِ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى

Dalam sebuah riwayat: [Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Khatib dari Ibnu Abbas. Sabda Nabi “إِيْمَانًا”, maksudnya, meyakini kebenaran kewajiban puasa. Sabdanya “اِحْتِسَابًا”, maksudnya, mencari pahala dari Allah Ta’ala.

Hadits 6: Kabar Gembira Surga Bagi Orang yang Berpuasa Ramadhan

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَذِنَ اللّٰهُ لِلسَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْ تَتَكَلَّمَا لَقَالَتَا بُشْرَى) مُبْتَدَأٌ وَنَعْتُهَا مَحْذُوْفٌ أَيْ بُشْرَى عَظِيْمَةٌ (لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ بِالْجَنَّةِ)

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Seandainya Allah mengizinkan langit dan bumi untuk berbicara, niscaya keduanya akan berkata, “Kabar gembira”) ini adalah mubtada’ dan na’at-nya dibuang, maksudnya, kabar gembira yang agung (bagi orang yang berpuasa Ramadhan dengan surga).

Hadits 7: Puasa Sebagai Perisai dan Pelindung dari Api Neraka

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ) بِضَمِّ الْجِيْمِ أَيْ سُتْرَةٌ (مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ) أَيْ كَالدِّرْعِ الْمَانِعِ مِنَ الْقَتْلِ فِي الْقِتَالِ وَحَسْبُكَ بِهِ فَضْلًا لِلصَّائِمِ، رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ، وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ،

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Puasa adalah perisai) dengan dhammah pada huruf ج, maksudnya, sebuah pelindung (dari api neraka, seperti perisai salah seorang dari kalian dari peperangan) yakni seperti baju besi yang mencegah dari terbunuh dalam peperangan. Dan cukuplah ini sebagai keutamaan bagi orang yang berpuasa. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah dari Utsman bin Abi Al-‘Ash, dan ini adalah hadits yang shahih.

وَفِيْ لَفْظٍ [الصَّوْمُ جُنَّةُ أَحَدِكُمْ مِنَ النَّارِ كَدِرْعِ أَحَدِكُمْ فِي الْقِتَالِ]

Dan dalam lafadz lain: [Puasa adalah perisai salah seorang dari kalian dari api neraka, seperti baju besi salah seorang dari kalian dalam peperangan].

Hadits 8: Doa Malaikat dan Permohonan Ampunan Bagi Orang yang Berpuasa Saat Berbuka

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّائِمُ إِذَا أَفْطَرَ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ) أَيْ دَعَتْ لَهُ بِالْبَرَكَةِ أَوْ اسْتَغْفَرَتْ لَهُ (حَتَّىٰ يَفْرُغَ)

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Orang yang berpuasa apabila ia berbuka, maka para malaikat akan mendoakannya) maksudnya, mendoakannya dengan keberkahan atau memintakan ampunan untuknya (hingga ia selesai).

Hadits 9: Puasa Sebagai Zakat Pembersih Badan

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ) أَيْ صَدَقَةٌ (وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ) رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَالطَّبَرَانِيُّ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ،

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Segala sesuatu itu ada zakatnya) maksudnya, sedekahnya (dan zakatnya badan adalah puasa). Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Majah dari Abu Hurairah dan Imam Thabrani dari Sahl bin Sa’ad.

وَإِنَّمَا كَانَ الصَّوْمُ زَكَاةَ الْبَدَنِ لِأَنَّهُ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللّٰهِ تَعَالَى، وَسَبَبٌ لِنُحُوْلِ الْجَسَدِ وَزِيَادَةِ بَرَكَتِهِ، وَخَيْرِهِ الْمَعْنَوِيِّ فَأَشْبَهَ الزَّكَاةَ الْمَالِيَّةَ، فَإِنَّهَا وَإِنْ نَقَصَتْهُ حِسًّا زَادَتْهُ بَرَكَةً، فَكَذٰلِكَ الصَّوْمُ

Dan puasa menjadi zakatnya badan karena ia adalah rahasia di antara rahasia-rahasia Allah Ta’ala, dan menjadi sebab kurusnya badan serta bertambahnya keberkahan dan kebaikan maknawinya, maka puasa menyerupai zakat harta. Karena sesungguhnya zakat harta, meskipun secara kasat mata mengurangi, namun ia menambah keberkahan, begitu pula dengan puasa

Hadits 10: Keutamaan Tidur, Diam, Amal, dan Doa Orang yang Berpuasa

(وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَوْمُ الصَّائِمِ) أَيْ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا (عِبَادَةٌ) وَفِيْ لَفْظٍ [نَوْمُ الْعَالِمِ عِبَادَةٌ]، فَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا رِوَايَةٌ، وَيُحْتَمَلُ أَنَّ أَحَدَ اللَّفْظَيْنِ سَبَقُ قَلَمٍ كَذَا أَفَادَ الْعَزِيْزِيُّ (وَصَمْتُهُ تَسْبِيْحٌ) أَيْ بِمَنْزِلَةِ التَّسْبِيْحِ

(Dan Telah bersabda Nabi ﷺ: Tidurnya orang yang berpuasa) yakni puasa fardhu atau sunnah (adalah ibadah). Dalam lafadz lain, [Tidurnya orang alim adalah ibadah], maka ada kemungkinan itu adalah sebuah riwayat, dan ada kemungkinan salah satu dari dua lafadz itu adalah kesalahan tulis. Demikian Telah menjelaskan tentangnya Imam Al-‘Azizi. (Dan diamnya adalah tasbih) maksudnya, setara dengan tasbih.

(وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ) الْحَسَنَةُ بِعَشْرٍ إِلَى مَا فَوْقَهَا (وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ) أَيْ ذُنُوْبُهُ الصَّغَائِرُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ أَبِيْ أَوْفَى، وَهُوَ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ،

(Dan amalnya dilipatgandakan) satu kebaikan menjadi sepuluh hingga lebih dari itu, (dan doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni) maksudnya, dosa-dosa kecilnya. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Baihaqi dari Abdullah bin Abi Aufa, dan ini adalah hadits yang dhaif.

وَفِيْ لَفْظٍ [وَنَفَسُهُ تَسْبِيْحٌ وَكَلَامُهُ صَدَقَةٌ] انْتَهَى. وَهٰذَا فِيْ صَائِمٍ لَمْ يَخْرِقْ صَوْمَهُ بِنَحْوِ غِيْبَةٍ، فَالنَّوْمُ وَإِنْ كَانَ عَيْنَ الْغَفْلَةِ يَصِيْرُ عِبَادَةً، لِأَنَّهُ يَسْتَعِيْنُ بِهِ عَلَى الْعِبَادَةِ.

Dan dalam lafadz lain: [Nafasnya adalah tasbih dan ucapannya adalah sedekah]. Selesai. Dan ini berlaku bagi orang yang berpuasa yang tidak merusak puasanya dengan semisal ghibah. Maka tidur, meskipun tidur merupakan inti dari kelalaian, itu dapat menjadi ibadah karena sesungguhnya dengan tidur dapat membantu untuk beribadah.

Bookmark Saya

Daftar artikel yang Anda simpan

Belum ada artikel yang disimpan.